SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 32



Setelah masuk melalui gerbang rumah Ayah Ahn Yoo, dia menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.


"Turun, kita masuk."


"Ha? Ehm ... itu aku ... sakit perut, jadi pergilah sendiri," kataku menolak karena tidak ingin bertemu Ayah Ahn Yoo.


"Jangan bodoh, apa kau akan tinggal dalam mobil ini sendiri?"


"Hehehe ... iya aku masih lelah membawa tas belanjaanku tadi. Jadi pergilah, lagi pula hanya mengambil berkas saja, itu tidak akan lama," tukasku meyakinkan Ahn Yoo.


"Sakit perut atau lelah?" tanya Ahn Yoo kebingungan.


"Ha? Itu ... aku ... sakit kedua-duanya. Seperti komplikasi, hahahhahha," jawabku mengarang.


"Komplikasi?"


"Iya, hahahhah," sahutku gugup tertawa canggung.


"Ya sudah, aku akan segera kembali." Ahn Yoo pergi dan membiarkanku tinggal di dalam mobil sendiri.


Katanya mengambil berkas, tapi lama sekali. Aku turun dari mobil dan menatap sekitar depan rumah Ayah Ahn Yoo.


Sebuah mobil yang tidak asing bagiku, masuk ke dalam melalui gerbang rumah ini. Aku ingat, itu mobil Kang Joon. Untuk apa dia datang kemari?


Mungkin Kang joon juga heran melihatku dan memberhentikan mobilnya tepat di depanku.


"Kim Jane Soo! Apa yang kamu lakukan di sini?" sapa Kang Joon dengan heran dan senyum di wajahnya.


"Kang Joon? Bukannya aku yang harusnya bertanya padamu? Sedang apa kamu di sini?" tanya ku kembali.


Kang Joon tertawa melihatku, "Aku pulang ke rumahku."


"Rumah? Ini? Hahahhah ... kenapa kamu selalu melucu setiap waktu? Aku tidak akan percaya bualanmu," ledekku sambil tertawa.


"Oh iya, kamu sedang apa?"


"Aku menunggu Ahn Yoo mengambil berkasnya," jawabku yang belum bisa berhenti tertawa.


"Owh, aku sudah yakin. Apa kamu dan Ahn Yoo berpacaran?"


"Ha? Ti-Tidak, mana mungkin. Aku dan Ahn Yoo tidak ada hubungan apa-apa," kataku menyangkal.


"Syukurlah," gumam Kang Joon.


Namun, aku masih bingung untuk apa dia kemari. Aku bertanya kepada Kang Joon tidak mau menjawabnya dengan serius, dia malah membuat lelucon dari pertanyaanku.


"Hey! Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini?"


"Ini rumahku, dan aku tinggal di sini bersama Ayah dan Ibuku. Dan aku adalah saudara tiri Ahn Yoo. Tapi dia tidak pernah menganggapku sebagai saudaranya," kata Kang Joon menjelaskan.


Tentunya aku sangat terkejut mendengar cerita Kang Joon barusan. Selama ini aku tidak tahu kalau mereka adalah saudara tiri.


Oh iya, aku baru ingat. Bu San mengatakan kalau Ayah Ahn Yoo menikah lagi setelah Ibunya meninggal. Dan Ahn Yoo tidak menyukai wanita yang dinikahi Ayahnya karena merupakan Ibu musuh Ahn Yoo sejak SMA.


"Apa margamu Lee?" tanyaku untuk memperjelas kesalah pahaman.


"Dari mana kamu tahu?"


Tepat sekali, dia Lee Kang Joon, musuh Ahn Yoo waktu SMA. Aku baru sadar ternyata Kang Joon ini adalah orang itu. Pantas saja Ahn Yoo tidak pernah suka melihatku dekat dengan Kang Joon.


"Bu San yang menceritakannya. Apa kamu tahu kalau aku ini sangat terkejut?" jawabku sambil menatap Kang Joon.


"Hahahahah ... maaf karena tidak pernah menceritakan kepadamu sebelumnya."


"Tidak masalah," sambungku singkat.


"Apa kamu benar-benar tinggal bersama Ahn Yoo?"


"Hmmm ... iya," anggukku menyahut Kang Joon.


"Aku sarankan sebaiknya kamu jangan tinggal bersamanya, takutnya pandangan orang tentangmu jadi jelek. Apalagi kalau Hyun In tahu, bisa kacau masalahnya," timpal Kang Joon mencemaskanku.


"Iya, aku juga berpikir begitu. Nanti aku akan coba untuk mengatakan pada Ahn Yoo."


Tanganku masih pegal karena mengangkat tas belanjaan yang super banyak dan berat tadi. Aku memukul-mukul lembut tanganku untuk menghilangkan rasa pegal meski hanya sementara.


"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Kang Joon yang sedari tadi menatapku sedang memijat tangan.


"Aku ada cara untuk menghilangkan rasa pegalnya."


Kang Joon menarik tanganku dan membuka telapak tanganku yang terkepal karena memukul bahuku tadi. Dia seperti menggambar sesuatu di telapak tanganku dengan telunjuknya.


"Hahahaha ... apa yang sedang kamu lakukan? Seperti anak kecil saja," gumamku sambil tertawa dengan tingkah Kang Joon.


Kang Joon terus menggambar sesuatu di telapakku dan tersenyum ketika melihatku tertawa.


"Hmmm ... pegalnya berkurang bukan?" tanya Kang Joon yang masih menulis-nulis di telapak tanganku.


"Ahahahah ... iya, aku rasa tidak sakit lagi. Rasanya sudah berkurang," jawabku terkikik melihat Kang Joon.


Bapppmm!


Tangan Ahn Yoo yang terkepal meninju keras wajah Kang Joon yang tiba-tiba saja datang tanpa ku sadari.


Belum puas sudah memukul Kang Joon sekali, Ahn Yoo menarik kerah baju Kang Joon dan memukulnya sekali lagi. Bodohnya Kang Joon tidak menghindar dari pukulan Ahn Yoo, dan tidak membalas Ahn Yoo.


Kalau tidak dihentikan Kang Joon akan babak belur dipukuli Ahn Yoo. Aku menengahi mereka dan mencoba menghentikan tindakan gila Ahn Yoo.


"Ahn Yoo!! Apa yang kamu lakukan padanya? Jangan memukul Kang Joon lagi!"


"Apa kau sedang membela dia?" Ahn Yoo berhenti memukul Kang Joon dan menurunkan tangannya.


"Tentu saja aku membelanya! Kamu datang langsung memukulnya tanpa sebab, apa menurutmu aku akan membelamu??" Senggakku dan membantu Kang Joon berdiri.


"Apa baru saja kau menyenggakku karena laki-laki ini?" Wajah Ahn Yoo semakin dipenuhi amarah.


Aku tidak menghiraukan Ahn Yoo dan tetap membantu Kang Joon menghilangkan rasa sakitnya.


"Apa yang kau lakukan?" Ahn Yoo menarikku menjauh dari Kang Joon.


"Apa kamu akan membiarkan saudaramu sendiri kesakitan seperti itu?"


"Dia bukan saudaraku dan aku akan selalu tega terhadapnya," timpal Ahn Yoo.


Ahn Yoo menarikku masuk ke dalam mobilnya dan terus menginjak pedal gas meninggalkan Kang Joon kesakitan.


"Kenapa lagi dengan mu? Apa ada yang membuatmu tidak senang?"


Aku sudah maklum dengan sikap Ahn Yoo kalau sudah seperti ini. Kalau sedang tidak senang, dia akan melampiaskannya kepada orang lain. Terutama emosinya yang tidak terkontrol, harus bisa menyesuaikan kondisi dengan dia.


"Kalau kamu diam saja, tidak akan ada yang tahu masalahmu," nasehatku mencoba berbaur dengan emosinya.


Sama sekali tidak dihiraukan oleh Ahn Yoo. Setiap kata yang terlontar dari mulutku tak satu pun di alusi. Matanya yang masih penuh emosi menggambarkan ketidak puasan melampiaskan kekesalan yang tidak ku ketahui sama sekali.


"Apa kamu marah karena Kang Joon atau Ayahmu?" tanyaku sekali lagi.


Kali ini dia melihat ke arahku.


"Aku marah kepadamu," jawabnya dengan kata seribu arti.


"A-A-Aku? Kapan aku membuatmu marah?" ujarku kebingungan.


Aku tidak tahu apa yang salah lagi kali ini, Ahn Yoo meminggirkan mobilnya. Dia menatapku dengan mata dinginnya.


"Apa aku membuatmu marah lagi?" tanyaku panik.


Ahn Yoo menoleh dan semakin mendekatkan dirinya ke arahku, wajahnya semakin jelas di mataku.


Teringat terakhir kali dengan apa yang dilakukannya padaku, tanpa sadar aku menutup bibirnya. Aku takut dia akan melakukan hal yang menggilakan lagi.


Ahn Yoo memegang pergelangan tanganku dan menyapu telapak tanganku dengan tangannya. Aku tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya kali ini.


"Kenapa lagi denganmu?" kebingunganku sudah tidak bisa terbendung lagi. Dengan bodoh, aku menempelkan tanganku ke dahinya dan memeriksa suhu tubuhnya.


"Jangan berpegangan dengan laki-laki lain lagi," timpal Ahn Yoo sambil menyapu tanganku yang satu lagi dengan tangannya.


"Ha?" sambungku yang tampak tidak mengerti maksudnya.


"Aku cemburu melihatmu berpegangan dengan Kang Joon. Kau milikku, jadi hanya aku yang boleh memegangmu," jawab Ahn Yoo tanpa merasa terhambat mengatakannya.


Apa dia sudah gila? Kapan aku jadi miliknya? Dan kenapa dia marah saat Kang Joon memegangku?


"Ha?" sahutku yang tidak bisa menyahut kata-katanya baru saja. Apa dia baru saja mengatakan kalau aku ini miliknya? Perasaanku bercampur aduk antara senang, kesal, bahagia, dan marah. Semua menjadi satu, tidak tentu mana yang paling terasa. Intinya saat ini aku sangat gugup.