SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 40



~♡Jika aku berharap kau adala dia bintang, maka akan bisa menyenangkan hati, tapi menghilang saat hujan menanti. Namun jika dia adalah bulan, maka akan menemani sepi, meski hanya sebagai pengganti hari♡~


Seharian aku hanya tertawa bahagia melihat photoku dengan Hye Souk. Aku masih belum percaya kalau aku ini benar-benar bertemu dia. Rejeki memang tidak pernah salah tempat.


"Apa yang membuatmu terkekeh senang?" tanya Ahn Yoo yang baru saja datang tanpa kusadari karena sibuk membolak-balik layar ponsel melihat photo bersama Hye Souk.


"Ahn Yoo? Kapan kau datang?" tanyaku terkejut sambil menyelipkan ponselku di bawah bantal.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?"


Ahn Yoo mengangkat bantal dan mengambil ponselku yang kusembunyikan darinya.


"Ehhh ... ponselku jangan diambil," ucapku dengan menarik ponsel yang sudah dipegang Ahn Yoo.


"Kau sedang menyembunyikan sesuatu," timpal Ahn Yoo mencurigaiku.


Dia menarik ponsel itu dariku lagi dan memeriksa sesuatu yang mencirigai dariku.


"Sudah ku duga, kau berphoto dengan laki-laki lain sementara denganku tidak pernah," sambung Ahn Yoo cemburu.


Aku tidak tahu kalau dia suka berpohto. Aku tidak pernah mengajaknya karena takut akan ditolak, yang sakit hati 'kan aku bukan dia.


"Kamu mau berphoto? Aku baru tahu," decakku yang masih belum menyangka.


Dengan gelap mata, Ahn Yoo langsung menghapus photoku dengan Hye Souk. Padahal aku sudah lama ingin berphoto dengannya.


"Kenapa dihapus? Aku sangat mengaguminya. Kembalikan ponselku," bentakku merasa kesal.


"Tidak, aku tidak akan kembalikan. Sudah kukatakan jangan dekat dengan laki-laki di sini," amuk Ahn Yoo membalas bentakanku.


"Aku mengaguminya, apa kamu tidak pernah jatuh cinta, ha? Sampai kamu tidak mengerti perasaanku," sambungku menggerutuinya.


"Kau pindah saja dari sini dan kembali ke rumahku," ujar Ahn Yoo sambil menarik tanganku keluar dari apartemen.


Kalau dia sudah seperti ini, terpaksa aku harus mengeluarkan jurus sok manis, agar bisa melemahkan hati Ahn Yoo yang keras ini.


"Apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan mie instan?"


"Tidak," jawab Ahn Yoo dengan tangan masih menarikku.


"Tapi aku menyukai mie," lanjutku sok manis.


"Aku tidak," timpal Ahn Yoo singkat.


Tiba-tiba ponselku berdering, padahal ponsel itu masih di tangan Ahn Yoo. Aku yakin itu notifikasi dari game, atau pesan dari Zyen. Kalau Ahn Yoo membacanya maka aku harus tinggal lagi bersama dia, di rumahnya.


"Jangan baca!" teriakku panik dan mencoba mengambil ponselku di tangannya. Namun usahaku tidak berhasil, Ahn Yoo mempermainkanku dengan menaikkan tangannya supaya aku tidak bisa menggapainya.


"Apa yang sedang kau tutupi, biar kulihat," gumam Ahn Yoo dan hendak membaca notifikasi dari ponselku.


Aku mencium pipi Ahn Yoo dengan menjinjit karena tubuhku sangat pendek dibandingnya yang tinggi bertubuh proposional.


Wajahnya seketika berubah kaget dan pikirannya terlihat kosong. Kesempatanku untuk mengambil ponsel dari tangannya semakin besar. Dengan cepat aku mengambil ponselku dari tangannya dan berlari bersembunyi ke dalam kamar mandi, kemudian menguncinya rapat-rapat. Aku memang sangat cerdik sampai bisa memikirkan hal bodoh mencium pipi Ahn Yoo secara mendadak agar dia bisa terpaku kaku dengan keberanianku.


Aku memeriksa notifikasi yang menjadi biang dari kekonyolanku. Gara-gara notifikasi ini, aku harus memberanikan diri mengecup pipi Ahn Yoo yang kejam itu.


Ternyata notifikasi itu berisi sebuah pesan kalau aku diterima menjadi asiseten direktur di perusahaan game yang kumainkan. Alasannya karena aku sangat pandai dalam dunia game itu, sehingga jabatannya bisa diserahkan padaku. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah tahu kalau pesan itu dikirim oleh nomor sah dari PT. Nexcon yang terkenal di Asia. Baru aku yakin kalau itu bukanlah penipuan. Aku seperti sedang bermimpi kali ini, tidak mungkin PT. Nexcon memberiku jabatan langsung menjadi seorang asisten direktur.


Tidak percaya dengan takdir gila yang menerpaku, aku tertawa, teriak dan melompat-lompat seperti anak kecil di kamar mandi ini sendiri.


"PT. Nexcon? Ahahahaha ... tidak mungkin. Tunggu, artinya aku akan menjadi asisten direktur dan akan mendapatkan gaji yang merubah mata menjadi hijau karena terlalu banyak."


Aku tidak sadar karena senang, sampai tidak mengingat Ahn Yoo masih kutinggal sendiri di sana. Aku harus merayakan kebahagiaan ini dengan makan sampai tidak sanggup berdiri lagi.


"Apa yang kau terjadi?" tanya Ahn Yoo cemas sambil mengetuk dan mencoba membuka pintu kamar mandi.


"Kyaa! Gawat, Ahn Yoo! Aku melupakannya," teriakku dalam hati.


Aku membuka pintu ini setengah dan melihat Ahn Yoo yang sedang berdiri di depanku.


"Ahn Yoo?" sapaku dengan hanya menampakkan kepala.


"Keluar," perintahnya agak menekankan suara.


Aku keluar dan mendengarkan perintah Ahn Yoo.


"Ada apa?" tanyaku sambil menunduk.


"Apa yang sedang kau tutupi?" tanya Ahn Yoo dengan serius.


"Aku diterima bekerja, hebat bukan?" jawabku dengan mata berbinar haru.


"Kapan kau melamar?"


"Hmmm? Aku tidak tahu," jawabku penuh kebingungan.


"Kau tidak boleh bekerja lagi. Apa kau tidak ingat terakhir kali saat bekerja dulu?"


"Ini berbeda, aku akan menjadi asisten direktur," sahutku dengan muka riang.


"Ck, perusahaan mana yang mau menerimamu bekerja," ledek Ahn Yoo mengejekku.


Aku tidak menghiraukan Ahn Yoo ingin bilang apa, terserah padanya. Intinya aku senang karena bisa menjadi asisten direktur di perusahaan terkenal.


"Apa kita bisa makan di luar?" tanyaku pada Ahn Yoo.


"Tidak, aku ingin istirahat."


"Ya sudah, pergi pulang sana," balasku merajuk.


"Aku akan tidur di sini malam ini," kata Ahn Yoo tanpa menyaring mulutnya lebih dulu.


"Tidak bisa! Pulang sana, orang bisa beranggapan jelek tentang kita nanti," jawabku dengan tegas.


"Banyak yang belum menikah tapi satu ranjang di sini," sambung Ahn Yoo tidak peduli.


"Kita dan mereka berbeda. Aku tidak mau," sangkalku menolak.


"Tadi kau yang menggodaku lebih dulu, sekarang kau ingin mencampakkanku."


Ahn Yoo sialan ini malah berlagak aku sedang menindasnya, dan menumpahkan semua penyebab kepadaku.


"Tidurlah di sini, biar aku tidur di luar saja," kataku cemberut.


"Silahkan," sambung Ahn Yoo apatis tidak menghiraukanku.


Lihat saja nanti, kalau sudah punya banyak uang. Aku akan membeli apartemen sendiri dan tidak akan pernah membiarkan Ahn Yoo semena-mena kepadaku.


"Ingin rasanya menghisap habis darahmu sampai kering, sialan," gerutuku dengan suara pelan.


"Aku mendengarmu," sambung Ahn Yoo sambil membuka kancing kerah bajunya.


Aku keluar dari sini, kemudian berdiri di depan pintu sampai Ahn Yoo juga keluar.


"Hey, apa yang kau lakukan di sini? Aku melihat dari kejauhan kalau kau berdiri sudah sangat lama," sapa Hye Souk menghampiriku.


"Ah? Aku ... aku sedang mencari angin segar, hahahahah," jawabku gugup.


"Owh, kenapa di sini. Biar kutunjukkan tempat yang pas untuk mencari angin segar," ajak Hye Souk.


Ini bukan mimpi tapi tidak terasa nyata, Hye Souk mengajakku. Bahkan aku tidak pernah membayangkan bisa berdua dengannya seperti ini. Kesempatan ini tidak bisa dibuang sia-sia. Ada pepatah mengatakan kesempatan tidak datang dua kali, itu artinya aku tentunya akan menerima ajakan ini.


"Ekhem ... benarkah? Kalau begitu kamu tunjukkan jalannya padaku," jawabku tersipu.


"Tapi di sana agak dingin, lebih baik pakai jacket saja. Nanti kau masuk angin," ujar Hye Souk perhatian.


Aku ingin mati sejenak saat mendengar perhatian Hye Souk padaku. Baru saja dia mengatakan kalau dia takut aku masuk angin. Padahal kami tidak berkenalan cukup lama, tapi dia sudah baik sekali padaku.


Aku masuk ke dalam apartemen milikku dan hendak mengambil jacket.


"Kenapa kau masuk lagi?" kata Ahn Yoo. Dia sedang duduk di atas sofa dengan badan menyender sambil memainkan ponsel.


"Makan saja ponsel itu, jangan hiraukan aku," gerutuku kesal dengan suara pelan.


Aku mengambil jacket milikku dan keluar tanpa menoleh ke arah Ahn Yoo, sama sekali aku tidak menghiraukan keberadaannya di sini.


"Apa kau tuli atau bisu?" senggak Ahn Yoo karena ku acuhkan.


Aku tetap berjalan tanpa memperdulikan omong kosong yang dia katakan.


"Kenapa kau membawa jacket?" tanya Ahn Yoo lagi.


"Aku akan berkencan dengan pria yang ada di ponselku tadi! Apa kamu puas?" sambungku dengan nada keras.


Tok-Tok-Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, seseorang sedang mengetuk pintuku.


"Pacarku sudah datang, aku pergi dulu," lambiku menyindir Ahn Yoo.


Aku melihat wajahnya yang kaku seketika kusut saat mengatakan kalau aku akan berkencan.


"Jangan memancingku," kata Ahn Yoo memperingatiku.


"Kamu yang mengusirku," sambungku mengamuk.


"Kau yang ingin tidur di luar. Aku tidak menyuruhmu tidur di sana," lanjut Ahn Yoo tidak mau mengalah.


"Kamu yang menyuruhku!"


"Kau yang ingin!" jawab Ahn Yoo judes.


"Kamu!" tukasku tidak mau kalah.


Terusku keluar dan membanting pintu dengan keras. Aku sangat kesal melihat sikap Ahn Yoo yang menyebalkan.


Aku melihat Hye Souk sudah menungguku dengan jacket di tangannya.


"Maaf aku lama," ucapku sesaat setelah melihatnya.


"Tidak masalah, wanita memang seperti itu."


Dia sangat pengertian, dia pahak dengan wanita. Artinya dia orang yang penyayang. Memang cocok menjadi laki-laki idaman.


"Kalau begitu kita pergi saja," timpalku mengajaknya.


Ahn Yoo yang kurang kerjaan ini datang menghampiri kami dan berniat menggagalkan kesempatan emas bagiku.


"Nam Hye Souk," sapa Ahn Yoo.


Aku heran kenapa Ahn Yoo malah mengenal Hye Souk dan berani menyapanya. Dan anehnya, saat melihat Ahn Yoo, Hye Souk tersenyum ramah.


"Tuan Ji? Kenapa anda bisa satu apartemen dengan wanita ini?"


"Aku dan dia tidak satu apartemen, dia hanya tukang ledeng yang ku panggil," timpalku langsung.


"Ledeng? Tuan Ji adalah direktur PT. TIG Entertaiment, aku sedang casting peran di salah satu film layar lebar. Sampai sekarang belum ada jawaban," sambung Hye Souk.


Aku baru ingat kalau Ahn Yoo adalah pemilik PT. TIG Entertaiment, tentu saja Hye Souk menghormatinya.


"Biarkan wanita gila ini mengarang," ledek Ahn Yoo tidak menghiraukanku.


"Hahahahah, dia sangat spesial, Tuan Ji," lanjut Hye Souk.


"Jangan dengarkan tukang ledeng ini. Meski dia seorang CEO, dia juga bekerja sampingan sebagai tukang ledeng," timpalku membual.


Ahn Yoo tidak terusik sama sekali denganku, dan malah mengajak Hye Souk membahas pekerjaan mereka.


"Kau ku tempatkan di Cina, sebagai pemeran utama film yang akan ku sensor, shooting selama satu tahun di sana," bahas Ahn Yoo.


"Terima kasih, Tuan Ji," tunduk Hye Souk.


"Malam ini keberangkatannya. Kalau tidak mau tidak masalah, biar carikan orang lain."


Ahn Yoo sedang menyogok Hye Souk agar tidak jadi berdua denganku dan menyuruhnya untuk segera mengemas barang.


"Baiklah, terima kasih Tuan Ji. Nanti aku akan mengurus semua. Aku dan dia pergi dulu sebentar," balas Hye Souk.


Hatiku tertawa geli mendengar jawaban Hye Souk, dia tetap mengajakku meski malam ini dia ada jam terbang.


"Bukan ingin mengganggu hari kalian, tapi teken kontrak dilaksanakan sampai jam 18.00 pm," kata Ahn Yoo sedikit mendesak.


Ahn Yoo tampak semakin ingin menghancurkan kesempatanku berdua dengan Hye Souk. Jelas sekali dari gelagatnya yang seakan memisahkanku dengan Hye Souk. Bagaimana mungkin Hye Souk bisa pergi bersamaku, sedangkan sekarang sudah jam 17.40 pm, tidak akan sempat kalau dia tidak pergi.


"Hye Souk, sebaiknya kita pergi lain kali saja. Kamu pergi urus kontrak dulu," kataku pada Hye Souk.


Sekarang Ahn Yoo yang sangat usil itu sudah senang karena berhasil menggagalkan rencanaku dengan Hye Souk.


Setelah berpamitan denganku, Hye Souk pergi mengurus kontraknya agar bisa menjadi pemeran utama. Sekarang hanya tinggal kami berdua dengan Ahn Yoo yang gatal ini di sini.


"Jangan melihatku seperti itu," kataku dengan menjegilkan mata.


Ahn Yoo berdiri menatapku dengan mata sinis dan raut tidak senang. Tampaknya dia sangat marah denganku. Aku sudah bersiap untuk dihujani kata-kata tajam dari mulut Ahn Yoo.


"Jangan merasa kalau aku yang salah di sini, kamu lebih dulu memancingku," elakku menuangkan masalah kepada Ahn Yoo.


Dia tidak menghiraukanku dan terus melihatku dengan mata sinis.


"Aku akan menangis kalau belum menjauhakan mata jahatmu dariku," kataku sambil menutup wajahku dengan telapak tanganku.


"Apa aku hanya tukang ledeng bagimu?" tanya Ahn Yoo yang tersinggung.


"Tidak sama sekali," jawabku menggeleng kepala.


"Apa Hye Souk kekasihmu? Seleramu sangat buruk," ledek Ahn Yoo.


"Iya, tidak masalah kamu bilang apa, yang penting aku masih marah padamu," kataku berpura-pura mengamuk.


"Aku yang harusnya marah padamu," sahut Ahn Yoo menanggapi ku.


"Kamu membiarkanku keluar dari apartemen padahal aku sudah berharap kamu memanggilku lagi. Untung saja Hye Souk mengajakku, jadi aku bisa memanasimu," ujarku cerewet.


"Kau yang ingin keluar, aku membiarkanmu. Bukannya kau merasa terkekang, makanya aku membebaskanmu," tukas Ahn Yoo.


"Malas berdebat denganmu, lebih baik kita makan. Aku lapar dari tadi belum makan," rengekku menghindari topik.


"Tidak."


"Ayolah, aku sudah lapar sekali," tambahku membujuknya.


"Tidak."


"Aku menyukaimu," kataku mengerjai Ahn Yoo.


"Tidak," jawabnya cepat kemudian tersadar lalu menoleh ke arahku dengan wajah tertegun.


"Baiklah, aku ditolak. Sekarang aku tidak punya muka lagi di depanmu."


"Jangan suka mempermainkanku," balas Ahn Yoo tidak senang.


"Aku tidak melakukannya," sambungku serius.


"Kita makan di luar," timpal Ahn Yoo dengan senyum tipis di wajahnya.