SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 27



Setelah lama di perjalanan, Ahn Yoo memberhentikan mobilnya di sebuah perhotelan yang cantik di pinggir danau.


Awalnya aku masih ragu untuk masuk ke dalam, masih ada rasa takut karena trauma kejadian waktu itu, ketika Paman tiriku hendak menjualku.


"Kenapa kau tidak jalan?" Tanya Ahn Yoo kepadaku.


"A- Aku hanya terbayang dengan kejadian pahit waktu itu," jawabku getir.


"Aku tidak akan menjualmu, mana mungkin kau akan laku kalau dijual. Badanmu kurus begitu siapa yang ingin," ejek Ahn Yoo.


Seketika hatiku menjadi tenang saat mendengar ejekannya itu. Aku tidak perlu khawatir dia akan menjualku, atau menjadikanku sebagai hadiah kepada teman kerjanya. Yang harus ku khawatirkan adalah Ahn Yoo sendiri, kenapa dia mengajakku ke hotel padahal hari semakin gelap.


"Kenapa kita ke sini?" Tanyaku kebingungan.


Dia tidak menyahutku dan terus berjalan masuk ke dalam hotel. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang.


Saat berada di meja resepsionis, Ahn Yoo memesan dua kamar bersebelan untuk kami tempati.


"Ini kuncimu," Ahn Yoo memberikan kunci kamar untukku.


"Iya," jawabku patuh.


Ketika sudah sampai di depan pintu kamar masing-masing, aku menatapnya sembari bertanya kenapa tidak pulang ke rumah.


"Ahn Yoo, kenapa kita tidak pulang. Aku khawatir Bu San akan cemas karena aku belum pulang."


"Aku akan menghubunginya nanti," jawab Ahn Yoo tidak acuh.


Ahn Yoo masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya langsung. Begitu melihatnya tidak acuh, aku juga masuk ke dalam kamarku.


Sejenak setelah aku melihat ruangan yang indah ini, membuatku merasa nyaman untuk mengistirahatkan mata. Terutama saat membuka gorden yang menutup jendela kaca yang besar, akan tampak dengan jelas danau yang indah di depan mata. Gelapnya malam yang di sinari bintang-bintang dan bulan, membuatku semakin mudah untuk terlelap.


Aku sangat menyukai bintang dan udara di sini. Sampai-sampai aku belum siap berhenti berdiri di depan jendela besar ini meski mataku sudah mulai sayu.


"Otak ku sudah fresh setelah lama tidak keluar dari kota besar itu," gumamku mengingat letak rumah Ahn Yoo yang berada di pusat kota.


Aku lebih menyukai suasana seperti ini dari pada suasana di kota. Namun karena tidak bisa berkhayal bisa tinggal di tepi danau seperti ini, aku hanya bisa mengubur dalam-dalam niatan itu. Dari dulu aku memang sudah merencanakan akan tinggal di tepi laut atau danau seperti ini karena akan lebih mudah mengadu kepada mereka saat sedang sedih.


Tok-Tok-Tok!


Sura ketukan pintu kamar hotel yang terdengar dari luar. Aku langsung membuka pintu dan mengira Ahn Yoo yang mengetuknya. Konyolnya bukan pintuku yang diketuk, tapi pintu di depan kamar hotel ini. Aku hampir mati karena malu gara-gara salah mengira pintuku yang diketuk. Mungkin karena terlalu bersemangat membuka pintu, laki-laki yang mengetuk pintu itu menanyakanku.


"Apa kamu mengira pintumu yang ku ketuk tadi?" Tanya laki-laki itu kebingungan.


"Ha? Hahahahah ... tidak, aku memang ingin membuka pintu karena ingin ke ... sini," jawabku membual sambil menunjuk kamar Ahn Yoo.


"Ohh, kalau begitu silahkan."


Laki-laki sialan ini tetap saja memperhatikan ku saat ingin mengetuk pintu kamar Ahn Yoo. Dia seperti ingin menertawaiku saja. Aku tidak ingin dipermalukan seperti ini. Terpaksa aku harus masuk ke dalam kamar Ahn Yoo, agar laki-laki sialan ini tidak bisa menertawaiku.


Dengan tangan yang berat, aku mulai mengetuk pintu Ahn Yoo.


"Ahn Yoo!" Teriakku sambil mengetuk pintunya.


"Apa benar itu memang kamar orang yang kamu kenali, hahahahah. Aku yakin kamu membuka pintu karena mengira aku sedang mengetuk di pintumu," ejek laki-laki sialan ini.


Karena sudah tidak tahan lagi, dan sekalian melampiaskan kekesalanku selama ini yang selalu ditindas Ahn Yoo, batinku menyuruh untuk memngamuki laki-laki ini.


"Apa kamu bilang, ha? Kamu jangan menertawaiku, atau kamu akan menyesal. Apa kamu tahu kalau tanganku sudah gatal untuk menghancurkan mulutmu, ha?" Gusarku sambil membelalakkan mata.


"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius."


"Kenapa kamu sensitif sekali, untungnya kamu wanita. Kalau tidak sudah aku habisi dari tadi," decak laki-laki itu.


"Apa katamu? Sini ...." Ahn Yoo tiba-tiba datang dan menutup mulutku yang belum sempat mengumpati laki-laki gila ini.


"Maafkan pacarku, dia suka begitu kalau sedang bertengkar denganku," tukas Ahn Yoo kepada laki-laki itu.


"Ohh, jadi benar kamu pacarnya. Baiklah, aku memaafkan dia, tapi lain kali jangan biarkan dia mengamuki orang lain. Takutnya akan terjadi perkelahian," sambung laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Kemudian Ahn Yoo melepaskan tangannya dari mulutku, dan menyuruhku mendengarkan kata laki-laki itu.


"Apa kau dengar dia, jangan suka mengamuk."


"Apa kamu lagi membela dia? Aku tadi ditertawai-nya, jadi aku tidak terima, lalu mengamukinya," timpalku yang masih penuh dengan amarah.


"Kau pemarah sekali, biarkan saja. Masalah kecil kau besar-besarkan," decak Ahn Yoo tidak membelaku sama sekali.


Sudahlah, lebih baik aku diam saja kalau berdebat dengan Ahn Yoo, tidak ada gunanya. Lebih baik aku diam dan mendengarkan ocehan dari mulutnya.


Debrukk!


Suara pintu laki-laki yang ku amuki tadi terbuka, kali ini dia keluar dengan pasangannya. Dengan sigap aku menarik Ahn Yoo masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu cepat-cepat.


"Dasar laki-laki sialan, untung saja aku bergerak cepat," decakku sambil mengintip mereka dari lubang kecil di pintu kamar ini.


Ahn Yoo mendekat ke arahku dan mencoba mengintip juga dari lubang pintu yang sama.


"Apa yang sedang kau lihat?" Tanya Ahn Yoo yang jaraknya denganku sangat dekat.


Aku menoleh ke arahnya, dan di kejutkan karena wajahnya yang terlalu dekat denganku. Aku langsung menegapkan badan dan melangkahkan kakiku ke belakang dengan cepat.


"Ka-Kamu terlalu dekat," kataku dengan gugup.


"Aku hanya penasaran saja denganmu yang sangat sibuk mengintip mereka."


"Iya walaupun begitu, jangan terlalu dekat juga. Sampai-sampai kamu mau melihat mereka di lubang yang sekecil ini berdua," kataku sambil melingkarkan jariku hingga berbentuk bulatan yang kecil.


"Kenapa kau yang marah padaku? Ini kamarku, jadi jangan banyak protes," jawabnya santai.


Kali ini aku terpojok, tidak bisa membantah lagi. Kenapa setiap hari aku yang harus kalah adu mulut dengan Ahn Yoo. Bisakah satu kali saja aku yang menang.


"Aku pergi saja, aku sudah mengantuk." Aku berjalan sambil menguap.


Ahn Yoo tidak mau minggir dari pintu sehingga aku tidak bisa keluar dari sini. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk menepi, agar aku bisa membuka pintu ini dan kemudian keluar.


"Ahn Yoo, bisakah kamu minggir sedikit. Aku ingin keluar, aku sudah mengantuk."


"Bukannya kau yang masuk ke kamarku. Aku pikir kamu ingin tidur denganku," sahutnya tidak tahu malu.


"Apa? Kapan aku mengatakannya? Aku masuk ke sini karena laki-laki itu datang, bukan karena ingin tidur denganmu," tukasku menyangkal.


**Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**