
Dengan kepala yang tersandar di bahu, Ahn Yoo dengan usil meniup pelan leherku dengan agar merinding. Tidak tahu niat dia melakukannya, tapi aku merasa terganggu.
"Jangan usil, menonton yang benar," decak ku ketus.
"Hmmm, aku teringat dengan ibuku," ucap Ahn Yoo dengan suara yang sedikit diredam.
Tidak tahu mengapa dia malah mengatakan hal itu, dia pernah bilang kalau ingin bertemu ibunya kalau sedang sedih dan bahagia saja. Lalu sekarang dia tampak murung.
"Hmmm, kenapa tidak pergi temui ibumu," jawabku.
"Apa kau sedang menyuruhku untuk mati?" tanya Ahn Yoo dengan suara agak menyenggak.
"Kenapa Tuan Ji sekarang sangat suka membuat lelucon," celetuk ku.
"Entahlah," jawabnya ragu.
***
Setelah jam mulai malam, dia kemudian pulang. Dengan wajah masamnya dia memperingati ku untuk tidak dekat-dekat dengan Ji Seon dan tidak boleh bicara dengannya. Terkadang dia seperti laki-laki posesif pada umumnya, hanya saja ada sedikit perbedaannya. Dia tidak tahu kapan akan datang sisi lembutnya. Kalau sisi dinginnya muncul, yang bisa kulakukan hanya menebalkan telinga dan mengelus dada jika dia menyinggung.
"Besok aku akan mengantarkan mu," perintah Ahn Yoo ketika sudah berada di depan pintu.
"Tidak perlu, Ji Seon akan menjemput ku," jawabku menolak. Semata tidak ada niat membuatnya marah, malah aku mengatakan agar dia tidak repot lagi.
"Aku yang mengantar mu," desak Ahn Yoo.
"Besok kamu ada rapat di kota A, jadi tidak bisa," timpalku. Dengan bergai cara aku tidak boleh membiarkan dia repot karena masalah pribadi. Lagi pula Ji Seon sudah menyediakan pelayanan padaku, jadi tidak mungkin menolak.
"Terserah, aku tidak peduli," cela Ahn Yoo mengacuhkan.
"Aku akan membawa oleh-oleh untukmu," tuturku saat dia sudah melangkah pergi.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan memjamkan mata agar bisa bangun dengan cepat besok pagi.
***
Saat pagi tiba, aku menunggu seseorang datang dan menjemputku. Aku keluar dari rungan ini dan tak sengaja melihat Xia Len. Entah mengapa semua ini seperti bukanla sebuah kebetulan saja. Bagaimana bisa mungkin setiap kali ingin melangkah dari tempat ini, dia akan selalu muncul. Dia seperti mengawasi dan mengintai setiap yang kulakukan.
"Jane Soo, untuk apa koper itu?" tanya Xia Len.
"Oh ini, itu ... hmmm, aku tugas di Shanghai jadi membawa beberapa pakaian," jawabku ragu.
"Wah hebat sekali kamu, Jane Soo. Aku harap kamu bisa mengerjakan tugas dengan baik. Tapi bisa bawakan aku souvenir dari sana," tutur Xia Len sok akrab denganku.
"Hahaha ... iya, kalau sempat le toko souvenir, aku akan belikan," balasku dengan senyum yang amat terpaksa.
"Terima kasih, Jane Soo. Tapi kamu berapa hari di sana?" tanya Xia Len.
"Hanya dua hari," sambungku singkat.
Ketika percakapan itu semakin dalam, seseorang yang menggunakan pakaian supir pribadi, datang menyapa. Dia mengatakan kalau dirinya datang untuk menjemput ku
Seperti yang dikatakan Ji Seon, tanpa banyak tanya, aku mengikutinya. Dia membawaku langsung ke bandara, dimana Ji Seon sudah menungguku. Untung saja dia datang dengan cepat. Kalau tidak Xia Len akan menanyaiku lebih banyak lagi. Sementara hatiku yang sempit ini berharap agar dia agar segera pergi atau berhenti bertanya dan sok akrab denganku.
~Bandara~
"Ji Seon!" panggilku dari kejauhan. Aku melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
"Jane Soo, untung kamu cepat. Apa kamu sudah makan?" tutur Ji Seon perhatian.
"Hmmm, sudah. kamu sudah makan pastinya, 'kan?" sambungku menebak.
"Belum," jawabnya menyangkal.
"Kalau begitu kita makan dulu sebelum berangkat. Lagi pula masih ada waktu setengah jam lagi," pungkas ku sambil melihat jam di ponselku.
"Hmmmm," angguknya mengiyakan.
Kemudian kami sarapan di sekitar bandara itu berada. Di sana ada rumah makan yang dekat dan tentunya tidak akan membuang-buang waktu yang banyak dalam perjalanan.
"Oy, kenapa kamu tidak sarapan? Anak manja sepertimu mana tahan kalau tidak makan," ledek ku sambil mengunyah.
"Telan dulu makanan itu," senggak Ji Seon menasehati ku.
"Iya, cerwet," balasku mengamujinya.
Setelah selesai sarapan, kami pun langsung pergi. Karena beberapa menit lagi akan landing tentu saja harus bersiap-siap.
"Kamu banyak sekali bawa baju," celetuk Ji Seon ketika sudah di dalam pesawat.
"Aneh sekali kamu ini. Kenapa tidak dikatakan saat di luar. Sudah di sini baru bilang," decak ku mengejek.
"Aku hanya mencari pembahasan," jawabnya sambil menopang dagunya.
Entah mengapa dia sekarang menjadi canggung begini. Padahal dulu kami tak sejauh saat ini. Bahkan lebih dekat dari hanya seorang pasangan yang sudah menikah. Namun kala ini kami bagai orang uang sekedar sapa saja.
"Hmmm, iya. Kita akan menghadiri rapat penting, jadi aku sedikit gugup," ujarku.
"Rapatnya besok, kenapa malah gugup?" tanya Ji Seon.
"Apa? Besok? Bukannya nanti?" responku berlebihan.
"Apa kamu tidak baca yang kuberikan itu?"
"Ahhhmmm, aku lupa," jawabku sambil tersenyum merasa bersalah.
Karena Ahn Yoo semalam datang mengganggu, akhirnya aku lupa untuk membaca yang diberikan oleh Ji Seon. Dan setelah Ahn Yoo pulang, aku malah langsung tertidur karena takut kalau kesiangan bangun besok pagi. Dana akhirnya, kertas itu tertinggal di dalam tas dan tak disentuh sama sekali.
"Aku sudah memaklumi kebodohanmu," ledek Ji Seon.
Mendengar ledekannya yang menyebalkan itu, aku mencubit tangannya lalu memanyunkan bibir.
"Hahaha, kamu marah? Terserah, yang penting aku senang sudah mengganggu," celetuk Ji Seon.
"Aku tidak akan bicara padamu," tandasku.
"Apa?! Apa hotel semegah ini kekurangan kamar? Tidak bisa dipercaya," umpatku sambil menunjuk ruangan yang tampak mewah.
"Hanya tersisa satu," timpal Ji Seon sambil menunjukkan kunci di tangannya.
"Jadi maksudmu aku tidak tidur? Kenapa kamu tega sekali," rengekku.
"Kita tidur satu kamar," jawabnya singkat lalu pergi berjalan lebih dulu ke ruangan kamar yang sudah dipesannya baru saja.
Mukanya sangat tebal sekarang, bahkan mengumpat pun tak didengar oleh Ji Seon. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sudah jalan lebih dulu. Aku hanya bisa mengikuti dirinya dari belakang.
Saat masih berada di lorong, tiba-tiba Ahn Yoo menelepon. Aku harap dia tidak tahu kalau kami akan satu kamar dengan Ji Seon. Kalau dia tahu, bisa-bisa dunia ku bisa hancur karena dendam psikopat dingin seperti Ahn Yoo.
"Halo, Tuan Ji! Aku sudah sampai," sapaku girang. Aku harus seperti itu agar dia tidak ketus padaku. Kalau sudah ketus bisa saja dia curiga dan nyawaku terancam.
"Apa kau tidak bisa mengabariku, ha?!!" senggaknya. Bahkan telingaku sakit karena suaranya yang keras itu. Mungkin kondisi gendang telinga ini sudah pecah gara-gara suaranya yang mengerikan.
"Uhm, aku tidak mau mengganggu," jawabku mengelak.
"Dimana kau sekarang?" tanya Ahn Yoo.
"Di Shanghai," jawabku cepat.
"Jangan buat aku bertanya dua kali," ancam Ahn Yoo dengan nada mendesak.
"Aku sudah di hotel, kenapa?"
Saat itu aku mendengar suara wanita samar-samar dari posisi Ahn Yoo. Dia berada di ruangan yang sepi dan tak sengaja aku mendengar suara wanita.
"Yo, Tuan Ji. Dimana kamu sekarang?" tanyaku. Aku ingin tahu juga dimana dia sekarang. Aku sudah membuat beberapa kemungkinan. Pertama dia sedang di kantor, dan suara itu adalah karyawan. Kedua, dia berada di rumahnya, kemungkinan suara itu adalah Bu San. Tapi suara ini agak halus, tidak seperti suara Bu San yang agak tegas. Jadi kemungkinan pertama adalah yang paling tepat.
"Di apartemen," jawabnya singkat.
"A-Aku mendengar suara wanita," ungkapku dengan ragu.
Bagimana mungkin ada suara wanita di dalam apartemen. Lagi pula apartemen itu kedap suara, tidak mungkin jelas sekali terdengar. Itu artinya wanita itu berada di dalam apartemen.
"Hmmm, jangan dekat dengan benalu itu," perintah Ahn Yoo dan langsung mematikan panggilannya.
Dari sini aku sudah makin curiga dengan sikapnya. Dia seperti sedang menutupi sesuatu dariku. Tapi aku harus percaya padanya kalau tidak akan melakukan hal
bejat.
Namun setelah dipikir secara mendalam lagi, aku tidak berhak memarahinya kalaupun dekat dengan wanita lain. Bahkan jika dia membawa wanita ke apartemen itu, toh itu adalah kepunyaannya. Jadi larangan ku tak mampu menghentikan dia.
Lalu kenapa dia selama ini selalu memperlakukan aku dengan berbeda dari wanita lainnya? Tidak mungkin aku tidak merasakan apa-apa terhadapnya. Bohong jika aku mengatakan kalau aku tidak cemburu ketika dia dengan wanita lain. Bagimanapun aku ini wanita yang berperasaan dan bisa jatuh cinta dengan orang. Mengatakan kalau tidak akan patah hati saat melihatnya tersenyum dengan wanita lain saja, aku cemburu. Bahkan hatiku seperti tersayat jika dia melakukan itu pada wanita lain, selain aku.
Aku hanya bisa berharap Ahn Yoo segera menyatakan hubungan ini dengan sebuah iktan. Sudah cukup lama kami bersama tanpa ada ikatan. Jika hanya sekedar teman, tidak mungkin kami seintim itu. Sebagai wanita tentunya aku harus canggung untuk menanyakan hal ini lebih dulu. Dan yang paling tidak mungkin adalah ketika aku menyatakan perasaan yang membelenggu ini padanya.
Seorang CEO kaya nan terkenal seperti Ahn Yoo tidak mungkin selevel denganku. Jika perasaan ini terungkap dan dia mengatakan kalau tidak menyukaiku, dan selama ini dia hanya menganggap diriku hanya sebuah mainan dan penghibur. Mungkin aku bisa menjamin kalau perasaan ini akan hancur dan tidak akan berani lagi untuk mencintai orang lain lagi.
"Kijen, woy, woy, apa yang sedang kamu lamun kan?" tanya Ji Seon sekaligus menyadarkan aku dari dilema yang tak berujung ini.
"Aku memikirkan ... hmmm, apa kita tidur satu ranjang?" tanyaku sambil menunduk.
"Hahahaha ... pergi mandi sana. Kamu bau ikan asin," ledek Ji Seon sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ihhhh, kamu apa-apan, bodoh! Aku akan membunuhmu, Ji Seon jelek!" Dengan cepat aku mencekik lehernya dengan pelan, lalu menggelitik perutnya agar tidak mengulangi ledekan seperti yang tadi.
Aku tahu Ji Seon mengataikan itu karena takut suasana menjadi canggung. Dia terpaksa mencari celah lain agar bisa keluar dari kecanggungan antara kami.
"Nonya asisten, aku minta maaf, hahahah," ucap Ji Seon meminta ampun agar tidak digelitiki lagi.
Dia berlari ke atas tempat tidur menghidar dariku. Namun aku tidak akan melepaskan dirinya, dengan cepat aku berlari mengejarnya, kemudian melompat dan mendekap tubuhnya dengan erat. Aku tak akan membiarkan dia lepas dan berhasil kabur dari hukuman dariku. Aku tak sadar kalau dia tiba-tiba berhenti dan terdiam. Suasana menjadi canggung, dia menatapku dengan dalam.
Tanganku yang masih mendekapnya itu segera kulepaskan. Bagaimanapun kami sekarang tidak seperti yang dulu lagi. Tidak ingin ada kesalahpahaman di sini. Aku meminta maaf padanya.
Suasana yang canggung ini membuatku merasa tercekam. Kami berdua sedang berada di atas ranjang yang sama. Dengan timing seperti ini, bukankah lebih cocok seperti sepasang kekasih yang sedang beradu mesra.
"Ahhh ... lelah sekali sudah seharian tidak tidur di kasur," decak Ji Seon sambil merentangkan tubuhnya di atas ranjang.
Lagi-lagi dia bisa mengendalikan suasana yang awkward seperti ini. Dia tetap Ji Seon yang sama seperti dulu, tidak berubah. Aku saja yang sudah menganggap kalau kami ini berada di fase yang berbeda. Dia tetap menganggapku seperti Kijen yang liar.
Aku pun ikut merentangkan badanku di atas ranjang menirukan gaya Ji Seon. Dengan decakan lega, aku meregangkan otot tubuh ini.
"Kenapa tidak mandi, ih! Kamu bau sekali!" umpat Ji Seon sambil menutup hidungnya. Dia menjauh dariku dan bangkit dari posisi tidurnya.
"Ji Seon jelek! Aku sakit hati ... kenapa mengejekku?" ucapku dengan lirih.
"Hey, aku hanya bercanda. Jangan menangis, cengeng," kata Ji Seon yang berhasil masuk ke dalam perangkap yang kubuat. Jangan sebut aku Kim Jane Soo kalau tidak bisa menghajar orang sampai puas.
Setelah dia mendekat, aku menggigit tangannya lalu berlari langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia meraung kesakitan karena gigitan maut dariku. Tidak peduli keadaanya, aku menjulurkan lidahku meledeknya, lalu menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
Setelah selesai bersih-bersih badan, aku keluar dan menghampiri Ji Seon. Dia tertidur pulas di atas bangku empuk yang panjang dan pastinya disediakan oleh pihak perhotelan.
Padahal dia belum mandi tapi sudah tidur, lagi pula aku yakin melakukan itu karena takut aku memikirkan bagimana kami akan tidur nantinya. Dia adalah pria yang paling lembut sedunia. Dia menghargai diriku sampai sejauh itu. Aku yakin dia sedang berpura-pura tertidur.
Aku mengambil selimut dan menghangatkan tubuh Ji Seon. Dan tidak sengaja mencolek pipinya untuk memastikan apa dia benar tidur.
"Anak baik, siapa wanita beruntung yang akan menjadi pasangan mu?" tanyaku dengan suara pelan sambil menepuk pelan kepalanya.
"Jangan perlakuan aku seperti anak kecil," terang Ji Seon tiba-tiba. Dia membuka matanya dan mengagetkan aku hingga badanku terbentur dengan meja yang tidak jauh berbeda di belakangku.
"Auhhh ... sakit," lirihku sambil mengusap badanku.
"Jika sudah membutuhkan aku, kembalilah," pungkas Ji Seon.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud yang dikatakan olehnya. Tiba-tiba saja dia sudah serius dan mengucapkan hal yang tidak kupahami sama sekali.
Aku menampakkan raut bingung dan tak paham. Aku ingin menanyakan padanya, tapi dia langsung menutup matanya dan membalikkan badannya membelakangi aku. Akhirnya aku memutuskan pergi ke atas ranjang.
"Selamat malam, Ji Seon," ucapku lalu meninggalkannya.