Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Rumor yang menjadi kenyataan



Aku mencoba menggunakan kompas kedua kalinya setelah Rowan memberiku informasi korban lainnya, tapi hasilnya pun tetap sama seperti sebelumnya. Dengan begini, kemungkinan mereka bisa ditemukan akan semakin kecil. Menyisakan pilihan selanjutnya, menemui sang kekasih korban.


 


Lelaki itu tampak gemetaran. Di rumahnya yang gelap dan tirai yang sengaja tak membiarkan cahaya masuk, matanya selalu tak tenang, melirik ke sekeliling seolah ada orang lain selain diriku dan Rowan. Ia selalu bergumam bahwa kekasihnya, Elis, sudah mati.


 


“Apa kau tahu seseorang yang membencinya atau mungkin Elis memiliki kebencian terhadap seseorang?” tanyaku lembut. Aku berusaha menenangkan kegelisahannya yang tak berhenti semenjak kedatanganku.


 


Ia menggeleng cepat. “Tidak, dia orang yang baik.”


 


“Bagaimana denganmu? Apa kau pernah menyakitinya secara fisik?”


 


“Hu-hubungan kami baik-baik saja. Kami tak pernah menyakiti satu sama lain,” tuturnya diiringi bunyi gertakan giginya yang saling beradu.


 


Lelaki itu memperbaiki posisi duduknya untuk yang kesekian kalinya. Entah seseorang atau sesuatu membuatnya merasa tak nyaman. Saat aku sedang memberikan pertanyaan padanya, kadang ia mencengkeram kuat pegangan kursi ketika ada seseorang yang lewat di depan rumah atau ia memeluk lututnya saat mendengar bunyi-bunyi dari luar.


 


Wajahnya yang pucat dan kegelisahannya yang semakin menjadi membuatku justru semakin penasaran. Aku pun menanyakan padanya akan apa yang dia takuti sekarang.


 


Awalnya ia memilih tak menjawabku. Ia terus menolak menatapku. Saat, aku ingin menyentuhnya, lelaki itu berteriak seolah takut padaku. Tetapi tak lama kemudian, ia memutuskan untuk berbicara, “Makhluk itu. Makhluk itu yang membawa Elis. Aku melihatnya. Malam itu, dingin dan penuh badai, ia berkata padaku jika aku tak serius dalam hubungan ini, maka ia pergi. Tapi, aku bingung. Aku tak memberinya jawaban dan dia pergi. Saat itulah makhluk itu muncul dari kabut badai, dengan mata merah dan kulit hitam, bahkan di balik jendela sekalipun, aku tetap bisa merasakan kengerian dari makhluk itu. Makhluk itu bergerak sangat cepat seperti serigala dan membawa Elis pergi. Aku tak tahu harus berkata apa atau pada siapa. Aku takut jika makhluk itu kembali lagi kesini dan membunuhku, seperti Elis.”


 


“Apa kau tahu makhluk apa itu?”


 


“Mirip manusia, tapi dengan lengan dan cakar yang lebih panjang. Tidak seperti makhluk hidup manapun yang pernah kulihat sebelumnya. Menurutku itu hantu salju, seperti rumor yang warga bicarakan.”


 


“Rumor apa?”


 


“Hantu Elfor.”


 


Aku mendengarnya saat di pasar. Para pedagang itu juga menyebutkan Hantu Elfor. Kelihatannya, Hantu Elfor adalah cerita momok di kota ini yang sering diperbincangkan. Ketika momok itu menjadi kenyataan, terornya tumbuh lebih besar, tak hanya berdampak pada anak kecil saja seperti tujuan sebenarnya, tetapi juga merambat ke orang dewasa.


 


Hantu salju pada umumnya terkenal di sepanjang Ujung Garis Beku. Akan tetapi, negeri-negeri di selatan dan sekitarnya juga mengenal cerita yang sama, namun dengan nama yang berbeda. Semua cerita memiliki sosok yang sama dan rasa takut yang sama. Hantu salju merupakan perwujudan roh salju. Bisa menyerupai wanita, laki-laki, hewan atau bentuk yang tak dapat dijelaskan, namun umumnya wanita cantik dengan kulit pucat dan rambut seputih es. Hantu salju akan memperdaya seseorang agar terjebak dalam badai salju.


 


Ada kesamaan cerita tersebut dari kesaksian lelaki itu, hantu dan badai salju. Aku tak akan kaget jika pelaku dari orang-orang yang hilang tidak lain adalah hantu salju. Bagiku, aku percaya. Walaupun konyol dan sangat bodoh rasanya jika aku membandingkannya, tetapi ibuku adalah sosok yang tak bisa disentuh dengan cara apapun, seperti hantu salju. Itu sudah memperkuat kepercayaanku, tidak untuk Rowan dan sebagian warga kota ini.


 


 


“Elfor nama orang?” tanyaku dengan heran.


 


“Ya, namun pria itu hilang sebulan sebelum kejadian ini.”


 


“Kalau dia hilang, kenapa tidak dimasukkan ke daftar pencarian orang hilang seperti yang lainnya?”


 


“Untuk apa? Tidak ada warga sini yang menyukai pria itu,” dengus penjaga itu. “Kami semua membencinya. Kadang, beberapa warga melempari rumahnya dengan batu atau botol. Dan mereka tidak akan ditangkap atas perbuatan vandalisme karena para penjaga sendiri mendukung tindakan mereka.” Aku terkejut karena ia mengucapkannya dengan begitu santainya.


 


“Kenapa?” tanyaku terus mendesaknya memberikan kebenaran.


 


“Karena pria itu aneh, dia selalu mengurung diri di rumahnya, tak pernah tersenyum atau membukakan pintu untuk para tetangga. Dia juga seorang penyihir, tapi dia tidak sebaik dirimu, nona.”


 


Aku bingung. Rowan berkata sebelumnya kalau semua warga di sini tak pernah menunjukkan kebencian satu sama lain. Berkeyakinan bahwa mustahil jika kebencian atau kekerasan tersebut terjadi di kota ini. Penjaga itu juga bangga saat mengatakannya padaku.


 


Aku berpikir apa yang terjadi di kota ini, mungkin karena suatu keganjilan yang terjadi di antara mereka sendiri. Bukan hantu, monster atau badai salju. Perbedaan pemahaman akan apa yang dimaksud normalitas yang membuat mereka tak menyukai seseorang. Mereka begitu benci, begitu takut dengan apa yang menurutmu mereka menyimpang dari yang seharusnya. Aku percaya, jika benar apa yang dikatakan penjaga itu, maka sikap para warga pada Elfor membuat kestabilan mentalnya terganggu, karenanya dia memilih untuk menjauhi lingkungan sosial yang memaksanya.


 


Mungkin karena itulah orang-orang di pasar begitu takut saat melihat darah hitam tersebut, mereka takut jika itu ulah Elfor, tetapi tidak takut untuk meminta bantuanku yang juga seorang penyihir.


 


Setelahnya, aku segera mendatangi rumah Elfor. Rumahnya sangat berantakan, setiap ruangannya penuh dengan coretan dari arang. Beberapa coretannya tampak kasar dan tak bisa diidentifikasi, namun ada satu tulisan di dinding kamarnya yang membuatku penasaran. ‘Pria berbaju hitam disini!’


 


Aku menanyakannya pada Rowan dan tetangga di sekitar tapi tak ada yang tahu tentang maksud tulisan tersebut. Pria berbaju hitam bisa siapa saja, pedagang atau penjaga gerbang. Dugaanku adalah Elfor dan pria berbaju hitam memiliki suatu kaitan. Elfor sepertinya takut dengan sosok itu, garis-garis hitam tampak lebih tak rapi dari yang lainnya, seperti ditulis tergesa-gesa. Apapun itu, aku tak bisa memastikannya lebih jelas, mungkin orang lain akan berbeda pendapat denganku, tapi aku meyakini milikku sendiri. Untuk saat ini.


 


Di rumah tersebut, aku tak hanya mendapatkan tulisan aneh di dinding, tetapi segala sesuatu tentang Elfor yang belum terbuang. Oleh karena itu, kugunakan untuk mencari jejaknya melalui kompas. Penunjuk mulai berputar seperti kehilangan tujuan saat kugenggam dengan erat dan kubayangkan sosoknya. Tak berhenti bahkan saat aku membuka mataku kembali. Putarannya seketika memelan dan berhenti pada suatu titik. Barat laut.


 


“Bagaimana menurutmu?” tanyaku pada kompas, basa-basi saja. Ia seharusnya tahu maksudku.


 


Ia berdecak, mengetahui niatku, “Meskipun aku melarangmu, kau akan tetap pergi, kan?"


 


Kompas itu sekarang memahamiku. Aku memberikan senyuman terbaikku padanya. Senyuman yang menunjukkan rasa kepercayaanku padanya. Tetapi, sangat disayangkan dia tak bisa melihatnya.