
"Bukankah sayang jika harus menyia-nyiakan posisi ini," ucap Ahn Yoo. Dia membungkam mulutku dengan ciuman pagi yang manis. Nafasnya yang berat terdengar indah di telingaku, seperti irama yang sedang menyanyikan lagu ketenangan. Aku menutup mataku dan menikmati setiap detik yang terbuang dengan kenikmatan ini.
Setelah dia berhenti dan melepaskan tanganku dari wajahnya, barulah dia mengecup keningku dengan penuh kasih sayang.
"A-Aku pergi," kataku tersipu malu dan gugup. Aku langsung keluar dari mobilnya dan berjalan dengan langkah cepat menuju kantor. Aku takut nanti Ahn Yoo akan mengisi kepalaku karena terus terbayang Dengan wajahnya.
***
Saat memasuki ruangan Ji Seon, aku belum melihat batang hidungnya ada di sini. Mungkin dia lambat datang hari ini, tapi wajar saja, yang punya perusahaan ini adalah dia. Sekali pun tidak datang bertahun-tahun yang melarang juga tidak akan ada.
Aku ingin menelponnya dan menyuruhnya untuk berisi datang kemari. Tapi aku masih berpura-pura marah dengannya soal kejadian semalam. Jadi aku memutuskan untuk menunggu dia datang dengan sendirinya saja.
Sudah dua puluh menit aku bengong menunggunya di sini, tapi dia belum juga menampakkan diri. Aku sudah membatu di sini, tapi dia belum juga muncul. Aku berniat membuatkan kopi yan untukku dan sekalian untuknya juga.
Saat aku berdiri dari kursi tempat aku duduk diam menunggu direktur lambat itu datang, aku melihat mobil Ahn Yoo masih berada di sana melalui jendela kaca. Tapi aku tidak melihat tampangnya ada di sana. Aku berjalan mendekati jendela itu dan memperjelas penglihatanku untuk mencari dia.
Saat aku sudah bisa melihat dengan jelas keadaan di bawah, ternyata mobil Ji Seon juga ada di sana. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan berdua di sana. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka akan baku hantam, jadi aku agak bisa bersantai menonton dari atas.
Apa yang sedang mereka bahas? Terlihat sangat serius sampai Ahn Yoo bisa berbicara dengan tenang dengan Ji Seon. Ataukah mereka sedang membahas masalah investasi? Tapi tidak mungkin juga Ahn Yoo mau repot-repot berbicara bisnis sambil berdiri seperti itu. Dia orang yang pemalas, tidak akan sudi membahas itu di luar. Lalu apa yang sedang mereka bahas? Atau mereka berdua sedang adu mulut seperti semalam. Tampaknya saja mereka berdamai, tapi kenyataannya mereka sedang perang pemikiran.
Aku harus turun tangan untuk melerai mereka. Tapi rasanya sangat malas kalau harus berjalan ke bawah. Berteriak dari sini mereka tidak akan dengar. Jadi dengan apa aku harus memisahkan mereka?
Aku ada ide!
Aku membuat grup chat di salah satu aplikasi media sosial, yang anggotanya hanya kami bertiga. Langsung ku telepon mereka dari grup baru yang ku buat, dan memantau mereka dari atas sini.
Secara bersamaan mereka mengambil ponsel mereka dan menunjukan tampang bingung. Dan sementara aku tertawa geli saat melihat mereka dari sini.
"Ahn Yoo, pergi dari sana. Dan kamu Ji Seon, datang kemari. Aku hitung mundur, dalam hitungan tiga detik kalian belum beranjak dari tempat itu, awas saja. Tiga, dua, ...."
Mereka berpencar dan kembali ke tujuan masing-masing. Ahn Yoo sudah masuk ke dalam mobilnya dan Ji Seon langsung masuk ke dalam perusahaannya. Padahal, mereka itu adalah orang besar di kota ini, dan aku hanyalah nyamuk yang sedang berkelana datang kemari ke tempat mereka. Namun, dengan beraninya bisa memerintah mereka sambil mengancam. Sebenarnya aku ini pantas diberikan penghargaan karena berani menyuruh mereka.
***
Selang beberapa menit, Ji Seon tiba di sini sambil ngos-ngosan dan keringat yang mengalir di wajahnya yang tampan.
"Kijen ... huh, aku tidak melakukan dan tidak mengatakan apa-apa pada pria cemburuan itu," ucap Ji Seon dengan nafas terengah-engah.
"Ya ampun Pak direktur, aku tidak berani menuduh kalau kamu melakukan itu. Aku ini hanya asisten di sini, tentu saja aku tidak akan melarang kalian untuk gaduh di bawah sana," jawabku pura-pura merendah.
"Apa? Jadi kenapa kamu menakuti kami tadi?" tanya Ji Seon dengan muka bingung.
"Kapan? Aku tidak melakukannya. Mungkin hanya perasaan kalian saja. Aku mengatakannya dengan kalimat yang baik" sambungku lagi.
"Kamu seperti malaikat maut yang sedang mencari nyawa kami untuk dicabut saat mengatakannya tadi," timpal Ji Seon sambil menyapu keringat di wajahnya.
"Hahaha ... apa yang kalian bahas tadi?" tanyaku sambil tertawa bahagia saat tahu kedua CEO terkenal seperti mereka takut dengan gadis kecil sepertiku. Bukankah aku ini terlalu beruntung bisa memiliki hubungan dengan mereka?
"Ini urusan laki-laki, kamu tidak perlu tahu," jawab Ji Seon tanpa mau membongkar pembahasan mereka tadi saat di bawah.
"Hmmm ... ok, aku mengerti. Kamu ini sangat suka menyembunyikan sesuatu dariku. Jadi aku sudah memaklumi kelakuanmu pada sahabat yang terlupakan ini," lanjutku memancingnya untuk mengatakan apa yang sedang mereka bahas tadi saat di bawah. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
"Nyonya asisten, sebaiknya langsung mengerjakan tugas saja karena kita akan sibuk hari ini. Kamu sudah bolos semalam dan membuat kegaduhan. Sebagai gantinya, harus merevisi semua yang dikerjakan karyawan," suruh Ji Seon yang sudah berubah menjadi seorang direktur yang kejam. Dia tidak berbaik hati padaku lagi, dan dia tidak menganggapku sahabat lagi hanya karena ingin menutupi pembahasan mereka. Dan terpaksa kelinci lemah sepertiku harus menurut dan mengerjakan suruhan atasan. Kalau tidak, aku akan dipecat dan dikembalikan ke tempat paman sialan itu berada.
"Baiklah Pak direktur, aku akan mengerjakannya," anggukku sambil membungkukkan badan.
Aku menatap semua kertas yang bertumpuk di meja Ji Seon dan langsung bulu kudukku berdiri saat membayangkan bagaimana jadinya aku saat mengoreksi semua itu dalam satu hari. Tapi karena tidak ingin makan gaji buta, aku harus mengerjakannya. Bukan berarti karena Ji Seon adalah sahabatku, aku jadi bisa semena-mena atas tugas. Aku harus bertanggung jawab dan jujur dalam bekerja. "Semangatlah buat diriku sendiri" hanya kata itu yang bisa ku ucapkan dalam benak.
Aku mengambil satu tumpukan kertas dan mulai mengoreksi setiap kata dan kalimat dalam tulisan itu. Sebenarnya aku agak sedikit tidak paham, tapi tadi Ji Seon sudah menjelaskan beberapa poin penting dalam merevisi data-data yang menyebalkan ini. Meskipun awalannya aku memang tidak mengerti, tapi Ji Seon yang perhatian ini dan paham kondisi otakku yang pas di KKM, dia mengajarkan aku sampai betul paham.
Aku mengerjakannya sangat lambat, bayangkan dalam satu jam aku hanya menyelesaikan data dari tumpukan. Padahal pada umumnya, perang lain akan menyelesaikan satu tumpukan hanya dengan waktu seperempat jam saja.
Aku dengan gigih mengerjakan semua tanpa beristirahat, sampai tengkuk leherku terasa pegal karena terlalu dipaksakan. Ji Seon yang mulai kasihan melihatku, menyuruh untuk berhenti sejenak lalu dilanjutkan nanti.
"Kamu bisa istirahat dulu."
"Hah? Aku ini harus kejar waktu, nanti gajiku dipotong," jawabku membangkang.
"Tidak, aku tidak akan memotong gajimu. Letakkan saja itu semua," suruh Ji Seon lagi.
"Loh loh loh, itu mau kamu apakan? Aku sudah hampir setengah jalan jalan mengerjakannya," kataku dan mencoba menggapai kertas yang sudah ditarik Ji Seon.
"Aku ingin makan yang pedas," ucap Ji Seon sambil menyadarkan badannya di tempat duduk yang empuk ini.
"Aku juga," balasku dan juga ikut menyandarkan badan.
"Kita makan apa?" tanya Ji Seon padaku.
"Kalau mau makan denganku harus mengajak semua karyawan yang ada di sini," jawabku sambil menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena aku juga karyawan di sini. Kamu tidak boleh pilih kasih dan hanya mentraktir asisten saja, nanti karyawan di sini merajuk dan mogok kerja," pintaku sambil melakukan pencitraan di depannya.
"Kamu bukan asistenku, kamu Kijen sahabatku. Tentu saja perlakuanku juga harus berbeda," jawabannya.
"Kalau begitu bisa pijatkan badanku, sangat sakit gara-gara tugasmu ini. Bukankah dulu aku sering memijat badanmu, sekarang gantian," suruhku sambil menyodorkan pundak ku padanya.
"Tidak mau, aku ini laki-laki. Aku harus jaga jarak," tolak Ji Seon.
Aku mencubit pipinya kuat lalu menyadarkannya dari pemikiran sempit itu.
"Kenapa kamu jadi ambigu? Aku sudah menganggap kita ini saudara, jadi tidak ada pikiran kotor di kepalaku tentangmu," tukasku menjelaskan padanya kalau aku tidak pernah beranggapan buruk tentangnya.
"Apa aku hanya saudara di matamu?" Ji Seon jadi murung saat menanyakan itu padaku. Wajahnya jadi berubah karena aku mengatakan kalau kamu ini adalah saudara. Padahal maksudku bukan begitu, aku cuma ingin bilang kalau aku tidak akan berpikir motor tentangnya, tapi dia malah salah tangkap dan salah mengartikan yang kukatakan padanya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, ha? Aku tidak nyaman, apa sejak kita berpisah kamu jadi orang yang selalu memasukkan semua yang dikatakan orang dalam hati?" tanyaku sambil menjegilkan mata ke arahnya.
"Tidak, tapi kalau kamu yang mengatakannya aku akan memasukkannya dalam hati," jawab Ji Seon. Aku jadi merasa jauh saat dia mengatakan itu padaku. Bukan karena tidak menyukainya lagi, tapi karena perasaanku padanya perlahan hilang semenjak Ahn Yoo datang mengisi hatiku. Dulu aku memang menyukainya, sampai setiap hari berkhayal akan menikah dengan Ji Seon. Tapi sekarang sudah berada di waktu yang berbeda, saat aku membutuhkan orang di sisiku, hanya Ahn Yoo yang muncul dan menyelamatkanku dari keterpurukan kenangan. Lambat laung, perasaanku tumbuh dan memilih Ahn Yoo.
"Aku akan menjitak kepalamu kalau bicara seperti itu lagi," ancamku menyuruhnya berhenti berharap padaku. Aku tahu maksudnya apa, dia masih ingin masa lalu kami akan berlanjut sampai sekarang. Tapi aku dan dia sudah berada di dimensi waktu yang berbeda, apalagi dia sudah sempat menghilang dari hidupku, tentu saja semua itu tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Ada pepatah yang mengatakan kalau kaca yang retak tidak akan bisa dirakit menjadi utuh lagi, sekali pun berhasil, tidak dengan bentuk yang sama dan tidak akan seutuh yang lama.
"Aku hanya bercanda, hahahah. Jangan masukkan dalam hati. Kamu ini jelek begini hanya Si tukang cemburu yang mau denganmu," ledek Ji Seon sambil tertawa terbahak-bahak. Aku sampai heran melihat dia bertingkah seperti itu di hadapanku. Aku ingin menutup mulutnya dengan kertas yang banyak ini. Biar dia bisa berhenti tertawa seperti orang gila.
"Sudah puas tertawanya? Aku mau buat kopi, apa kamu mau juga?" tanyaku agar dia bisa diam dan berhenti tertawa meledekku.
"Hmmm ... jangan lupa buatkan gula dia sendok," suruhnya mengaturku.
"Ok, akan kubuatkan." Aku keluar dari ruangannya kemudian pergi membuatkan kopi. Namun ada saja mulut orang yang senang bergosip tentang hal yang jelek-jelek tentangku. Masalahnya kamu mereka bicara yang baik-baik, aku pasti akan senang melihat kehadiran mereka di sini. Tapi karena yang mereka ceritakan adalah hal yang buruk-buruk, tentu saja wanita liar ini akan melayani mereka.
"Tuan Ji selalu mengantar dia bekerja," kata salah seorang karyawan.
"Tuan Ji yang tampan dan merupakan idaman seluruh wanita? Tidak mungkin, wajahnya tidak jauh beda dengan pelayan yang ada di pinggir jalan, mana mungkin Tuan Ji mau dengannya," jawab wanita lainnya yang merasa half daging denganku. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika mendengar dia mengatakan kalau aku ini sama seperti gadis jalanan. Sungguh menyakitkan, tapi kalau kuladeni Ji Seon akan langsung mengetahui hal ini dan akan memecat wanita-wanita malang ini. Dengan lapang dada aku harus mengikhlaskan dan membiarkan mereka menghujat ku sepuasnya. Anggap saja ini karena aku sedang di hari yang baik, jadi bisa melepaskan kalian.
Aku terus berjalan dan tak menghiraukan mulut yang bergonggong menggosipi ku. Dengan elegan aku tersenyum pada mereka seolah tidak mengetahui lalu mereka sedang mencibirku. Bersikap seolah menjadi asisten yang layak, sungguh menyulitkan.
Kenapa aku selalu menjadi buah bibir di kota ini? Kemanapun aku berada selalu saja ada orang yang menjadikanku trending topik. Padahal aku juga tidak yakin Ahn Yoo yang legendaris tampan itu mau denganku. Yang menahanku untuk selalu di sisinya bukan aku, tapi Ahn Yoo sendiri yang memaksa. Lalu kenapa yang dihujat malah aku? Seharusnya Ahn Yoo yang terkena hujatan. Hidup memang tidak adil. Yang didapatkan pasti gadis lemah sepertiku, dan pria tampan akan digabung dan diagungkan.
***
~Ruangan Ji Seon~
"Ini kopinya," ujarku sambil memberikan gelas kopi di atas mejanya.
"Kenapa wajahmu masam seperti itu?" tanya Ji Seon.
"Apa aku pernah manis selama ini? Aku rasa wajahku memang seperti ini dari dulu," jawabku datar dan menghindari topik. Kaku aku jujur padanya, yang ada wanita-wanita yang tadi akan kena masalah. Padahal mereka hanya cemburu buta denganku dan tidak ada maksud melukaiku.
"Owh ..."
"Aku lanjut mengerjakan itu dulu," jawabku sambil menunjuk tumpukan kertas yang akan ku kerjakan.
Saat aku menatap meja itu, ternyata tumpukan kertas itu atau tidak ada lagi. Meja itu kosong tanpa ada sebiji kertas di atasnya. Aku kebingungan dan langsung melihat Ji Seon.
"Dimana semua kertas itu?" tanyaku bingung pada Ji Seon.