Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Sayembara Berburu Monster pt.1



Pipiku terasa dingin. Tanganku juga, seluruh tubuhku terselimut dingin. Sesuatu yang tidak nyaman dan menyakitkan terasa pada seluruh tubuhku.


Rasa sakit tersebut membuat ingatanku saat-saat aku berlatih dulu muncul kembali.


Lalu, aku membuka mataku lebar-lebar. Butiran-butiran putih berguguran dari langit gelap yang membentang di atas seakan-akan semua bintang mulai berjatuhan, dan rasanya dingin saat butir salju itu mendarat di pipiku.


Aku menemukan diriku terbaring di padang salju asing, di tengah hutan. Dengan posisi miring, aku terdiam seolah memproses apa yang sudah terjadi. Salju yang dingin dan lembut hampir membenam sebagian tubuhku yang sulit untuk digerakkan.


Semuanya terasa sunyi. Hanya terdengar bunyi atmosfer hutan pada malam hari seperti bisikan gaib dan cabang pohon yang saling bergesekan. Samar-samar, ingatanku menyatu kembali. Aku ingat aku pergi ke hutan ini karena sedang berburu sesuatu—seekor monster. Namun, tiba-tiba sesuatu yang besar menabrakku dari belakang, membuatku melayang di udara selama beberapa saat, lalu semuanya gelap.


Ketika sudah teringat, aku mendesah panjang, kepulan asap keluar dari mulutku.


Berbaring di padang salju sebenarnya cukup nyaman, sampai-sampai aku merasa tak ingin bangun sama sekali. Rasanya sangat berbeda dengan berbaring di kasur hangatku yang beraroma manis. Jika saja aku tidak dikejar waktu, aku mungkin akan berbaring di sini sedikit lebih lama lagi.


Saat aku memaksa ingin bangun, punggungku terasa amat sakit. Punggungku tak bisa digerakkan sama sekali, bahkan nafasku ikut tercekik karenanya. Rasanya seperti tulangku ada yang patah atau organ dalamku bergeser. Aku bahkan harus memegangi punggungku seperti orang yang sudah rapuh karena usia saat berusaha untuk bangun.


Jika tidak ada jubahku yang tertanam mantra perlindungan, tulangku pasti sudah hancur semua dan tubuhku akan terbelah menjadi dua.


“Aku tidak bisa bangun dengan kondisi yang menyedihkan seperti ini.” Kemudian, tanganku bercahaya saat memegangi punggungku. Bersamaan dengan itu, muncul cahaya kebiruan dari balik kerah baju putihku. Cahaya di telapak tanganku itu memberi sensasi sesejuk belaian angin pagi hari pada punggungku. Perlahan demi perlahan, aku tidak lagi merasa sakit. Semua rasa sakit di tubuhku langsung hilang secara ajaib dan aku bisa bergerak dengan sehat lagi. Aku bisa bernafas lega.


Aku lalu menarik keluar kalungku dari dalam kerah baju. Di kalung itu, tergantung sebuah permata berwarna sebiru laut. Bentukannya kasar seperti bekas baru ditambang dari dalam gua. Karena sebenarnya, permata itu adalah pecahan dari permata asli yang jauh lebih cantik dan menyimpan kekuatan yang sesungguhnya. Meskipun hanya pecahannya, benda ini tetaplah Permata Asua yang legendaris.


Warnanya yang bening dan jernih seperti memantulkan perasaan yang lembut padaku. Dengan melihatnya saja, sudah cukup untuk menyembuhkan hatiku yang gelisah. Lalu, aku memasukkan kembali kalungku ke dalam kerah baju.


Aku membuka tas koper yang tergantung pada bahuku dan melihat isinya. “Pakaian, masih ada. Makanan, ada. Pelples, buku, surat-surat … Bagus! Semuanya lengkap.” Aku menghela nafas lega setelah memeriksa bahwa barang-barangku masih ada dan dalam kondisi yang utuh.


Aku menyapu sekitar dan menemukan sebuah topi runcing tergeletak di batu tak jauh dari tempatku terbaring. Aku mengambilnya, menepuk salju di topi itu, lalu memakainya di kepalaku.


Berikutnya, aku menemukan sebuah tongkat besar tersangkut dalam semak-semak. Aku menarik tongkat itu dari semak. Itu adalah tongkat sihir yang hampir setinggiku dengan bagian ujungnya yang melengkung seperti kail. Terbuat dari kayu pohon khusus. Cukup ringan dan nyaman dalam genggaman, juga berguna untuk menarik, mendorong sesuatu atau membantuku sebagai alat bantu jalan.


Alih-alih menepuk baju dan rokku yang kotor, aku melambaikan tongkat besarku. Embusan angin kecil berputar-putar di sekitarku seperti mengajakku menari. Alirannya bergerak dengan lembut melalui jubahku, lalu menyelinap ke setiap helai rambut putihku dan membawa butiran salju yang menyangkut. Angin membawa terbang salju seperti titik-titik bintang di langit yang berkemilau saat berjatuhan di udara.


Tergantung pada tongkat dan menimbulkan bunyi derak saat kuayunkan adalah sebuah kompas perak yang masih cemerlang seperti biasanya. Kompas itu diikat dengan pita berwarna hijau.


“Jadi, dimana makhluk itu sekarang?” Aku bertanya sambil memandangi piringan kompas itu yang terdapat arah mata angin beserta jarum penunjuknya yang terus bergerak secara acak tanpa henti.


“Kau benar-benar gadis yang bodoh, ya. Bukannya mengkhawatirkan dirimu sendiri, kau justru malah memikirkan makhluk itu.” Suara itu terdengar dari kompas perak tersebut. Suara seorang laki-laki muda yang terkesan kurang ajar.


“Tentu saja! Jika aku berhasil menangkap makhluk itu, aku akan memenangkan sayembara ini,” balasku mendengus kesal.


“Apa kau tidak ingat makhluk itu sudah menabrakmu sangat keras sampai membuatmu terpental di udara?”


“Memangnya kenapa? Toh, aku masih tetap berdiri di sini dengan sehat, bukan?”


“Aku tidak pernah menemukan pemilik sebodoh kau yang rela mengorbankan nyawa hanya untuk kepingan logam saja!” gerutunya.


“Kalau aku tidak segera mendapatkan uang, pada akhirnya aku juga akan mati kelaparan. Aku ini tetap seorang manusia biasa,” ucapku berusaha menenangkan kegelisahan kompas tersebut. “Tenang saja, aku tidak bersumpah untuk mati dan kau tidak akan pernah kehilangan pemilik lagi.”


Si kompas terdiam. Dengan kata lain, ia setuju. Lalu, ia menghela nafas panjang dan berkata, “Terserahlah.”


Maka, sudah waktunya kembali ke tujuan utamaku datang ke sini. “Aku mengandalkanmu, Aeron. Seperti biasanya.”


Aku menggenggam kompasku dengan posisi mendatar. Kugenggam logamnya yang dingin dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya, lalu kupejam mataku dan kubayangkan apa yang paling kuinginkan dalam benakku. Saat kubuka kembali mataku, terlihat penunjuknya yang terus berputar perlahan berhenti di salah satu titik pada arah mata angin. Maka ke sanalah aku akan pergi.


“Pokoknya berhatilah-hatilah.” Kompas mengingatkan lagi.


“Tenang saja, aku ini penyihir yang kuat,” jawabku dengan penuh percaya diri.


***


Di hari yang sama, tepatnya pagi hari. Saat itulah awal mulanya terjadi.


Biasanya, kota-kota di Ujung Garis Beku memiliki karakteristik yang hampir sama: sepi, suram, dan terpencil. Namun, tampaknya yang ini tidak. Aku baru saja meninggalkan kota sebelumnya yang memiliki ciri seperti itu, dan begitu sampai di kota yang satu ini, aku sangat terkejut akan perbedaannya yang sangat jelas.


Aku masuk dan menemukan jalanan kota cukup padat sampai di titik dimana aku harus berhati-hati agar tidak terjepit oleh orang-orang yang lalu lalang. Setiap sudut jalan, termasuk gang sempit sekalipun terisi oleh kehidupan. Keberadaan kios-kios makanan di pinggir jalan beserta aromanya yang merangsang kelenjar air liurku juga menambah keramaian kota ini.


“Benar-benar kota yang ramai,” gumam Aeron.


“Ya, aku penasaran apakah ada suatu acara di sini?”


“Oh, kau tidak tahu?” Suara seorang pria muncul dari belakangku tepat waktu seolah-olah dunia mendengar pertanyaanku dan langsung memberikan orang yang tepat untuk menjawabnya.


Pria berusia tidak terlalu tua itu mengenakan mantel berbulu tebal—pakaian umum bagi Orang Utara. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah pedang di pinggangnya. Saat aku berbalik dan memperhatikan orang lainnya, aku baru sadar kebanyakan orang juga membawa senjata yang beragam.


Kenapa orang-orang membawa senjata? Apa ada semacam pelantikan pasukan di sini? Atau akan ada pertikaian?


Tidak lama, pria itu menjawab, “Kota ini sedang mengadakan sebuah sayembara.”


“Sayembara?”


“Ya, sayembara berburu monster!”


Saat aku mendengarnya, aku sedikit bingung. Hanya sebuah sayembara berburu monster, tetapi sampai seramai ini? Faktanya, itu bukan sayembara biasa.


“Dimulai tiga bulan yang lalu, kota ini diteror oleh seekor monster buas sebesar gubuk,” ungkap pria itu. “Tidak ada yang tahu darimana monster itu datang, tapi kemunculannya yang tiba-tiba membuat kota ini berada dalam masa-masa kengerian. Rumah-rumah terluar dihancurkan, ternak dibantai dan orang-orang yang lewat di hutan lenyap secara mendadak. Semua itu adalah ulah si monster. Walaupun penjaga kota sampai pemburu lokal sudah dikerahkan untuk memburunya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil.”


“Karena itulah diadakan sayembara ini?”


“Betul. Orang-orang yang kau lihat di sekitarmu sekarang adalah pemburu yang hebat, termasuk aku. HA HA HA!” Dia membusungkan dadanya saat tertawa.


Jadi, dengan diadakannya sayembara, mempermudah mengumpulkan banyak orang-orang berpotensi dari berbagai macam tempat tanpa harus repot-repot mencarinya satu per satu. Dan mereka yang berpotensi tersebut adalah para pemburu. Namun, aku tidak bisa mengatakan semua yang membawa senjata adalah pemburu dan tidak semua yang tidak membawa senjata bukan pemburu.


Apapun itu, sayembara ini benar-benar cukup sukses untuk mendatangkan amat sangat banyak orang, yang berarti banyak pula profit yang didapat. Aku sampai merasa sayembara ini seperti tidak lagi bertujuan untuk mengakhiri teror monster, tetapi untuk mendapatkan keuntungan dari wisatawan. Karena menurutku, memberi keamanan warga dan mengadakan sayembara adalah dua tujuan yang berbeda.


“Kalau hanya ingin memburu monster itu, kenapa tidak menyewa pemburu saja atau meminta bantuan dari kota lain? Bukankah itu lebih efisien daripada mengadakan sayembara?”


“Kenapa kau bertanya padaku? Mana kutahu!” Mendadak pria itu menjadi jengkel dan senyuman kebanggaannya hilang. “Pemburu sepertiku tidak perlu memikirkan hal yang rumit-rumit. Aku datang ke sini hanya untuk hadiahnya saja.”


“Oh, hadiah?” Aku cukup tertarik untuk mendengar lebih lanjut.


“Ya! Bagi siapapun yang berhasil menangkap makhluk itu hidup-hidup, maka akan dihadiahi 100 keping Pengrium emas.”


“100 … Pengrium emas!?”


Itulah yang aku maksud dengan sayembara ini bukan sayembara biasa.


Mendengar dan membayangkan jumlah uang sebanyak itu, membuat kepalaku terasa sangat berat seolah-olah diisi oleh ratusan kepingan logam yang menimbulkan bunyi dentingan indah. Bunyi yang sama menggiurkannya dengan aroma roti hangat dari kios pinggir jalan.


Sepuluh keping koin perak. Itu adalah uang yang aku miliki sekarang. Untuk menginap selama tiga hari cukup, tetapi tidak untuk hari-hari berikutnya atau perjalananku selanjutnya. Bisa dibilang, aku berada di titik dimana aku bisa menjadi seorang pengemis jika aku benar-benar putus asa.


Bukan berarti aku orang yang mata duitan atau semacamnya, aku hanya berpikir realistis saja.


Di tempat manapun, uang adalah hal yang sangat penting. Uang diperlukan untuk membeli hampir semua bagian dari kehidupan: makanan, pakaian, tempat tinggal, bahkan kebahagiaan. Apalagi, seorang pengembara sepertiku yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya pasti akan bertemu dengan kegiatan ekonomi yang memerlukan pertukaran dengan uang. Bohong jika aku bilang aku tidak membutuhkan uang. Aku memerlukan uang seperti aku memerlukan nyawaku untuk bisa hidup.


Oleh karena itu, aku merasa sayembara ini seperti pintu keluarku dari masalah kemiskinan yang sedang kualami. Aku tidak melihat kesempatan itu harus disia-siakan.


“Kalau begitu, bagaimana caraku untuk ikut?”


Mata pria itu terbelalak mendengar ucapanku. “Kau mau ikut? Apa kau serius? Memburu monster itu adalah pekerjaan yang kejam dan berbahaya, bukan hal yang bisa dilakukan gadis muda sepertimu.”


Ada yang bilang, kebohongan atau kejujuran orang lain bisa dilihat melalui mata mereka. Jadi, aku mendorong pinggiran topi runcingku ke atas dengan tongkatku dan memperlihatkan mata biruku yang cantik sambil tersenyum pada pria itu.