
Tempat ini begitu suram dengan bayangan masa lalu dan puing-puing yang tak terhapus badai. Tiap siklus ilusi yang kulihat, bisa kurasakan kesedihan bagaimana rasanya terkekang di bawah kendali sang ratu mereka. Aku tak ingin mengadu nasib dengan mereka, tapi aku benar-benar merasa kasihan dengan kehidupan yang mereka alami disini.
Meskipun tak ada lagi yang tersisa selain ilusi yang menyedihkan, tapi tujuanku datang ke sini bukan untuk ikut bersedih. Seperti yang ibu katakan, aku ditemukan dalam sebuah bongkahan es. Ibuku juga berkata, kalau Ratu Selenia juga memiliki kekuatan es. Meskipun ibu tidak sepenuhnya percaya, aku melihat kesinambungan Ratu Elifhiar dengan diriku. Karena itu lah aku berpikir untuk menulusuri lebih dalam tentang ini. Tentang ibu asliku.
Memang, pemberontakan dan kematian Ratu Selenia terjadi di Era Kegelapan Kedua, tepatnya 4000 tahun yang lalu. Kelihatannya memang mustahil, tapi tidak dengan diriku yang dibekukan. Ada kemungkinan aku sudah berada dalam kondisi beku sejak ribuan tahun yang lalu.
Kulihat di sebuah bangunan yang besar, tampaknya itu adalah kediaman sang ratu. Sepasang penjaga berdiri dengan tegap dan bersenjata lengkap, demi menjaga kediaman. Namun, wajah mereka tak menunjukkan kesenangan. Mereka sama seperti pemuda di gang sebelumnya. Mereka saling melempar mengatai ratu.
“Aku membenci ini!”
“Benar sekali! Aku tak percaya kita diperintah oleh seorang wanita! Wanita berhati dingin yang tak bisa memimpin dan mengatur negaranya sendiri. Harga diriku sebagai seorang prajurit hancur.”
“Ya! Wanita itu tak cocok sebagai pemimpin, tugas mereka hanya melayani suaminya saja.” Penjaga itu menyikut teman penjaganya, sembari menunjukkan senyuman aneh di wajahnya. “Kau tahu? Memuaskan para lelaki.”
“Kau benar,” ia membalas dengan senyuman yang sama.
“Apa maksudnya memuaskan kalian!? Memangnya wanita tak bisa memimpin!” semprotku ke para penjaga itu dengan kesal, meskipun aku tahu mereka tak akan bisa mendengarnya. “Semua orang disini benar-benar meremehkan wanita. Jika saja aku hidup saat peristiwa ini, akan kutunjukkan kekuatan seorang wanita pada kalian!”
Kutarik kembali kata-kataku soal mengasihani mereka, mereka tidak cocok dikasihani, mereka lebih pantas disebut sebagai manusia berpemikiran rendah. Apa yang merasuki mereka hingga berpikir bahwa wanita itu makhluk yang lemah? Apa mereka tak tahu kalau Sang Penyihir Agung itu seorang wanita. Penyihir terkuat di dunia seorang wanita, bukan pria. Alam pun disebut ibu alam, bukan ayah alam. Mata mereka harus benar-benar terbuka soal ini. Jika ibu mendengarnya, mungkin mereka tidak akan selamat untuk kedua kalinya.
Memangnya selemah apa Ratu Selenia itu? Bahkan Sang Penyihir Agung mempercayakan salah satu dari 9 Permata Sihir padanya. Itu membuktikan jika Ratu Selenia cukup kuat untuk menguasai salah satu Permata Sihir. Bukankah itu menakjubkan?
Permata Sihir diciptakan Sang Penyihir Agung untuk membantu umat manusia. Total ada 9, dan salah satunya milik ibuku, yaitu Permata Asua. Kekuatan tiap permata berbeda-beda, Permata Asua memiliki kekuatan untuk menciptakan kehidupan, sementara permata milik Ratu Selenia memberikan pemegangnya kemampuan untuk memanipulasi pikiran lain.
Berbeda dengan permata lain, Permata Selenia terdiri dari 3 pecahan batu berwarna putih. Masing-masing mampu memanipulasi bagian terpenting dari manusia. Satu untuk pikiran, satu untuk emosi, dan satu untuk perasaan. Ketika dipakai bersamaan, mengendalikan naga seperti boneka bukan lagi hal yang mustahil baginya.
Meskipun kesal, aku berusaha mengabaikan kedua penjaga itu seperti ilusi lainnya dan memasuki kediaman itu. Dari semua bangunan, hanya kediaman sang ratulah yang masih tetap berdiri. Tak sedikit bagian bangunan yang hancur, aku melompati tangga yang terputus untuk sampai ke lantai atas, penuh dengan ruangan-ruangan di sepanjang lorongnya.
Sebuah ilusi kutemukan di salah satu ruangan yang tak memiliki dinding di depannya, sehingga terpampang dengan jelas pemadangan di luar. Meskipun benar-benar kosong dan tak berbentuk seperti kamar, aku menduga jika ini kamarnya. Tepat di pinggir ruangan yang terbuka, ilusi seorang wanita memandang ke luar. Ilusi sang ratu.
Dia tampak anggun dengan gaun biru putihnya. Badannya tegap dan tinggi. Terlepas dari berkontrak dengan iblis, wanitu itu kuakui memang cantik. Mata birunya tampak dingin, tapi bisa kurasakan juga kesedihan pada tatapannya yang mengarah ke kota. Kurasa, ia memandang keluar jendela.
Sebagai seorang ratu, tak banyak perhiasan yang ia pakai. Dari yang kulihat hanya ada 3 perhiasan bertatah permata. Tiara yang menghiasai rambut peraknya, kalung yang menggantung di leher rampingnya, dan gelang yang menambah pesona kulit wanitanya.
“Apa yang anda lihat?” Seorang wanita muncul dari pintu. Ia mengenakan gaun biru dengan aksen hitam di bagian atasnya.
“Rakyatku,” jawab sang ratu dingin. “Dari yang kuingat, kunjungan seharusnya masih satu jam lebih lama. Apa yang kau lakukan disini, Nyonya Veriana?”
“Tak ada. Aku hanya ingin menemui wanita yang pernah merawatku dulu.” Saat ratu berdiri bersebelahan dengan wanita itu, ia benar-benar terlihat seperti tiang. Aku pun hanya setinggi dadanya saja. “Apa anda menyukainya? Memandangi rakyat anda dari balik jendela kamar yang hangat,” wanita itu bertanya pada ratunya.
Wanita itu bisa bercengkerama dengan ratu secara bebas. Kurasa wanita itu sangat spesial di mata ratu. Ucapannya yang mengalir begitu saja juga tak menunjukkan kalau dirinya terkena pengaruh kendali pikiran.
“Aku mencintai rakyatku itu wajar. Aku ratu mereka.” Sang ratu masih tetap sedingin es. Tak ada senyuman terukir di wajahnya.
“Tapi rakyatmu tidak mencintaimu,” sindirnya cukup menyakitkan. Tapi, tampaknya ratu tak sudah sekaku gunung es. “Ada banyak lelaki yang jatuh cinta padamu, ratuku. Segera pilihlah salah satu dari mereka dan jadikan sebagai raja.”
“Aku tak bisa menyerahkan negeri yang suamiku tinggalkan padaku ke laki-laki yang haus akan kekuasaan dan terbutakan oleh nafsu semata. Jika salah satu dari mereka menjadi suamiku, menjadi raja, maka cinta akan lebih sulit ditemukan di negeri ini daripada di tanah yang membeku.”
“Tapi, raja sudah lama meninggal dan bayi di perutmu telah pergi sebelum bisa melihat wajah ibunya. Anda sekarang sendiri, dan anda tak bisa melakukan semuanya sendiri. Apalagi dengan rakyat yang tak mencintai sang ratu. Karena itu, anda harus memikirkannya sebelum hal yang buruk terjadi.”
Aku sudah menduga hal itu. Sebelum aku datang kesini, aku telah meneguhkan hatiku untuk kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Ratu memang memiliki bayi, tapi bayinya sudah gugur dalam kandungannya. Dengan kata lain, Ratu Selenia bukan ibuku.
“Hal buruk apa yang bisa terjadi disini? Aku tak pernah mendengar kata itu selama puluhan tahun.” Ratu tampak berpura-pura. Hal buruk sudah banyak terjadi di antara ucapan para warga.
“Jangan bersikap dingin! Saya tahu kalau permata itu pemberian Sang Penyihir Agung, tapi permata itu telah merusak anda. Lihat diri anda sendiri! Anda tidak menua meskipun sudah mencapai 80 tahun. Tak hanya suami dan bayimu, tapi emosimu juga telah hilang darimu. Dimana wajah lembut dan senyuman yang dapat melelehkan embun salju waktu itu?” wanita itu mulai meninggikan suaranya.
“Kekuatan ini dibutuhkan untuk mengatur mereka yang tak ingin menurut. Aku tak masalah jika harus mengorbankan emosiku, aku melakukannya demi negeriku dan rakyatku.”
“Cinta macam apa yang anda berikan pada mereka?”
Aku meninggalkan mereka setelah perputaran tanpa batas terjadi. Tak ada lagi yang bisa kudapatkan selain ilusi para warga yang berlarian saat pasukan dari negeri lain datang untuk menghakimi sang ratu berhati dingin. Ratu Selenia hanya bisa menatap dari lantai atas. Ia tampaknya tak menggunakan kekuatan permatanya untuk mengendalikan musuh atau warganya untuk melingungi dirinya.
Pedang bersinar bak mentari, terangkat ke atas memulai penyerangan. Gagangnya berkilauan seperti emas, meskipun ilusinya berwarna biru. Dengan menunggangi seekor kuda abu-abu raksasa berkaki 6, pria bermahkota ribuan berlian itu memimpin pasukannya menghadapi sang ratu.
Kisahnya berakhir seperti yang ibu ceritakan. Aku masih tak tahu alasan mengapa ratu tak menggunakan kekuatannya. Mungkin saja ratu sudah melihat akhir dari perbuatannya dan karena tak bisa menghindarinya, ia pun pasrah.
Aku tak menganggap ratu yang menjadi penjahat di cerita ini. Ratu hanya melakukan yang bisa dia lakukan untuk rakyatnya. Aku berani bilang cintanya pada rakyatnya seratus persen murni. Hanya saja cara sang ratu mengekspresikan cintanya yang benar-benar salah. Hingga membuat kerajaan terbesar dan terkuat turun tangan karenanya.
Kecewa, itulah yang ingin kukatakan. Aku berkeliling dan mengamati tiap ilusi, berharap bisa mengetahui rahasia kelahiranku, dan kenyataannya tidak. Kurasa ibu masih tetap menjadi ibuku. Tak masalah, aku menyukai ibu. Meskipun jika aku menemukan orang tua asliku, aku tetap menanggap ibu sebagai ibuku. Tak ada yang bisa menggantikannya, bahkan wanita seperti Ratu Selenia.
Sampai aku meninggalkan negeri tragis ini pun, aku juga masih tak tahu bagaimana ilusi ini terus terjadi dan tanpa henti. Jika ratu sendiri yang menciptakannya, lalu untuk apa dan kepada siapa pesan ini ingin disampaikan olehnya?