
Ahn Yoo sangat lama, bahkan sudah sore begini pun belum juga pulang. Aku sudah bosan terus tidur seperti ini dari tadi. Setiap kali aku berpikir Ahn Yoo sudah datang dan kemudian melihat ke arah pintu, ternyata dia belum pulang.
Saat tertidur, aku merasakan pelukan hangat yang erat di tubuhku. Sangat nyaman, sampai mata enggan untuk terbuka. Aku ragu itu adalah Ahn Yoo, karena mulai dari tadi aku merasa kalau dia datang, ternyata tidak.
Namun anehnya, kenapa aku juga merasakan detak jantung? Mungkinkah itu Ahn Yoo?
Aku membalik badan dan melihat apakah itu adalah Ahn Yoo. Namun aku tidak bisa bergerak, seperti di dekap.
Aku langsung terperanjat dari tidur yang lelap. Aku melihat tangan yang sedang merangkulku, aku tidak tahu siapa.
"Ahn Yoo?"
Tidak ada sahutan, aku mencoba melepaskan dekapannya dan melihat siapa yang memelukku.
"Tetaplah begini," suara Ahn Yoo terdengar berat di telingaku.
"A-Ahn Yoo? Apa itu kamu?" tanyaku ragu dengan posisi di dekap olehnya.
"Hmmm," sahutnya singkat.
Napasnya terasa berat, seperti ada masalah yang sedang dipikulnya. Aku tidak tahu apa itu, mungkin masalah Hyun In. Aku ingin sekali menanyakan kepadanya, tapi sekarang dia terlihat letih.
Wajarkah jika kami tidur berdua di ranjang yang sama padahal tidak ada hubungan diantara kami. Aku ingin melepeskan dekapannya tapi hatiku masih tidak tega membiarkannya.
"Apa ada masalah?" tanyaku kepada Ahn Yoo.
"Aku butuh sandaran," lirih Ahn Yoo.
"Apa Hyun In baik-baik saja?"
"Dia memaksaku menikahinya," sambung Ahn Yoo dengan hela napas setelahnya.
"Apa kamu mau?"
"Kenapa? Kau cemburu?" Ahn Yoo melepaskan pelukannya dan membalik arah badanku sampai saling berhadapan dengannya.
Aku tidak tahan lagi, aku sangat ketakutan saat sedekat ini dengan Ahn Yoo. Mataku tidak bisa berhenti menatap matanya, meski rasa ingin menunduk.
"Katakan kau tidak akan membiarkanku," ujar Ahn Yoo sedikit memaksa.
"A-Aku tidak ... tidak ... tidak bisa bicara kalau kau sedekat ini." Aku menutup wajahku kemudian berdiri dari tidurku.
"Katakan saja." Ahn Yoo menarikku lagi sampai terjatuh ke atas ranjang.
Bagaimana aku bisa mengatakannya kalau dia sedekat ini. Lagi pula, kalau pun aku mengatakan aku tidak akan membiarkannya bersama Hyun In, apa takdir yang awalnya tidak bisa, berubah menjadi membiarkan. Terlalu naif, aku tidak mempercayai kekonyolan Ahn Yoo.
"Aku lapar," kataku mengelak.
"Aku ingin tidur," balas Ahn Yoo yang tidak peduli denganku.
"Aku lapar," sambungku yang memang lapar sedari tadi.
"Biarkan aku tidur dulu, kemudian pergi makan."
"Ya sudah, buka pintu sana biar kamu bisa tidur," kataku sambil menunjuk pintu.
"Aku tidak ingin tidur di sana, aku ingin bersamamu."
Mataku sudah enggan untuk terlelap lagi, tapi permintaan Ahn Yoo tidak bisa ku tolak. Aku juga ingin selalu bersamanya, tapi waktu tidak mengizinkan.
"Bagaimana pun aku ini seorang wanita, dan kau laki-laki. Tidak baik kalau kita berduaan seperti ini dan tidur satu ranjang," tukasku menolak.
"Apa pedulimu, sebentar lagi kau juga akan tidur bersamaku setiap hari," jawab Ahn Yoo tidak acuh.
Dia menaruh tangannya di bawah kepalaku dan memelukku kemudian. Sangat dekat, sampai dadanya menempel di pundakku.
"Siapa yang akan seranjang denganmu?" tanyaku kebingungan dan nada kuat.
"Kalau kau mau tidur sendiri seumur hidup, maka teruskan."
"Diamlah, kalau aku tidak tidur. Kau tidak akan bisa keluar dari sini."
Aku menutup mataku dan mencoba untuk menidurkannya. Tentu saja tidak akan bisa, baru saja aku terbangun, bagaimana mungkin akan tertidur lagi. Apalagi Ahn Yoo memelukku, kepalaku berisi pikiran kotor.
Aku bingung kapan Ahn Yoo masuk dan tidur di ranjang ini? Padahal aku tidak merasakan kedatangannya tadi, bahkan aku tidak tahu kalau dia sudah mendekapku.
***
Dipaksa pun untuk tidur meski memicingkan mata sampai dua hari, tidak akan bisa kalau memang tidak mengantuk.
Aku menunggu Ahn Yoo terbangun dari tidurnya. Mungkin dia sangat lelah sampai Ahn Yoo tertidur dengan sangat pulas.
"Ahn Yoo?" panggilku dengan suara pelan.
Karena Ahn Yoo tidak menyahutku, aku melepaskan tangannya dari badanku dan berbalik menghadapnya.
"Tidur pun masih tetap tampan," decakku kagum melihat Ahn Yoo.
Aku menyentuh kepalanya, kemudian pipinya dan membelai pelan wajahnya.
"Aku heran kenapa kamu mau denganku yang jelek ini. Padahal kamu sangat tampan dan kaya, kenapa seleramu rendah sekali?"
Mata Ahn Yoo terbuka tiba-tiba ketika tanganku masih memegang wajahnya. Tentu saja aku terkejut dan tertegun seketika.
Aku langsung berdiri dan berlari terbirit-birit ke depan pintu. Aku masih malu karena baru saja memegang wajahnya. Aku tampak tidak tahu diri saat dipeluknya, aku terlalu terbawa suasana.
"Karena sudah bangun, kita sudah bisa keluar. Lagian ini sudah malam," kataku gugup karena grogi.
"Kau baru saja mengelusku dan sekarang berpura-pura tidak acuh padaku, kejam sekali."
Ahn Yoo bersikap manja lagi kali ini, entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku semakin bingung saja menghadapi laki-laki yang satu ini.
Ahn Yoo tidak memikirkan gengsinya di depanku. Padahal kalau di depan orang lain dia berlagak seorang pemimpin yang paten, tapi saat berdua seperti ini, dia hanya anak kecil yang suka merengek.
"Kita keluar saja, aku sudah lapar, dari tadi aku menahan lapar di sini. Yang kejam itu kamu bukan aku," ujarku lagi.
Ahn Yoo beranjak dari tempat tidur lima kaki dan membuka pintu ini.
"Wahhh ... aku rindu udara di sini," kataku agak sedikit berlebihan setelah sampai di kamar Ahn Yoo.
"Rindu kamarku?" tanya Ahn Yoo pura-pura bodoh.
Ingin sekali memukul kepalanya agar kembali normal. Dari tadi dia bersikap berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
"Aku malas berdebat denganmu, aku lapar," sahutku tidak acuh.
"Malam ini kita makan di luar saja. Pergilah ganti bajumu yang busuk ini dengan yang terakhir kali dibeli."
"Baju busuk? Ini kamu yang beli, bukan pilihanku," senggakku tidak senang.
"Kau selalu mengenakan ini, aku muak melihatnya," sambung Ahn Yoo ketus.
Untung saja dia ini tampan, kalau tidak sudah ku hancurkan mulutnya dengan tanganku sendiri. Aku harus menahan amarah sebentar saja, dan tidak perlu memasukkan semua yang dikatakan Ahn Yoo ke dalam hati.
"Aku tidak mau makan di restaurant lagi," kataku mengatur.
"Jadi?"
"Aku yang akan pilih, dan kamu tidak boleh protes."
"Terserahmu," jawab Ahn Yoo tidak acuh dengan permintaanku.
Aku pergi meninggalkannya dan membasuh badanku dan memilih baju yang sederhana untuk kukenakan malam ini.
Rasanya tidak sabar makan bersama dengan Ahn Yoo Si Gunung Es menyebalkan itu.