SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 15



Aku pikir setelah mengakui kesalahanku, Ahn Yoo akan memperbesar masalah ini. Aku pikir dia akan menggantungku, dan memperbesar masalah ini.


"Tapi aku mohon jangan marah dulu, aku tidak tahu kalau itu bungamu," ucapku lirih. Aku menatapnya dan menunduk kembali.


Dia mengerutkan dahinya dan menatapku tajam.


"Untuk apa bunga itu?"


"Ahmm, itu ... aku ... aku menjadikannya hiasan di kamar," jawabku gugup.


Untung saja hari ini dia berada disuasana bagus, kalau tidak namaku hanya tinggal kenangan.


"Hmmm?" tanya Ahn Yoo memperjelas lalu mengerutkan dahinya.


"Iya, aku membuatnya jadi hiasan. Selain cantik bunganya juga harum," jawabku sambil tersenyum ragu.


"Benarkah? kalau begitu aku menginginkan hiasan mawar yang kau bilang tadi," perintahnya santai.


"Apa? kamu tidak marah?" tanyaku heran.


"Apa aku ini pemarah?" dia menatap Bu San dengan senyum licik.


Bu San hanya tersenyum menanggapi kalimat itu.


"Ya ampun, apa kaca di rumah ini tidak ada?Kamu itu orangnya tempramental, jadi tidak perlu ditanya lagi," kataku dalam hati.


"Jane, kemari biar saya bantu mengambil bunganya," kata Bu San cepat selagi hati Gunung es ini belum mengeras.


"Uhmm ... iya Bu," balasku.


Kami pergi ke halaman belakang tempat bunga sialan itu berada.


"Tunggu dulu, itu Ahn Yoo kenapa yah Bu San? Hahahahah ... lucu sekali, aku pikir dia akan menyayat leherku." Aku tertawa sampai perutku sakit.


"Hussst, jangan begitu. Untung saja Tuan Ji meloloskan kita, tapi lain kali kamu harus hati-hati, suasana hati Tuan Ji kadang tidak bisa diprediksi," nasehat Bu San kepadaku.


"Hahahahahah, jangan mengganggu dulu Bu San, aku sedang bahagia. Kapan lagi aku menertawakan sikap Si gunung es yang manja ini," sahutku yang masih belum bisa berhenti tertawa.


"Apa kamu tahu? Dulu ada pelayan khusus yang mengurus taman ini, tapi karena memetik setangkai bunga untuk kekasihnya, Tuan Ji marah dan memecatnya." Bu San menceritakan kisah agar aku berhenti tertawa.


"Separah itu?" sahutku serius.


"Benar, pelayan itu bahkan berlutut untuk meminta maaf," sambung Bu San.


"Hiiiiiii ... syukurlah aku selamat. Tapi Bu San, makasih karena sudah menolong aku tadi. Seharusnya, Bu San tidak perlu berbohong demi aku. Aku jadi merasa bersalah." Aku memeluk Bu San yang kala itu sedang berdiri di depan setumpuk bunga mawar.


Setelah selesai mengambil bunga ini, aku disuruh Bu San untuk mengantarnya ke kamar Ahn Yoo.


"Bu San tidak ingin menemaniku?" tanyaku menampakkan wajah bingung.


"Tidak, kali ini kamu harus meminta maaf kepada Tuan Ji," ujarnya sambil tersenyum.


"Baiklah, tapi aku melakukannya karena Bu San. Bukan karena Si gunung es itu," sambungku tegas.


Aku berjalan dengan lambat ke kamar Ahn Yoo. Setelah di depan pintu kamarnya, aku ragu untuk mengetuknya.


"Ahn Yoo??" Aku mengetuk pintu dan memanggil namanya dengan suara pelan.


Terdengar suaranya dari dalam yang kala itu tengah bertelepon dengan seseorang.


Kira-kira mereka membicarakan tentang rapat besok di luar negri.


"Bukan urusanku dia sedang bertelepon atau tidak, yang penting aku harus mengantarkan ini."


Aku mengetuk pintunya sekali lagi.


"Masuk saja," kata Ahn Yoo dari dalam.


Kemudian aku masuk dan melihatnya berdiri di depan jendela yang kala itu terbuka. Angin berhembus dari luar, ditambah cahaya bulan yang indah membuat pose Ahn Yoo sangat pas untuk model cover buku novel.


"Ya tuhan ... Kenapa pangeran negeri dongeng sampai ke sini," celetukku dalam hati.


Tapi, cepat-cepat aku tersadar dari lamunan gila ini.


"Hmm," jawabnya santai dengan salah satu tangannya berada di saku celananya.


Sebenarnya aku masih ingin di sini menatapnya sampai bosan. Tapi dia langsung sadar dengan tingkahku dan menghancurkan lamunanku.


"Ada lagi?" sambungnya lagi.


"Ha? Tidak ... tidak ada," jawabku langsung.


Dia berbalik ke arah luar dan memeriksa ponselnya. Aku ingin berterima kasih soal yang tadi malam kepadanya, tapi aku ragu. Dengan mengumpulkan keberanian, aku mencobanya.


"Ahn Yoo, begini. Masalah tadi malam aku... " Dia langsung memotong pembicaraanku.


"Ya ada apa?" sambungnya sambil berbalik ke arahku.


"Aku sangat berterima kasih padamu, kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah dihabisi laki-laki itu."


"Hmmm, aku hanya kebetulan lewat saja," Dia berlagak dingin di hadapanku.


"Ehhhhm, jadi begitu? Tapi aku tetap harus berterima kasih, meskipun hanya kebetulan saja. Aku bersyukur kamu lewat saat itu."


"Tidak masalah," jawabnya dingin.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Oh itu, bunganya harus diletakkan dalam vas." Aku mencoba mengingatkannya.


Dia hanya menatap ku saja, tidak menyahut sama sekali. Jadi, akhirnya aku berjalan dengan perlahan keluar kamar yang hening ini.


"Apak kamu baik-baik saja?" Dia tiba-tiba berbicara ketika aku sudah memegang gagang pintu.


Jantungku berhenti dan tiba-tiba berdetak dengan cepat.Aku melihatnya dengan wajah bingung.


"Ha? Aku? Aku baik-baik saja ," jawabku tersenyum dan bingung tidak tahu harus mengatakan apa.


Sayangnya, dia tidak menyahut perkataanku tadi, padahal aku berharap dia bicara banyak. Tapi tidak lama kemudian dia bertanya lagi.


"Kenapa kau tidak langsung pulang semalam?"


Aku maju berapa langkah ke arahnya dan bercerita dengan semangat. Aku senang karena dia mau bertanya dan memperpanjang pembahasan ini.


"Semalam aku sangat kesal melihat mu, jadi aku berniat untuk tidak pulang," sahutku dengan nada menyindir.


"Karena aku?"


"Iya, kemudian aku duduk di halte sambil merenung, tapi aku berpikir kalau itu tidak ada gunanya. Jadi aku memutuskan untuk bekerja," sambungku.


"Untuk apa kau bekerja?" tanyanya kepadaku.


"Bukankah hutangku masih ada, kamu hanya memberiku tiga hari saja. Kamu tidak membiarkanku beristirahat. Akhirnya aku terpaksa banting tulang," sindirku jelas.


Dia memalingkan wajahnya dan menghela napas panjang. Selagi dia membiarkanku ber-argumen, aku mengeluarkan semua kekesalanku di sini.


"Sebenarnya aku sangat terpukul. Aku bekerja siang malam tanpa henti, sungguh melelahkan. Tapi aku tetap harus semangat dan bangkit dari keluhanku, berusaha melunaskan hutangku dan berharap agar ini semua berlalu dengan baik."


"Ehm ... benarkah?" lanjutnya ringan.


"Tentu, bayangkan saja wanita lemah sepertiku harus bekerja siang malam, dan bahkan aku harus menanggung resiko besar," kataku mencoba memancingnya.


"Aku tidak pernah di posisi itu," jawabnya datar.


"Dasar gunung es, memang tidak punya hati, aku sudah memberi kode agar membebaskanku dari hutang ini, tapi dia tidak merasa,"Kataku dengan suara pelan.


Karena kesal aku memutuskan keluar dari sini dan pergi ke kamarku. Aku merebahkan badanku dan menikmati malam, hingga aku terlelap.


Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉