
Aku bergegas dan kemudian menunggu Ahn Yoo di bawah. Sangat lapar sehingga sesak untuk mengisi perut dengan makanan yang ada di pinggiran jalan. Aku rindu makan-makanan di pinggir jalan, rasanya enak meski harganya murah.
"Kenapa lama sekali?" tanyaku sesaat setelah Ahn Yoo turun dan menghampiriku.
"Biasanya aku yang menunggu, kali ini biar kau yang menungguku," sambung Ahn Yoo.
"Ya sudah, kita pergi saja. Aku sudah lapar sekali," rengekku pada Ahn Yoo.
Ahn Yoo memegang tanganku dan menggandengku sampai di dalam mobil. Aku masih belum terbiasa dengan sikapnya yang menanggapku sebagai kekasihnya.
"Kita makan dimana?" tanya Ahn Yoo sambil memasang sabuk pengamannya.
"Uhmm, kita ke pusat kota saja. Aku melihat ada tempat yang menarik di sana," ujarku memberi saran.
Ahn Yoo mengikuti instruksiku dan mengarahkan mobilnya ke tempat yang kuceritakan padanya.
Setelah sampai di tempat yang kukatakan, Ahn Yoo tidak mau masuk dan bersikeras untuk memilih tempat lain.
"Perjanjian awal adalah aku yang memilih tempat, jadi jangan banyak protes," ujarku mengingatkan dia dengan yang dikatakannya tadi kepadaku.
"Iya, tapi aku tidak mau."
"Padahal aku sangat ingin makan sate di warung seperti ini," kataku mencoba menarik empati Ahn Yoo.
Tampaknya Ahn Yoo tidak tega melihatku memelas di hadapannya. Akhirnya dia turun dan mau makan di warung yang kupilih ini.
"Wahhh ... ciumlah wangi sate ini. Menghirupnya saja sudah membuatku kenyang," decakku sambil mengendus bau sate yang memenuhi isi ruangan ini.
"Kalau begitu kita pulang saja," sambung Ahn Yoo dengan ketus.
"Kenapa pulang? Belum juga makan," ucapku terheran-heran.
"Kau sudah kenyang dengan bau di sini," lanjut Ahn Yoo dengan muka ditekuk.
"Bodoh sekali," gumamku dengan suara pelan.
Saat kami berdebat, seorang pelayan dari warung ini datang menanyai pesanan kami. Saat menatap Ahn Yoo pelayan ini senyum sangat lebar, tapi saat melihatku dia sangat jutek.
"Pesan apa?" tanya wanita itu sedikit menyenggak, aku berpikir mungkin karena dia letih dari tadi bekerja terus. Tapi Ahn Yoo yang sensitif ini malah memasukkan perkataan wanita itu dalam hati.
"Hmmm ... pesan sate tiga porsi," ujarku kepada pelayan itu.
Aku sudah membayangkan makan dua porsi sate sekaligus, dan memberikan Ahn Yoo satu porsi saja. Namun apa nyatanya, Ahn Yoo malah mengajak pergi dari warung.
"Kita pergi saja," kata Ahn Yoo dengan raut cemberut.
"Aku sudah pesan," sambungku menolak.
"Wanita itu memarahimu, aku tidak suka."
"Dia sudah lelah dari tadi melayani pembeli sebanyak ini, wajar saja dia agak sedikit pemarah."
"Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak ingin makan di sini," jawab Ahn Yoo mengamuk.
"Aku sangat ingin makan sate, rasa di restaurant berbeda dengan yang di warung. Kita makan di sini, 'yah?" kataku memelas sambil menunjukkan ekspresi sok manis di depannya.
Aku harap usahaku ini tidak sia-sia sudah mempermalukan diri sendiri di hadapan Ahn Yoo.
"Terserah," balas Ahn Yoo cemberut dan mata tidak peduli.
Ahn Yoo memperhatikan semua yang ada di dalam warung ini dan mengerutkan dahi ketika melihat hal yang tidak disukainya. Tentu saja tempat yang berkelas dengan yang hanya tempat biasa seperti warung ini. Tapi jangan salah dengan rasa, tidak terlalu jauh beda. Bahkan sebgian orang lebih menyukai makanan di warung dari pada yang ada di tempat berkelas.
"Ini pesanannya," kata pelayan itu dan menaruh pesanan kami.
Anehnya, ketika melihatku wanita ini malah bersikap garang, tapi saat berbicara dengan Ahn Yoo, dia malah tersenyum manis dan lembut.
"Wahhh ... wanita licik satu ini," gumamku dengan suara pelan karena kesal melihat wanita ini.
Ahn Yoo juga tadi mengumpat wanita ini, tapi sekarang mereka sedang membahas sesuatu yang tidak ku ketahui.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku pada Ahn Yoo ketika pelayan itu pergi meninggalkan kami.
"Dia meminta nomorku," jawab Ahn Yoo.
Aku heran melihat orang yang sangat bertingkah agresif. Apalagi seorang wanita, tampak tidak punya harga diri. Bagaimana mungkin seorang wanita meminta nomor ponsel orang yang baru saja dia kenali.
"Dasar wanita genit, dia sangat jutek melihatku. Tapi denganmu sangat ramah," decakku kesal melihat wanita itu.
"Apa kau cemburu?"
"Siapa yang tidak cemburu kalau ... kalau ...." kataku terpotong-potong.
"Kalau apa? Bicara tanggung sekali," gumam Ahn Yoo kesal.
"Intinya aku tidak suka," cetusku.
"Baguslah kau cemburu," sambung Ahn Yoo merasa lega.
Aku menghabisi dua porsi sate ini dengan amarah, dan melampiaskannya dengan membayangkan pelayan itu adalah sate yang kupegang ini. Aku masih kesal melihat wanita ganjen yang meminta nomor Ahn Yoo, aku cemburu. Ditambah Ahn Yoo malah meladeni wanita ini dengan senyum manis, padahal aku ada di depannya. Memang benar aku bukan siapa-siapanya, tapi aku masih tetap cemburu.
"Makan yang benar, kau rakus sekali," gusar Ahn Yoo melihatku makan.
"Aku sedang kesal, jadi jangan hiraukan aku," jawabku yang masih menarik sate dari lidi dengan kuat.
Ahn Yoo kemudian mengambil piring sate yang ada di depanku dan menyulangiku.
"Makan ini," taruh Ahn Yoo tangannya dengan manis di depan mulutku.
Aku sangat gugup sampai menggigit sate dari pegangan Ahn Yoo pun tidak bisa.
"Cepatlah, tanganku pegal menggantung begini," decak Ahn Yoo menarehkan tusukan lidi sate.
Aku menggigitnya dengan pelan karena masih gugup.
"Harus disulangi baru bisa makan dengan benar. Kekanak-kanakan," sindir Ahn Yoo padaku.
Semua perhatian orang yang berada di sini tertuju pada kami. Aku sangat tidak nyaman kalau begini. Lebih baik pergi saja dari pada harus jadi tontonan orang lain.
"Itu Tn. Ji, pemilik TIG Entertaniment. Sangat tampan dan sederhana, ternyata dia mau makan di tempat seperti ini," puji seorang wanita yang merupakan pembeli juga.
"Iya, sangat tampan dan tidak angkuh sama sekali. Tapi wanita yang disulangi Tn. Ji itu kekasihnya?" Sahut wanita lainnya.
"Sepertinya begitu. Padahal wajahnya biasa saja, tidak ada yang spesial dari dia," lanjut wanita itu.
Malam ini aku menjadi bahan gibah orang lain karena Ahn Yoo. Banyak orang yang tidak suka kalau aku menjadi pasangan Ahn Yoo, alasannya karena kami tampak tidak serasi.
Telingaku sudah panas dari tadi mendengarkan gosip murahan dari mulut orang-orang yang hanya bisa iri hati terhadap orang lain. Aku mengajak Ahn Yoo pulang karrna tidak tahan lagi. Aku takut terpancing dan malah mengakibatkan kericuhan di sini.
"Ahn Yoo, kita pulang saja."
"Aku belum ingin pulang," jawab Ahn Yoo tidak peduli.
"Kalau tidak beranjak dari kursimu dalam hitungan tiga detik, aku akan mengumban wanita sana yang sedang menggosipiku," ancamku dengan gertakan gigi.
"Siapa yang menggosipimu?" tanya Ahn Yoo.
"Pemujamu yang ada di sini," sambungku ketus.
"Satu, dua," lanjutku menghitung untuk mengancam Ahn Yoo.
Setelah sampai dalam mobil, aku yang masih belum bisa memadamkan kemarahan karena mendengar ocehan busuk dari wanita-wanita yang sirik denganku.
"Kamu memegang tanganku supaya orang lain menghujatku, 'yah?"
"Tidak, aku hanya mengajarkanmu supaya terbiasa dihujat karena menjadi pasangan direktur," sambung Ahn Yoo yang fokus menyetir mobil.
"Siapa yang akan jadi pasangan direktur? Hati-hati kalau bicara," senggakku karena merasa malu.
"Kau harus diajarkan cara menjadi wanita anggun, soalnya kau sangat pemarah," gumam Ahn Yoo yang tidak tergeming sama sekali dari fokusnya di jalan.
Sudahlah, biarkan saja Ahn Yoo menerka-nerka dengan isi kepalanya yang rumit itu. Kalau mengikuti kata-kata Ahn Yoo, aku bisa menjadi bodoh seketika.
Aku teringat dengan Kang Joon, sekarang mungkin waktu yang tepat untuk membahasnya dengan Ahn Yoo.
"Ahn Yoo," panggilku mencoba memancingnya.
"Hmmm," sahutnya singkat.
"Kita ini bukan suami istri, jadi ...." Ahn Yoo langsung menimpal kalimat yang belum sempat ku selesaikan.
"Jadi kau menyuruhku untuk menikahimu?"
"Kepalamu terlalu jauh memikirkan hal gila yang tak masuk akal," decakku dengan mata datar.
"Kenapa kau membahasnya?" tanya Ahn Yoo penasaran.
"Aku sarankan kita jangan tinggal serumah, tidak baik dipandang orang.".
"Jangan pedulikan mereka," jawab Ahn Yoo tidak acuh.
"Aku sedang serius, besok bantu aku carikan rumah. Aku mau pindah, tapi aku akan datang sesekali ke ruamhmu menemui Bu San," perintahku dengan sopan.
"Tidak bisa," timpal Ahn Yoo tidak senang.
"Aku tidak akan lari dari hutang," sambungku meyakinkan Ahn Yoo.
"Tidak bisa," kata Ahn Yoo menolak.
"Kalau tidak mau, aku yang cari sendiri."
"Kau tidak boleh pindah dari rumahku, dan tidak boleh pergi dari sisiku," tukas Ahn Yoo dengan jelas.
Aku juga tidak mau berpisah dari Ahn Yoo, tapi untuk menjagakan hal-hal yang tabu, aku harus melakukannya. Lagi pula, pandangan orang akan lain saat melihatku terus tinggal bersama Ahn Yoo di bawah atap yang sama.
"Jangan mengajakku berdebat, pokoknya besok aku akan pindah," timpalku tidak mendengarkan Ahn Yoo.
"Jangan bahas ini kalau tidak ingin aku membawamu tidur di hotel dan melakukan hal bejat," kata Ahn Yoo yang tampaknya serius.
"Kamu mengerikan sekali, aku hanya menjaga reputasimu" decakku bercanda.
"Sudah ku ingatkan untuk tidak membahas ini lagi."
Ahn Yoo mempercepat laju mobilnya dan tidak memikirkan akibat perbuatannya. Mungki dia sangat tidak senang dengan yang kukatakan tadi. Aku yakin dia sekarang sedang emosi melihatku.
"Ahn Yoo! Perhtikan mobil di depanmu," amukku mengatakannya pada Ahn Yoo.
Dia tidak mendengarkanku sama sekali dan tetap melaju denangan kecepatan tinggi.
Karena terlalu cepat, kami sampai di rumah hanya dengan waktu yang singkat. Mulai dari saat itu, Ahn Yoo tampak tidak ingin berbicara denganku, mungkin dia masih kesal melihatku. Bahkan saat turun dari mobil dia tidak menoleh ke arahku atau menyuruhku untuk turun dari mobil. Dia juga meninggalkanku sendiri di dalam mobil tanpa mengajakku masuk bersamanya.
"Jane Soo, kenapa dengan Tn. Ji? Tampaknya tidak senang," tanya Bu San yang langsung sadar dengan tingkah Ahn Yoo.
"Aku rasa dia marah padaku Bu San," jawabku pasrah kepada Bu San.
"Kenapa bisa begitu? Bukannya kalian tadi pergi masih baik-baik saja?"
"Begitulah Bu San, aku juga tidak mengerti," decakku sambil menghela napas.
"Kalau begitu lebih baik biarkan Tn. Ji menenangkan diri dulu, kalau dibujuk sekarang malah akan memancing emosinya," kata Bu San yang susah mengerti dengan tempramen Ahn Yoo.
Mengingat Bu San sudah menyuruhku untuk tidak perlu menemui Ahn Yoo dan menanyakan kenapa dia marah tidak jelas begitu aku tidak perlu mencemaskannya.
Lebih baik membiarkannya sendiri dulu dan menunggunya menyapaku lebih dulu. Meski aku tahu penyebab Ahn Yoo bisa mengamuk seperti itu.
Aku pergi ke kamar dan memaksa mata untuk tertidur meski enggan untuk terlelap.
Tidak ada kerjaan, aku ingin sekali iseng dengan Ahn Yoo tapi dia tidak mau menemuiku. Masih ada cara lain untuk mengganggunya meski tidak bisa berjumpa langsung.
Aku mengambil ponselku dan menelpon Ahn Yoo kemudian langsung mematikannya. Biar dia marah kepadaku lalu aku bisa meminta maaf langsung setelahnya.
Berulang kali ku telepon tapi tidak ada jawaban dari Ahn Yoo, dia membiarakanku seperti anak usil yang sedang gatal. Mungkin dia benar-benar marah kepadaku. Aku kira dia hanya marah biasa, ternyata tidak.
Aku harap dia tidak marah kepadaku dengan waktu yang lama, baru saja kami berteman semalam. Sekarang sudah bertengkar lagi, aku tidak mau.
***
Saat pagi telah tiba, aku terbangun dan berniat membuatkan Ahn Yoo sandwich seperti biasanya. Aku melihat Ahn Yoo sudah duduk di kursi sambil menopang dagunya. Sepertinya dia sudah lama menungu, sampai dia terlihat sedang bosan.
"Ahn Yoo," panggilku ragu saat melihatnya.
Ahn Yoo tidak menoleh sama sekali dan tetap berada di posisi menopang dagu. Kemudian aku menghampirinya dan menatap Ahn Yoo dengan tegas.
"Kamu masih marah denganku?" tanyaku mencoba menarik perhatiannya.
Ahn Yoo tetap tidak menjawabnya dan tidak menoleh ke arahku sama sekali. Aku mendekatkan mukaku ke depan mukanya untuk memecahkan amarah tadi malam.
Ternyata Ahn Yoo sedang memejamkan mata dengan model yang duduk dan menopang dagu, seperti orang yang tertidur.
"Ahn Yoo," bisikku ke telinganya.
Dia sama sekali tidak mau mendengarkanku dan terus mendiamiku.
"Kenapa kamu bertingkah seperti ini?"
Dia membuka matanya dan membalikkan wajahnya membelakangiku. Dia seperti anak-anak yang sedang merajuk saja.
Tidak putus asa, aku berjalan mengarah Ahn Yoo dan menanyakan hal serupa seperti yang tadi.
"Kamu masih marah denganku?"
Sayanya lagi-lagi aku diacuhkan oleh Ahn Yoo. Dia memang sedang marah denganku karena memintanya untuk mencarikan rumah untukku. Kalau dipikir lagi, aku dan Ahn Yoo tidak memiliki hubungan yang khusus atau segala macam. Hubungan kami tidak jelas, dikatakan teman tapi seperti pacaran, dibilang pacaran tapi tidak ada ikatan. Sangat rumit sampai aku sendiri tidak bisa menyebut hubungan kami ini dengan apa.
"Kamu marah karena aku ingin pindah?" tanyaku mencoba menebak.
"Aku tidak peduli," timpal Ahn Yoo tidak acuh.
"Kita sebaiknya tidak boleh tinggal satu atap tanpa ada hubungan, apalagi aku ini bukan siapa-siapa di kota Agra. Aku bukan penduduk di sini, kalau orang tahu bisa panjang masalahnya," tukasku menjelaskan situasiku kepada Ahn Yoo yang tidak melihatku sama sekali.
"Apa maksudmu?"
"Aku bukan siapa-siapa di sini. Baik itu di rumahmu atau pun kota ini."
"Mulai sekarang kau wanitaku, jadi jangan banyak alasan," kata Ahn Yoo seperti sedang menembakku.
Aku adalah wanitanya? Maksudnya kekasih Ahn Yoo? Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal-hal yang tidak berani ku pikirkan selama ini. Aku tidak pernah sanggup membayangkan Ahn Yoo akan menjadi pacarku. Aku ini tidak terlalu cantik dan pintar, tapi dia masih saja mau. Padahal banyak wanita yang menyukainya dan memujanya tapi tidak dilirik sama sekali. Bahkan Hyun In yang hampir sempurna saja tidak bisa memenangkan hati Ahn Yoo.