SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 35



Apa ketulusan yang tampak diberi Ahn Yoo kepadaku selama ini merupakan sebuah hal yang nyata, atau hanya cara untuk melampiaskan ketidak mampuannya. Aku khawatir setelah menaruh sebagian diriku kepadanya, dia akan berbalik memilih dan menatap orang lain. Aku tidak akan sanggup, aku tidak ingin kecewa karena terlalu percaya lagi. Biarlah Pamanku adalah kesalahan, tapi jangan untuk kedua kalinya hal itu terjadi. Aku tidak ingin Ahn Yoo merupakan kesalahan dalam hidupku lagi.


Semua kehangatan yang selalu dikerahkahnya selama ini, aku anggap hanya sebagai permainan saja. Meskipun tahu kalau aku pasti tidak akan bisa membohongi perasaan sendiri. Lambat laung, hati tidak akan bisa berdiam diri untuk selalu mengubur semua rasa yang dimiliki.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Ahn Yoo," gumamku dalam hati sambil menutup mata dan menikmati hangatnya ciuman darinya.


Ahn Yoo berhenti menciumku dan memelukku dengan erat.


"Aku selalu sendiri dari dulu, sampai kau datang. Hanya kau yang berani membentakku dan menganggapku sama seperti orang lain, tidak menyanjungku sama sekali. Tidak menjilat seperti orang lain, dan lancang padaku," kata Ahn Yoo yang menyandarkan dirinya di pelukanku.


Ingin sekali membalas pelukannya ini dan menepuk pelan bahunya agar dia bisa lebih tenang. Namun, aku tidak berani melakukannya.


"Jangan tinggalkan aku lagi seperti Ibuku meninggalkanku," Ahn Yoo menatap mataku dan kembali memelukku.


Aku tidak menyahut Ahn Yoo.


"Kau mengerti tidak?" tanya Ahn Yoo.


"Aku ... aku berjanji," balasku dengan memeluknya dengan erat.


Ahn Yoo selama ini selalu memendam dan menyimpan semua yang dialaminya sendiri. Tidak pernah berbagi keluh kepada orang lain. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengannya seperti sedang berteman dengan sebatang pohon.


"Apa benar kau belum pernah berciuman sebelumnya?" tanya Ahn Yoo dengan melepaskan pelukannya dan metap mataku langsung.


"I-I-Iya," jawabku gugup.


"Apa kau memang sepolos itu? Aku tidak yakin," ujar Ahn Yoo tidak yakin sama sekali.


"Apa kamu pikir aku sama seperti wanita jahat di sana, ha?" Kataku dengan bibir mengerut.


"Pantas saja bibirmu masih kaku," ejek Ahn Yoo kepadaku.


Aku langsung memegang bibirku dan mencoba merasakan apa benar bibirku kaku.


"Kaku? Tapi rasanya sama saja. Tidak kaku sama sekali," jawabku polos dengan jari memisat bibirku.


Ahn Yoo sialan ini kemudian hendak mencium bibirku lagi, tapi aku langsung menutupnya dengan kedua tanganku.


"Lepaskan tanganmu," perintah Ahn Yoo sambil mencoba menurunkan tanganku.


Aku menggelengkan kepala tanda tidak mau dan tidak akan melepaskan tanganku. Bodohnya, Ahn Yoo malah menggelitiki perutku sampai aku merasa geli.


Aku berlari dengan tangan yang masih menutup bibir menjauhinya. Namun, Ahn Yoo menarikku dan memegang kepalaku sampai tidak bisa berlari lagi.


"Dasar anak kecil," decak Ahn Yoo menggelengkan kepalanya.


Tok-Tok-Tok!


Suara ketukan pintu Ahn Yoo.


"Tn. Ji!" Itu Bu San yang mengetuk pintu. Kalau Bu San tahu aku ada di sini, dia bisa salah paham nantinya. Gawat, aku harus sembunyi, kalau tidak Bu San akan menggodaku dengan ejekannya.


"Jangan dibuka dulu," bisikku kepada Ahn Yoo.


Aku mencari tempat persembunyian karena takut tertangkap basah Bu San berdua dengan Ahn Yoo. Untung saja Ahn Yoo mempunyai ruangan rahasia di sini. Aku tidak perlu khawatir Bu San akan menemukanku.


Aku masuk ke dalam dan menyuruh Ahn Yoo untuk tidak mengatakan kalau aku ada di kamarnya.Aku bersembunyi di ruangan rahasia Ahn Yoo. Ketika aku masuk, semua yang ada di sini tidak berubah sama sekali, dan tidak menemukan sesuatu yang baru di sini. Semua sama persis seperti ketika aku masuk pertama kali.


***


Sudah sangat lama, tapi Ahn Yoo belum juga datang membuka pintu ini, aku tidak bisa membukanya. Kalau dia tidak ada aku akan terkurung di sini selamanya.


Sayangnya ruangan ini kedap suara, berteriak menggunakan toa pun tidak akan terdengar keluar. Cara terakhir adalah dengan menelponnya dan mengatakan kalau aku tidak bisa keluar.


Namun sayang ponsel Ahn Yoo tidak aktif, mungkin sedang lowbat. Terpaksa aku harus menunggunya membuka pintu ini.


Selagi menunggu Ahn Yoo membuka pintu, aku membaca salah satu buku yang ada di sini. Semua buku yang tersusun tidak satu pun yang menarik bagiku. Tapi aku melihat sebuah album photo di barisan buku-buku ini.


Aku mengambil dan melihat-lihat isinya, ternyata di sini terdapat photo Ahn Yoo saat SMA. Ada Lee Kang Joon, Hyun In dan gadis yang tidak ku kenali sama sekali. Mereka ber-empat sangat akrab di sini, Ahn Yoo dan Kang Joon juga. Mereka terlihat seperti bersahabat, tidak seperti sekarang. Mereka selalu bertengkar, asal bertemu bertengkar.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah berlalar menunggunya membuka pintu ini," decakku.


Sudah hampir sore Ahn Yoo belum juga datang, aku sudah membatu menunggunya. Aku juga sangat mengantuk. Hitung-hitung menunggunya lebih baik aku tidur saja di ranjang ini. Mungkin Ahn Yoo memiliki urusan mendadak sehingga tidak sempat membukakan pintu.


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan menunggu Ahn Yoo membuka pintu. Sangat membosankan, aku ingin tidur dan menikmati suasana yang ada di dalan ruangan ini.


Tidak lama kemudian aku mendapatkan pesan dari Ahn Yoo.


 


Gunung es:


 


Aku lama pulang hari ini,


Hyun In sedang sakit.


 


 


Pantas saja dia tidak membuka pintu, soalnya Ahn Yoo sedang pergi menemui Hyun In. Kenapa lagi dengan gadis itu? Selalu bikin masalah saja.


Aku:


 


Aku terkurung di sini,


Cepat kembali.


 


Tidak lama kemudian, Ahn Yoo menelponku.


"Kau tunggu saja, sebentar lagi aku pulang."


"Aku sudah membusuk menunggumu," decakku ketus.


"Hyun In over dosis, dia memakan semua obatnya sekaligus sampai habis," ujar Ahn Yoo menjelaskan.


"Astaga, Hyun In nekat sekali. Itu juga gara-gara kamu. Coba saja kamu menerima dia, pasti hal ini tidak akan terjadi," kataku meski hatiku terasa sakit.


"Jangan memancingku," ucap Ahn Yoo memperingati.


Aku langsung menutup panggilannya dan menidurkan mataku sampai Ahn Yoo datang. Aku harap waktu tidak akan terasa jika sudah tidur. Dan nanti ketika bangun, Ahn Yoo sudah pulang.


"Aku cemburu melihatmu sangat khawatir dengan Hyun In, padahal tadi dia bilang menyukaiku. Ternyata semua hanya omongan manis belaka dari mulut manisnya," umpatku karena merasa sedang dikhianati.


Aku hanya memikirkan Ahn Yoo dan mengumpatinya. Kenapa dia tidak membuka pintu dan mengeluarkan aku dari sini lalu pergi menemui Hyun In. Apa wanita itu sangat membuatmu cemas sampai sedetik pun tidak boleh terlewat untuknya. Satu kata untuk hatiku yang terluka karena kecewa adalah tegar.