
"Jangan membantah dan kau tidak boleh Pergi," ucap Ahn Yoo dengan tegas.
"Hanya dua hari saja. Aku janji tidak akan pergi kemanapun setelah selesai tugas," ujarku memohon padanya.
Sebenarnya aku sedikit bingung, mengapa aku harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ahn Yoo? Padahal dia bukan siapa-siapa. Selain itu untuk apa Ahn Yoo melarang ku pergi, padahal aku buka siapa-siapa baginya. Anggap saja aku mendengar semua perintah Ahn Yoo karena sudah tinggal dengan gratis di apartemen mewahnya ini. Tapi lain pula dengan dia, mengapa dia melarang ku?
"Ada syaratnya," ungkap Ahn Yoo dengan senyum licik di bibirnya.
"Aku tidak mau dengar dan tidak akan melakukan apa pun persyaratan itu," jawbaku langsung. Aku yakin persyaratan yang akan dibuatnya sangatlah gila. Mungkin saja tidak bisa kulakukan sebab itu dia mencoba bernegosiasi dengan ku.
"Kau tidak boleh pergi," balas Ahn Yoo setelah mendengar penolakan itu.
"Baiklah, katakan apa persyaratannya," kataku lagi.
"Puaskan aku malam ini," jawab Ahn Yoo tanpa memikirkan bagaimana tanggapan ku tantang persyaratan itu. Tentu saja yang pertama muncul di benak ku adalah memuaskan nafsu prianya.
"Apa kamu menganggapku seperti wanita murahan yang dengan bodohnya melakukan hal konyol seperti perintah mu?" ungkapku kecewa. Bayangkan bagaimana perasaanku saat dia mengatakan hal rendahan seperti itu. Dia mengatakan itu seolah harga diriku tak begitu berarti. Wanita mana yang akan suka bila diperlakukan seperti itu.
"Apa yang kau pikirkan?" amuk Ahn Yoo lalu mencubit pipiku dengan keras. Selain itu dia mengacak-acak rambutku dengan tangannya lalu tertawa kecil melihat ku.
"Jangan sentuh aku!" amuk ku lalu menepiskan tangannya dari kepalaku. Aku sangat marah dan murka ketika mendengar Ahn Yoo mengatakan hal bodoh seperti itu.
"Dasar kucing liar, aku tidak selera melihat tubuhmu. Datar begitu siapa yang mau? Cih, aku minta kau memijat kepalaku. Sakit sekali," ledeknya lalu mencium keningku lembut. Dia menunduk dan menatap mataku yang sudah hampir menangis karena ulahnya. Untung saja dia manja dan pandai menggoda. Dan bodohnya imanku malah tergoyahkan karena perlakuannya yang manis, aku malah tertawa terbahak-bahak setelah itu. Aku berlagak marah kemudian lalu mengerucutkan bibir karena merasa sedikit kesal sudah dipermainkan oleh Ahn Yoo yang usil ini.
Lalu kemudian dia mengambil jas yang diletakkan di atas sofa dan menjinjingnya. Dia berjalan keluar dari apartemen ini. Aku sempay terheran-heran melihat dia begitu. Katanya ingin kepalanya dipijat, tapi dia malah pergi. Sebenarnya maksud dia itu apa? Aku ini harus bagaimana?
"Ahn Yoo! Kamu mau kemana?" tanyaku heran ditambah bingung dengan tingkah lakunya.
"Apa kau keberatan?" tanya Ahn Yoo.
"Ha? Bukan begitu maksudnya. Ta-Tadi kamu bilang mau dipijat, tapi kenapa malah pergi?" jelasku dengan wajah bingung.
"Karena aku ingin pergi," jawabnya sambil mengangkat bahunya. Dia lantas pergi begitu saja.
Aku yang masih setengah sadar malah mengikutinya dari belakang, dia berjalan lurus tanpa tahu apa tujuannya. Bahkan tadi dia minta dipijat tapi sekarang malah pergi tanpa alasan yang pasti. Rencananya tidaklah jelas, tanpa basa-basi dia pergi dan tidak mengatakan penyebabnya.
Setelah ku ikuti hingga depan lift, aku melihat Xia Len keluar dari dalam. Secara kebetulan mereka berpapasan di sana. Ingin rasanya menghampiri mereka tapi aku juga penasaran bagaimana reaksi Ahn Yoo setelah melihat Xia Len.
Dari balik dinding ini aku melihat mereka dengan jelas, meski hanya dengan suara samar-samar aku masih bisa mendengar percakapan mereka.
Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, Xia Len dengan ramah tamahnya menyapa Ahn Yoo selayaknya seorang karyawan pada atasannya. Begitu juga dengan Ahn Yoo, dia terlihat biasa saja dan acuh tak acuh menyahut Xia Len. Namun setelah Ahn Yoo melangkah ingin masuk ke dalam lift itu, Xia Len memanggil Ahn Yoo dengan nada ragu.
"Tuan Ji, soal malam itu, aku berterima kasih. Dan juga aku ingin membahas masalah kontrak peran di film yang akan ditayangkan itu" ucap Xia Len menghentikan langkah Ahn Yoo.
"Manager ku bisa menjelaskan padamu," balas Ahn Yoo lalu berbalik pergi.
"Ehm ... tunggu dulu. Ada yang ingin kutanyakan lagi. Apa hubungan Tuan Ji dengan Jane Soo?" tanya Xia Len perlahan.
Melihat Ahn Yoo tidak merespon sama sekali. Dia buka suara dan mengatakan, "Bukannya ingin mengurusi masalah pribadi Tuan Ji, tapi bagaimanapun Jane Soo sudah mengatakan kebenarannya. Kalau kalian tidak memiliki hubungan apa pun. Dan dia juga bilang kalau Tuan Ji hanya teman biasa."
"Kalau dia mengatakan itu, berarti itu benar. Kenapa tanya lagi?" sambung Ahn Yoo tak berselera untuk meladeni Xia Len.
Aku yang masih bersembunyi di balik dinding hanya bisa tertawa geli sambil memukul dinding karena terlalu lucu. Air mataku sampai keluar karena kelakar yang mereka mainkan. Xia Len tidak bisa mencari topik untuk menahan Ahn Yoo di sana. Dia akhirnya pamit dengan sopan lalu menunggu Ahn Yoo masuk ke dalam lift.
Karena Ahn Yoo sudah pergi, aku langsung berlari ke apartemen ku agar tidak bertemu dengan Xia Len. Aku tidak mau dia tahu kalau aku melihat kejadian yang bisa menurunkan harga dirinya. Seorang aktris besar diperlakukan tidak manusiawi.
Sampai di dalam kamar pun aku masih tertawa sambil berguling-guling. Perutku sakit karena tertawa tak hentinya. Bahkan saat ini aku hendak buang air kecil tapi tidak mampu berjalan lagi. Aku hanya bisa menyilangkan kakiku untuk menahan rasa untuk buang air. Setelah itu berlari sekencang mungkin masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaahhh ... lega sekali," decak ku puas.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku langsung terganggu dengan suara bising dari dapur. Tidak terlalu keras tapi cukup mengagetkan. Aku tidak memelihara kucing atau hewan apa pun itu. Tapi seperti ada seseorang yang ada di sana. Hanya Ahn Yoo yang bisa masuk ke dalam. Masalahnya dia baru saja pergi dan tidak mungkin kembali lagi.
Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Aku mengambil sapu dan membawa vas bunga kaca kecil di tangan yang lain untuk berjaga-jaga. Dengan hati-hati, aku memeriksa asal suara bising itu. Suaranya sangat jelas dan berulang seperti piring atau gelas yang di letakkan di atas meja. Dalam kepalaku malah berpikir kalau orang itu sangat bodoh untuk mencuri perabot dapur. Kenapa dia tidak mengambil TV atau alat lainnya yang lebih mahal sedikit. Lagi pula apa tidak ada pengawasan sama sekali. Kenapa bisa pencuri datang dan masuk ke sini.
Praannggg!
Suara pecahan gelas. Jantungku semakin berlaju tak karuan saat mendengar suara itu. Sekujur tubuhku gemetar ketakutan mendengar suara pecahan gelas itu. Kakiku tak sanggup untuk melangkah lebih jauh lagi. Ingin rasanya tetap berada di sini dan bersembunyi tidak perlu memeriksa keadaan di dapur.
Namun kalau tidak begitu, yang ada dia akan mengambil semua perabot yang ada di sini. Lalu Ahn Yoo akan marah mengira aku menjual semua barangnya. Lalu dia malah manambah tagihan utang padaku. Dan perlakuannya semakin melunjak padaku. Untuk menghindari kejadian yang lebih rumit, aku harus menghadapi suasana menikam ini.
Aku membuka pintu secara perlahan lalu bersiap melempar vas bunga itu ke arah kepalanya. Namun sosok yang mencurigakan itu tidak terlihat sama sekali. Hanya bagia kakinya yang dapat kulihat dari sini. Selain itu aku tak melihat apa pun. Dia menggunakan celana panjang berwarna hitam. Sudah pas seperti penjahat lainnya. Mereka menutup kedok dengan warna hitam
Lantas aku semakin curiga sekaligus ketakutan karena sudah disuguhi pemandangan mengerikan dan mencekam ini. Aku tidak berani sama sekali untuk mengahadapi orang itu. Akhirnya aku mengambil ponsel yang ada di saku rok ku lalu menelpon Ahn Yoo.
Suara deringan itu malah terdengar keras di ruangan ini. Asal suaranya tepat di tempat pencuri itu berada.
Kemudian pencuri itu berdiri sigap lalu mengambil ponselnya yang berdering. Dia mengangkat panggilan itu lalu berbicara sambil berbalik ke arahku.
"Kenapa kau membawa barang-barang itu?" tanya Ahn Yoo bingung dan heran melihat tanganku yang memgang sapu dan vas bunga kaca kecil.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku balik.
"Aku membeli minuman dan cemilan di sana," jawab Ahn Yoo lalu menunjuk tas belanjaan yang dibawanya dari mini market yang tidak jauh dari sini.
Aku langsung mendekatinya dan melihat semua yang dibelinya itu dengan tangan yang masih memegang alat untuk menghajar dirinya.
"Apa aku ini pencuri, sebab itu kau membawa benda bodoh ini?" senggak Ahn Yoo lalu mengambil sapu dan vas yang kupegang.
"Kenapa kamu beli ini? Jangan katakan kalau malam ini tidur di sini! Aku tidak terima tamu dan tidak mengizinkan pria masuk ke dalam wilayah ku," tukasku tegas.
"Pertama aku tidak suka diperintah, kedua aku tidak akan tidur di sini dan ketiga wilayah ini adalah kekuasaan ku," sangkal Ahn Yoo secara rinci. Dia mendekatkan wajahnya ke depan mataku saat mengatakan hal itu. Dia seperti sedang memperingati diriku kalau dia sanagtlah berkuasa atas semua yang ada di sini.
"Iya iya, tapi tidak perlu mengatakan semua dengan detail. Jadi untuk apa Tuan Ji yang berjiwa besar ini membeli semua ini?" tanyaku meledek.
"Kita akan menonton film horor di sini," jawab Ahn Yoo lalu membawa cemilan itu dan minuman yang baru saja dituangkannya ke dalam gelas. Dia duduk di depan TV lalu menyalakannya. Dengan lancang dia menyuruhku menutup tirai dan mematikan semua lampu agar lebih mendukung suasana.
Jelas saja aku tidak akan melakukannya. Aku takut dia malah berniat jahat denganku. Bagaiman kalau nanti ada adegan dewasa di dalam film itu lalu dia terangsang dan melampiaskan hasrat seksualnya padaku.
Untuk mengurangi kemungkinan kejadian yang terlarang seperti itu, aku harus menghindar dan menolak untuk hal itu.
"Kenapa belum dimatikan lampunya?" tanya Ahn Yoo lalu menunjuk jendela kaca yang tirainya masih terbuka.
Ketika dia menunjuk, aku melihat luka di jari tangannya. Jari tangannya berdarah, mungkin karena gelas kaca yang dia jatuhkan tadi.
"Tanganmu?!" Aku langsung memegang jarinya dan meniup pelan luka itu.
"Kapan ini berdarah?" tanya Ahn Yoo bingung padaku.
Dalam benak aku hanya bisa bilang kalau dia ini bodoh. Dia saja yang punya jari tidak tahu kapan terlukanya, apa lagi aku?
"Diam, ini karena gelas yang kamu pecah kan itu, dasar ceroboh!" amuk ku memarahinya seperti sedang mengamuki anak sendiri.
Dengan penuh perhatian, aku membersihkan lukanya dengan alkohol lalu menutup dengan plester agar lukanya tidak terbuka.
"Apa kau sangat khawatir?" ledek Ahn Yoo sambil tersenyum melihatku dengan wajah manisnya. Dia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan lalu tersenyum tipis. Dia menatap mataku sanagt lama dan sengaja melakukannya agar aku merasa risih.
Karena kesal dengan godaannya, lantas aku menggigit tangannya dengan keras lalu beranjak bangkit dari sofa yang ku duduki tepatnya di depan TV.
"Ahhh ... kenapa kau buas sekali!" rintih Ahn Yoo lalu mengusap tangannya yang kugigit tadi.
Mungkin karena kesal denganku, dia menarik tangaku lalu membalas perbuatan ku tadi. Dengan tega dia menggigit pipiku yang dipenuhi daging ini.
"Lepaskan aku psikopat dingin! Sakit sekali, auhhhh!" raungku kesakitan. Dengan marah aku mencubit hidungnya agar dia melepaskan gigitannya.
"Apa kau berani melakukannya lagi?" anacam Ahn Yoo. Dia menjetik kepalaku dengan keras hingga aku merintih kesakitan.
"Kenapa aku selalu ditindas di sini, huaaaa. Aku merasa terintimidasi, bisa bebaskan aku Tuan Ji yang berhati dingin?" pekik ku dengan suara pelan.
"Pergi matikan lampu itu," suruh Ahn Yoo.
"Bisa tidak untuk jangan mematikan lampu?" pintaku sambil menunjukkan wajah tulus.
"Kau gendut sekali, pipimu jelek," timpal Ahn Yoo mengalihkan topik pembahasan. Dia malah mengomentari penampilan ku yang berubah.
Memang benar kalau berat badanku bertambah karena pola makan yang berlebihan. Lagi pula entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat rakus. Tapi masalahnya dulu saat aku kuat makan tidak akan mempengaruhi berat badanku. Makan sepuasnya pun bertan badanku tak akan bertambah. Tapi sekarang badanku malah menembang dan pipiku membesar, terutama wajahku yang kian membulat seiring dengan pertambahan berat badan.
"Waktu aku kurus, kamu marah. Dan sekarang aku gendut, kamu malah suruh untuk kurus. Aku harus bagaimana?!" senggakku tak senang. Tapi dibalik itu aku tidak memikirkan Ahn Yoo yang akan salah menangkap apa yang baru saja aku katakan.
Aku takut dia malah mengira kalau berat badan ini berubah agar dia senang. Seolah perubahan ini terjadi karena kehendak ku sendiri agar membuat dia senang. Tapi kenyataannya tidak. Aku sama sekali tidak berniat seperti itu.
"Apa kau sedang mencoba menarik perhatian ku?" ledek Ahn Yoo.
"Terserah! Aku tidak akan menemanimu menonton film horor apa pun," terang ku lalu bangkit dari posisi dudukku. Aku berdiri dan berniat pergi dari hadapannya.
"Bisa temani aku menonton kartun," pinta Ahn Yoo sambil menunjukkan wajah memelas dan mata berbinar-binar.
Dia sangat cantik hingga aku tidak bisa memalingkan mata. Dia sangat manis dan menggemaskan ketika memintaku untuk menemuinya menonton kartun. Padahal biasanya dia tidak seperti ini.
Terlepas dari paksaannya, sekarang aku tidak bisa menolak permintaannya karena wajahnya terlalu manis dan imut. Dulu aku tidak bisa menolak karena takut padanya. Tapi sekarang malah enggan menolak karena keahliannya dalam menggoyahkan imanku.
Dengan bodohnya aku malah duduk dengan suka rela di dekatanya. Aku mengikuti permintaan psikopat ini karena tidak bisa menolak melihat wajahnya yang manis saat meminta. Aku duduk dengan jarak yang cukup dekat dengannya. Ditambah karena dia menggeser posisi duduknya ke arahku sambil menyenderkan kepalanya ke bahuku.