
Setelah sampai di dalam mobil, mata Ahn Yoo tampak sangat bahagia. Meskipun senyumannya telah pudar dari bibirnya, tapi aku masih melihat aura kesenangan dari dirinya.
"Apa kamu sering mengunjungi ibumu?" tanyaku sambil menoleh kearahnya.
"Iya," jawabnya singkat dengan mata lurus ke depan jalanan.
"Oooh ... kamu mengunjungi ibumu kalau sedang senggang, 'yah?"
"Tidak, aku datang ketika sedih dan bahagia saja," jawabnya sambil melihat ke belakang jalan dari spion.
"Jadi kamu hari ini sedang sedih atau bahagia?" tanyaku penasaran.
"Tidak dengan keduanya," jawabnya dengan nada datar.
"Tapi kenapa kamu mengunjunginya?" sambungku yang masih penasaran dengan Ahn Yoo.
"Aku hanya memperkenalkanmu saja dengan ibuku," lanjut Ahn Yoo ringan.
Sontak telingaku terasa panas dan memerah karena tersipu mendengarnya. Bukan hanya itu saja, bahkan aku merasa darah ku mengalir deras ke dalam jantungku.
"Ke-kenapa kamu memperkenalkanku kepada ibumu?" tanyaku ragu dan mencoba tetap terlihat tidak merasakan apapun saat dia mengatakan kalau ingin mengenalkan aku dengan Ibunya.
"Karena kalau kamu lari dari hutangmu, Ibuku bisa menggentayangimu," jawabnya dengan lelucon yang menyebalkan.
Hampir saja aku termakan kata-kata dari Ahn Yoo. Aku pikir dia memperkenalkanku kepada Ibunya karena dia memganggapku spesial. Seperti di drama Korea, kekasih yang membawa wanita-nya pergi kepemakaman ibunya untuk dikenalkan sebagai menantu.
Tapi si gunung es (panggilan ejekan dari Kim Jane Soo untuk Ahn Yoo) ini tidak akan mungkin seromantis itu. Dia itu orang yang dingin dan kaku, jadi wajar saja kalau dia tidak bisa menjadi romantis.
"Dasar gunung es, bisanya cuma membuat kesal saja," gerutuku dengan suara pelan.
"Aku mendengarmu," kata Ahn Yoo yang menoleh ke arah ku.
Aku hanya bisa diam tanpa berkutik ketika mengetahui kalau Ahn Yoo mendengar mulutku yang menggerutui-nya. Sampai di rumah pun aku masih tidak berani membicarai dia.
Malam hari
"Jane!" teriak Bu San memanggilku dari luar dan mengetuk pintu.
"Masuk saja Bu, tidak dikunci," sahutku dari dalam.
Kemudian Bu San mengajakku turun ke bawah untuk makan malam. Hanya Bu San yang menyayangiku, dia sangat pengertian denganku. Bahkan dia tahu kalau aku sangat kelaparan saat ini.
"Bu San kenapa masak? Bukannya Ahn Yoo sudah menyuruh Bu San untuk tidak memasak hari ini?" tanyaku bingung.
"Tidak, Tuan Ji tidak mengatakan seperti itu. Bahkan Tuan Ji yang menyuruh saya untuk memasak, dan memanggil Jane," tukas Bu San sambil menghidangi aku makan malam.
"Dia?!" teriakku kebingungan sambil terpegun.
"Tuan Ji bilang kamu sedang kelaparan, jadi saya disuruh memasak banyak makanan malam ini," kata Bu San dengan jelas.
"Wahhh ... kenapa dia tiba-tiba baik kepadaku, aku curiga dia memiliki niat buruk padaku," kataku sambil memakan kerupuk yang baru saja diletakkan Bu San diatas meja.
"Bukannya Tuan Ji selalu baik padamu?" sambung Bu San dengan senyum di wajahnya.
"Ya ampun Bu San, dia itu tidak baik sama sekali. Dia selalu menyiksaku, dia ingin sekali mencekikku dengan kata-katanya. Mulutnya sangat tajam, hatiku sangat sakit ketika mendendengarnya berbicara," celotehku dengan panjang lebar.
"Jangan keras-keras mengatakannya, nanti Tuan Ji mendengarnya. Takutnya kamu dimarahi lagi," kata Bu San mengingatkanku.
Aku tidak mendengarkan perkataan Bu San sama sekali, aku terus mengoceh dan memaki Ahn Yoo.
"Tidak masalah Bu, lebih baik dia mendengarkan semua yang kukatakan. Biar dia bisa mengoreksi diri, dan mengkontrol mulutnya untuk tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan," sambungku melampiaskan kekesalanku kepada Ahn Yoo.
"Bisakah kau feminim sedikit? Kecilkan suaramu kalau sedang bicara," Kata Ahn Yoo yang baru datang sambil menarik kursi untuk duduk.
Mulutku ternganga karena terkejut dan heran Ahn Yoo datang ke sini. Kenapa dia selalu datang ketika aku mengumpatinya. Aku selalu tertangkap basah olehnya sedang mengumpat tentang dirinya.
"A-A-Ahn Yoo?" sapaku dengan wajah ketakutan dan senyum paksa.
Dia tidak menghiraukanku sama sekali, membuatku semakin jengkel saja melihatnya. Dia mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi dan sedikit lauk.
Aku tidak berani mengambil makanan dari meja ini sama sekali. Aku masih terpegun dengan kedatangannya. Batinku masih shock mengingat aku sedang mengumpatinya tadi. Haruskah dia tiba-tiba datang begitu saja?
"Jika tidak lapar pergi dari sini," ujar Ahn Yoo dingin tanpa melihatku sama sekali. Dia mengatakan itu padaku dengan mata melihat nasi yang ada di depannya.
"Ehhh ... aku makan sekarang." Tanganku dengan cepat mengambil piring dan mengisinya.
"Kenapa nasimu sedikit sekali? Bukannya kau sangat kelaparan tadi," gusar Ahn Yoo.
"Kalau begitu jangan makan saja sekalian, biar badanmu tinggal tulang," cetus Ahn Yoo sambil menatap dingin mataku.
Aku tidak memperdulikannya dan tetap makan dengan nasi sedikit di piringku. Kemudian menghabiskan makanan dan cepat-cepat pergi dari sini, kembali ke kamar.
Aku merebahkan badanku di atas ranjang dan memejamkan mataku. Tapi entah mengapa aku masih belum bisa tidur meski pun sudah dipaksa. Mungkin ini karena perutku belum kenyang, habisnya aku makan terlalu sedikit tadi.
"Lapar, perutku belum kenyang makan nasi yang sedikit itu." Aku merengek karena lapar.
Aku turun ke dapur dan melihat apa yang bisa dimakan di dalam kulkas. Untungnya, ada mie instan di sini. Aku memanaskan air dan menyeduh mie yang ada di kulkas.
"Wahhhh ... enaknya, sudah lama tidak makan mie di tengah malam seperti ini. Huffttz-hufftt." Aku menyeruput mie yang masih panas.
Sekarang perut ku sudah aman, tidak ada gangguan lagi. Aku sudah bisa tidur dengan nyenyak, tenang, dan tentunya dengan perut yang kenyang.
Aku berjalan balik ke dalam kamar sambil memukul-mukul perutku dengan pelan. Saat hendak naik ke atas, aku melihat Ahn Yoo keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar ku.
"Astaga, kenapa dia belum tidur selarut ini?Dan kenapa dia berjalan ke kamar ku?" tanyaku kepada diri sendiri sambil bersembunyi di balik tangga. Aku merunduk dan menyembunyikan diri dari Ahn Yoo.
Aku melihat Ahn Yoo memegang gagang pintuku dan mencoba membukanya. Apa yang dilakukannya? Apa dia sering membuka pintu ku saat malam. Aku semakin curiga dengan Ahn Yoo. Mungkinkah saat sedang tidur dia menyentuh tubuh ku? Kepala ku berisi banyak pertanyaan kenapa dia ingin masuk ke dalam kamar ku.
Aku berlari ke depan pintu kamar ku dan meneriaki Ahn Yoo dengan keras.
"Hey! Ahn Yoo! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Kenapa kau masih di luar selarut ini?" tanya Ahn Yoo balik kepadaku.
"Tidak usah banyak tanya. Sekarang, kenapa kamu berada di depan pintu kamar ku?Jangan-jangan kamu mau melakukan hal buruk denganku, yah?" senggakku dengan keras.
"Apa yang kau katakan?" tanya Ahn Yoo yang tampak bingung.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku ini tidak bodoh, aku melihatmu berjalan ke depan pintuku dan berniat membukanya. Wahhh ... aku tidak menyangka kamu ini psychopat," bentakku dengan nada keras.
Ahn Yoo terlihat semakin bingung, dia hanya diam dan mengerutkan dahinya.
"Kapan aku mau masuk ke dalam kamarmu?" tanya Ahn Yoo sambil mengernyit dahi.
"Kamu tadi mau masuk ke dalam kamar ku!" tukasku dengan suara keras.
"Aku tidak melakukan itu," jawab Ahn Yoo dingin.
"Jadi? Kenapa kamu berdiri di sini?" tanyaku mencoba membongkar kedoknya.
"Aku tadi hanya lewat, dan melihat pintu kamarmu terbuka sedikit. Kemudian aku berniat menutupnya," jawabnya dengan ringan.
"Menutupnya?" Aku ingat kalau tadi karena sesak ke dapur, aku jadi lupa mengunci pintu. Ternyata aku salah sangka padanya. Tapi kalau aku mengaku kalau aku salah sangka, dia akan balik memarahiku, dan menggusariku lagi.
"Dan kenapa kau keluar sudah selarut ini?" tanya Ahn Yoo kepadaku.
"Aku-Aku tadi, tadi merasa haus, jadi pergi ke dapur untuk minum," jawabku berbohong.
"Bukannya Bu San sudah mengantarkan air ke kamarmu sebelum tidur?" Biasanya Bu San memang selalu mengantarkan seceret air putih ke kamar sebelum tidur.
"Iya, tapi aku sudah menghabiskannya," jawabku menipu Ahn Yoo.
"Banyak sekali kau minum. Seperti monster saja," kata Ahn Yoo mengejekku.
"Apa kamu sedang mengejek ku?" tanyaku dengan wajah mengamuk.
"Kau juga mengatakan ku psychopat, jadi biar impas, aku harus mengatai mu juga."
"Dasar kekanak-kanakan." Aku berjalan masuk ke dalam kamar dan meninggalkannya di luar.
Untunglah dia tidak mengamuk karena sudah memarahinya tadi. Tapi Ahn Yoo bertanggung jawab sekali, dia sudah menutupkan pintu ku yang terbuka. Membuatku semakin kagum saja dengannya.
Setelah masuk dan mengunci pintu kamar dengan rapat, aku langsung menghempaskan badan ku ke atas ranjang. Aku mulai terlelap sambil memikirkan Ahn Yoo. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan sifat Ahn Yoo yang berubah-ubah. Aku sedikit lebih mengerti tentang dirinya sekarang.
**Bersambung ...
**UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**