SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 19



Ahn Yoo tampak tidak senang ketika Kang Joon akan menjelaskan hubungan mereka. Sebelum Kang Joon selesai bicara, Ahn Yoo langsung menimpal.


"Aku tidak mengenalnya sama sekali," tukas Ahn Yoo tidak senang.


"Jadi ini yang harus ku percayai kamu atau dia?" tanyaku sambil menoleh ke arah mereka secara bergantian.


"Dia itu teman SMA-ku dulu, kami bahkan sangat akrab. Tapi karena aku sukses lebih dulu, Ahn Yoo jadi sangat dingin kepadaku," sambung Kang Joon.


"Wahhh ... ternyata kalian satu sekolah, itu sangat bagus. Tapi Ahn Yoo kenapa kamu cemburu dengan teman sendiri? Tidak baik iri hati. Kamu itu harusnya senang melihat teman kita senang," aku menasehati Ahn Yoo yang sedang mengernyitkan dahi.


"Terserah kalian mau mengatakan apa, yang jelas aku tidak pernah iri dengan kesuksesan orang lain," tukas Ahn Yoo tidak menghiraukan kami.


"Kamu jangan tersinggung Kang Joon, dia memang suka begitu," aku membisikkannya kepada Kang Joon.


Ahn Yoo yang peka itu kemudian menatap kami yang sedang berkusip-kusip. Dia terlihat semakin tidak senang, bahkan jauh berbeda saat pertama melihat Kang Joon.


Ahn Yoo menarikku ke sampingnya sambil menunjukkan tatapan tidak suka kepada Kang Joon.


"Ahhh ... sakit," teriakku kesakitan.


"Bisakah kamu tidak kasar kepada wanita," Kang Joon menarikku lembut menjauhi Ahn Yoo.


"Itu bukan urusanmu," gertak Ahn Yoo dan menarikku kembali ke sampingnya.


Mereka menarik tanganku secara bergantian cukup lama. Seperti anak kecil yang sedang merebutkan robot saja, tidak ada yang mau mengalah lebih dulu diantara mereka. Masalahnya aku ini manusia, bukan barang ataupun mainan.


"Cukup!!!"


"Apa kalian ini masih anak kecil, kalian pikir aku ini mainan kalian. Tanganku sakit karena ulah kalian," aku membentak mereka berdua sampai berhenti memegang tanganku.


Tapi aku merasa diperebutkan laki-laki tampan di sini, sungguh beruntung jadi aku. Jika dipikir-pikir lagi, banyak sekali wanita yang antri menunggu mereka, bahkan menghabiskan waktu untuk menatap mereka dari kejauhan.


Tapi demi harga diriku, aku harus sedikit jual mahal. Karena aku, Kim Jane Soo, tidak akan menyia-nyiakan waktuku yang berharga untuk berharap dengan yang tidak pasti. Apalagi dengan mereka, bahkan bermimpi pun aku tidak berani.


"Maafan aku Jane, aku tidak bermaksud melukai tangan mu. Maafkan aku," Kang Joon tampak merasa bersalah karena menarik tanganku.


"Jangan meminta maaf begitu, aku jadi merasa terpukul melihatmu melakukan itu."


"Kenapa kamu masih membela dia, jelas-jelas dia yang menarik tanganmu dariku," kata Ahn Yoo mencoba untuk melemparkan kesalahan ini kepada Kang Joon.


"Kamu! Bisa bisa tidak jangan memperbesar masalah ini," perintahku kepada Ahn Yoo.


"Apa kau sedang membela dia?" lanjut Ahn Yoo dengan jari menunjuk Kang Joon.


"Bukan, bukan begitu. Aku hanya meredakan masalah ini. Apa kalian tidak malu jadi tontonan banyak orang nantinya. Aku melakukannya juga demi kalian," tukasku kepada mereka berdua.


Sepertinya keadaan sudah semakin membaik, walaupun mereka belum bisa berdamai. Setidaknya, aku tidak mendengar mereka


bertengkar lagi.


Kalau dipikir lagi, kenapa mereka bisa saling membenci satu sama lain. Bukanya Ahn Yoo dan Kang Joon satu sekolah, bahkan mereka dulunya sangat kompak, tapi sekarang mereka terlibat seperti musuh bebuyutan. Aku semakin penasaran saja, sampai darah ingn tahu mengalir deras di nadiku.


"Oh ya Jane, lebih baik kamu lebih waspada saat di dekatnya," sambung Kang Joon mengingatkan ku.


"Ckck ... kamu urus saja urusanmu," tukas Ahn Yoo menatap Kang Joon geram.


Situasi kembali runyam seperti semula.


kalau Ahn Yoo tetap di sini, aku khawatir dia akan memperkeruh masalahnya. Secara, mulutnya tidak bisa dikontrol untuk tidak mengeluarkan kata-kata pedas.


"Hahahah ... Ahn Yoo sebaiknya kita pulang saja," aku tertawa canggung dan memegang tangannya menuju parkiran. Sebelum itu aku sudah berpamitan kepada Kang Joon.


"Kami pergi dulu Kang Joon, semoga lain kali kita bisa bertemu lagi."


"Aku berharap masih ada lain kali," cetus Kang Joon pelan.


Ahn Yoo diam tanpa berkutik sama sekali. Dari tadi dia hanya menatap tanganku yang sedang memegang tangannya.


Aku tidak memperhatikannya, aku hanya fokus berjalan ke parkiran.


"Ayo kita pulang," aku melepaskan genggaman tanganku darinya.


Dia tetap diam di depan mobil, dia masih terpegun melihat keberanianku memegang tangannya dan memberikan perintah padanya.


"Apa lagi yang kamu tunggu?" aku mencoba menyadarkannya.


Ahn Yoo berjalan dan masuk ke dalam mobil.


Meskipun aku tahu resiko telah lancang terhadapnya, tapi aku harus tetap tenang dan santai menghadapinya. Kalau dia tahu aku sedang merasa ter-intimidasi, dia akan semakin menakut-nakutiku.


"Ahn Yoo, maafkan aku soal yang di restaurant, aku tahu kalau tadi aku sangat keterlaluan. Jadi, aku harap kamu berbesar hati untuk mengampuniku" aku mengatakannya dengan serius tapi tulus.


Setelah lama hening di dalam mobil, akhirnya Ahn Yoo mau bicara denganku.


"Dimana kau kenal dia?"


"Dia? Maksudmu Kang Joon?" tanyaku untuk memperjelas. Namun dia tidak tergeming sama sekali, dia tetap fokus menyetir dan menatap jalan.


"Aku mengenalnya waktu aku bekerja part time di resto," sambungku menjelaskan.


"Aku rasa pengalamanmu sangat banyak di sana."


"Ha? Iya," jawabku singkat.


"Jangan dekat-dekat dengannya," Ahn Yoo tampak sedang memperingatkanku.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak suka," sahutnya cepat.


"Kenapa kamu tidak suka?"


"Jangan banyak tanya."


Aku tertegun melihat Ahn Yoo.


Memang dia ini sangat dingin, aku hanya bertanya saja sudah diamuki olehnya. Tidak seperti laki-laki pada umumnya, yang lembut kepada wanita, contohnya Kang Joon.


Tapi aku masih kepikiran dengan hutangku kepada Ahn Yoo. Dia tidak menagih hutangku


sama sekali, atau apa mungkin dia lupa?


Aku tidak bisa tinggal diam dengan kepala berisi perihal hutangku kepadanya.


"Ahn Yoo!" panggilku dengan nada lirih.


"Hemmm," sahutnya menandakan dia sedang menanyakan 'apa'.


"Sebenarnya aku masih bingung denganmu, bukannya kamu bilang kalau kamu memberikanku tiga hari untuk melunasi hutangku. Tapi, sampai sekarang kamu belum memintanya."


"Apa kamu berharap aku menagihnya?"


"Tentu saja tidak, tapi hutang itu harus dibayar. Kalimat itu yang datang kepikiranku sejak tadi pagi. Aku tidak akan bisa tenang kalau masalah ini belum selesai," aku mencoba menjelaskan isi keplaku yang sedang kacau.


"Apa kamu sudah punya uang untuk melunasinya?"


"Jadi? Kenapa kamu tidak mendiamkannya dan membiarkan aku lupa dengan hutangmu?"


"Ingat yah, aku tidak akan mengingkari janjiku dan tidak akan lari dari masalahku sendiri. Aku harus menyelesaikannya satu per satu, agar hidupku tenang. Itu yang dinamakan prinsip hidup seseorang," jelasku panjang.


"Begitukah?"


Aku mengangguk dan menoleh ke arahnya.


"Tapi masalahnya kamu sudah membayar hutangmu," sambung Ahn Yoo.


"Apa? Kapan? Aku tidak pernah memberimu uang atau ...." aku tidak melanjutkan kalimatku.


"Atau apa? Kenapa bicara setengah-setengah. Buat orang penasaran saja," tanya Ahn Yoo penasaran.


"Bukannya kemarin kamu bilang kalau kamu akan me-me-menjadikan aku sebagai ... tebusannya," aku mengatakannya dengan pelan dan ragu.


"Kapan aku mengatakannya," tanya Ahn Yoo berpura-pura tidak tahu. Padahal jelas sekali matanya sedang membohongiku.


"Wah ... kamu tidak ingat, kamu tahu waktu itu aku sampai ketakutan setengah mati. Bayangkan saja bagaimana kondisiku setelah mendengarmu mengancamku, badanku terasa kaku, bahkan bernafas saja sangat sulit, dan ancamanmu itu selalu terngiang di kepalaku," aku menjelaskannya dengan serius dan terkadang ketika bicara menoleh ke arahnya.


"Aku tidak menyangka kamu akan seperti itu," sahutnya dingin.


"Tapi apa benar kamu tidak akan menjadikanku tebusannya?" aku mencoba memperjelas masalah kepada Ahn Yoo.


"Untuk apa? Untuk apa aku memintamu jadi tebusannya? Aku bahkan tidak selera melihat tubuhmu yang kurus," dia ber-ekspresi jijik saat melihatku.


"Aku tidak kurus! Kamu saja yang tidak tahu trend jaman sekarang. Badanku ini termasuk ideal, jadi jangan suka bicara sembarangan," gerutuku kesal.


"Kau ini cerewet sekali," Ahn Yoo terlihat heran saat aku menggerutu.


"Iya tapi ini masalahnya bagaimana?"


"Masalah apa?" tanya Ahn Yoo balik.


"Masalah hutangku. Aku tidak akan tenang sebelum ini semua selesai," tukasku kepadanya.


"Aku akan menagihnya lain kali saja, sekarang aku belum menginginkan apa -apa darimu," sahutnya datar.


Ahn Yoo tampaknya tidak akan menagih hutangku saat ini, tapi kenapa? Bukannya waktu itu dia memaksa sekali. Tidak ada gunanya aku bekerja selama ini, ternyata dia lagi-lagi sedang mempermainkanku.


Kalau di ingat lagi, awal kami berjumpa setelah aku sadar dari rumah sakit, dia juga mempermainkanku. Ahn Yoo memang sangat ahli di bidang ini, kalau di nilai dari angka 0-9, aku beri dia 10, soalnya dia sangat lihai mempermainkan orang.


Saat memperhatikan jalan, aku baru sadar ternyata dia memilih jalan yang salah, arahnya berlawanan dengan jalan ke rumahnya.


"Ahn Yoo kita salah jalan," kataku mencoba memberitahunya.


"Jangan mengajariku," jawabnya dingin.


"Tapi .... "


"Aku sedang malas pulang ke rumah."


"Kamu tidak sedang berpikir akan menjualku, 'kan?" tanyaku yang tampak mencurigainya.


"Apa kau pikir aku sama seperti Pamanmu," jawab Ahn Yoo sambil menjetik kepalaku.


"Auuu ... aku hanya bercanda, kenapa harus menjetikku," kataku sambil mengelus kepalaku.


Dia tersenyum melihatku kesakitan, dan kali ini dia tidak menutupi senyumannya.


"Wahhh ... kamu tampak bahagia melihatku kesakitan," celetukku menatap sinis Ahn Yoo yang sedang tersenyum.


"Kau sangat .... "ekspresi wajahnya kembali datar dan kaku.


"Apa?"tanyaku penasaran.


"Menyebalkan."


Raut wajahnya sangat cepat berubah, bahkan lebih cepat dari pada membalik halaman buku.


Sungguh membuat orang semakin kesal saja.


Belum lagi dia yang suka mencaciku, mengingatnya saja sudah membuatku ingin sekali memukul wajahnya.


Setelah dua puluh menit di perjalanan, sampailah kami disebuah perkuburan yang sangat indah. Semua makam di sini berwarna hijau karena ditutupi rumput manis, dan di atas sebagian makam terdapat boucket bunga yang cantik.


"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanyaku penasaran.


Dia tetap fokus berjalan tanpa menghiraukanku. Apa dia sedang memilihkan kuburan untukku karena belum membayar hutang. Kalau memang benar, aku harus memilih yang paling ramai, biar orang banyak yang mendo'akan ku.


Tidak lama kemudian, dia berhenti berjalan dan membungkuk sambil memegang nisan salah satu makam. Di nisan itu tertulis Kim Sane In, tampak mirip dengan namaku.


"Kim Sane In? Siapa dia?" tanyaku kepada Ahn Yoo.


Dia berdiri menghadapku dan menyuruhku memberi salam.


"Beri salam kepada Ibuku," dia membantuku membungkukkan badan.


"Halo Ibu Ahn Yoo, ini pertama kali kita bertemu, jadi perkenalkan, aku Kim Jane Soo. Tampaknya nama kita ada sedikit kemiripan, semoga kita berjodoh, 'yah."


Setelah selesai berbicara dengan ibu Ahn Yoo, dia membungkuk dan perlahan berbalik pergi.


"Ibu Ahn Yoo, anakmu sangat baik. Aku sangat bersyukur kamu melahirkan dia. Dia sudah menolongku beberapa kali, dia selalu datang saat aku dalam bahaya. Jadi, aku berjanji akan menjaga anakmu ini, walaupun kadang dia suka membuatku jengkel," aku bercerita panjang lebar dengan Ibu Ahn Yoo yang bahkan tidak nyata sama sekali.


Aku berpamitan dan kemudian berlari mengejar Ahn Yoo.


"Apa yang kau katakan kepada Ibuku?"


"Tidak ... tidak ada," jawabku mencoba mengelak.


"Aku mendengarnya tadi."


"Ya ampun, itu adalah rahasiaku dan Ibumu. Jadi kamu tidak boleh memaksaku untuk mengatakannya padamu. Kalau kamu memarahiku, aku akan berlari dan mengadukannya pada Ibumu, mengerti?"


"Ya ... aku mengerti," dia tersenyum lebar.


Ahn Yoo tampak sangat bahagia, seyumannya kali ini sama seperti senyum ketika dia masih kecil, sama seperti photo yang kulihat di kamarnya.


Mungkin kebahagiannya adalah ketika bersama Ibunya. Masa indahnya adalah ketika Ibunya masih hidup. Namun, ketika Ibunya meninggal dunia, dia berubah menjadi pemurung. Ditambah Ayahnya yang menikah tidak lama setelah kematian Ibunya, membuat Ahn Yoo semakin merasa kehilangan. Dia semakin dingin dan tidak memiliki kehangatan lagi, perhatian yang dia dapatkan selama ini telah lenyap ditelan waktu. Sehingga dia sudah terbiasa hidup tanpa pelukan kasih sayang. Dia menjadi orang yang keras, tidak mempercayai cinta dari orang lain.


Padahal masih banyak orang yang menyayanginya. Bu San, Pak Will, dan wanita yang mengaguminya. Dia terlalu memaksakan kehendaknya, sehinga kini dia terbiasa dengan itu.


Aku bahagia melihat senyuman Ahn Yoo kembali lagi, walaupun hanya untuk sesaat. Tapi aku merasakan kehangatan dari senyumannya ini, senyuman yang penuh dengan arti. Mungkin bukan aku yang merasakan kepedihannya selama ini, tapi aku bisa tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayang.


**Bersambung ...


**UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉****