
Aku mengangkat surat-surat itu di udara dan memandanginya dengan bahagia. Sama seperti saat aku meninggalkan kota, aku merasa sangat bahagia pada para warga yang melambaikan tangannya padaku di sepanjang jalan. Berat rasanya untuk meninggalkan tempat hangat ini. Kadang, aku pun berpikir untuk tinggal disini selamanya. Karena dekat dengan rumahku, aku bisa mengunjungi ibu dan mengajaknya sekali-kali ke kota. Tapi, itu tak akan bisa terjadi. Langkahku tak boleh terhenti dan aku tak boleh menoleh kembali ke belakang.
“Apa kau yakin ingin pergi ke sana? Tempat itu sudah menjadi alam liar,” ucapnya risau.
“Aku hanya tertarik dengan apa yang terjadi disana,” jawabku acuh. Aku sibuk mengamati surat-suratku. “Tak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku … mungkin.” Bisa kudengar lelaki itu membuang nafasnya.
Kubaca berulang-ulang tulisan dari tinta hitam ‘Surat Izin Berkunjung’ itu. Kupandangi namaku, nama ibuku dan tanda tangan seperti aku memandangi bulan yang cantik. Meskipun Edras mengejekku dan menganggapku aneh, aku tidak peduli. Aku sangat menyayangi surat-suratku.
Terlalu sibuk mengagumi lekukan indah tinta itu, angin dingin tiba-tiba menerbangkannya jauh ke dalam hutan. “Surat-suratku!” teriakku yang tanpa basa-basi, melompat dari kereta yang sedang berjalan dan berlari mengejar ke mana angin itu membawa suratku. Meskipun Edras berteriak memanggilku, aku tidak peduli. Aku sangat menyayangi surat-suratku dan aku tak bisa kehilangan mereka.
Kuedarkan mataku ke penjuru hutan, ke langit-langit pohon, bahkan ke bawah batu dan batang pohon yang lembab. Walau salju membenamkan sepatu botku, bukan berarti aku harus berhenti.
“Niva!” panggil Edras yang berlari sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk mengejarku. “Kita kembali saja dulu. Kita akan cari lagi saat salju tak terlalu deras.”
“Tidak mau!”
Aku terus mencari kemana surat-suratku berada. Kalau perlu, akan kususuri seisi hutan dan sungai yang membeku.
Gemerisik suara dan canda tawa tertangkap oleh telingaku. Aku menuju ke sumber suara itu dan semakin dekat. Kulihat 3 orang pria dengan pakaian tebal dan penuh senjata sedang berkumpul di pinggir sungai yang beku.
“Bos, aku menemukan surat-surat ini. Pemiliknya … Ni … va … Niva … entahlah. Kudengar surat-surat ini bisa kita jual dengan harga yang tinggi.” Salah satu pria itu memegang suratku. Berani sekali mereka ingin menjual surat yang membuatku harus menunggu selama berhari-hari itu.
“Niva! Itu bandit! Sebaiknya kita pergi ke kota dan lapor petugas terlebih dahulu,” bisik Edras. Tentu saja aku menghiraukannya.
“Tidak! Aku akan memberi mereka hukuman,” geramku.
Aku beranjak keluar dari pepohonan dengan santainya. Kutatap tajam ke mereka, terutama pria yang yang memegang surat-suratku. “Permisi, tuan-tuan. Aku sedang mencari surat-suratku yang terbawa angin, tunggu, apa itu? Oh, itu suratku yang tuan bertubuh kurus itu pegang.”
“Siapa yang kamu bilang kurus!?” Pria itu bangkit dan menarik pedangnya setelah kupancing sedikit.
“Maaf, bisakah tuan-tuan berikan surat itu padaku, secara BAIK-BAIK?”
“Benarkah? Tapi, di surat itu tertulis namaku.”
Pria itu lalu mengambil suratku. “Begini saja, nona. Jika nona ingin kembali hidup-hidup, bagaimana kalau bermalam denganku?” ia tersenyum. Senyuman yang jelek. Bahkan lebih jelek daripada senyuman Ayah Edras.
“Bagaimana jika kutolak?”
“Ucapkan selamat tinggal pada surat-suratmu.”
Maka, aku tidak ada pilihan lain. Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Kujentikkan jarikuku, seketika bola-bola salju terlempar ke wajah para bandit itu. Mereka semakin marah dan berusaha menyerangku dengan pedang berkarat milik mereka. Akan tetapi, kubuat tanah salju mengikat kaki mereka agar tak bisa meraihku. Percuma saja mereka bersusah payah memberontak, tak ada satupun yang bisa terlepas dari genggamanku.
Kuangkat tangaku ke atas, lalu tanah salju ikut terangkat, menghimpit dan meremas mereka seperti kue. Mengaduk mereka seperti adonan bola salju yang besar. Bola salju yang berisi para bandit itu kuangkat tinggi-tinggi di udara dan membantingnya dengan keras. Adonan hancur lebur tak bersisa.
Aku menghampiri mereka dengan tatapan yang dingin. Aku memutar jari-jariku di udara. Perlahan jari-jari kaki mereka mengeras dan membeku, lalu terus naik ke tubuh mereka. “Jangan macam-macam denganku!” Es sekarang sepenuhnya mengurung hingga pinggang mereka. “Aku akan memaafkan kalian kali ini, tapi, ingat ini baik-baik! Surat ini milikku, dan aku akan menghancurkan siapapun yang merebutnya dariku. Jika ada orang-orang seperti kalian di luar sana, katakan pada mereka! Jangan pernah mengusik atau mengangguku lagi, karena aku, Nivalis, Sang Penyihir Salju tidak akan segan untuk membunuh kalian!”
Dan begitulah aku, meninggalkan para bandit itu setelah kuambil kembali surat-suratku. Kutinggalkan mereka dengan es yang membekukan setengah tubuh mereka. Aku masih baik karena membiarkan tangan mereka bergerak bebas. Dengan begitu, mereka seharusnya bisa membuat api atau mengikis es dengan pedang mereka atau memanggil orang-orang yang lewat.
Aku pun kembali duduk di atas kereta dagang bersama Edras, dua ekor kuda, dua surat-surat pentingku. Edras tampak lebih diam dan gemetaran setelah kejadian itu, aku penasaran dan bertanya padanya, “Ada apa?”
Lelaki itu terkejut, padahal aku tidak berniat mengejutkannya. “Eh, tidak, itu, kamu … hanya saja kamu tampak menakutkan saat marah,” jawabnya gelagapan.
“Benarkah?” Aku mengangkat alisku.
Edras hanya menganggut-anggut.
“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Kamu orang yang baik.”
“B-begitu ya. Tapi, setidaknya simpan surat-surat itu dalam tasmu. Aku takut jika aku malah membuat suratmu lecet.”
“Ya, ya, baiklah.”