SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 9



Dengan berani, aku menolak permintaan Ahn Yoo. Tapi dia tampak tidak senang, mungkin karena aku membantahnya.


Namun, aku memang tidak suka dia mengungkit dan mengancamku dengan orang itu. Itu merupakan cacat bagiku, aku masih trauma dengan kejadian waktu itu.


"Kamu memang sudah menolongku, tapi bukan berarti kamu bisa memperalatku. Aku akan melakukan apa pun sebagai tanda terima kasihku, tapi tidak untuk hal-hal yang kotor."


"Baik, sekarang aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan untuk balas budi".


"Aku akan memikirkannya nanti," sahutku.


Dia berdiri dan menghampiriku.


"Dan aku ingat kau masih memiliki hutang padaku. Biaya rumah sakit, taksi dan pakaian ini." Dia menunjuk baju yang sedang kupakai


"Ya aku tahu," jawabku santai.


"Heeeyyy! Aku tidak memintamu membayar biaya rumah sakit dan pakaian ini. Lagi Pula kamu-kan punya banyak uang. Kenapa harus menindasku yang miskin ini?" gumamku dalam hati.


"Kapan kau membayarnya?" sambung Ahn Yoo mendesak.


"Kamu tahu aku kan tidak memiliki uang saat ini. Jadi aku harus bekerja dulu baru bisa bayar hutang. Lagi pula kan kamu mempunyai banyak uang," sambungku datar.


"Aku punya uang, hanya saja aku menginginkan uang darimu."


"Ya sudah, kamu tunggu saja aku punya uang. Nanti akan aku bayarkan untukmu," jawabku.


"Baiklah aku kasih kau jangka satu minggu untuk membayarnya," balas Ahn yoo.


"Apa? Itu terlalu singkat," sahutku cepat.


"Lima hari," lanjutnya.


"Aku tidak mungkin ...." Dia memotong pembicaraanku.


"Sudah ditentukan, tiga hari. Kau harus melunaskan semuanya." Dia pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku.


"Dasar! Gunung es yang kejam. Kamu saja tidak bisa mengumpulkan uang tiga hari," Aku mengejeknya dari belakang


Dia tiba-tiba berbalik ke arahku dan menatapku.


"Apa lagi?" tanyaku mengumban.


"Daftar biaya rumah sakitmu ada di meja ku. Kamu bisa melihatnya," katanya sambil menunjuk kertas di atas mejanya.


"Tapi kalau kau tidak bisa melunasi hutangmu, KAU JADI TEBUSANNYA."Dia mengancamku dengan wajah serius.


Aku? Maksudnya apa? Aku jadi tebusan?


Maksudnya dia menginginkan tubuhku?


"Apa? Apa maksudmu?" tanyaku dengan suara nyaring.


"Iya, kau. Aku menginginkanmu," jawabnya dingin.


Tidak bisa dibiarkan, aku tidak mau harga diriku di injak-injak seperti ini.


"Aku tidak mau!" sahutku tegas.


"Apa kau tahu? Aku tidak suka dibantah," jawabnya dengan mata tajam.


Aku hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Aku pergi dari kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamarku sendiri.


"Aku tidak akan memberikan tubuhku padanya. Aku sudah mati-matian menjaga tubuh ini, dan sekarang dia dengan mudahnya meminta kembali." Celetukku mengumpat sendiri di kamar.


****


"Bu San! kita masak apa hari ini?" Aku berlari menemui Bu San yang sedang memotong wortel.


"Jane? kamu sudah bangun?" Dia menjawabnya dengan senyuman.


Aku mengambil wortel yang lain untuk dipotong.


"Kamu tidak perlu memotong ini, biar saya saja." Bu San mengambil wortel yang kupegang.


"Kamu belum mandi bukan?" Bu San memegang kedua bahuku dari belakang dan mendorongku keluar dari dapur.


"Yaaaah! Bu San aku kan ingin menolong Ibu memasak." Aku berbalik dan masuk ke dalam dapur lagi. Tapi saat aku sudah berada di dapur, Bu San mendorongku lagi keluar, tapi aku masih bersikeras masuk. Ketika Bu San ingin mendorongku lagi aku berlari seperti anak kecil. Kami seperti kucing dan tikus saja, saling mengejar satu sama lain. Aku sangat bahagia saat berkejaran dengan Bu San, jadi teringat dengan bibi waktu hendak masak. Dia sering menggodaku sampai aku tertawa.


"Bu San!" Terdengar suara Ahn yoo.


"Tuan Ji?" Dia menunduk untuk menyapa Ahn Yoo.


"Siapkan sarapan," perintahnya dingin.


"Dan kamu," Ahn yoo menunjukku.


"Siapkan pakaian untukku," lanjutnya.


Bu San menyuruhku pergi dan menyiapkan pakaian untuk Ahn Yoo.


Aku mengikuti Ahn Yoo dari belakang untuk memilih pakaiannya.


"Dasar manja, apa-apa harus minta tolong. Apa-apa harus menyuruh, kamu' kan punya tangan." Aku menggerutu dari belakang.


Saat tiba di kamarnya, dia menghadap ke belakang dan melihatku.


"Aku akan rapat nanti, siapkan yang cocok untuk rapat. Mengerti?" perintahnya sombong, lalu tiba-tiba membuka bajunya di hadapanku. Dia dengan santainya bertelanjang dada di depan mataku tanpa merasa malu sedikit pun.


"Heeey! kenapa buka baju sembarangan," bentakku sambil menutup mataku dan langsung membelakanginya.


Dia mendekatiku dan berdiri tepat di depan mataku.


"Jangan mendekat!! Selangkah lagi kamu mendekat, aku akan ...." Tiba-tiba dia memotong pembicaraan ku.


"Kau akan apa?" Dia menarik tanganku hingga dadanya dan wajahku saling bertabrakan. Otot badanya terasa saat mengenaiku. Bahkan wajahku tidak bisa kugerakkan karena dadanya yang bidang.


"Kenapa badannya bagus sekali," gumamku dalam benak.


Wanita mana yang tidak jatuh cinta dengan orang seperti Ahn Yoo. Dia bisa dikatakan hampir sempurna, sangat sempurna.


Namun aku sebagai perempuan harus jual mahal sedikit. Aku harus menjaga harga diriku, jadi aku memberontak dan mendorong badan Ahn Yoo menjauh dariku.


"Kamu mau apa? Jangan mendekat!" Aku mencoba memperingatkan dia. Dia tidak mendengarkanku dan tetap mendekatiku.


"Aku, aku tidak main-main. Kalau kamu mendekat aku akan teriak."


Dia tertawa mendengarku.


Untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti ini. Sangat disayangkan, seandainya saja dia selalu seperti ini. Pasti itu akan lebih baik dari pada menjadi orang dingin.


**Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGA KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**