
"Hmmm? Ka-Kamu jangan bersikap seperti itu padaku. A-Aku tidak terbiasa," jawabku lalu memalingkan wajah. Bagaimana mungkin aku akan tahan melihat dia yang lembut seperti itu. Yang ada jantungku akan pecah karena jantung yang berkejaran.
"Selamat bekerja, jangan terlalu dekat dengan benalu itu, aku tidak suka," ungkap Ahn Yoo saat aku sudah turun dari mobil. Dia mengtakan hal seperti itu? Apa dunia sedang bercanda? Mengapa aku tidak siap dengan perubahan yang dramatis ini?
Aku tidak menyahut Ahn Yoo dan terus berjalan dengan cepat ke kantor untuk bekerja.
~Ruangan Ji Seon~
"Selamat pagi, Pak direktur," sapaku sambil melambaikan tangan kepada Ji Seon.
"Nyonya asisten? Tumben sekali datang sepagi ini," ledek Ji Seon menyahutku. Dia tidak melambaikan tangannya balik padaku. Dia langsung fokus pada kertas yang dipegangnya dan tidak menghiraukanku.
Melihatnya yang begitu fokus, aku langsung pergi keluar menuju ruangan ku yang sudah diserahkan.
"Nanti datang lagi ke ruangan ku, ada yang ingin ku sampaikan," perintah Ji Seon. Aku mengangguk dan lanjut pergi ke ruangan baru yang diberikan padaku.
Saat pertama kali masuk ke dalam ruangan ini, aku merasa seperti berada di dalam mimpi. Bagaimana tidak, tidak pernah sekali pun aku memikirkan kalau akan pernah bekerja sebagai asisten di perusahaan terkenal. Bahkan untuk menjadi karyawan biasa pun aku tak pernah bermimpi. Aalagi menjadi asisten di perusahaan Nexcon ini.
"Selamat pagi, Bu Kim. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang OB yang baru saja masuk.
"Hmmm? Aku tidak meninta seseorang datang?" balasku heran. Apa mungkin di perusahaan ini akan ada OB yang senantiasa menanyakan permintaan pada karyawan.
"Mungkin Bu Kim membutuhkan seseorang untuk membuat kopi atau teh," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh, tidak, hahaha. Aku lebih suka membuat minum sendiri. Karna seleraku agak repot," pungkas ku sambil tertawa.
"Baiklah, Bu Kim. Saya pamit undur diri melanjutkan tugas hari ini," tuturnya ramah.
"Iya, semangat kerja yah, fighting" tandasku sambil mengepalkan tangan menyemangati dia.
"Terima kasih, Bu Jane."
Setelah dia keluar dari ruangan ku, tidak berapa lama kemudian telepon khusus kantor ini berdering. Ternyata yang menelepon adalah Ji Seon. Dia menyuruh ku untuk menemuinya di ruangan direktur, yaitu dia sendiri. Aku pun pergi dan menanyakan perihal apa yang ingin dia bahas denganku.
"Ada apa, Pak direktur?" tanyaku menyapanya sambil tersenyum bercanda.
"Besok kita akan pergi ke Shanghai untuk menjalankan bisnis ini, jadi hari ini kamu pulang lebih awal untuk mengemas barang," titah Ji Seon tanpa kompromi dulu denganku.
"Ha? Kenapa mendadak? Kamu kan belum membahas ini denganku sebelum itu?" tanyaku memperjelas.
"Kamu asistenku, jadi semua yang menyangkut kepentingan perusahaan adalah urusan ku. Dan utusan ku, urusan mu juga," cetus Ji Seon.
"Eh ... maaf aku lupa. Apa urusan penting itu bisa diundur, Pak direktur?" tanyaku lagi sambil menampakkan wajah memelas.
"Tidak, besok jam 8 kamu datang ke rumahku," sambung Ji Seon.
"Kenapa ke rumahmu? Kenapa aku merasa aneh denganmu? Seperti ada yang sedang kamu rencanakan," timpalku lalu mendekat ke arah Ji Seon yang duduk dengan posisi yang tegak searah dengan kursi yang di duduknya.
"Aku sibuk saat ini, jadi tidak bisa meladenimu berdebat. Pergi pulang dan kemas barang," suruh Ji Seon dengan nada boss yang sedang memberi instruksi.
Aku bingung mengapa dia begitu, sangat serius hari ini. Bahkan untuk menjadi dirinya yang ramah pun dia tidak mau. Biasanya dia tak akan bertindak seperti ini. Tapi hari ini dia tegas sekali.
Karena melihat sikapnya, aku tidak berkomentar dan mengikuti setiap yang dikatakannya. Mau tidak mau aku harus pulang mengemasi barang yang akan kupakai saat di luar negeri.
Dengan menaiki taksi, aku lantas pulang ke apartemen ku dan mengemasi barang. Namun saat hendak masuk ke dalam, tiba-tiba Xia Len mengapa dan menghampiriku.
"Jane Soo, apa kabar?" sapa Xia Len.
"Hai, aku baik. Oh bagaimana dengan mobilmu? Apa sudah tidak ada masalah?" tanyaku berbasa-basi sebentar. Meskipun dalam hati rasanya sangat malas meladeni permainan wanita ini.
"Tidak ada masalah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuan Ji karena sudah membantuku malam itu. Rasanya ingin menemuinya. Apa Tuan Ji datang hari ini?" Tanya Xia Len.
"Hmmm? Sepertinya dia tak akan datang. Nyonya Gu ada di rumahnya. Jadi tidak akan sempat singgah," jawabku sambil tersenyum palsu.
"Owh, kalau begitu aku akan menjumpai Tuan Ji di kantor saja. Sepertinya dia ada di sana," timpal Xia Len.
Alasan dia mengatakannya itu sudah jelas, dia ingin menunjukkan betapa dekatnya mereka kalau di kantor. Tapi dia pikir aku akan cemburu karena hal sepele seperti itu. Aku percaya pada Ahn Yoo yang dingin itu. Dia tidak akan mendekati orang yang tak disukainya. Lagi pula tampak jelas kalau Ahn Yoo tak suka melihat Xia Len. Dan apalagi Ahn Yoo sudah mengatakan itu padaku semalam. Entah mengapa aku langsung yakin kalau dia tidak akan mendekati Xia Len meski wajahnya yang cantik dan anggun selalu. Beda jauh dengan ku yang tidak anggun sama sekali.
"Owh, iya kamu bisa katakan langsung. Aku masuk dulu kalau begitu. Sampai jumpa," pamit ku lalu masuk ke dalam. Tanpa ingin memperpanjang pembicaraan ini, aku menutup pintu lalu mengemas barang langsung.
Hanya dengan waktu yang singkat, aku sudah bisa bersantai di atas ranjang karena tidak ada lagi hal yang ingin dilakukan. Apalagi malam itu aku merasa nyaman saat tidur di samping Ahn Yoo. Sungguh hal yang tak terlupakan. Bahkan setiap kali mengucapkan namanya di dalam hatiku, wajahnya selalu jelas tampak berada di depanku. Bayangannya terus menghantuiku. Sudah dipaksa untuk melupakan kejadian itu, tapi namanya selalu muncul di kepalaku.
Saat berguling-guling ke sana kemari, Ji Seon mengirimkan pesan kepadaku. Dia mengatakan kalau supirnya akan menjemput aku. Dan dia meminta alamat rumahku agar mempermudah supirnya menjemput aku.
Aku:
Jalan X nomor 15,
tapi aku bisa datang sendiri
Kamu tidak oerlu repot\-repot.
Ji Seon:
Jangan mempersulit ku👌🏻
Aku hanya bisa tersenyum dan tak membalas pesannya ini. Bagaimana lagi kalau sudah dipaksa oleh atasan sendiri. Kalau membantah yang ada aku akan dipecat. Lagi pula aku tidak boleh menyepelekan tugas ini. Mungkin saja urusan ini menyangkut masa depan perusahaannya.
Tiba-tiba saja perutku yang rusuh ini bergemuruh meminta asupan. Cacing di perutku demo meminta makanan. Tidak bisa dibiarkan, aku langsung memasak mie instan yang sudah kubeli saat perjalanan pulang kemari. Sebagai antisipasi kalau besok terlambat bangun dan tidak sempat makan, aku bisa memakan mie instan ini agar tidak repot dan praktis.
Setelah mie itu selesai dimasak, langsung ku seruput meski uapan airnya masih menghembus di wajahku.
"Sruppp ... fiuh-fiuh." Aku meniup dan menyeruput mie instan ini dengan semangat. Sudah lama tidak memakan makanan lezat seperti ini.
Namun ada saja yang menggangu, Ahn Yoo datang dengan muka masam. Dia menutup pintu apartemen ini dengan keras. Baru jam 4 sore dia sudah pulang bekerja. Padahal dia masih banyak urusan di perusahaannya.
"Wah ... kenapa Tuan Ji bisa pulang secepat ini? Bukannya Tuan Ji sibuk hari ini?" sapaku meledek.
"Kenapa kau tidak memberitahu kalau sudah pulang?" tanya Ahn Yoo dengan muka kusut.
"Astaga aku lupa mengatakan itu. Aku cepat pulang hari ini," jawabku sambil menepuk keningku dengan pelan.
"Kau tahu berapa lama aku menunggumu di sana?" tanya Ahn Yoo dengan suara sedikit menekan. Auranya seperti ingin menerkam saja. Kali ini dia memang benar marah atau hanya sekedar mengancam, aku tidak bisa tebak.
Kata Ahn Yoo, dia sudah menelepon ku berulang kali, tapi tidak kuangkat. Yah karena memang saat itu ponselku sedang berada di silent mode, jadi suara dering tidak terdengar. Aku sudah menjelaskan padanya, tapi sama sekali dia tak mengerti dan tidak ingin mengerti.
"Baiklah, baiklah, jadi aku yang salah, maafkan aku, Tuan Ji. Lain kali aku akan mengatakan padamu," jawab ku membujuk agar dia berhenti menampakkan muka masamnya itu. Melihatnya saja sudah membuat tubuhku merinding.
"Buang makanan tidak sehat itu," seru Ahn Yoo menunjuk mie instan yang baru beberapa saja masuk ke dalam mulutku.
"Jangan mie ku, aku menyukai ini," rengekku manja.
"Aku tidak peduli," sahutnya ketus.
Tidak ingin mie ini terbuang sia-sia, aku dengan cepat memasakkan mie yang lain untuknya. Biar dia tahu bagaimana rasanya mie instan buatan ku. Bahkan chief terkenal pun mengakui itu, tapi dalam mimpiku saja. Kenyataannya tentu saja tidak.
"Makanlah, Tuan Ji yang pemurah. Rasanya sangat lezat, dijamin seratus persen," suguh ku ke depannya.
"Cih, aku tidak akan menyentuh masakan mu," bantahnya sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Kenapa kamu jahat sekali? Aku sudah susah payah memasak ini, tapi tidak dihargai. Aku tidak akan memasakkan makanan pada orang lain lagi selain diriku sendiri," keluh ku berniat membujuk Ahn Yoo untuk memakan masakan yang sudah ku masak dengan penuh perasaan.
"Berhenti bersikap kenakan. Aku tidak akan makan," jawab Ahn Yoo ketus. Dia bahkan tak menatap mie yang sudah ku letakkan di depannya.
Bagaimana bisa dia berubah cuek padaku? Pagi itu perlakuannya padaku masih terngiang hingga sekarang. Sedetik pun sikapnya yang lembut itu tak satu pun terlewat dari ingatan ku. Tapi sekarang dia sudah berubah lagi menjadi pria dingin tak berperasaan. Tentu saja aku marah dan tidak suka melihatnya. Untung saja aku menyukai dia, kalau tidak sudah ku beri racun dimakan yang kumasak setiap kali padanya.
Aku berdiri di depannya lalu memegang pisau di tanganku. Aku memgarahkan pisau itu ke depan matanya lalu menyudutkan mata menatap Ahn Yoo. Dengan aura pengancam ini dia harus memakan masakan ku itu. Kalau tidak mempan, aku tidak tahu harus bagaimana memaksanya.
"Turunkan pisau itu," seru Ahn Yoo santai. Bahkan dia tak takut sama sekali melihatku.
"Aku mau memotong kan bawang ke mie itu. Tadi lupa," jawabku meledek lalu mengiris kan bawang di atas mie yang tadi kuletakkan di atas meja.
"Aku tidak akan makan," pungkasnya berulang kali menolak.
"Terserah, aku tidak peduli. Aku lebih baik memasakkan pada Ji Seon saja. Dia lebih menghargai usaha ku. Berbeda denganmu," sindirku membelakangi Ahn Yoo.
"Jangan bandingkan aku dengan benalu itu," tukas Ahn Yoo tidak senang.
Aku tidak mendengarkan apa pun yang dia katakan. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu dengan kuat. Aku membiarkan dia di luar sendiri.
Setelah beberapa menit berlalu, aku keluar dan melihat apa Ahn Yoo sudah pergi dari sini. Ternyata dia masih di sini. Yang membuat batinku tersentak adalah ketika melihat Ahn Yoo yang berjiwa dingin itu, mencuci piring tempat mie itu. Dia terlihat manja saat melakukan itu. Kancing bajunya yang terbuka sedikit dan tangan baju yang dilipat hingga siku membuatnya sangat menggoda dan seksi. Sesekali tangannya mengusap dahinya karena bingung ingin melakukan apa. Dia menumpahkan sabun cair ke dalam wadah dan menambahkan air ke dalamnya. Tangannya yang tidak biasa memegang spons cuci itu malah menyentuh dan menggunakannya dengan lambat. Meski tidak biasa melakukan itu, dia masih berniat mencucikan mangkuk tempat mie kami tadi.
Aku menatapnya sampai tidak sadar kalau dia telah selesai mencucikan mangkuk itu. Dia menatap ku yang tampak bodoh itu dengan menaikkan satu alisnya ke atas. Dia juga memperhatikan kebodohan yang kubuat.
Dia berjalan ke arah ku lalu menatapku dengan bingung. Dia menjetik kepalaku dengan kuat lalu tersenyum kemudian.
"Mie nya enak," pungkasnya penuh dengan senyum.
"Ha? Oh, tentu saja. Sudah kukatakan padamu, tapi tadi kamu menolaknya," decakku berpura-pura jutek.
Kemudian perhatian Ahn Yoo berbelok ke dalam kamarku. Dia melihat koper yang ada di sana.
"Untuk apa itu?" tanya Ahn Yoo curiga.
"Ha? Oh itu, hahahah," balas ku mengelak. Aku tidak ingin mengatakan dulu hari ini kalau besok akan pergi ke Shanghai. Kalau diberitahu padanya, yang ada dia akan melarang dan menyuruhku untuk berhenti bekerja. Tapi kalau tidak dikatakan dan dia mendapatkan informasi dari orang lain, dia akan tambah marah besar padaku. Posisi ini sangatlah rumit hingga menentukan jalan hidup saja sulit sekali.
"Jangan bilang kau ingin minggat," tuduh Ahn Yoo menekan.
"Apa aku selemah itu? Aku ... aku ada job di Shanghai selama dua hari. Jadi aku mengemasi barang untuk berangkat besok," tukasku menjelaskan padanya.
"Tidak boleh," bantah Ahn Yoo tegas. Dia belum mendengarkan penjelasan ku sudah melarang, apalagi kalau kukatakan perginya hanya berdua saja dengan Ji Seon. Mungkin dia akan menarik investasi yang ditanamnya di sana.
"Ini demi nama baik perusahaan Nexcon. Jadi tidak bisa, aku harus pergi," pungkas ku serius.
"Kau tidak boleh pergi," seru Ahn Yoo.
"Kenapa? Apa aku pernah melarang mu untuk pergi keluar negeri? Tidak 'kan, jadi kamu juga tidak boleh melarang aku pergi. Apalagi ini kerjaan bukan untuk bermain-main," tandasku panjang lebar.