
Aku terbangun. Aku menguap. Dan aku meregangkan tubuhku. Sekarang adalah hari ke 3 aku di luar rumah. Tapi, pagi ini aku merasa lebih bersemangat. Itu karena hari ini, aku akan pergi ke balai kota untuk membuat surat-surat yang kuperlukan. Alasan yang kedua karena sebuah kotak hadiah di mejaku.
Apa ini kotak dari penggemarku? Apa sekarang aku punya penggemar? Aku berpikir begitu karena sebelumnya aku tidak ingat dengan kotak putih di mejaku tersebut.
Sebuah kertas dengan tulisan dari tinta hitam itu diletakkan di atas kotak, “Bagaimana jalan-jalannya? Pasti seru kan. Maaf, besok aku tak bisa menemanimu lagi. Besok aku masih sibuk, karena akan ada perayaan. Bersenang-senanglah. Setelah pekerjaanku disini selesai, aku akan mengantarmu ke tujuanmu yang selanjutnya. Omong-omong, kotak itu untukmu, isinya sebuah kue madu. Semoga kamu menyukainya.”
Ini dari Edras! Itu berarti ia masuk ke kamarku saat aku tidur. Apakah aku lupa untuk mengunci pintunya? Tampaknya, kebiasaanku di rumah masih belum hilang. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati, di luar sini tak ada ibu untuk menjagaku.
Saat kubuka kotak itu, sebuah kue berwarna kuning dan berbentuk segitiga terletak di dalamnya. Kue itu dilumuri madu yang sangat kental. Ketika aku mencoleknya untuk mencicipi sedikit, madu itu terasa sangat manis. Bahkan lebih manis daripada kue yang pernah kurasakan. Di sini tak ada sendok atau garpu, jadi aku mengangkat kuenya dengan tanganku dan melahapnya. Setelah kugigit, aku baru menyadari kalau kue itu terdiri dari lapisan-lapisan kue yang dibalur madu dan krim. Perpaduan kelembutan kue dan tekstur renyah dari taburan kacang di atasnya, sangat memanjakan lidah pagiku. Dengan memakannya saja, sudah memberikanku rasa semangat untuk menjalani hari.
Setelahnya, aku mandi dan segera bersiap menuju ke tempat yang dijanjikan. Karena aku akan berkunjung ke balai kota, kurasa aku harus menunjukkan identitasku dengan memakai jubah dan topi penyihirku.
Aku pun menuju ke kedai. Jarak penginapanku dengan kedai itu tak terlalu jauh. Tidak sampai 10 menit untukku berjalan hingga ke kedai tersebut. Tampaknya aku datang lebih cepat. Kedai masih tutup dan pelayan pria itu tak ada disana. Jadi, aku memutuskan untuk menunggunya di depan kedai.
Selama satu jam setengah aku menunggu, orang-orang yang lewat menatapku dengan bingung. Mungkin di mata mereka, aku tampak seperti orang yang mencurigakan. Aku berdiri persis di depan kedai selama satu jam lebih, sementara orang-orang berjalan kesana-kemari dengan kesibukannya sendiri.
Tentu saja orang-orang menatapku dengan rasa heran. Bahkan, beberapa saat yang lalu, ada seorang nenek yang menghampiriku, ia mengiraku sebagi orang terlantar karena hanya berdiam di tempat itu saja. Ia hendak memanggil seseorang dari panti asuhan untuk membawaku, tapi aku langsung menjelaskan situasiku padanya.
“Ya ampun …,” kesahku panjang.
Kenapa pria itu lama sekali? Apakah aku salah dengar soal harinya? Atau orang itu hanya berniat untuk mengerjaiku saja? Apa aku berangkat sendiri saja? Tapi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat di balai kota.
Aku duduk meringku dalam kesendirian. Ketika orang-orang saling berjalan bergandengan, aku hanya duduk sendiri meratapi kemalanganku. Ibu benar, seharusnya aku lebih berhati-hati dalam mempercayai orang lain.
“Oh, astaga, nona!” Aku mengangkat kepalaku saat seseorang menyapaku. Itu si pelayan pria!
“Kenapa lama sekali?” rengekku. “Aku menunggu disini selama satu jam.”
“Maaf, apa aku belum memberitahumu?”
“Tentang apa?”
“Balai kota baru akan buka saat jam 8, nona sepertinya datang terlalu dini,” jelas pria itu.
“Kenapa tidak memberitahuku sejak awal!?”
“Maafkan aku nona. Bagaimana jika kita langsung saja ke balai kota?”
Aku mengangguk dengan masih merengut. Siapa juga yang tidak marah ketika harus menunggu selama sejam dan orang-orang menatapmu dengan penuh kecurigaan. Rasanya aku benar-benar ingin menangis sekali.
“Oh iya, aku belum tahu namamu. Bagaimana aku harus memanggilmu?” Pria itu melambatkan langkahnya menyesuaikan dengan langkahku.
“Namaku Nivalis, panggil saja aku Niva,” jawabku menggerutu.
“Nivalis? Oh, bunga tetes salju? Nama yang cantik,” puji pria itu. Tapi sebuah pujian saja tidak akan bisa membuatku memaafkannya.
Pria itu tampak berbeda dengan pakaian jas yang lebih formal daripada pakaian pelayannya yang lebih santai. Sebelumnya, aku melihat pria itu sebagai pria yang tampaknya baik, tapi sekarang aku sedikit meragukannya. Apa dia benar-benar ingin membantuku atau ada tujuan lainnya?
“Boleh kutanya apa alasanmu membantuku?” tanyaku.
“Kurasa karena putriku,” jawabnya. “Di rumah, aku memiliki seorang putri yang seumuran denganmu. Dia begitu manis tapi polos. Aku tak bisa membayangkan jika putriku yang berada di posisimu. Sendirian, jauh dari rumah, di tempat yang benar-benar berbeda tanpa satupun orang yang dikenal. Tak ada satupun yang mau hidup tanpa harapan, bukan? Saat aku melihat nona waktu di kedai, naluriku sebagai manusia dan seorang ayah berjalan. Karena itulah aku membantu nona.”
“Begitu ya ….” Ucapan pria itu tampaknya jujur. Meskipun begitu, aku tetap harus hati-hati. Jika benar pria itu ingin membantuku tak masalah, tapi jika ia membohongiku aku sudah siap.
“Ada apa, nona? Nona masih tidak mempercayaiku ya.”
“Setengah percaya,” jawabku cuek.
Tak jauh terdengar suara ketukan palu yang terus menerus serta suara orang ramai. Kami berbelok ke kanan di perempatan. Kata Draff, balai kota berada di alun-alun. Tapi, aku menemukan hal yang lebih menarik di depan.
Para warga berkumpul di alun-alun kota. Kulihat sebuah bentuk bangunan yang belum jadi dengan pasak dan besi tersusun di sekitarnya. Para warga itu tampaknya sedang membangun sesuatu di tengah alun-alun.
Aku berhenti dan bertanya pada Draff, “Apa yang mereka lakukan?”
“Oh, mereka sedang membangun pohon perayaan,” jawabnya. “Karena dalam empat hari lagi, Perayaan Bintang Utara akan segara diadakan.”
Jadi, ini yang dimaksud Edras tentang sibuk karena perayaan. Perayaan ini pernah kubaca dalam buku. Aku sangat ingin melihatnya, tapi aku tak boleh berlama-lama disini. Masih banyak tempat yang kukunjungi. Setelah, surat-suratku berhasil dibuat, aku akan segera menuju tujuanku berikutnya.
Kami pun meneruskan berjalan ke balai kota. Bangunan yang bernama balai kota itu ternyata cukup besar. Berwarna putih seperti gading atau kapur agar terlihat mewah dan elegan. Saat aku membuka pintu yang sangat besarnya, kulihat orang-orang berbaris sangat panjang seperti ular. Oh, mungkin ini yang disebut dengan mengantri.
“Apa kita harus menunggu barisan ini?” Aku mendongak untuk melihat orang-orang yang berada di depan.
“Tentu saja. Ini sudah wajar terjadi di balai kota. Perharinya orang-orang akan datang untuk mengurus surat-surat mereka sepertimu. Ada surat kelahiran, kependudukan, surat tanah, atau surat jual beli dan semacamnya.”
Benar-benar surat sudah menguasai dunia.
“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Baiklah, berapa lama aku harus menunggu?”
“Hm, itu tergantung. Mungkin bisa berjam-jam.”
“Apa!?” teriakanku membuat orang-orang disana menatapku. “Apa tidak ada cara yang cepat?” aku lalu mengecilkan suaraku kembali.
“Sayang sekali tak ada cara cepat,” pria itu tertawa ringan. Untuk apa tertawa?
Kutepuk wajahku sendiri. “Tapi, aku tidak akan kuat jika harus berdiri selama berjam-jam.”
“Begini saja, jika nona sudah merasa lelah, aku akan menggantikan posisi nona agar tidak ada yang merebutnya, lalu nona bisa beristirahat di kursi tunggu. Kita bisa terus saling berganti-gantian hingga sampai di barisan depan. Bagaimana?” ujar pria itu.
Idenya cukup cemerlang, kalau begitu aku menyetujuinya.
Aku berdiri setidaknya 40 menit lamanya, kakiku mulai lemah seperti jeli. Bahkan ketika barisan antrian itu serentak maju, dan aku harus maju untuk mengisi kekosongan di depan, aku seperti nenek-nenek reyot yang harus menggunakan tongkat bantu untuk berjalan. Barisan di belangkaku sudah semakin panjang dan aku masih tak tahu bagaimana cara mereka bisa bertahan selama ini. Mereka seolah-olah sudah menjadi satu saat memasuki tempat ini. Berdiri dengan tegak tanpa merasa lelah.
Kudongakkan kepalaku lagi untuk menghitung berapa banyak orang yang berada di depanku. 4 … 6 … 7 … 8 … masih 8 orang. Kurasa aku masih bisa bertahan untuk 8 orang lagi.
Tanpa kusadari, satu jam telah berlalu. Aku terjebak dalam situasi yang penuh kebosanan. Kuhitung lagi antriannya … masih 7. Kenapa lama sekali? Memangnya apa yang orang itu lakukan hingga membutuhkan waktu 20 menit lebih? Bermain permainan papan?
Aku bisa saja menggunakan sihir untuk segera memulihkan staminaku, tapi justru sebaliknya, aku akan merasakan kecapaian dua kali lipat karena sihir juga akan menggerogoti staminaku. Aku pun melirik ke belakang, ke tempat duduk dimana Draff menunggu disana. Aku membuat aba-aba padanya dengan wajah memelasku. “Kumohon, tolong aku,” benakku mencoba meminta tolong tanpa membuka bibirku.
Pria itu paham dengan cepat. Ia mengampiriku dan menggantikan posisiku. Aku pun beristirahat di kursi belakang. Kuselonjorkan kakiku yang mata rasa. Sekujur punggungku juga terasa seperti diremukkan. Aku harus memulihkan tubuhku dengan cepat, karena Draff jauh lebih tua dariku, ia tidak akan bertahan lama. Aku tidak boleh membiarkan pria berumur 50 tahun itu sakit-sakitan karenaku.
Sudah 2 jam terlewat tapi Draff tidak sedikitpun menoleh ke arahku. Ia tak ingin aku menggantikannya. Lalu, tepat saat aku mulai muak dengan rasa bosan ini, pria itu melambaikan tangannya memanggilku. Tak kusangka antriannya tersisa satu orang lagi. Itu terjadi sangat cepat tanpa kusadari.
Aku merasa sangat gugup saat sudah sangat dekat. Ini pertama kalinya bagiku, jadi aku masih bingung harus melakukan apa. “Bisakah temani aku?” pintaku ke Draff.
Draff tersenyum, “Tak masalah.”
Kami pun melangkah maju saat antrian terakhir berbalik menuju pintu luar. Di depan kami, seorang wanita berseragam putih duduk di balik meja pembatas menyapaku, “Ada yang bisa saya bantu, nona?”
“A-aku ingin membuat Surat Izin Berkunjung,” kataku gelagapan.
“Baiklah, bisa tunjukkan Surat Kependudukanmu, nona.”
Aku melempar pandangan ke Draff, “Aku tidak memilikinya.”
“Kalau begitu, nona ingin buat Surat Kependudukan terlebih dahulu?” tanyanya dan diakhiri dengan senyuman.
“Ya, tolong.”
Wanita itu lalu menyerahkan selembar kertas kosong dan pena. “Tulis nama nona, jenis kelamin, tanggal dan tempat lahir, umur, pekerjaan, nama orang tua, dan status perkawinan.”
Sesuai dengan perkataan wanita itu, aku pun mulai menuliskan pada lembaran kertas tersebut. Nama, Nivalis. Perempuan. Untuk tanggal lahir, karena ibu menemukanku pada tanggal 24 januari dan tempat lahir di Bordam, jadi itu yang kutulis. Lalu, umur ….
“Tulis saja umurmu 18,” bisik Draff. “Lalu, karena penyihir sekarang menjadi sebuah pekerjaan, dan harus sekolah terlebih dahulu untuk mendapatkan sertifikatnya, tulislah pekerjaanmu sebagai pengangguran.”
Itu menyakitkan, tapi tak ada pilihan lain. Aku menuliskan semua yang Draff bisikkan padaku. Kemudian … nama orang tua yaitu Aena. “Bagaimana aku menuliskan yang terakhir?” tanyaku ke Draff.
“Belum menikah.”
Setelah semua sudah selesai, kuberikan kertas itu ke wanita berseragam. “Baiklah, saya terima datanya, nona … Nivalis.” Ia mengambil kertasnya dan selalu diakhiri dengan senyuman di setiap akhir katanya. “Apa Nona Nivalis masih ingin membuat Surat Izin Berkunjung-nya?”
“Ya, masih.”
“Kalau begitu, tulis nama nona disini, jenis kelamin, umur dan pekerjaan.” Wanita itu menyerahkan kertas lainnya padaku, tapi kali ini kertasnya tidak kosong dan lebih banyak tulisan. “Lalu, tanda tangan nona di bagian pojok kanan bawah kertas.”
Tanda tangan?
“Hei, apa itu tanda tangan? Aku tidak mengerti,” bisikku lagi ke Draff yang masih berdiri di sebelahku.
“Itu namamu yang ditulis dan dibentuk secara unik seperti sebuah simbol,” jelasnya. Tapi, tetap masih tak bisa kumengerti. “Tulis saja namamu tapi dibuat seperti sebuah bentuk yang meliuk-liuk.”
Sama sekali tidak membantuku! Aku memikirkan dengan keras apa yang akan kutulis, tapi semua pikiranku sia-sia. Tiba-tiba, aku teringat saat latihan terakhir bersama ibu. Aku pun menuliskan sebuah huruf N lalu menyerahkan kembali kertasnya, aku tak tahu apakah yang kutulis itu benar sebuah tanda tangan. Namun, wanita itu tampak menerimanya begitu saja.
“Semua data nona sudah saya terima dan akan segera diproses. Nona dipersilahkan untuk pulang.”
“Pulang? Bagaimana dengan surat-suratku?”
“Surat-surat nona akan selesai dalam 4-7 hari waktu kerja. Nona bisa kembali lagi setelah waktu tersebut untuk mengambil surat-suratnya,” jawabnya tak lupa dengan senyum di akhir kalimatnya.
Aku benar-benar ingin berteriak dan menangis.