Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Negeri Es



Keluar dari hutan, menapak tanah salju yang dalam.


Tubuhku kini sudah semakin segar dan nyaman saat memakai pakaian lengkapku kembali. Giliran topi dan jubahku yang sekarang mandi salju dan udara dingin. Dunia luar masih tampak sama seperti sebelumnya. Tetapi, hatiku lebih bahagia sekarang seolah seluruh kejenuhan dan rasa lelah terbilas oleh air kolam yang dingin.


“Dia penyihir pertama yang kau temui, apa kau tidak merasa senang?” tanya si kompas dari dalam tas selempangku.


“Ya, bisa dibilang senang, sih. Tapi, aku merasa sesuatu yang tidak beres dari tatapannya.”


Aku sedikit kesulitan mengangkat kakiku di salju yang cukup dalam. Kutenteng rokku agar tidak kotor lagi. Di alam liar ini, tidak ada orang yang membersihkan salju, jadi wajar saja jika salju sudah setinggi ini, bahkan bisa lebih di tempat lainnya.


“Kenapa?”


“Penyihir itu tak mungkin muncul dan pergi begitu saja seperti angin. Apalagi, di hutan terpencil, tidak mungkin secara kebetulan dia menemukanku, kan?”


“Mungkin saja. Bagaimana jika dia ternyata orang baik? Kau bisa berteman dengannya dan mengajaknya berendam bersama.”


Tidak terasa salju semakin tebal. Aku semakin tenggelam ke dalam salju yang sudah setinggi betisku. Salju itu seperti menahan kakiku agar tidak melangkah lebih jauh lagi. Aku terus mengerahkan banyak tenaga hanya untuk membuat satu langkah ke depan. Sementara perjalanan masih panjang. Aku bahkan tidak tahu apakah salju sudah menelanku sepenuhnya sebelum aku sampai di negeri selanjutnya.


Aku mengerang sambil menarik kakiku keluar dari salju, lalu menjawab, “Tidak mungkin. Dia memakai pakaian tebal, itu berarti dia tidak akan kuat dinginnya kolam es. Itu juga berarti dia bukan berasal dari sini. Coba bayangkan, apa yang dilakukan orang asing di tempat penuh salju tebal seperti ini?” lalu kuulangi terus langkahku yang berat.


“Mungkin dia mengembara sama sepertimu.”


Aku lupa dengan rasa lelah, aku spontan terkekeh mendengar jawab Aeron.


Walaupun salju sekarang sudah mencapai lututku dan rokku kuangkat setinggi mungkin, tetap kuteruskan perjalanan berat ini. Aku terus mengulang: mengangkat kaki kiriku, meletekkan ke depan, menarik kaki kanan ke depan, lalu mengangkat kaki kiriku lagi, terus seperti itu pokoknya hingga keluar dari salju ataupun sampai di desa lain. Perjuanganku tidak sia-sia karena jauh di depan mataku, ada gemerlap sejumlah cahaya di balik kabut salju tebal. Melihat jumlah cahayanya yang banyak dan kelihatan hangat, aku langsung merasa lega dan berhenti untuk mengisi kembali nafas di paru-paruku.


Cahaya-cahaya di ujung jalan itu seperti bintang di langit. Bedanya aku bisa segera sampai ke sana dan menyentuh cahaya itu. Tinggal sedikit lagi, benakku menyemangati diriku sendiri. Ada cahaya besar berada paling atas daripada deretan cahaya lainnya, ada cahaya yang lebih kecil dan ada yang lebih redup seperti kehilangan jiwanya. Salah satu cahaya bahkan ada yang berkedip dan seketika bertumbuh menjadi lebih besar daripada cahaya yang berada paling atas. Cahaya itu bahkan sekarang seukuran apel di tanganku, dan terus tumbuh dan terus membesar seiring waktu seperti makhluk hidup.


Aku terdiam mengamati cahaya itu. Semakin lama cahaya itu bahkan tampak jauh lebih besar dari yang kupikirkan. Besar dan nyata seakan berada di depan mataku. Aku baru sadar bahwa itu bukan cahaya. Itu adalah sebuah bola api raksasa yang mengarah padaku. Bergerak lurus padaku seperti meteor yang tertarik gravitasi. Api mengikis salju yang berjatuhan dan melelehkan salju tebal yang dilintasinya, membuka jalan yang rata.


Semakin dekat semakin bisa kurasakan suhu panasnya yang mengalahkan udara dingin. Bahkan es dan salju yang turun abadi sekalipun tidak bisa menghentikannya. Bola api itu memenuhi pantulannya di mataku sekarang. Aku seperti sedang melihat secara dekat sebuah matahari.


Aku yang tak ingin mati segera mengayunkan tanganku, memanggil tongkat sihirku di udara kosong. Kutarik nafasku dalam-dalam dengan waktu yang singkat, lalu kualirkan energi sihirku. Berangsur-angsur seperti aliran air turun dari lenganku dan meresap ke tongkat sihir. Kemudian, tangan kiriku yang memegang tongkat sihir membuat gerakan ke kanan. Saat bola api itu sudah sangat dekat, aku langsung menepisnya dengan tongkat sihirku. Benturan energi kuat melepaskan hembusan angin kencang yang mengibarkan topi, rambut dan rokku. Dalam satu tangkisan, bola api itu terpental jauh ke sampingku, ke utara di mana ada air laut yang luas di sana. Dengan begitu, bola api akan tenggelam ke dasar laut dan menjadi bola dingin yang tidak berbahaya.


“Apa yang terjadi?” pekik Aeron panik.


Aeron yang berada di dalam tasku tidak bisa melihat apapun, tapi dia masih bisa mendengar suara benturan dan cipratan benda raksasa yang luar biasa jauh di tengah laut sana.


“Siapa yang berani menyerangku?” tanyaku dengan nada serius. Entah siapapun orang tersebut yang berniat melukaiku, tapi yang jelas ada satu hikmah yang bisa kudapatkan di baliknya. Di depanku sekarang, salju tebal yang sebelumnya menghalangi jalanku sudah lenyap karena dilintasi oleh bola api yang bersuhu panas. Seolah-olah bola api itu bukan ditujukan untuk menyerangku tapi untuk membuatkanku sebuah jalan yang mulus dan nyaman. Terlepas dari penyebabnya, aku tersenyum senang karena bisa melanjutkan perjalanan tanpa kesusahan lagi.


***


Tembok tinggi dari batu kelabu melintang di depanku melingkari rumah para penduduk di dalamnya. Aku menghampiri dua orang penjaga yang berdiri di gerbang masuk. Kedua penjaga itu memakai perlengkapan berkilau seperti armor dada dan tombak. Salah satu penjaga menghentikanku. “Mohon perlihatkan identitas sebelum masuk.”


Aku menyerahkan surat-suratku padanya. Selagi dia sibuk memeriksanya dengan teliti, aku melemparkan pertanyaan, “Maaf, aku ingin bertanya sesuatu. Apa kalian melihat bola api raksasa tadi?”


Penjaga yang memegang suratku melemparkan pandangannya ke teman penjaganya, temannya hanya merespon dengan mengangkat bahunya saja. “Maaf, nona, kami tidak melihat adanya bola api raksasa seperti yang nona sebut. Kami dari tadi hanya melihat nona yang berjalan ke sini.”


“Hmm, itu aneh …,” gumamku.


“Apa ada masalah, nona?” Dia menyadari kegelisahanku.


“Ah, tidak ada.”


Setelah melewati gerbang, mataku langsung tertuju pada struktur es yang menjadi pemandangan mencolok tempat ini.


Pada dasarnya, ini negeri dengan bangunan-bangunan yang tidak jauh berbeda dengan negeri lainnya. Hanya saja bongkahan-bongkahan es yang membuat negeri ini berbeda.


Negeri Es. Begitulah orang-orang menyebutnya. Bukan karena tinggal di tempat yang dingin dan penuh es, tapi karena memang ada bongkahan es yang besar dan menjulang tinggi ke langit dengan ujung runcingnya seperti duri es raksasa. Formasi-formasi es ini begitu besar dan banyak. Orang-orang yang baru masuk akan langsung disambut dan melihat es-es yang ujungnya saling bersilangan.


Es-es tersebut tumbuh bersama dengan rumah warga. Ada di tiap sela-sela rumah, memisahkan rumah para tetangga, dan ada yang mengarah ke luar. Beberapa rumah bahkan di bangun di bawah es tersebut sehingga es itu tampak seperti bagian dari rumah itu sendiri. Ada es kecil yang seukuran manusia dijadikan sebagai gantungan hiasan atau tempat bermain anak-anak. Yang paling besar dibiarkan tak disentuh, sehingga awet sebagai objek megah yang setara dengan patung simbolis atau Pohon Perak di Kota Pelukis.


Aku tidak tahu pasti apa yang membentuk es ini sehingga tumbuh sangat besar. Apakah karena alam itu sendiri atau ulah tangan manusia? Namun, formasinya yang tidak beraturan sudah cukup membuatnya terlihat alami.


Aku mengeluarkan kompas dari tasku dan membiarkannya melihat apa yang kulihat. “Kau tahu apa yang kupikirkan saat melihat duri-duri es ini?”


“Apa?”


“Punggung naga raksasa.”


“Jadi, maksudmu negeri ini dan kita sekarang berada di punggung naga raksasa?”


“Mungkin saja. Punggung naga, kan, dipenuhi duri-duri lancip. Sama seperti es-es ini.”


Terserah dia saja ingin berkata apa, tetapi aku harus segera mencari penginapan sebelum semakin malam.


Di jalanan depanku, mataku tak sengaja mengikuti seorang wanita yang berjalan menuju suatu bangunan lima blok dari tempatku. Saat kuperhatikan dengan seksama, ada papan bertuliskan penginapan di atas pintunya. Tanpa menunggu lama lagi, aku segera menuju ke sana dan memesan satu kamar untukku menginap. Tanpa berpikir panjang juga, aku langsung berbaring nyaman di kasur dan selimut hangatku.


Pagi yang segar di negara yang baru kudatangi. Walaupun hitungannya masih satu wilayah Ujung Garis Beku, tapi perasaan yang kudapatkan benar-benar berbeda. Udara dinginnya dan warnanya yang terlukis di langit maupun di rumah-rumah beratap keramik terasa sangat berbeda. Bahkan orang yang kutemui juga semakin berbeda, semakin ragam pribadi dan motivasi hidup mereka. Semua itu berkumpul padaku menjadi sesuatu yang kuhirup dalam-dalam dan memberikan racun kebahagiaan pada hatiku yang tak tertahankan. Lalu, saat aku melepaskannya kembali ke atmosfir kota, itu menjadi sebuah senyuman bahagia.


Aku berdiri di depan penginapan, menikmati hiruk pikuk warga yang berseliweran di jalanan. Kabut pagi menipis, duri es raksasa semakin terlihat jelas berdiri berdampingan di antara bangunan. Esnya berkilauan memantulkan warna biru, salah satu dari warna cahaya yang tidak dapat dihamburkannya sehingga ia berkilau sama seperti warna lautan.


Pagi di Ujung Garis Beku, bukanlah pagi yang cerah dan penuh warna terang. Pagi di sini dipenuhi nada warna kelabu dengan awan berwarna sama yang menghalangi dan menyaring tipis cahaya matahari. Bisa dibilang pagi yang sedih. Akan tetapi, warga daerah sini memperlakukan waktu pagi sama seperti pagi di daerah lainnya dengan penuh semangat aktivitas.


Duri-duri es kelihatan amat-sangat besar di balik deretan padat rumah-rumah beratap segitiga. Mau berapa kalipun aku memandangnya, tetap saja pemandangan ini sangat menakjubkan. Bayangkan, sebuah formasi batu es yang besar dan runcing bisa tampak akur dengan bangunan rumah, dan justru semakin menambah daya tarik dari tempat ini di mata para pengembara sepertiku.


“Indah, bukan?” Suara serak tiba-tiba tertangkap telinga dari belakangku. “Nona bukan warga sini, kan? Aku belum pernah melihat nona sebelumnya.”


“Ya, aku sedang mengembara.” Aku tersenyum lembut saat melihat seorang pria lanjut usia menghampiriku.


Ia sekarang berdiri di sebelahku sambil menengadah ke pucuk duri es. “Gadis muda sepertimu sudah mengembara. Hebat juga,” pujinya. Matanya yang terbuka lemah sama seperti punggungnya sehingga dia harus membungkuk sedikit seperti tanaman yang sudah runduk. “Apakah nona suka negeri ini?”


Aku mengangguk tanpa perlu mengutarakannya dalam kata-kata.


“Baguslah kalau nona suka. Es-es ini adalah daya tarik dari negeri ini. Banyak pengunjung seperti nona yang datang hanya karena ingin melihat es tersebut. Mereka rela mencapai ujung utara dan menembus badai salju hanya demi melihat bongkahan es besar. Bagi kami, para warga, itu suatu kebanggaan.”


Raut wajahnya yang keriput melembut sama seperti senyumannya. Bisa kulihat dia sangat bangga dengan ucapannya sendiri.


“Baiklah, aku tak ingin mengganggu waktu nona lebih lama lagi. Silahkan berkeliling sepuasnya. Oh, jangan lupa untuk mengunjungi es di pinggir pantai. Menara Es akan terlihat lebih cantik saat masih ada cahaya.”


“Terima kasih. Aku tak sabar ingin melihatnya.” Aku membiarkan kakek itu pergi dan melihat punggung rapuhnya sedikit demi sedikit lenyap dari pandanganku.


Besok pagi adalah waktuku untuk meninggalkan negeri ini dan melanjutkan perjalananku. Jadi, aku memutuskan untuk langsung mengunjungi tempat yang disarankan kakek itu. Mumpung masih pagi dan masih lebih cerah ketimbang saat sore nanti. Tak ada salahnya menyempatkan diri.