SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 68



"Aku tidak akan melepaskan mu," jawabnya memaksa. Bahkan dekapan itu semakin erat hingga nafasku tertahan.


"Lepaskan aku ... kumohon, jangan ... jangan pernah muncul lagi di hadapanku, aku mohon ... aku mohon," pintaku dengan isak tangis yang terus membasahi pipi.


"Aku tidak akan melepaskan mu," balas Ahn Yoo lagi memaksa untuk terus menahanku dalam dekapannya.


"Argh! Menjauh dariku!" bentakku dengan keras.


Aku melepaskan tangannya dari pelukan itu, lalu dengan keras menampar wajahnya. Bahkan tangan yang ku gunakan untuk menampar wajahnya itu terasa panas, apalagi pipinya yang lembut. Tentu akan sangat sakit, tapi kekecewaan ini lebih sakit daripada yang kulakukan padanya.


"Aku memang tidak ada artinya bagimu, tapi apa kamu tahu kalau aku juga punya hati?! Aku juga wanita, aku punya perasaan. Setiap hari kamu selalu memupuk perhatian padaku, tapi dengan mudahnya berpaling? Jika kukatakan kalau aku cemburu, tapi aku tidak pantas. Jadi jangan membuat aku semakin mencintai mu!" kataku panjang lebar mengeluarkan semua emosi dan kekesalan yang disebabkan rasa tidak mampu untuk memiliki.


"Kenapa tidak katakan kalau kau cemburu? Itu lebih mudah," sambung Ahn Yoo.


"Aku cemburu! Aku cemburu! Aku cemburu! Apa sudah puas sekarang?! Jadi jangan ...."


Ahn Yoo membungkam mulutku dengan ciuman yang begitu ganas. Dia menggigit bibirku dengan kuat hingga aku merasa kesakitan. Dia tidak mau melepaskan ciumannya dari bibirku, padahal sudah kupaksa agar dia melepaskan gigitannya. Dia semakin kencang menggigit bibirku saat kucoba untuk melepaskan diri darinya. Aku menepuk bahunya agar segera menjauh dariku. Namun dia tetap ******* bibirku dengan bringas. Setiap sisi bibirku dikecupnya dengan hasrat yang tinggi. Matanya tertutup seakan sedang menikmati setiap gerakan yang dilakukannya. Nafasnya yang terasa berat menyanyikan irama ciumannya. Hingga aku berhenti mencoba melepaskan diri, barulah dia berhenti mengecup ku.


"Dengarkan aku," pinta Ahn Yoo dengan wajah serius dan tangan yang masih memegang bahuku dengan kedua tangannya.


Dia mengatakan kalau tadi memang menungguku pulang dari Shanghai, bahkan dari jam 7 malam. Namun aku belum juga pulang, akhirnya dia memutuskan untuk membeli beberapa makanan untukku nanti. Tidak sengaja mereka berpapasan di koridor. Saat itu tidak ada terjadi apa pun. Seperti biasa, Xia Len menyapa lalu Ahn Yoo hanya mengacuhkan dirinya.


Lalu ketika dia pulang dan menunggu aku pulang, suara bel pintu berbunyi. Dia mengira itu adalah aku, jadi dia membukanya. Dia juga sempat heran mengapa aku menggunakan bel sebelum masuk, bukankah biasanya aku lagsung masuk tanpa aba-aba? Namun dia tetap membukanya.


Tidak disangka yang masuk adalah Xia Len. Awalnya Ahn Yoo tidak membiarkannya masuk begitu saja, tapi Xia Len yang licik itu mengatakan kalau aku meminjam hairdryer miliknya, itulah sebabnya bajunya terbuka seperti orang yang akan bercumbu, alasannya karena habis mandi. Padahal aku sama sekali tidak pernah meminjam hairdryer. Bahkan aku tidak pernah menggunakan benda aneh itu.


Karena Ahn Yoo tidak tahu meletakkan dimana, dia lama mencari benda pembawa masalah itu berada, dan dengan lancang Xia Len masuk ke dalam tanpa permisi dan tidak diizinkan masuk oleh Ahn Yoo. Dia menutup pintu dan setelah dia mendengar suara langkah kakiku, dia menarik paksa Ahn Yoo lalu memeluknya dengan erat. Dia juga sengaja menunjukkan raut seperti sedang bercumbu dengan pria agar memantapkan akting buruknya.


Setelah Ahn Yoo tahu kalau aku datang, dia langsung menolak Xia Len dan memecatnya. Dia bahkan menyuruh agar setiap perusahan melakukan blacklist Xia Len dalam industri perfilman atau industri lainnya.


Karena saat itu dia ingin menghajar wanita itu, tapi mendadak aku pergi dengan mata yang dibasahi pilu. Akhirnya dia lebih memfokuskan padaku.


"Kenapa timingnya tepat sekali?" tanyaku yang masih merasa janggal dengan cerita Ahn Yoo.


"Dia menunggumu," jawab Ahn Yoo singkat.


Aku baru ingat kalau sebelum pergi mengatakan kalau dalam dua hari baru kembali. Ternyata dia sudah merancang segalanya dengan upaya cukup memuaskan. Tapi dia terlalu bodoh karena ingin mengakali Ahn Yoo.


"A-Aku ti-tidak ... aku ingin ... aku ... maksudnya, aku tidak mau tinggal lagi di sini," ucapku merasa canggung sekaligus merasa bersalah karena salah menilai Ahn Yoo. Aku juga malu dengan diriku sendiri karena sudah melakukan hal bodoh. Menampar wajahnya, membentak keras dan yang paling memalukan sudah mengatakan kalau aku cemburu. Bukankah itu sama saja dengan mengungkapkan perasaan? Aku menyesal sudah mengatakannya.


"Kau kembali ke rumah," sambung Ahn Yoo.


Aku tidak menjawab satu patah kata pun dan tidak berani menatap wajahnya. Sangat memalukan. Aku sudah mengungkapkan perasaan ku padanya. Namun dia bersikap seolah tak terjadi apa pun. Tentu saja membuatku merasa menyesal sudah mengucapkan itu.


Ahn Yoo yang sudah tersadar dengan sikapku malah menyuruh untuk tersenyum. Dia mengajariku cara tersenyum padahal dirinya saja sangat jarang tersenyum.


"Kenapa tidak jalan?" tanya Ahn Yoo yang sudah memegang tanganku tapi belum juga mengikuti langkahnya.


"A-Aku masih canggung," jawabku sambil menunduk.


Dia mengacak-acak rambutku lalu menyorot tajam mataku. Dia bahkan menunduk searah dengan tinggi kepalaku lalu meniup mataku yang sembab karena air mata yang mengalir terus menerus.


"Aku mencintaimu," ungkap Ahn Yoo sambil tersenyum tipis. Matanya terlihat tulus dan serius saat mengatakannya padaku. Hingga aku tidak sadar kalau pipiku mulai memanas dan memerah karena malu. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Aku tidak percaya kalau Ahn Yoo mengungkapkan perasaan padaku. Dia memelukku lalu merangkulku dan menuntun ku berjalan menuju mobilnya.


"Maafkan aku." Hanya kata itu saja yang bisa ku ucapkan pada Ahn Yoo saat ini. Bahkan di dalam mobil sekali pun, aku berulang kali meminta maaf padanya.


Mataku yang sudah lelah dari tadi menangis terus malah terasa berat hingga tidak sadar kalau tertidur pulas di dalam mobil. Aku tidak tahu kondisi apa yang sedang kami hadapi, tapi dengan tenang aku bisa tertidur di mobil ini.


Saat masih setengah tidur, aku mendengar Ahn Yoo mengatakan kalau dia heran pada dirinya sendiri mengapa bisa jatuh cinta dengan wanita bodoh sepertiku. Bahkan satu pun sikap dariku tidak termasuk dalam kriteria wanita idamannya. Tapi dia malah jatuh hati padaku.


Begitu juga aku, mengapa bisa mendapatkan cinta dari CEO kaya, baik, terkenal, tampan dan sebaik dia. Meskipun ada beberapa sikapnya yang menjengkelkan, contohnya saja kebekuan hatinya dan kekauan wajahnya, sudah membuatku jengkel. Tapi dengan cover seperti itu, aku merasa dia adalah pria yang hangat dan romantis. Dia memiliki cara sendiri untuk membuatku bertahan berada di sisinya.


***


"Huaaaah." Aku bangun pagi dan menguap sambil meregangkan otot-otot tubuhku. Aku sedikit pegal pada bagian pinggang dan tangan.


Saat menyadari kalau aku di rumah Ahn Yoo tepatnya di kamar psikopat dingin itu. Aku tidur di ranjangnya yang dipenuhi wangi tubuhnya.


Aku langsung memeriksa bajuku apa masih utuh atau telah dilucuti pria tak berperasaan itu. Aku harus memastikan kalau dia tidak melakukan hal senonoh padaku. Dia mengambil kesempatan dalam kelonggaran atas diriku.


"Kenapa kau panik seperti itu?" tanya Ahn Yoo yang tiba-tiba sudah berdiri di depan ku. Dia tampaknya baru saja selesai mandi. Buktinya rambut yang masih basah karena habis keramas dan wangi tubuhnya yang menggoda.


"Eh ... ehm ... eh itu, a-aku mau kerja," ucapku gugup lalu mencari celah agar bisa keluar dari rasa canggung antara kami.


Lalu dia duduk di sampingku dan memberikan sebuah kertas. Dia menyuruhku untuk membacanya.


Setelah kubaca, ternyata isinya adalah surat peralihan tugas ke perusahaan Ahn Yoo. Ji Seon secara tidak langsung mengusir dan memecat ku dari perusahaannya. Tidak mungkin dia melakukannya karena kehendak sendiri, pasti ini adalah ancaman dari Ahn Yoo.


"Kamu yang ...."


Belum sempat aku mengamuki Ahn Yoo, dia langsung menimpal kalimatku. Dia mengatakan kalau Ji Seon sudah pergi kembali ke Shanghai, jadi dia sudah mengatur semua. Baik itu peralihan tugasku dan yang lannya. Dia pulang mendadak karena akan segera ditunangkan dengan wanita yang berada di kota ayahnya berada itu. Jadi dia harus pergi hari ini.


Dia menjauhi ku ternyata karena sedang menjaga hati seseorang, itu sebabnya dia terlihat seperti mengelakkan sesuatu dariku. Kalau tahu dia akan bertunangan pasti tidak akan kubiarkan tinggal dalam satu hotel kemarin.


"Kenapa dia tidak katakan padaku?" tanyaku kebingungan.


Karena kesal dengan yang dikatakannya, aku melempar bantal ke arahnya agar berhenti bicara dan tidak banyak bicara yang mengarah ke gombal murahan.


Tidak tahu kalau dia sebenarnya adalah Tuan Ji yang terhormat dan dihormati setiap orang, aku malah dengan lancangnya melempar dan membungkam mulutnya dengan bantal.


"Hahahahaha," kelakarku tertawa terbahak-bahak melihat wajah marah Ahn Yoo saat kulempar dengan bantal.


"Apa Nyonya Ji ingin mendapat perhatian dariku?" tanya Ahn Yoo menggodaku.


Dia membuatku semakin malu saja. Untuk apa juga dia mengatakan kalau aku ini adalah Nyonya Ji. Aku masih bermarga Kim, bagaimana mungkin menjadi Nyonya Ji.


Satu bulan kemudian ...


~Acara pertunangan Ji Seon, Shanghai~


"Ji Seon! Kamu kurang ajar sekali tidak memberitahu kalau akan bertunangan, dasar. Untung saja calon istri mu cantik, kalau tidak sudah ku gantikan posisinya," tuturku pada Ji Seon setelah melihatnya berada di samping calon istrinya yang anggun dan terlihat pendiam.


"Bisa tidak jangan teriak, setidaknya jaga harga diri Ahn Yoo," decak Ji Seon mengingatkanku.


"Hmmm? Aku tidak memaksanya untuk ikut kemari, bahkan aku suruh dia agar tidak ikut," jawabku. Untung saja Ahn Yoo masih sibuk dengan kenalannya di sana, kalau tidak dia akan mengamuk dan menyuruhku pulang. Aku sudah berjanji tidak akan genit dengan laki-laki lain terkecuali dirinya. Kalau tidak, aku harus terima resiko yang memalukan.


"Ji Seon, huaa ... aku kira kamu akan melajang sampai tua. Ternyata kamu lebih dulu tunangan daripada aku, huaaa," celetukku sambil menangis tanpa mengeluarkan air mata.


"Jangan alay, diam," ledek Ji Seon.


"Jane Soo, aku kira kamu menyukai Ji Seon, oleh sebab itu aku sempat cemburu denganmu. Maafkan aku. Apalagi saat tahu kala kalian satu kamar saat itu, aku sangat marah," ungkap Tunangan Ji Seon sambil meminta maaf berulang kali.


Saat aku sibuk mengatakan kalau itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan, tiba-tiba Ahn Yoo ada di belakang ku sambil menunjukkan raut wajah tidak senang. Aura yang dipancarkan olehnya sangat tidak baik, inilah yang dinamakan kecemburuan dari seorang yang posesif.


Untuk menghindari kejadian yang menyebababkan kericuhan di tempat ramai seperti ini, apalagi ini adalah pesta Ji Seon, aku harus menjagakan amukan dari Singa betina yang akan mengamuk ini.


Aku memengan tangannya langsung lalu tersenyum dengan wajah yang manis untuk menggodanya. Aku menariknya jauh dari Ji Seon dan mengajaknya minum atau makan.


"Katakan padaku," perintah Ahn Yoo dengan marah.


"Cerita apa? A-Aku tidak tahu maksudmu," jawabku berpura-pura bodoh.


"Jangan paksa aku mengatakannya dua kali," ancam Ahn Yoo.


Untung saja aku ini sudah bisa mengendalikan emosi Ahn Yoo yang suka berubah dengan cepat. Dengan berani aku berjinjit lalu mencium pipi Ahn Yoo. Lalu membisikkan ke telinganya kalau aku akan menjelaskan masalah ini nanti, saat pesta sudah selesai. Untung saja suaraku sangat menggoda, kalau tidak bagimana mungkin bisa seorang Ahn Yoo yang dingin bisa tergoyahkan.


-------------------------------------------


🌺 THE END🌺


-------------------------------------------


Terima kasih,🙆🏻‍♀️


Untuk para readers🧕🏻🙋🏻‍♂️🙎🏼‍♀️ dan authors 👌🏻yang selalu mendukung cerita ini. Terutama untuk like 👍🏻, komen🤬 dan vote 🤭yang kalian berikan.


Buat para readers yang masih menginginkan cerita ini lanjut ke seoson dua, bisa tinggalkan komen🕺🏻. Karena author ingin tahu apa kalian sangat menyukai cerita ini🤷🏻‍♀️. Kalau yang menginginkannya tidak ada😭🤧 terpaksa ceritanya hanya berhenti sampai sini saja.


Untuk author yang lain, jangan lupa semangat buat melukiskan cerita pada karya kalian🤧, karena ada orang yang selalu menunggu update dari kalian.


Sfx: (Sama kayak aku lagi nunggu SanManHua up komiknya yang cetar membahana) bhuahahahah🤣🤣.


↑↑↑↑


Jangan hiraukan suara hati author yang lagi curhat,ok!


-------------------------------------------


Terima kasih.


-------------------------------------------


Mungkin ada yang penasaran 🤤, mungkin sih, mungkin🙄. Hehehe🤣.


Kenapa ceritanya menggantung seperti dia menggantung cinta ini? Jawabnya karena sebentar lagi author akan disibukan dengan pertempuran melawan kemalasan yang sudah awet di dalam diri🤦🏻‍♀️. Alias sibuk ujian masuk PTN. Makanya jarang up, alasannya yah karena masalah di atas. Jadi untuk cerita author yang satunya lagi untuk sementara tidak bisa dilanjut.


Sfx:( Bacod banget sih author)± suara hati pembaca.


Yah, itulah alasannya. Jadi kalau kalian banyak memberi dukungan agar author malang ini bisa semangat menulis dan membagi waktu yang senggang, eh maksudnya yang sempit ini untuk melanjutkan ceritanya. Mungkin akan diusahakan. Karena kalian adalah koentji.


Alay banget sumpah!🙄🙄


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih, kalau ada kesalahan dalam penulisan, author minta maaf. Apalagi typo yang semena-mena mengganggu mata pembaca saat menikmati tulisannya. Kekhilafan author memang banyak. Jadi nggak tahu letaknya ada dimana. Apalagi kalau suka bolos up, mungkin ada yang geram🤣🤣. Maaf yah.


🦄🐾