SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 54



"Aku terkadang berpikir kalau kamu sedang berpura-pura tidak mengenaliku. Kemarin kamu seperti mengingat siapa aku, dan tadi kamu bersikap seolah mengerti tentangku. Dan sekarang kamu malah bersikap tidak mengetahui. Tapi aku baru tahu, kalau kamu memang tidak mengingat apa pun," ucap Ji Seon.


Tentu saja aku akan semakin bingung harus bagaimana menyikapi dan mengartikan apa yang dia katakan. Semua memang tidak ada satu pun yang ku ketahui. Aku bingung dengan apa yang dia katakan.


"Pak direktur, sebaiknya bicara langsung ke intinya saja. Jangan membuatku bingung dan merasa kalau aku memiliki salah yang banyak denganmu. Aku tidak paham dan tidak mengerti apa yang baru saja kamu katakan," jawabku.


"Aku Park Ji Seon," ujarnya dengan tatapan penuh harapan. Aku tertegun seketika dan memandang wajahnya dengan seribu pertanyaan yang mengumpul di dalam kepalaku. Aku tidak percaya kalau laki-laki yang berdiri di depanku ini adalah Ji Seon sahabat lamaku yang pergi meninggalkanku tanpa sebuah kabar. Bahkan aku tidak pernah membayangkan akan bisa bertemu lagi dengannya. Aku mengira dia sudah melupakanku dan tidak akannada hari dimana kami bisa bertatap muka lagi.


"Park Ji Seon? Jangan bilang kamu adalah Si brengsek yang meninggalkan aku" ucapku yang masih belum terima kalau dia adalah Park Ji Seon, sahabatku waktu dulu.


"Pffft ... kamu masih ingat panggilan bodoh itu, Kijen?" tanya Ji Seon. Hanya Park Ji Seon yang memanggil aku dengan sebutan Kijen. Hanya dia yang tahu dan hanya dia yang menyebutku seperti itu. Karena memang dia yang memberi sebutan itu padaku.


Aku semakin terkejut saat mendengar Ji Seon menyebutkan nama panggilan itu. Aku baru yakin kalau dia ini adalah sahabatku waktu dulu saat SMA.


"Kijen ... kamu ... kamu tahu sebutan itu?" Aku masih tertegun dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi saat tahu kalau dia adalah Park Ji Seon.


"Maafkan aku karena pergi tanpa berpamitan denganmu," sebut Ji Seon sambil berjalan ke depanku. Dia berdiri tepat di depanku lalu memberantakkan rambutku yang sudah ku sisir dengan susah payah.


"Aaaahhh! Jangan rambutku!" perintahku sambil menepiskan tangannya dari kepalaku.


Dia malah tertawa dengan lebarnya saat kumarahi. Dia menikmati gusaran itu dan menganggapnya sebagai hiburan.


"Kamu tidak berubah. Tyjak bohe ryembot (tidak boleh rambut). Hahahaha, itu saja yang kamu katakan setiap kali aku menghancurkan tatanan rambut ini," sambung Ji Seon meledekku dan mengingatkan aku tentang masa dulu kami.


Dia malah tertawa dengan lebar saat mengatakan siapa dirinya. Sementara aku yang masih belum siap untuk menerima kenyataan ini, hanya bisa diam dan tidak berkutik sama sekali. Di benakku masih ada sedikit rasa kesal beradu rindu untuknya. Aku membencinya karena sudah meninggalkan aku saat itu. Namun aku merindukan kenangan indah saat kami bersama.


"Kamu dan aku satu sekolah?" tanyaku lagi untuk memperjelas pernyataan bodoh ini.


"Apa kau pernah merasa kalau aku adalah orang itu?" ujar Ji Seon.


"Iya, terkadang aku berpikir kalau kamu adalah dia," anggukku sambil membayangkan Ji Seon. Dia memang sering mengucapkan sesuatu yang sering dikatakan Ji Seon, sahabatku. Dia juga perhatian kepadaku, seolah kami sudah memiliki hubungan yang sudah lama dibangun.


"Ya kalau begitu kenapa kamu masih tanyakan?" sambungnya.


"Jangan mendekat padaku," perintahku dengan nada bergetar.


"Jane Soo, maafkan aku. Aku tahu kalau yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi kamu juga harus mengerti alasan kenapa aku tidak bisa memberikan kabar padamu," jelas Ji Seon sambil memegang bahuku.


"Cih ... alasan? Aku tidak butuh alasan, yang ku butuhkan adalah sebuah pukulan untuk membuatmu jera," ucapku sambil mengerucutkan bibirku. Lalu tanganku yang sudah kukepal sejak tadi, langsung ku lempar ke perut Ji Seon yang bidang dan berotot. Aku memukul perutnya itu dengan sekuat tenaga sampai dia merintih kesakitan dan memegang perutnya untuk menahan sakit.


"Aaaah! Ka-Kamu kasar sekali, ahhhh. Padahal kamu ini adalah wanita, kenapa punya tenaga sebesar itu?" pekiknya kesusahan.


"Dasar tikus tanah! Kamu cuma bisa bersembunyi di dalam tanah dan tidak pernah memikirkan orang yang menunggumu di luar. Aku siang malam memikirkanmu dan kamu malah dengan gampangnya meminta maaf padaku?!" teriakku menggerutui Ji Seon.


"Aku juga memikirkanmu setiap hari, tapi tidak tahu bagaimana menghubungimu," jelas Ji Seon memberi alasan. Dia mengatakan kalau waktu itu ibunya jatuh sakit sehingga membutuhkan perawatan yang khusus dan dengan waktu yang berkelanjutan. Jadi mereka pindah ke negara tempat ibunya dirawat. Malam itu dia ingin memberikan aku kabar ini, namun ketepatan saat itu aku dan bibiku juga sedang pergi menjumpai seseorang yang merupakan boss tempat bibiku bekerja. Ji Seon menungguku hingga detik terakhir dia akan pergi dari rumahnya, namun aku belum juga pulang. Akhirnya, ayahnya datang menjemputnya ke rumahku dan pergi kemudian.


Aku hanya bisa menyesali hal yang tidak perlu disesali. Aku tidak akan berharapa waktu itu aku bisa bertemu dengannya. Mungkin kalau dia berdiri di depanku sambil mengatakan salam perpisahan yang sama sekali tidak kuinginkan, aku tidak akan rela membiarkannya pergi. Jadi aku harus tetap bersyukur karena pada saat itu juga, aku tidak bisa berjumpa dengan dia.


"Aku tidak menerima alasan konyol itu. Lebih baik mengarang cerita yang lebih meyakinkan! Kalau kamu memang merindukanku, seharusnya beri kabar! Kenapa bertahun-tahun kamu tidak pernah muncul?! Dan anehnya, kenapa kamu muncul saat aku sudah ada di sini? Aku yakin ini hanya sebuah kebetulan dan kamu menjadikan pertemuan tidak disengaja ini menjadi penebusan dosa yang kamu buat?" tuduh ku dengan jahat memikirkan keburukan Ji Seon.


"Bicara sembarangan, aku sudah mengatur ini semua. Memang awalnya pertemuan kita tidak disengaja," jawabnya mengaku.


"Anak sialan ini! Jadi kalau kita tidak bertemu di sini kamu tidak akan pernah berniat menemuiku, kan?" Aku memaki Ji Seon habis-habisan.


"Bukan begitu maksudnya. Aku pasti akan menemuimu, hanya saja timingnya belum pas. Aku akan menemuimu saat aku sudah sukses," tukasnya panjang lebar.


"Sukses? Wahhh Ji Seon! Jadi menurutmu kamu ini masih kurang sukses, ha? Kamu harus menguasai seperempat bumi ini baru menemuiku?" Aku mulai menyalahkannya karena tidak menemuiku.


"Kenapa mulutmu semakin tajam saja?" Ji Seon malah mencubit pipiku dengan keras dan sangat lama. Sampai ada bekas merah di sana karena lamanya. Aku sampai menjerit kesakitan karena cubitan ini.


"Sakit! Lepaskan tanganmu yang menjijikkan ini!" perintahku sambil menepiskan tangannya dari pipiku.


"Hahahahah ... pipimu semakin empuk saja. Aku jadi ingin memakannya," decak Ji Seon teetawa lebar.


"Diam kamu! Aku masih memikirkan cara untuk membalaskan dendam padamu karena tidak mengingatku selama ini," ujarku sambil mengusap pipi yang masih terasa sakit.


"Aku mengingatmu! Kenapa sulit sekali untuk percaya?"


"Aku tidak peduli! Intinya aku ingin memukulmu sampai babak belur," sambungku lalu memukul lagi perutnya dengan keras. Sampai dia mengeluarkan suara kesakitan dan rintihan yang menyediakan.


Saat mendengar kalimatnya itu, pukulan keras sekali lagi mendarat di perutnya. Aku melakukannya dengan pelan kali ini , maksudnya tidak sekuat yang tadi.


"Apa menurutmu pukulan ini cukup untuk membayar hutangmu? Aku tidak akan pernah memaafkanmu," tukasku sambil melipat tangan di atas dada. Dan menampakkan wajah tidak senang melihat dia.


Ji Seon memelukku dengan erat, dia tidak membiarkan aku meloloskan diri dari dekapan ini. Dia membisikkan di telingaku, "Maafkan aku." Suaranya yang terdengar menyesal membuatku ingin menangis karena tidak bisa memutar waktu. Aku merindukan dia, sangat merindukannya. Tapi karena sudah lama menunggu kedatangannya, akhirnya rasa kesal itu yang pertama muncul di benakku. Aku ingin memukulnya sampai berjanji untuk tidak akan meninggalkan aku lagi. Tapi hati kecil ini berharap dia mengerti tanpa perlu tanganku ikut berbicara.


"Maafkan aku," ucap Ji Seon lagi dengan lirih. Dia hanya mengulang kata maaf itu di telingaku, hingga hatiku jadi luluh dan tergores. Air mataku ikut mengalir sepanjang pelukan ini terus mendekap. Aku merindukan dia sudah sangat lama, dan sekarang kami sudah bertemu. Kegundahan apa lagi yang perlu kecemaskan? Dulu dia yang selalu melindungi aku dari segala marabahaya. Dia menjagaku seperti adik sendiri. Dia mengkhawatirkan aku seperti saudara sendiri. Dia memperlakukanku seperti keluarga. Sekarang aku bisa tenang, karena tahu kalau masih ada orang yang akan selalu bersamaku meski harus dengan perasaan yang tidak sama seperti dulu lagi.


Aku membalas pelukannya yang berarti rindu. Aku terus menangis meski sudah dipaksa untuk menahan emosi ini. Aku terlepas dari satu penyesalan. Aku bisa bertemu dengan laki-laki yang dulu selalu ada untukku. Akan 'kah dia tetap seperti yang dulu lagi? Aku tidak peduli. Aku hanya sedang memikirkan kerinduan ini. Aku sudah lama ingin bertemu dengan dia, hanya saja waktu yang lambat mempertemukan kami.


"Aku ... tidak akan memaafkanmu," ucapku lirih dengan tangis yang terus menderu membasahi pipi.


Aku terus mengatakan kalau tidak akan memaafkannya, padahal dalam hatiku jelas tertulis kalau aku membutuhkanmu. Aku butuh sandaran dari orang yang dekat denganku. Aku ini hanya sebatang kara hidup di negeri orang tak dikenal. Kalau bukan karena mereka berdua mungkin sampai sekarang tujuanku tidaklah utuh. Bagiamana aku hidup dengan tenang kalau bukan karena Ahn Yoo? Bagaimana aku punya warna hidup kalau bukan karena Ji Seon? Aku hanya bisa menangis karena ternyata sekejam-kejamnya takdir, masih ada nasib yang belum kita ketahui ujungnya.


"Kenapa kamu malah menangis?" tanya Ji Seon sambil menghapus air mata yang masih belum berhenti mengalir. Dia memelukku lagi sampai aku puas mengeluarkan kepedihan yang yang selama ini ku alami sendiri. Aku mengadu padanya melalui tangis ini. Bagaimana aku bisa terlempar hidup di sini? Bagaimana aku bisa bertemu dengan laki-laki dingin tak berperasaan itu? Bagaimana aku bisa melihat wajah orang yang paling ku rindu? Karena paman sialan itu aku meninggalkan orang yang paling menyayangi ku. Tapi karena dia juga aku busa bertemu dengan pelindungku, baik itu Ahn Yoo ataupun Ji Seon. Meskipun sebenarnya, Ahn Yoo tidak akan selamanya bisa terus bersama denganku. Aku tetap bisa membuatku bahagia.


"Apa kamu sangat merindukanku sampai tangismu ngeri seperti itu?" ledek Ji Seon mengatai tangisku yang sampai tersedu-sedu.


"Diam kamu! Ini karena kamu juga," jawabku menyalahkannya.


"Menangis lah sampai kamu merasa lega," ujar Ji Seon sambil menepuk pelan pundak ku.


Aku melepaskan pelukanku lalu melihatnya dengan cemberut dan mengatakan, " Mataku sudah bengkak seperti ini kamu masih suruh untuk mengis? Tidak punya perasaan, huaaa!" Tangisku semakin menjadi-jadi saat Ji Seon menyuruhku menangis sepuasnya.


"Bukan seperti itu maksudku. Baiklah, kamu diam dan jangan menagis," perintahnya dengan wajah merasa bersalah.


"Apa? Aku sedang sedih begini kamu masih menyuruhku diam? Huaaaaaa ... Ji Seon tidak perhatian lagi seperti dulu." Aku menangis lagi saat tahu dia memaksaku untuk berhenti menangis.


"Baiklah, terserahmu kalau mau menangis, menangis saja. Kalau mau berhenti, berhenti saja," kata Ji Seon lepas tangan dan tidak mengerti tentang kemauanku.


"Mataku bengkak," rengekku sambil menunjuk mataku dengan telunjuk dan dengan ekspresi mengadu.


"Tidak, matamu masih seperti biasanya," jawab Ji Seon berbohong. Dia tidak mau mengatakan sejujurnya karena takut aku malah semakin menagis.


"Ha? Benarkah? Tapi aku merasa penglihatan ku semakin kecil," tukasku sambil merengek.


Ji Seon mendekat dan membuka kelopak mataku pelan. Dia meniupnya dengan perlahan dan berulang.


"Masih terasa bengkak?" tanya Ji Seon penuh kasih sayang.


"Masih," anggukku mengiyakan.


"Apa perlu ditiup lagi?"


"Masih pagi mataku sudah bengkak. Orang lain akan berpikir aku sedang ada masalah di rumah dengan suami. Kamu harus tanggung jawab," ucapku ketus pada Ji Seon.


"Cerewet. Kamu sendiri yang menangis seperti itu. Aku saja tidak separah kamu," timpalnya malah menyalahkan aku, padahal ini karena dia mengatakan kalau sebenarnya dia adalah sahabat lamaku yang kurang ajar itu.


"Apa katamu? Kamu tidak sedih sama sekali, ha? Apa kamu bisa ulang sekali lagi kalimat yang baru saja kamu ucapkan itu?" Aku mulai emosi dan melipat tangan baju seolah akan bertarung dengan Ji Seon


"Hahahahah ... ampun Nyonya asisten, aku tidak melawan," sahut Ji Seon bercanda. Dia kemudian merangkul pundak ku lalu menyuruhku duduk di kursinya, kursi seorang direktur.


"Kenapa aku duduk di sini?" tanyaku sambil berdiri dan tak ingin berlama-lama di kursi itu. Namun, Ji Seon menahan bahuku dan memaksaku untuk tetap duduk di kursi ini.


"Aku mau melihat apa kamu cocok jadi Nyonya direktur" bisik Ji Seon ke ke telingaku.


Aku langsung mencubit pipinya keras dan menatapnya dengan tatapan mata sinis.


"Jangan bercanda seperti itu padaku. Aku bisa-bisa salah sangka dan mengira kamu serius mengatakannya," perintahku dengan tangan yang masih mencubit pipinya.


"Aahhh! Iya, iya, aku paham. Tapi aku serius mengataknnya," jawabnya membangkang. Meski sudah ku suruh untuk diam dan tidak boleh bertindak menggodaku dan seolah ingin aku menjadi pasangannya.


"Katakan sekali lagi," ancamku sambil mengencangkan cubitan itu. Sampai dia merasa terganggu dan menyuruhku melepaskan tanganku dari pipinya.


"Apa kamu ini tidak kasihan melihatku? Pipiku sudah merah karena ulahmu," ujarnya bersikap manja dan menyalakan aku.


Aku berdiri dari kursi ini dan memegang pipinya lembut. Lalu mengelus pipinya agar menghilangkan rasa sakit dan merah yang ada di sana. Lalu aku tersenyum padanya karena terbayang bagaimana dia dulu. Dia menjadi orang berbeda namun masih tetap dengan sikap yang sama. Dulu dia tidak setampan ini, dulu dia tidak seramah ini. Dia dulu agak berisi sedikit dan sekarang badannya sangat menggoda. Aku pun sempat tergoda saat pertama kali melihat tampang wajah Ji Seon. Dan dulu juga dia orang yang tertutup saat pertama kali berkenalan, lalu menjadi hangat kemudian.