SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 62



Pagi hari ...


"Good morning, darling."


Suara itu yang terdengar saat pertama kali mata ini terbuka. Dan sepasang mata yang indah memandang wajahku. Dia membelai helai rambut dan menepihkannya ke pinggir agar rupa ini terlihat dengan jelas.


"Kyaaaa!!" jeritku histeris. Aku langsung berjungkit dari ranjang dan menjauh dari badannya yang membuat tidurku nyenyak tadi malam. Tanpa sadar malam itu aku memeluknya dan tidak sengaja mencium dadanya yang wangi. Perbuatan yang memalukan, sekarang bagaimana aku akan menyembunyikan wajah ini darinya? Tapi ini seutuhnya buka kesalahan dariku saja, yang pertama lebih dulu menggoda adalah dia. Malam-malam datang ke kamar seorang gadis lalu menyuruh untuk menidurkan dia. Awalnya aku menolak, tapi dia dengan sengaja meletakkan dagunya ke bahuku dan menyuruhku masuk ke dalam kamar dengan paksa.


"Hmm, tadi malam kau menikmati tubuhku yang masih suci ini," celetuk Ahn Yoo sambil tersenyum licik. Dia bertingkah seolah aku yang sudah menodai dirinya. Padahal yang dirugikan adalah aku. Walaupun tidak sepenuhnya tidak merugi, sepintas aku berpikir kalau tadi malam aku tidur sangat nyenyak karena dia juga.


"Diam! Karena tadi malam kamu datang dan memaksaku menidurkanmu, aku tidak pernah menyuruhmu datang kemari. Jadi jangan banyak tingkah dan bergaya seolah aku yang memaksa," ungkapku penuh penjelasan kalau bukan aku yang salah di sini.


"Hmm? Seingatku kau dengan senang hati mengelus kepalaku," ujarnya lagi yang tidak ingin namanya rusak.


"Jangan banyak bicara lagi, Tuan Ji yang licik. Aku sarankan kamu keluar dari kamar ini dan kembali ke asalmu. Karena aku khawatir Bu San datang dan menangkap basah kita berdua di sini. Dan nanti dia akan mengira kalau aku yang memaksamu tidur denganku, aku tidak mau! Sekarang keluar," perintahku dengan tegas. Aku tidak ingin orang lain melihat kami berdua di sini. Nanti mereka berpikir kalau aku dan dia melakukan sesuatu yang belum sepantasnya dan akhirnya kami dipaksa menikah. Aku tidak ingin hal iti terjadi. Aku sudah lama membayangkan pernikahan megah nantinya. Jadi jangan sampai impian itu hancur dan hanya tinggal mimpi.


"Kita tidak melakukan apa pun. Kenapa kau panik sekali?" decak Ahn Yoo tidak merasa cemas sedikit pun. Dia santai seperti biasanya dan bertingkah seolah tidak melakukan hal buruk. Tapi tidak semua orang selalu berpikiran positif tentang apa yang dilihatnya. Dia hanya akan menebak melalui pendapat yang belum jelas dan langsung menilai dari apa yang tampak di matanya. Padahal belum tentu yang dia perkirakan adalah sebuah kebenaran.


"Kita tidak melakukan apa pun, tapi orang yang tidak mengerti akan menganggap kita melakukan hal macam-macam di sini," terangku dengan detail.


"Apa kau ingin kita melakukan hal semacam itu di sini?" Dalam situasi seperti ini, dia masih sempat bercanda dan berpikir jauh tentangku. Maksud dan tujuanku mengatakan itu adalah untuk mengusirnya dari sini secara terhormat, tapi dia malah senyum sejuk dan menganggap yang kukatakan sebuah lelucon.


"Pria mesum sepertimu kalau tidak di beri pelajaran tidak akan pernah mengerti. Sekarang ...."


Saat sedang mengamuki Psikopat dingin ini, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Dan suara itu seperti suara Bu San.


"Matilah ... Bu San sudah datang. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Kenapa dia bisa datang kemari? Jangan katakan kalau dia akan berpikir yang macam-macam tentang kita," ucapku penuh dengan kecemasan. Hingga tanpa sadar, gigiku sudah mengatup jari karena panik.


"Kau bodoh sekali. Buka saja pintunya," pungkas Ahn Yoo datar.


"Tidak, nanti Bu San melihat kamu ada di sini. Bersembunyi di lemari sana, jangan keluar sebelum aku membukanya," perintahku lalu menariknya beranjak dari atas ranjang.


"Tidak," tolaknya dengan tegas. Ahn Yoo yang manja ini malah susah dikatakan saat suasana mencekam seperti ini. Apa dia tidak panik sekali pun kalau orang lain melihatnya berada di kamar seorang wanita?


"Kalau begitu di kamar mandi saja," pintaku dengan tulus. Sampai mataku ikut memelad memohon agar dia bisa kerja sama denganku. Aku tahu dia tidak akan merasa terganggu kalau ada yang melihat kami berdua di kamar. Tapi berbeda denganku, aku sangat terganggu sampai seluaruh tubuhku ikut menolak.


"Tidak," tegas Ahn Yoo menolak.


Sudahlah, laki-laki ini tidak akan mau bergerak sama sekali kalau disuruh sampai nangid darah pun. Cara terakhir adalah dengan menyerahkan pada takdir dan berdoa agar Bu San tidak melihat Ahn Yoo di sini.


Dengan mengokohkan tekad, aku mengambil selimut dan menutup seluruh tubuh Ahn Yoo dan tidak membiarkan sedikit pun yang terlihat. Aku juga menyuruhnya untuk tidak bergerak sama sekali. Masalah dia mau atau tidak, itu tergantung suasana hatinya.


Aku berjalan dengan langkah berani dan membuka pintu dengan senyum bahagia di pagi hari, meskipun senyuman itu merupakan paksaan. Setidaknya bisa menutupi kebohongan yang menyedihkan ini.


"Selamat pagi, Bu San. Ada apa?" sapaku sambil tersenyum dan membuka pintu hanya sebagian saja.


"Jane Soo, sarapan sudah siap. Kamu bisa turun setelah selesai mandi," pungkas Bu San.


"Oh? Ok, kalau begitu aku mandi dulu," ujarku dan langsung berniat menutup pintu. Tapi tiba-tiba Bu San menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak bisa kujawab.


"Apa kamu melihat Tuan Ji? Tadi saat saya memeriksa kamarnya, Tuan Ji tidak ada di sana," tanya Bu San.


"Ha? Oh? Itu ... heheh, aku tidak tahu. Mungkin saja dia sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali," jawabku membual sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal. Reaksi ini memang biasanya ketika seseorang gugup atau menutupi sesuatu.


"Tidak pernah sejarahnya Tuan Ji melakukan ini. Atau kalian bertengkar tadi malam?" tanya Bu San menebak. Sudah kuduga, semua kesalahan yang dilakukan Ahn Yoo pasti yang disalahakan adalah aku. Padahal sama sekali aku tidak melakukan apa pun terhadapnya. Mengapa perubahan yang terjadi padaya disebabkan karena aku? Sungguh teori yang menjengkelkan, membuat aku ingin mencekik Ahn Yoo.


"Ha? Tentu saja tidak. Aku tidak berani melakukan itu, Bu San. Mungkin dia ada di kamar mandi, jadi Bu San tidak melihatnya," timpalku mencari alasan yang lain.


Hampir saja Bu San percaya dan hendak turun ke bawah, lalu datanglah Si penghancur rencana, sudah susah payah aku perjuangkan untuk menutupinya. Dia malah mengganggu dan membuat semua semakin runyam.


"Minggir, jangan halangi jalanku," perintah Ahn Yoo ketus. Dia membuka pintu ini lalu sengaja menampakkan diri agar Bu San melihatnya.


"Tuan Ji?" ucap Bu San yang hampir pergi, tapi dia berbalik lagi setelah mendengar suara Ahn Yoo. Tapi kenapa wajah Bu San tidak tampak terkejut sama sekali saat melihat Ahn Yoo ada di kamarku?


"Ini tidak seperti yang Bu San pikirkan. Percaya atau tidak dia yang datang ke kamarku lebih dulu. Bu San jangan salah sangka dan berpikir yang aneh-aneh tentang kami," kataku dengan jelas dan membuat Bu San yakin kalau tidak terjadi apa-apa antara aku dan Ahn Yoo.


"Sarapan sudah siap, Tuan Ji."


Bu San pergi setelah membungkuk pada Ahn Yoo. Dia tidak berkomentar tentang keberadaan Ahn Yoo yang ada di kamarku ini. Dia tidak curiga dan tidak mengatakan apa pun. Tapi aku malah semakin khawatir dengan situasi ini. Mengapa Bu San bisa setenang itu ketika melihat Ahn Yoo? Bukannya respon itu terlalu datar untuk sesuatu yang mengejutkan?


"Cepat berkemas kalau ingin berangkat denganku," sela Ahn Yoo lalu pergi menuju kamarnya untuk mandi. Dia tidak terlihat takut sama sekali saat Bu San melihatnya. Kenapa mereka semua sangat aneh? Apa hanya aku seorang saja yang beranggapan kalau tidur berdua dengan laki-laki adalah hal yang memalukan? Aku tidak mengerti tentang cara berpikir mereka. Atau karena aku saja yang terlalu memandang sempit hal ini?


Sudahlah, aku tidak perlu lagi memikirkan hal itu lagi. Lebih baik mandi dan berkemas untuk berangkat kerja.


***


Semua tampak berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang mengungkit masalah tadi malam. Itu artinya, hanya Bu San yang melihat Ahn Yoo tidur di kamarku. Selain itu tidak ada. Untung saja Nyonya Gu tidak menyadarinya, kalau tidak, yang ada dia akan lebih heboh menggodaku di pagi hari seperti ini.


"Malam ini Jane Soo tidur di sini lagi, bukan?" tanya Nyonya Gu.


"Ha? Sepertinya tidak, Nyonya Gu," jawabku.


"Kenapa sekarang malah panggil Nyonya, bukannya saat pertama bertemu kamu panggil Nenek," ungkap Nyonya Gu.


"Oh, hahaha. Waktu itu aku kira Nyonya Gu adalah nenek yang salah mengira cucunya adalah aku," balasku sambil tertawa kecil.


"Aku lebih suka dipanggil Nenek Gu dari pada Nyonya Gu," tukasnya dengan senyum lebar.


"Oh? Baikalah, aku akan panggil Nenek Gu mulai dari sekarang," ucapku.


"Hahahaha, apa Jane bekerja di perusahaan Jiyu?" tanya Nyonya Gu.


"Bukan, Nenek. Aku bekerja di perusahaan Nexcon."


"Kenapa begitu? Bukannya perusahaan tunanganmu banyak? Kenapa malah bekerja dengan orang lain?"


"Ha? Aku dan Ahn Yoo tidak ...."


"Dia ingin mandiri, jadi kerja di tempat orang lain," timpal Ahn Yoo memotong kalimatku. Belum sempat aku menjelaskan pada Nenek Gu kalau aku dan dia tidak punya hubungan sama sekali. Tapi, Ahn Yoo yag super sibuk ini malah menimpali kalimatku.


"Hahahaha ... anak yang baik. Kalau sudah menikah nanti tidak perlu bekerja. Tapi jika ingin bekerja, sebaiknya dengan Jiyu saja," cetus Nyonya Gu. Dia masih mengira kalau aku dan Ahn Yoo memiliki hubungan sejauh itu. Rasanya ingin mengatakan sejujurnya, tapi Ahn Yoo seperti melarang dan tidak mengizinkan untuk mengatakan kebenaran. Tapi malam itu aku sudah mengatakan pada Nyonya Gu, masih saja dia tidak mendengarkan penjelasan dariku dan terus beranggapan kalau aku dan Ahn Yoo akan segera menikah.


"Nenek tua, anakmu meminta agar kau tinggal bersamanya. Besok saja tinggal di sana, malam ini tidur saja di sini," pinta Ahn Yoo dengan nada tidak ingin. Tapi sebenarnya dia sedang meminta Nyonya Gu agar tetap di sini bersamanya. Itu artinya, dia masih merindukan Neneknya ini, namun tidak bisa mengekspresikan rasa inginnya itu. Dia bertingkah seolah Nyonya Gu adalah beban baginya. Namun, hatinya berkata lain dan meminta agar tetap bersamanya.


"Hmm, aku akan pergi kalau sudah disuruh pergi," pungkas Nyonya Gu. Saat mendengar dia mengatakan kalimat ini, aku merasa sangat tersinggung. Bukan karena Nyonya Gu sengaja mengatakannya. Hanya saja, aku pernah mengatakan hal ini pada diriku sendiri. Kalau Ahn Yoo sudah memintaku pergi, maka aku pun pergi. Tapi sebelum dia memintaku pergi, maka aku tidak akan pergi. Ini seperti sumpah bagiku. Untuk membalas budi kebaikannya selama ini padaku, aku rela bersamanya meski tanpa ada ikatan yang menyatukan kami. Meskipun hanya cintaku yang bersemi, biarlah akan berakhir ketika dia menyudahinya. Namun sebisa mungkin, aku akan mengubur perasaan ini dalam-dalam meski akhirnya tetap gagal. Walau masih ada, aku akan mencoba untuk bertahan dan menunggu kapan saatnya akan berpisah.


***


Setelah selesai sarapan pagi, Ahn Yoo langsung menyuruhku masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Katanya ada yang ingin diambil di kamarnya. Jadi, aku menunggu dia di depan mobilnya.


Tidak lama kemudian, dia datang dengan membawa beberapa map yang isinya tentu saja adalah barang yang penting. Namun dia tidak sadar kalau Nyonya Gu mengikutinya dari belakang.


"Hati-hati di jalan Jiyu, jangan sampai cucuku yang sana lecet barang sedikit pun," perintah Nyonya Gu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.


"Aku tahu Nenek cerewet. Jangan perlakuan aku seperti anak kecil," tandas Ahn Yoo yang tampak bising mendengar nasehat penghantar harapan dari Neneknya.


"Jiyu masih sama seperti dulu bagiku. Jadi jangan paksa aku menganggapnya adalah orang yang berbeda," tukas Nyonya Gu.


"Jangan banyak berjalan. Istirahat yang banyak, dan jangan lupa minum susu yang kuletakkan di meja tadi. Aku tidak ingin Nenek tua sepertimu menyusahkan aku," seru Ahn Yoo cerewet melebihi ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Dia bahkan lebih banyak menasehati daripada Neneknya sendiri.


"Hmm, anak ini sudah besar sekarang. Dia menasehati Neneknya sendiri seperti mencemaskan anak saja. Jangan terlalu cerewet, nanti cucuku yang sana meninggalkan kamu," ledek Nyonya Gu sambil menunjukku.


"Aku pergi bekerja, jangan lupa minum susu itu," tandas Ahn Yoo lalu masuk ke dalam mobil.


"Kami berangkat dulu, Nenek Gu. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa dengar yang dikatakan Si separuh wanita yang cerewet tadi," ledekku mengatai Ahn Yoo yang menasehati Neneknya sendiri.


"Hahaha ... anak nakal. Pantas saja Jiyu-ku menyukaimu. Ternyata karena kamu sangat berani," pungkas Nyonya Gu. Tapi aku berpura-pura tidak dengar dan langsung masuk dalam mobil. Padahal dalam hatiku sudah ada irama musik yang mengajak menari. Tapi aku menutupi dengan sikap biasa saja dan menganggap yang dikatakan Nyonya Gu hanya sebuah angin berhembus.


~Dalam mobil~


"Apa kau tidak akan berhenti bekerja dengan benalu itu?" tanya Ahn Yoo.


Penting!


Kata benalu di sini menunjuk Ji Seon.


"Hah? Aku sudah tanda tangan kontrak, jadi sudah terikat. Kalau berhenti harus ganti rugi," jawabku.


"Ya sudah, besok berhenti. Aku akan urus selebihnya," ucap Ahn Yoo dengan ringan. Dia mengatakannya dengan enteng. Apa karena dia tidak tahu harus bayar berapa milyar kalau aku putus kontrak dari perusahaan Ji Seon?


"Biayanya besar, jadi tidak perlu. Lagi pula aku tidak ingin punya banyak utang lagi denganmu. Sedangkan biaya rumah sakit saja belum lunas hingga sekarang," sindirku dengan jelas.


"Aku sudah lunas kan utang itu," ujar Ahn Yoo.


"Ha?! Kapan kamu menganggap itu lunas? Aku tidak tahu," balasku dengan semangat.


"Asal kau tetap di sisiku," tukas Ahn Yoo.