
"Apa masih sakit?" tanyaku penuh dengan perhatian.
"Sekarang jantungku sepertinya sedang sakit. Dia berdetak sangat kencang sampai nafasku terasa ...." Langsung ku jetik kepalanya agar tidak bisa melanjutkan kalimat yang akan membuat suasana ini menjadi canggung.
"Sekali lagi membahas tentang itu, aku tidak akan mengampuni mu. Jangan kira karena kamu ini adalah seorang direktur utama di sini, aku jadi takut padamu," ucapku tidak segan padanya meski dia adalah direktur. Aku sudah menganggapnya sebagai sahabat masa lalu yang datang untuk minta ditebus dosanya karena sudah meninggalkan aku dan setelah bertahun-tahun baru berniat menemuiku.
"Terserah Nyonya asisten, aku tidak akan membantah, apalagi yang menyeru adalah Kijen," ledek Ji Seon.
"Mari rayakan pertemuan yang gila ini! Aku sudah rindu bermain ke taman denganmu," seru ku semangat.
"Kamu mengajarkan aku bolos lagi. Seperti dulu, kamu mengajakku bolos sekolah," umpat Ji Seon mengataiku. Aku memang dulu sering mengajaknya bolos sekolah. Tapi dia juga yang bodoh kenapa mau diajak bolos. Tapi meskipun begitu, dia tetap bisa juara kelas meski sering ketinggalan pelajaran. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum melihat dia berdiri di depan yang sedang dipuja-puja guru dan semua murid siswi.
"Kalau tidak mau, ya sudah. Aku akan menurut saja," ujarku dengan maksud memancing Ji Seon mau bolos hari ini, dan kemudian kami bisa bermain ke taman tempat kami dulu sering bermain.
Ji Seon mengambil ponselnya lalu menelpon manager nya untuk menghandle semua pekerjaan hari ini.
"Horeee!! Kita pergi ke taman?" sorak riangku saat tahu dia akan bolos kerja hari ini dan kami bisa pergi bermain-main.
"Hmm," angguk Ji Seon dengan senyuman manis.
Kami berdua pergi dengan mobilnya ke tempat paling bersejarah bagiku. Dimana aku dan Ji Seon sering duduk berdua di sana. Kami sering makan, bermain, belajar, bahkan tidur siang di sana. Karena tempatnya yang sejuk, kami menjadikan tempat itu sebagai milik kami pribadi. Memang kebetulan tempat itu hanya sedikit yang mengetahuinya. Karena letak tempat itu berada di balik bangunan yang sudah lama tidak beroperasi lagi.
~Dalam mobil~
"Ji Seon," panggilku sambil menatapnya.
"Hmmm," sahutnya.
"Aku sebenarnya takut kalau nanti bertemu dengan pamanku di sana," kataku sambil meremas tanganku sendiri.
"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan muncul," balas Ji Seon.
"Pffft ... hahahahah, kamu yakin sekali." Aku tertawa sampai lupa dengan getirnya saat tahu harus kembali ke tempat dimana semua dimulai dan berakhir.
Setelah beberapa jam diperjalanan, akhirnya aku sampai di pinggir kota tempat dimana aku tinggal bersama bibi dan paman. Dimana aku dibesarkan oleh ayah ibuku, dan dimana tempat masa kecil dan remajaku berada. Aku merindukan mereka, tapi karena kejadian buruk yang menimpa ku, aku harus pergi dan tidak berani lagi untuk kembali ke sini.
~Taman~
Sebuah bangku yang dinaungi pohon rindang yang sejuk, menutupi teriknya matahari. Angin yang berhembus meniup rambut dengan sendu, membuat hati kian menjadi tenang. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membiarkan rindu ini terlepas di sini.
"Ji Seon, aku senang sekali bisa kembali ke sini. Padahal aku sudah yakin tidak akan bisa datang lagi ke tempat ini. Dan taman ini, terakhir kali aku mengunjunginya satu tahun yang lalu." Aku menceritakan pada Ji Seon tentangku.
"Aku kira kamu sudah lupa tentangku," decak Ji Seon.
"Aku tidak akan pernah lupa. Semua yang pernah terjadi padaku akan ku ingat dan kukenang. Meskipun terasa sakit, aku pasti akan menikmatinya," ucapku penuh kiasan.
"Hmm? Kenapa kamu sekarang sangat bijak bersilat lidah?" tanya Ji Seon.
"Diamlah, jangan hancurkan suasana hatiku," gusarku mengamukinya.
Karena waktu yang tidak terasa sudah berputar dengan cepat, aku tidak sadar kalau sekarang sudah jam 2 siang. Aku lupa kalau Ahn Yoo akan menjemputku di kantor. Kalau dia tahu aku dan Ji Seon sedang pergi berduaan yanga ada dia pasti dengan gelap mata menghabisi sahabatku ini.
Aku menelpon Ahn Yoo sebelum dia tiba di kantor Ji Seon.
"Ahn Yoo, kamu tidak perlu menjemputku. Kami rapat hari ini, jadi pulangnya agak lama," kataku membual pada Ahn Yoo.
"Hmm, aku ingin tahu apa yang kalian bahas," jawab Ahn Yoo.
"Ha? Oh ... hahaha, ini rahasia perusahaan, jadi tidak boleh diberi tahu," balasku mengelak. Sebenarnya aku sudah hampir tidak tahu harus menjawab apa padanya.
"Rapatnya ada di taman?" Ahn Yoo mengetahui kalau aku sedang membohongi dia. Dia tahu kalau aku tidak sedang ada di perusahaan Ji Seon. Aku lupa kalau dia akan selali tahu posisiku dimanapun aku berada.
"Eh? I-Itu ... masalahnya kamu tidak akan paham. Nanti aku akan jelaskan padamu. Pokoknya tidak perlu datang menjemputku. Aku tutup telpon, bye." Langsung ku matikan panggilan itu lalu menyuruh Ji Seon agar segera kembali ke kota Agra. Aku takut Ahn Yoo yang gila itu mengamuk dan gelap mata menghancurkan semuanya.
"Apa kamu sangat takut padanya? Sampai dia mengatur segalanya yang kamu lakukan. Dan dengan bodohnya kamu malah mengikuti semua perintahnya," ujar Ji Seon sambil memberhentikan langkahku.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin berbalas budi karena dia sudah menolongku," jawabku.
"Kamu tidak boleh terlalu jauh berhubungan dengan Ji Ahn Yoo, dia bukan orang yang sembarangan. Kalau tidak, hidupmu harus terus berada di lingkaran yang dia bangun," seru Ji Seon memperingatkan ku.
"Wahhh Ji Seon, kamu sudah dewasa ternyata. Aku akan dengarkan, tapi kita pulang dulu. Jangan serius seperti itu denganku, aku jadi ingin menjitak kepalamu," balasku dengan candaan. Aku tahu Ji Seon sangat mengkhawatirkan tentangku, tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam dunia Ahn Yoo. Dan jujur, kalau disuruh untuk menjauhinya, aku pasti akan sulit melepaskan dia. Aku akan menunggu sampai Ahn Yoo sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkannya.
"Kijen, apa Tuan Ji bisa membahagiakanmu?" tanya Ji Seon tiba-tiba.
"Hmm? Kenapa tanya yang itu? Aku akaj bahagia kalau kalian ada di sampingku," jawabku bercanda.
"Jangan rakus begitu, pilih salah satu saja," perintahnya sambil memegang kepalaku.
"Aku bukan anak kecil lagi. Lepaskan tanganmu dari kepalaku!" gusarku dengan mata tidak senang.
"Hahahaha ... lihatlah bagaimana wajah Si Kijen saat marah, jelek sekali," ejek Ji Seon meledek mukaku saat ini. Dia dari dulu hanya bisa mengejek ekspresi wajahku yang buruk ini. Saat aku menangis, dia akan mengejekku agar tidak sedih. Saat marah dia meledek wajahku agar aku tertawa. Dia selalu ada setiap kali kubutuhkan waktu itu. Namun karena dia meninggalkanku sendiri, aku tidak punya teman dekat lagi. Aku jadi orang yang kesepian saat dia pergi, lalu karena sering dinasehati bibi, aku merubah murungku. Aku berubah menjadi liar lagi dan ramah kepada orang lain. Namun hanya satu yang tidak bisa hilanh dari hidupku, yaitu kesialan karena kebodohan sendiri. Aku orang yang ceroboh dan tidak pernah berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu.
***
Ponselku berbunyi, ada panggilan masuk dari Ahn Yoo. Segera kuangkat telepon dan kujawab dengan gugup.
"A-A-Halo ... Ahn Yoo," sapaku gugup bergetar.
"Aku akan menjemputmu," ujarnya dengan suara berat.
"Apa? Jemput? Bukannya kamu tahu aku ini sedang tidak di perusahaan Ji Seon?" tanyaku untuk memperjelas.
"Diam dan keluar dari bangunan butut itu," seru Ahn Yoo ketus.
"Ha? Ta-Tapi ...."
Belum sempat aku menjelaskan padanya secara rinci, Ahn Yoo malah menutup telponnya dan meninggalkan suruhan yang aneh. Dia menyuruhku untuk keluar dari bangunan yang belum selesai ini. Atau dia akan datang kemari dan menjemputku?
"Ada apa?" tanya Ji Seon.
"Ahn Yoo, dia menyuruhku untuk tetap di sini. Sepertinya dia akan datang," jawabku dengan panik.
"Kalau menunggunya sampai ke sini menjemputmu, yang ada hari akan gelap. Dia hanya emosi dan berniat menggertak mu saja," ulas Ji Seon mengambil kesimpulan dari sikap Ahn Yoo.
"Tapi kalau dia datang bagaimana? Bukannya aku takut kena amukannya, hanya saja aku mengkhawatirkan mu," jawabku sambil menggigit jariku.
Ji Seon menarik tanganku dan menuntunku masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia menginjak pedal gas dan pergi dari kota ini. Dia membawaku pergi padahal sudah kukatakan tidak perlu. Dia tetap keras kepala dan tidak mendengar yang kukatakan. Aku takut Ahn Yoo akan melakukan hal gila setelah tahu dia tetap membawaku meski sudah disuruh untuk tetap menunggunya. Selain itu, saat ini Ji Seon membutuhkan investasi dari perusahaan Ahn Yoo. Kalau sampai Ahn Yoo marah padanya, takutnya dia tidak jadi menanam di perusahaan Ji Seon.
Citttt!
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menyalip mobil Ji Seon. Untungnya saja dia bisa mengatur keseimbangan mobil dan tetap aman. Dia memberhentikan mobilnya dan memeriksa keadaanku.
"Aku baik-baik saja," ujarku dengan wajah yang sudah pucat karena panik. Aku hampir mengira akan mati di jalan yang lurus tapi jarang kendaraan yang berlalu lalang. Hanya ada beberapa dan sesekali saja kendaraan yang lewat.
"Maafkan aku karena tidak hati-hati," sambung Ji Seon mengkhawatirkan kondisiku yang tampak ketakutan. Bahkan ujung kaki dan tanganku dingin seketika karena rasa takut yang berlebihan.
"Bukan salahmu, itu karena mobil itu," tunjukku ke arah mobil yang menyalip kami dengan sengaja. Saat mataku melihat mobil itu, aku baru sadar kalau ternyata itu sama persis seperti milik Ahn Yoo. Aku memperjelas pandanganku dan membaca nomor plat mobil itu. Dan ternyata memang benar, mobil itu adalah milik Ahn Yoo.
Sudah kuduga dia akan datang secepat mungkin. Karena dia tidak akan pernah bermain-main dengan kata-katanya. Sekarang sudah terlanjur. Dia sudah lihat aku dan Ji Seon bersama pergi ke taman ini. Aku tidak tahu hal nekat apa yang akan dia lakukan di sini.
Aku langsung turun dari mobil dan menghampirinya yang juga baru saja keluar dengan mata sinis datarnya. Dia berjalan dengan arogan ke arah kami.
"A-Ahn Yoo?" ucapku dalam benak sambil menutup mukutku.
Aku melihat Ji Seon yang sudah berdiridi sampingku. Dia dengan kepalan tangan menatap dan menanti Ahn Yoo datang ke hadapannya.
"Ji Seon, jangan melakukan tindakan bodoh. Kamu harus ingat kalau perusahan mu masih membutuhkan bantuan Ahn Yoo. Sebaiknya .... " Ji Seon langsung memotong kalimatku lalu.
"Aku tahu apa yang harus dilakukan. Lagi pula aku tidak memerlukan uangnya," timpal Ji Seon merasa tidak tertekan sama sekali.
Akhirnya Ahn Yoo sudah tepat berada di depanku dengan jarak yang dekat sekali. Dia memegang tanganku dengan lembut lalu menatapku dengan dingin.
"Sudah kukatakan diam di sana. Kenapa tidak kau dengar?" ujar Ahn Yoo dengan mata dingin menatap Ji Seon. Padahal kala itu dia sedang berbicara denganku, tapi matanya malah kepada Ji Seon.
"Ma-Ma-Masalah itu, aku kira kamu hanya sedang bergurau denganku. Jadi aku menyuruh dia untuk segera pulang," kataku berniat menyelamatkan Ji Seon dari masalah yang akan diperbesar oleh psikopat gila ini.
"Ck,kita pulang sekarang," seru Ahn Yoo sambil menarikku berjalan meninggalkan Ji Seon.
Aku berbalik melihatnya ke belakang dan memberinya kode untuk tetap tenang. Dan mengatakan dengan isyarat kalau semua akan ku atasi. Dia tidak perlu khawatir tentang masalah investasi itu.
Namun dengan bodohnya, Ji Seon malah mengatakan hal gila yang malah memancing emosi Ahn Yoo. Dia membiarkan dirinya masuk ke dalam masalah besar.
"Jane Soo, bagaimana dengan ungkapan ku tadi? Apa kamu menerimaku lagi masuk ke dalam hidupmu?" Ji Seon mengatakannya dengan keras hingga Ahn Yoo merasa sedang ditantang olehnya.
Aku melihat ekspresi Ahn Yoo berubah menjadi lebih menakutkan dibanding dengan yang tadi. Wajahnya terlihat marah dan tidak sabar untuk memangsa ikan kecil yang sedang memancingnya. Dia berbalik dan melemparkan tatapan mematikan kepada Ji Seon.
Segera ku tenangkan dulu Ahn Yoo agar tidak terbawa emosi. Aku menjelaskan padanya kalau maksud dari Ji Seon adalah kalau aku akan memaafkannya karena sudah pernah meninggalkan aku sendiri.
"Ji Seon, sebaiknya kamu pulang lebih dulu," suruhku sambil mengisyaratkannya untuk pergi dan tidak perlu mencoba membantuku. Karena aku yakin kalau dia semakin memancing psikopat ini, yang ada dia yang akan terkena imbasnya.
"Sudah kukatakan untuk menjauh dari lingkaran itu, Kijen. Kenapa kamu belum paham dan mengerti maksudnya?" lanjut Ji Seon lagu. Dan lebih parahnya, dia mendekat ke depan Ahn Yoo dengan wajah menantang.
"Ck, Kijen? Panggilan manis. Tapi hanya sebatas kenangan," decak Ahn Yoo memandang rendah.
"Wangi harum, tapi sayang hanya sementara," balas Ji Seon menanggapi Ahn Yoo.
Mereka beradu pedang mulut dan tidak ada yang kumengerti sama sekali. Mereka menggunakan kalimat kiasan yang penuh arti. Aku sampai melongo melihat mereka berdua yang sedang mengutuk satu sama lain.
"Sudah bahas masalah pribadi kalian?" tanyaku santai setelah lama mendengar ocehan mereka yang tak menepi.
"Masuk ke sana dan jangan keluar!!" senggak Ahn Yoo menyuruku masuk ke dalam mobilnya. Dia kasar sekali sudah menyenggakku seperti itu. Dengan suara yang keras dia membentak ku dan memerintahku. Aku sampai terkejut dan terjingkat karena suaranya.
"Tuan Ji ternyata sangat kasar kepada wanita. Aku kira tuan yang terhormat ini bisa menghargai setiap orang, tapi penilaian ku salah," sindir Ji Seon berniat membelaku.
"Cih, aku rasa Direktur Park terlalu dekat dengan asisten sendiri, sampai bisa membawanya pergi mengenang masa lalu," sindir Ahn Yoo lagi.