
Pegawai yang disuruh oleh Ahn Yoo untuk memilihkan baju untukku membuatku sangat risih. Aku bisa memilihkan bajuku sendiri, kenapa harus pakai acara dipilihkan segala.
Yang lebih membuatku tidak nyaman adalah pegawai-pegawai ini memasangkan baju untukku, padahal aku bisa melakukannya sendiri.
"Biar aku saja," kataku karena tidak enak hati.
Tidak ada diantara mereka yang mendengarkanku, mereka tetap memasangkan baju-baju itu ke badanku. Dari model yang satu ke model yang lain, mereka menganggapku patung.
"Wah ... semua baju ini cantik dikenakan nona," sahut salah seorang pegawai.
"Ahahaha, terima kasih. Tapi aku ambil yang ini saja." Aku menunjuk gaun polos berwarna abu-abu yang tingginya di bawah lutut.
"Bagaimana dengan yang ini? Sangat pas untuk nona," sambung pegawai itu.
"Hahahaha, tidak perlu. Lagian aku tidak tahu akan memakainya kemana. Ini saja sudah cukup," jawabku canggung.
Mereka kali ini mendengarkanku, dan membiarkabku keluar dari ruang ganti pakaian ini.
"Ahn Yoo!" teriakku memanggilnya yang sedang sibuk melihat pakaian yang bergelantungan.
"Kenapa kau belum memakai bajunya?"
"Baju? Oh, itu ... aku ... sudah menyuruh mereka membungkusnya," jawabku sambil menunjuk pegawai yang memilihkan aku baju.
"Pergi tukar pakaianmu yang ini. Seharian tidak diganti, kau sangat bau."
"Bau? Aku sangat wangi, seharian tidak mandi juga tidak akan bau," senggakku menyangkal.
"Itu menurutmu," timpal Ahn Yoo datar.
Ahn Yoo meminta pegawai itu lagi untuk memasangkan baju padaku, dan membungkus semua pakaian yang cocok denganku.
Ahn Yoo sangat suka menghambur-hamburkan uang. Memang wajar, karena dia tidak pernah merasakan pahitnya tidak memiliki apapun.
"Hey, untuk apa baju itu semua? Baju yang waktu itu saja tidak semua kupakai, jadi jangan menyayangkan uangmu untuk hal yang tidak berguna," aku mengatakannya dengan nada pelan seperti sedang berbisik.
Ahn Yoo tidak mendengarkanku sama sekali dan tetap membungkus semua pakaian yang kucoba tadi.
"Dasar orang kaya," decakku dengan suara pelan.
"Apa kau sedang mengumpatku?" tanya Ahn Yoo yang samar-samar mendengarku.
"Ha? Ti-Tidak, aku hanya merindukan Bu San saja," jawabku membual.
"Baru sehari kalian tidak bertemu, kau sudah rindu."
"Tentu saja, aku menyayangi Bu San. Lagian aku sangat rindu masakannya," gumamku sambil menghayalkan masakan Bu San.
"Kau tidak boleh menyayanginya," kata Ahn Yoo dengan wajah kaku.
"Hah? Kenapa? Aku memang ....," Ahn Yoo berdiri di depanku dengan jarak yang sangat dekat, sehingga aku tidak bisa menyambung kalimatku.
"Kau hanya boleh menyayangiku," tukas Ahn Yoo kemudian pergi berjalan menuju pintu keluar dengan masing-masing tangan diletakkan di saku celana.
Lagi-lagi dia membuat jantungku berdetak kencang, pipiku juga memerah karena kata-katanya barusan. Kalau seperti ini, takutnya aku benar-benar jatuh cinta pada Ahn Yoo.
Aku berjalan mengejarnya dengan tangan yang penuh tas belanjaan dari toko pakaian dari toko itu.
Saat berjalan ke mobil, Ahn Yoo tidak membantuku membawakan tas berat ini. Dia malah berdiri menyender di depan pintu mobilnya sambil menontonku mengangkat semua tas ini.
"Dasar laki-laki kurang ajar, aku pikir dia benar-benar menyukaiku. Ternyata aku salah, dia hanya sedang mempermainkanku," umpatku dengan mulut yang mengerucut ke samping.
"Kenapa jalanmu lambat sekali," kata Ahn Yoo tampak sedang mengejekku.
"Hahahahha, tadi aku bertemu dengan pria tampan di dalam sana. Dia ingin membantuku mengangkat belanjaan ini, tapi aku menolaknya," jawabku membual untuk menyindir Ahn Yoo.
"Terus?"
"Dia terus memaksaku, tapi aku tetap menolaknya. Makanya aku lama sekali di dalam tadi."
"Baik, aku akan suruh dia mengantarku," ancamku dan berpura-pura akan masuk ke dalam perbelanjaan itu lagi.
Aku berharap Ahn Yoo memanggilku lagi dan membujukku untuk tidak merajuk padanya. Namun sayang, dia tidak melakukan seperti yang kubayangkan, dia malah membiarkanku masuk ke dalam.
Untungnya saja, ada seorang pria yang lumayan tampan menyapaku dengan ramah saat berada di depan pintu pusat perbelanjaan ini.
"Apa ini semua adalah belanjaanmu?" tanya pria yang tidak ku kenali sama sekali.
"Ahahahah, tidak. Ini punya temanku," jawabku membohonginya.
"Owh, lalu dimana dia? Kenapa dia tega membiarkanmu membawa ini?"
"Ha? Itu ... aku kehilangan dia, jadi aku menunggunya di sini saja," sambungku membualinya.
"Kalau begitu biar aku bantu kamu membawa belanjaan ini. Pasti sangat berat, apalagi kamu seorang wanita." Pria ini kemudian mengambil semua tas belanjaan yang ada di tanganku.
"Ahmm, terima kasih," jawabku sambil tersenyum dan berpura-pura manis.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Ahn Yoo datang mendekati kami dengan ekspresi tidak senang dan merampas semua tas yang ada di tangan pria ini.
"Apa kau ini tidak ada kegitan lain, hingga sempat membantu wanita milik orang yang tidak kau kenali," gertak Ahn Yoo saat kepada pria ini.
Aku sudah tahu akan seperti ini jadinya, tapi tadi dia berlagak tidak peduli padaku. Giliran ada yang membantuku dia malah menyenggak orang itu.
"Siapa kau? Apa hak mu melarangku?" bentak pria itu pada Ahn Yoo.
"Ck, harusnya aku yang mengatakan itu," sambung Ahn Yoo dengan angkuh.
Pria asing itu kemudian melihatku dan menanyakan tentang Ahn Yoo.
"Apa kamu mengenal dia?" tanya pria yang tidak ku kenal sama sekali.
"Ha? Uhmm, dia teman yang ku ceritakan tadi," jawabku ragu.
"Hey bung, jangan biarkan wanita yang membawa barang berat seperti ini. Seharusnya laki-laki yang membawanya," nasehat pria itu kepada Ahn Yoo.
"Jangan mengajariku," kata Ahn Yoo yang terlihat kesal.
"Hahahahah, ngomong-ngomong terima kasih karena sudah perhatian denganku tadi. Kalau begitu aku permisi dulu yah," kataku sambil berpamitan dengannya.
Ahn Yoo tampak tidak senang dengan pria itu. Cepat-cepat aku menarik Ahn Yoo menjauh dari sini dan membawanya ke parkiran lagi. Aku khawatir Ahn Yoo naik darah, dan menjadikan pria baik ini menjadi korban yang kesekian kalinya.
"Apa kau sedang melindungi pria itu?" tanya Ahn Yoo saat sudah berada dalam mobil.
"Ahmm, tidak. Aku hanya menjaga emosimu agar tidak terpancing," jawabku.
"Sepertinya kau sedang menyindirku," kata Ahn Yoo dengan tatapan sinis melihatku.
"Hah? Hahahah, tidak. Aku hanya ... hanya ...hanya itu," sambungku gugup karena tidak tahu harus menjawab apa.
Aku sangat bingung dengan Ahn Yoo, selalu saja membuat orang bingung. Bukannya membawaku pulang, dia malah mengajakku pergi entah kemana.
"Bukannya ini bukan jalan ke rumah?" tanyaku.
"Hmmm," sahut Ahn Yoo singkat.
"Ini kita mau kemana?"
"Ke rumah ayahku," jawab Ahn Yoo datar.
"Ayahmu? Untuk apa?" tanyaku keheranan. Isi kepalaku berisi pikiran kotor dan mengira Ahn Yoo akan mengenalkan aku kepada Ayahnya. Kalau pun itu betul, aku belum siap sama sekali.
"Aku ingin mengambil berkas yang tertinggal di sana," timpal Ahn Yoo.
Justru jawabannya ini sedikit membuatku merasa kecewa, padahal aku pikir dia akan memperkenalkanku pada Ayahnya. Kenapa jadi aku yang berharap?