Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Tempat yang membuatku terlena



Mau bagaimana lagi, aku pun memutuskan untuk jalan-jalan di kota sendirian. Kutinggalkan jubah dan topiku di kamar, lalu aku beranjak ke jalanan. Malam ini, jalanan menjadi terang dan cantik. Dari balik kaca, kulihat berbagai macam barang di jual. Gaun-gaun cantik, perhiasan dan kerajinan tangan. Aku sangat ingin membelinya, tapi aku harus memikirkan secara matang pengeluaranku.


Daripada menghabiskan uang untuk membeli barang yang tidak memungkinkan untuk digunakan selama perjalanan, aku lebih baik menggunakan uangku untuk makan dan istirahat. Itu dua hal yang sangat penting.


Berbicara soal makanan, hidungku sejak tadi sudah mengerjakan tugasnya dengan baik. Ia menangkap aroma lezat dari suatu kedai makan. Kebetulan sekali aku belum makan malam. Aku pun tak perlu berpikir lebih lama lagi dan bergegas ke tempat itu.


Akhirnya, sebuah kedai yang sesungguhnya. Keramaian dan kehangatan di tiap meja. Sendau gurau para pelanggan mengisi rasa kesepian hatiku. Aku memang tak mengenal satupun dari mereka, jika aku dengan seenaknya saja duduk di meja mereka, mungkin aku akan dianggap gadis aneh. Maka aku duduk di meja bar yang belum terisi orang-orang sambil mendengar obrolan mereka.


“Mau pesan apa nona?” pelayan pria menyambutku. Ia tampak setua Ayah Edras, namun pelayan itu memiliki rambut yang licin dan berkilap. Meskipun tua, pria itu tampak segar seperti anak muda.


“Bisakah aku memesan sup krim jamur?” pintaku.


“Tentu saja, nona.” Ia lalu menunjukkan sebotol anggur padaku. “Anggur?”


“Tidak, terima kasih. Aku masih dibawah umur.”


Pria itu mendengus. “Apa yang gadis dibawah umur lakukan disini? Dimana orang tuamu?”


“Ibuku tak ikut. Aku berkelana sendirian.”


Ia mendengus lagi. “Dengar, ada beberapa orang yang meskipun terlihat muda tapi ternyata seumuran denganku. Peraturan di kedai ini, tak memperbolehkan anak dibawah umur masuk, kecuali didampingi orang tua.”


“Tapi, memang kenyataannya aku berumur 17 tahun. Aku hanya akan memakan makananku lalu pergi, ok?”


“Peraturan tetap peraturan, nona. Jika nona masih bersikeras, tunjukkan suratmu?” desak pelayan pria itu.


“Surat apa?” aku terheran-heran.


Pria itu tak kalah herannya menatapku. Perasaan yang sama terulang lagi. “Suart izin mengunjungi kota? Bagaimana dengan surat Kependudukan? Surat yang berisi bahwa nona seorang penduduk yang legal secara sah?” Aku sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan pria itu. “Di Surat Izin Berkunjung itu ada keterangan tentang identitasmu. Singkatnya, jika kamu memang “berkelana”, kamu bisa memasuki kota manapun dengan surat itu,” jelasnya.


“Aku tidak tahu hal seperti itu,” gumamku.


“Jika nona tidak memiliki surat itu, berarti nona memang masih dibawah umur. Karena surat itu hanya bisa dibuat saat usiamu diatas 18 tahun.”


“Dengan kata lain, jika aku ingin mengunjungi suatu kota, maka aku harus menunjukkan surat itu?” aku memastikan.


Pria itu mengangguk.


“Padahal aku hanya berkunjung di kota untuk sementara, tapi kenapa harus pake surat-surat?”


“Era baru, regulasi baru,” kata pria itu. “Ya sudah, untuk kali ini saja, aku mengijinkan nona.” Pria itu berbalik dan menuju ke belakang.


Sementara aku, terdiam mematung, memikirkan ucapan pria itu. Aku akhirnya menyadari apa yang Edras lakukan di gerbang itu. Karena aku tidak memiliki surat-surat, Edras harus membayar penjaga itu untuk membiarkanku masuk. Maafkan aku, Edras.


Pria itu kembali dengan membawa pesananku di tangannya. Semangkuk sup krim jamur yang masih hangat. Ini bukan masakan yang spesial, jadi warna dan aromanya pun tak jauh berbeda dengan buatan ibu. Untuk rasanya, tentu saja masakan ibu lebih lezat. Masakan ibu lebih banyak menggunakan lada, sementara kedai ini menggunakan banyak susu agar lebih kental. Tak masalah, tetap bisa kunikmati.


Setelah kuhabiskan tanpa sisa sedikitpun, kuberikan pelayan itu 10 Pengrium perak. Aku mengusap perutku yang sudah penuh.


“Maaf, permisi,” aku memanggil pelayan itu yang sedang mengelap gelas.


“Namaku Draff,” sahutnya.


“Tentang tadi, karena aku seorang penyihir, bukankah seharusnya ada hak-hak istimewa yang diperoleh penyihir?”


Pelayan itu masih dengan santainya mengelap satu per satu gelas di meja. “Penyihir? Apa nona Penyihir Kerajaan?”


“Tidak,” aku menjawab cepat.


“Bagaimana dengan Sertifikat Penyihir? Seorang penyihir harusnya memilikinya.”


“Itu surat untuk membuktikan nona secara resmi adalah seorang penyihir. Nona hanya bisa mendapatkannya setelah lulus di sekolah sihir.” Lelaki itu lalu meletakkan gelasnya yang sebening pantulan air itu. “Apa nona serius berkata kalau sedang berkelana? Tampaknya nona tak memiliki persiapan yang matang.”


Ucapannya nyelekit di hatiku, tapi pria itu tak salah. Aku memang tak tahu banyak hal, seperti desa itu dan surat-surat itu. Seharusnya aku benar-benar menyiapkan diri dengan matang dan bertanya-tanya segala hal tentang berkelana.


Aku menjatuhkan keningku di meja. “Kenapa merepotkan sekali. Padahal aku hanya ingin melihat dunia luar,” keluhku.


“Mau bagaimana lagi, era baru, regulasi baru. Semenjak Kegelapan Ketiga berakhir, banyak peraturan internasional yang diterapkan.”


Aku sibuk merengek seperti bayi, tapi aku bisa mendengar kalau pria itu mengucapkan ‘Kegelapan Ketiga’. Kegelapan Ketiga terjadi 84 tahun yang lalu. Kata ibu, itu era dimana matahari benar-benar tertutupi oleh kegelapan. Setiap hari adalah malam. Tak ada cahaya, tak ada harapan. Makhluk jahat dan monster-monster bangkit dari sarangnya, bebas berkeliaran dan mengamuk desa.


Beruntungnya, Kegelapan Ketiga tak selama era kegelapan sebelumnya, berkat negara-negara yang bersatu, umat manusia mencapai kemenangan melawan kegelapan. Dan sekarang, aku bisa menikmati masa-masa kedamaian.


“Bagaimana jika aku menunjukkan keahlian sihirku untuk mendapatkan surat-surat itu?”


Selama berabad-abad, sihir dan penyihir telah banyak membantu memajukan peradaban hingga masa kini. Karena itu, banyak penyihir yang mendapatkan keuntungan khusus. Salah satunya adalah penyihir yang dikenal di seluruh negeri dengan sebutan Pembawa Kabar. Penyihir itu bisa berpergian kemanapun ia suka, dan membawa kabar yang datang bersama angin ke setiap negeri yang dikunjunginya.


Perang pada Kegelapan Ketiga juga tak luput dari bantuan para penyihir hebat. Bukankah tak aneh jika aku yang putri seorang penyihir terkuat mendapatkan hak-hak khusus?


“Dengar, nona. Jika nona tak memiliki surat-surat itu, orang-orang tak akan mengakuimu dan semua aksesmu terbatas. Yang berarti, tak ada gunanya kamu menunjukkan sihir itu setiap kamu memasuki gerbang kota ataupun memesan makanan di kedai.”


Aku terkejut dan menegakkan kepalaku. “Bahkan jika aku penyihir terkuat di dunia sekalipun?”


“Bahkan bagi dewa sekalipun, jika tak memiliki surat-surat yang diperlukan, orang-orang tidak akan percaya padamu. Itulah orang yang zaman sekarang percayai, selembar kertas.”


“Yang benar saja!?”


Bagaimana sekarang? Jika aku tak memiliki surat itu, mimpiku untuk mengunjungi setiap negara akan sia-sia. Aku tak bisa terus menerus meminta Edras membayar setiap gerbang, uangku juga ada batasnya. Aku harus menggunakan uang untuk hal-hal yang utama saja. Apa aku kembali ke rumah dulu dan meminta bantuan ibu?


“Ada apa nona?” tanya pelayan itu. Tampaknya dia menyadari wajah resahku.


Tentu saja aku resah, aku tak tahu jika ingin berkeliling dunia harus menyiapkan hal semacam itu. “Bagaimana caraku untuk membuat surat itu?”


“Pertama, nona setidaknya harus berumur 18 tahun. Setelah datang saja ke balai kota, gedung berwarna putih di ujung jalan. Di sana ada pegawai yang akan membantu nona menyelesaikan pembuatan surat itu,” jelasnya.


“Tetapi, aku baru saja berulang tahun sebulan yang lalu. Aku tak mau menunggu setahun disini.”


“Bagaimana kalau kubantu?”


“Sungguh!?” Aku melompat begitu bersemangat hingga menjatuhkan kursiku dengan kencang. Orang-orang melempar pandangannya ke arahku.


“Datang saja besok pagi di sini.”


Aku langsung saja menyetujuinya. Pria itu ingin membantuku, jadi aku tak bisa membiarkan niat baiknya terbuang sia-sia. Aku pun kembali ke penginapan. Tak terasa malam sudah tua, karenanya tak banyak orang yang beraktivitas di luar. Lampu Ausor menerangi jalanan yang tertimbun salju.


Aku mendatangi kamar Edras dan mengetuk pintunya. Karena ia adalah teman pertamaku, aku berpikir untuk memberi tahunya tentang rencana besok. Aku juga ingin bercerita tentang kedai yang sangat berbeda dengan milik ayahnya. Aku ingin menunjukkan jalanan kota saat tak ada kuda dan orang-orang lalu lalang. Bercerita hingga pagi dan tertawa bersama dengan puas mungkin akan menyenangkan. Tapi, kutunggu lama pintu terbuka, tak ada jawaban. “Kurasa sudah tidur,” benakku. Aku tak ingin mengganggunya, jadi aku menyudahi niatku dan memilih untuk tidur.


***


Lelaki itu kembali saat malam sudah semakin pekat dan cahaya lilin semakin pudar. Setiap langkah kaki pada tangga yang dinaikinya, begitu berat dan melelahkan. Ia mengusap matanya sembari menguap.


Di lantai atas, lelaki itu berjalan ke arah kamarnya di kiri lorong. Akan tetapi, ia justru berhenti di pintu sebelah kanan. Ia mengetuk pintu itu dan memanggil sebuah nama, “Niva ….” Tak ada jawaban tapi pintu itu terbuka dengan sendirinya tanpa ada siapapun dibaliknya. Seolah-olah pintu itu membukakan jalan untuk lelaki itu.


“Dasar. Jangan bilang kamu tidak mengunci pintumu karena menungguku,” gumamnya.


Ia pun masuk secara perlahan dan melemparkan pandangannya ke sekitar. Terlihat gadis berambut seputih salju itu tertidur pulas dalam ranjang empuknya. Rambut panjangnya terurai seperti selimut salju. Gadis itu terlelap dalam ketenangan mimpi indahnya. Lelaki itu tersenyum, memandangi sang gadis yang tampak seperti putri salju yang kesepian.


Lampu lilin menerangi seisi kamar dari langit-langitnya, tapi tidak hati kosong gadis itu. Sang lelaki meletakkan sebuah kotak putih di meja sebelah ranjang dan sepucuk kertas di atasnya. Ia lalu keluar dan menutup pintunya. Ia kembali ke kamarnya.