
Hari sudah kian menjadi terang, aku tahu Ahn Yoo pasti akan datang mengetuk pintuku dan memintaku untuk memasakkan sandwich untuknya.
Sebelum dia datang dan masuk ke kamar ku, aku harus memasak untuknya, kemudian meninggalkannya di atas meja makan. Aku belum sanggup untuk meladeni kegilaannya.
Aku menyiapkan semua bahan dan mulai menggoreng telur sebagai bahan makanan utama.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Terdengar suara Ahn Yoo yang baru saja datang.
"Aku sedang memasak," jawabku dengan lesu dan mata sayu karena tidak tidur semalaman.
"Ha? Tidak ada, jangan hiraukan aku."
"Biar ku lihat," Ahn Yoo mendekat dan hendak menggapai wajahku.
Dengan cepat aku menghindar dan menjauhinya. Aku tidak mau dia dekat-dekat denganku.
"Tidak!! Tidak ada, duduklah di sana. Sandwichnya akan siap sebentar lagi," kataku mengelak.
Kemudian Ahn Yoo duduk di kursi mendengarkan kata-kataku. Hari ini dia seperti anak baik saja, tidak mengamuk seperti biasanya. Andai saja dia selalu bersikap manis seperti ini.
"Ini sandwich mu, makanlah yang banyak."
"Kenapa kau bangun cepat sekali?"
"Aku tidak ingin kamu masuk ke kamarku dan melakukan hal bejat seperti tadi malam," gerutuku dengan suara pelan.
"Apa yang kau katakan?" Ahn Yoo mengangkat alisnya sebelah.
"Aku terbangun pagi sekali karena mimpi buruk tadi malam, jadi aku menenangkan pikiran dengan memasak," tukasku mengelak.
Ahn Yoo melanjutkan makannya dan menghabiskan sandwich yang ada di piringnya.
"Tumben masakanmu enak, tidak seperti biasanya," ejek Ahn Yoo kepadaku.
Aku menyicipi sandiwch yang ku masak secara perlahan dan mencoba merasakan perbedaannya.
"Aku rasa tidak ada yang berbeda di sini, sama seperti sandwich sebelumnya," lanjutku dengan mulut asyik mengunyah.
"Kau ini bodoh, tentu saja tidak merasakan perbedaannya," sambungnya dengan nada ketus.
"Kenapa kamu masih mau memakan masakan orang bodoh ini, ha?" gerutuku dengan suara pelan.
"Aku sudah kenyang," Ahn Yoo bangkit dari dudukannya dan pergi begitu saja kembali ke kamarnya.
Sudah kuduga, dia akan melakukan hal membingungkan lagi. Barusan saja dia bersikap manis, dan sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Laki-laki yang sulit untuk dimengerti.
***
Siang hari,
Ahn Yoo sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali, tanpa kusadari dia meninggalkan sebuah kotak di atas meja cerminku, mungkin dia meletakkannya ketika aku sedang mandi.
"Tunggu ini apa? Kenapa ada di sini?"
Aku membuka kotaknya dan menemukan sebuah ponsel di dalamnya.
"Ho' ho' ho, apa sekarang Ahn Yoo sedang dirasuki setan baik, sampai-sampai dia membelikan aku ponsel," aku menyeringah dan membalik-balikkan ponsel ini.
Aku membukanya dan mengotak-atikkan ponsel ini. Ada satu hal yang membuatku terkikik melihat isi kontak ponsel ini. Ternyata Ahn Yoo sudah memasukkan nomor kontaknya dan memberikan tanda namanya di nomor ponselnya, dia menuliskan, Tuan Ji.
"Kenapa namanya Tuan Ji. Aku tidak suka, lebih bagus kamu itu disebut Gunung Es."
Aku menukar nama panggilannya dari kontakku menjadi Gunung Es.
Untuk tanda terima kasihku, aku langsung mengiriminya sebuah pesan singkat.
Aku:
Ahn Yoo, kamu meninggalkan
ponselmu.
Aku berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang memberiku ponsel ini.
Tidak lama kemudian, Ahn Yoo membalas pesanku.
Gunung Es:
Bodoh!!
Aku mengatup gigiku dan menggumpatnya karena memgataiku bodoh.
"Dasar gunung es!! Kenapa kamu membalas pesanku seperti ini!!"
Aku tidak membalas pesannya lagi karena sakit hati dengan ejekannya. Tidak puas dia mengataiku tadi pagi, sekarang dia mengejekku dari pesan sialan ini.
Saat sedang mengumpat tentang Ahn Yoo, tiba-tiba ponselku berdering.
"Siapa yang memanggil?" Aku yakin yang menelpon ku adalah Ahn Yoo, karena hanya dia yang tahu nomorku. Aku segera mengangkat panggilannya karena memang benar itu adalah Ahn Yoo.
"Halo!" Sapaku dari ponsel baru milikku.
Padahal aku cepat mengangkat panggilannya, dia sampai marah besar begitu.
"Aku masih ragu untuk mengangkatnya," sambungku berpura-pura polos.
"Kau ini bodoh atau berpura-pura bodoh, mengangkat saja kenapa harus ragu? Mulai sekarang kau tidak boleh lambat mengangkat panggilanku!" bentaknya lagi.
Aku tidak mengalusi amukannya, aku hanya mengerucutkan mulutku untuk membalas makian yang menyakitkan ini.
"Kenapa kau diam?"
"Ha? Ah ... itu aku ... aku sedang menyimak yang kamu katakan," elakku dengan gugup.
"Baiklah aku tutup teleponnya, aku sedang meeting."
Ahn Yoo menutup panggilannya dan mengakhiri percakapan kami.
"Kenapa tidak dari tadi, telingaku sakit mendengar ocehanmu. Lagian kamu 'kan sedang rapat, sempat-sempatnya kamu menelponku," gerutuku saat setelah Ahn Yoo mengakhiri panggilannya.
***
Sore hari.
Bu San memanggilku untuk turun ke bawah karena Hyun In datang menemuiku. Aku langsung turun ke bawah dan menghampirinya.
"Hyun In? Kenapa kamu mencariku?"
"Jane Soo, aku ingin mengajakmu berkeliling. Aku tidak mempunyai teman di sini, aku kesepian."
"Bukannya aku menolak ajakanmu, tapi Ahn Yoo..." Hyun In memotong kalimatku dan langsung menimpalnya.
"Hussst, aku tidak mendengarkan alasan apa pun."
Hyun In menarikku keluar dari rumah Ahn Yoo, dan menyuruhku masuk ke dalam taksi online yang dipesannya.
"Kita mau kemana, Hyun In?" tanyaku saat berada di dalam taksi.
"Kita akan memanjakan mata hari ini. Pokoknya hari ini kamu harus menemaniku untuk berbelanja," sambung Hyun In yang tidak berhenti untuk berbicara.
Aku tidak menghiraukannya dan membiarkannya melakukan apa yang di inginkannya. Karena aku yakin dia tidak akan mau mendengarkan penolakan dariku.
Ternyata Hyun In membawaku ke pusat perbelanjaan yang terkenal dengan harga yang menghuras kantong. Tidak hanya harga, semua barang yang ada di sini adalah hasil dari desainer-desainer terkenal.
"Seleranya cukup merepotkan," decakku melihatnya yang sedang sibuk memilih baju-baju yang tergelantung di sini.
"Jane Soo, kemari! Bagaimana menurutmu yang ini? Cantik tidak?" Hyun In meneriakiku untuk meminta pendapat.
"Iya, itu cantik, sangat cantik," sahutku dengan nada mengejek.
"Oke, aku ambil yang ini." Hyun In memilih semua yang menurutnya bagus dan pas untuknya. Dia sama sekali tidak menghiraukan harga yang tertera di cap mark baju itu.
"Jane Soo, kamu tidak memilih baju? Dari tadi kamu hanya memandangiku saja, " tanya Hyun In yang heran melihatku.
"Aku tidak suka berbelanja, aku lebih suka makan," jawabku singkat.
Walaupun sebenarnya aku tidak punya uang membayari sepotong pakaian pun di sini. Sungguh nasib yang malang menajadi aku.
"Jangan banyak alasan, pilihlah yang kamu suka. Karena aku yang membawamu ke sini, jadi aku yang akan membayar belanjaanmu," tawar Hyun In dengan senyum di wajahnya.
"Tidak usah, aku memang tidak suka berbelanja," jawabku menolak.
Hyun In sama sekali tidak menghiraukanku, dia memilihkan aku dress liris-liris cantik berwarna putih biru yang lembut. Dia memaksaku untuk mengenakannya dan membungkus pakaianku yang sebelumnya.
"Wah ... kamu sangat cocok mengenakannya," puji Hyun In sesaat setelah aku keluar dari ruang ganti pakaian.
"Hahah," jawabku dengan tertawa paksa. Aku tidak bisa memakai baju setinggi lutut dan tangan sependek lengan. Dari dulu aku tidak pernah memakai baju seperti ini, ditambah harganya yang membuatku sampai menelan ludah. Bu San memang pernah memberikanku pakaian seperti ini, tapi aku tidak pernah mengenakannya.
"Baiklah, sekarang kita akan makan," teriak Hyun In kegirangan.
"Aku rasa tidak dulu Hyun In, aku khawatir Ahn Yoo sudah pulang kerja. Kalau dia tidak melihatku di rumah, dia akan mengamuk," sambungku menolak karena khawatir Ahn Yoo sudah berada di rumah.
"Apa kamu ini burung milik Jiyu, dan rumahnya adalah sangkarmu. Sesekali kamu harus membangkang Jiyu," cetus Hyun In.
"Iya, tapi kalau Ahn Yoo memarahiku, aku tidak tanggung jawab, kamu harus mengatakan kalau semua salahmu. Mengerti?" jawabku mengancamnya.
Saat sedang berada di kasir untuk membayar belanjaan kami, aku memeriksa ponselku dan mendapati panggilan tak terjawab dari Ahn Yoo. Dia sudah beberapa kali menelepon, tapi aku tidak mengangkatnya karena tidak mendengar dering dari panggilannya. Aku menbuat ponselku berada di mode silent, sehingga aku tidak mendengar dering panggilan.
Aku segera menelepon balik Ahn Yoo, dan berharap dia tidak mengamukiku lagi.
"Halo," sapaku sesaat Ahn Yoo sudah mengangkat panggilan dariku.
"Dimana kau? Kenapa tidak mengangkat panggilanku? Kenapa kau tidak ada di rumah? Dengan siapa kau? Apa kau sangat sibuk sampai tidak bisa mengangkat panggilanku?" Ahn Yoo menghujani ku dengan pertanyaan yang tidak satu pun sempat ku jawab.
"Bisakah bertanya satu-satu, aku pusing harus jawab yang mana dulu," sambungku dengan nada ketakutan.
"Jane Soo, kamu bicara dengan siapa?" tanya Hyun In yang baru siap membayar belanjaan.
"Hyun In? Sudah kuduga. Tetap di situ dan jangan pergi kemana-mana."
Ahn Yoo mematikan panggilanku ketika dia mendengar suara Hyun In. Dan yang membuatku ketakutan adalah dia menyuruhku untuk tetap di sini. Apa dia akan menghampiriku? Tidak, dia tidak tahu aku sedang berada dimana, jadi sudah jelas dia tidak akan bisa datang menghampiriku.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**