
Apakah arti dari sebuah lukisan?
Apakah lukisan adalah visualisasi dari bentuk dan materi yang tercipta di alam, atau sebuah ide yang tersusun sebelum terciptanya sebuah materi?
Atau bahkan berarti nilai-nilai yang lebih dalam dan kompleks pada seluruh kehidupan makhluk hidup?
Ataukah lukisan itu sama seperti makanan? Memiliki berbagai macam rasa, sensasi dan selera yang berbeda bagi siapapun yang menyantapnya.
Aku memikirkan apa yang seharusnya tidak kupikirkan. Namun, ketika aku melahap rasa baru tersebut, aku mulai mencerna apa, kenapa atau bagaimana kandungan dalam rasa itu untuk bisa di jelaskan. Melalui titik sensitif lidah dan pikiran polosku, aku mengangguk pada pemahaman yang tidak kumengerti, tetapi bisa kunikmati.
Pagi hari di kota ini, terasa sangat berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya. Ucapan yang berbeda, perbincangan pagi yang berbeda, masalah sepele yang berbeda dan konsumsi yang juga berbeda. Benar-benar beda.
Di kota ini, aku merasakan gejolak yang juga sama berbedanya. Setiap kota penuh badai ide yang terombang-ambing di pusat pikiran mereka. Memikirkannya seperti apa idenya saja sudah begitu sulit, apalagi dengan menerapkannya dalam sebuah coretan warna di lembaran putih. Begitulah yang terjadi setiap paginya di kota ini. Kota para pelukis.
Hampir semua penduduk di Kota Pelukis berprofesi sebagai seorang seniman lukis, bahkan peraturan yang berlaku disini lebih mengutamakan pada seni lukis. Aku memang pernah mendengar kota ini sebelumnya, tapi tak kusangka kota ini lebih berseni daripada yang kuduga.
Semua lukisan yang terkenal, berasal dari sini. Dari kepala mereka yang dipaksa untuk memeras semua ide tersebut. Harga satu lukisan saja bisa mencapai ratusan Pengrium Perak atau puluhan Pengrium emas. Aku merasa lega karena mereka masih menerima Pengrium, bukannya lukisan sebagai alat tukar-menukar mereka.
Terlepas dari betapa pentingnya sebuah lukisan sebagai komoditas utama, kota ini kuakui cukup indah. Setiap lukisan dipajang sepanjang perumahan, menggambarkan tiap pemiliknya. Semuanya memiliki kesan yang berbeda-beda, tapi tetap indah, setidaknya bagiku. Terutama sebuah pohon berdaun putih di tengah kotanya.
Kata Aeron, pohon itu adalah Pohon Mapel Putih. Simbol kota ini yang merupakan objek pertama untuk lukisan sang pendiri kota ini. Aku belum pernah melihat pohon berwarna putih sebelumnya, selain karena salju. Membuatku terpaku di bawah bayang-bayangnya. Daunnya yang bersarang di topiku, seperti memberiku sebuah perasaan merinding akan indahnya dunia.
Aku memandangi tupai yang merayap dari dahan ke dahan, lalu berbalik memandangiku dengan mata kecilnya. Tupai itu juga pasti memahami apa yang kurasakan. Semoga tubuh kecilnya mampu menyerap semua makna yang dunia berikan. Akhirnya, tupai itu pergi ke dalam persembunyiannya yang aman dari segala beban pikiran, atau karena suara goresan dan gumaman seseorang di balik papan lukisan yang membuat tupai itu pergi.
“Hei,” panggilku. Orang itu menghiraukanku, sibuk dengan lukisannya. Aku menghampirinya. “Hei, apa kau menjadikanku objek lukisanmu? Aku sangat mengapresiasinya, tapi bukankah itu tak sopan kalau kau tak meminta izin terlebih dahulu?”
Pemuda itu terperangah, “Demi tinta Mervan! Kau ternyata lebih indah saat dilihat dari dekat! Aku tak pernah melihat objek seindah dirimu, nona.”
“Terima kasih.” Dia ternyata pintar memuji. Aku akan memaafkannya.
“Maafkan tindakanku, nona. Namaku Charley. Sebenarnya … aku sedang mencari ide untuk lukisanku di luar, lalu tak sengaja menemukanmu. Aku terkesan dengan seluruh keindahan yang nona miliki. Tubuhku langsung bereaksi dan menuangkannya di lembar lukisku, bolehkan?”
“Tidak, nona. Keindahanmu yang kau berikan sebagai objek sudah cukup bagiku,” jawabnya.
“Baiklah, lalu apa yang harus kulakukan?”
"Lihat saja ke atas, langit atau dahan pohon. Seperti yang kau lakukan sebelumnya.”
Tak perlu menunggu lama seperti surat-suratku, lelaki itu berteriak selesai dengan sangat kencang. Posisiku dengannya sebenarnya cukup jauh. Aku bahkan penasaran apakah dia bisa melukisku di jarak seperti ini. Aku hanya berdiri sekitar 30 menit selama dia melukis. Itu sangat cepat atau mungkin karena aku terlalu menikmati keindahan butiran salju yang senada dengan daun mapel yang berguguran.
“Boleh kulihat?” pintaku. Sebelum aku sempat melihatnya, Charley segera menarik lukisannya dan berusaha menyingkirkannya dari pandanganku.
“Tidak! Hasilnya tidak sesuai! Kita akan memulai dari awal lagi!”
“Tapi aku ingin melihat hasilnya terlebih dahulu.”
“Maaf, nona, tapi aku tak bisa memperlihatkan karya yang tidak aku sukai.”
Apakah seburuk itu lukisannya? Bukankah memberikan kesempatan orang lain untuk melihatnya dan menilai suatu karya akan memberikan sudut pandang baru dan saran sebagainya? Atau mungkin dia tipe orang yang tidak percaya diri. Tak kusangka ada seniman semacam itu di kota ini. Dari buku yang kubaca dan cerita Ibuku, seniman seharusnya sosok yang percaya diri dengan hasil karyanya, bukan? Tiap orang memiliki gayanya yang berbeda-beda dan dengan membanggakan hasil tangannya bukankah itu berarti menunjukkan kesungguhan dan kemurnian cintanya pada bidang yang dia tekuni? Semoga saja aku tidak salah.
“Nona … bisakah kau kesini sebentar?”
Aku menghampirinya begitu dia memanggilku.
Lelaki itu sedikit memalingkan wajahnya dariku. Berlindung di balik kanvas putih di atas papan kayu dengan tiga kaki. Ada rasa malu yang berusaha dia sembunyikan dariku. Aku bisa melihatnya. Itu sangat jelas sekali. Tapi, untuk menghormatinya, aku menunggunya untuk mengumpulkan keberanian dan mengatakannya langsung.
“Jadi, begini … Tidak lama lagi, kota akan mengadakan lomba lukisan tahunan. Lomba ini sangat penting bagi kami para pelukis. Karena itu, bi-bisakah … nona … membantuku sam-sampai hari lomba. Ma-maksudku, karena rupa nona sangat indah. Perwujudan keindahan jika boleh aku jujur, aku yakin kecantikan nona akan membuahkan karya yang sempurna. Nona tidak perlu khawatir. Jika aku menang, hadiahnya akan kubagi dua.”
Sekarang semua jelas. Laki-laki di depanku ini mencoba untuk memanfaatkanku. Dia menyadari bahwa aku bisa berguna bagi kepentingannya, lalu mengeluarkan segala puji-pujian untuk merayuku, untuk membuatku takluk dalam genggamannya. Aku tahu. Dia lelaki yang suka memanfaatkan wanita. Padahal dari cara berpakaiannya, mantel lengan panjang biru yang rapi dengan pita putih di lehernya membuatku berpikir dia adalah lelaki yang sopan atau terhormat. Orang bilang, jangan menilai buku dari sampulnya. Sampul paling bagus sekalipun tak membuktikan isinya akan bernilai sama. Mungkin karena itu, aku lengah pada sanjungannya. Tapi, ada satu hal yang ingin kuminta penjelasannya.
“Hadiah yang kau maksud … apa itu?”