SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 50



Kini malam semakin larut, mataku tidak mengantuk seperti biasanya. Mungkin karena masih berkumpul dengan mereka hingga mataku enggan untuk terlelap. Padahal kakiku masih saja terasa sakit karena naik bitis, tapi sedikit berkurang karena mereka. Tiba-tiba mulut bodohku terbuka dan menguap, hingga Ibunya Hendry mengira kalau aku sedang mengantuk.


"Jane Soo, kamu sudah mengantuk?"


"Ha? Tidak. Aku hanya butuh banyak oksigen makanya jadi menguap. Bukan karena mengantuk," jawabku mengelak.


"Hmmm? Kita pulang saja. Besok Kakakmu akan bekerja," sambung Ibunya Hendry sambil menggendong anaknya itu keluar dari apartemen ini.


"Tidak, aku tidak mengantuk. Kalian tidak perlu buru-buru pergi," tambahku seperti menghadang mereka. Aku masih ingin kehangatan ini di apartemen sepi ini. Kalau mereka pergi, rasanya akan berubah menjadi kabung.


"Kamu sedang melarang aku dan Hendry, atau sedang melarang Jiyu?" Ibunya Hendry ini mulai menjahili lagi. Kalau tidak mengusili orang lain, dia mungkin tidak bisa tenang.


"Cepatlah! Aku sudah bosan berada di sini," rutuk Ahn Yoo.


Dia tidak ingin berlama-lama denganku, kah? Dan yang paling kejam adalah saat dia mengatakan kalau dia sangat bosan berada di sini. Apa dari tadi dia sudah menahan diri untuk tetap di sini dengan suasana hati yang buruk?


"Apa aku bisa menginap di sini dengan Kakak?" tanya Hendry pada Ibunya yang tengah menggendong dirinya.


"Apa kamu lebih rindu Kakakmu dari pada Mamimu ini?" tambah Ibu Hendry padanya.


"Besok aku akan ke sini lagi, ok? Paman yang akan mengantarkan ku" sambung Hendry meminta.


"Tidak," ucap Ahn Yoo tegas menolak.


"Mami ... Paman tidak mau mengantarkan aku," rengek Hendry mengadu pada Ibunya.


"Mami dan kamu akan pergi ke tempat aunty yang ada di Cina. Jadi besok tidak bisa datang ke tempat Kakak. Setelah kita pulang baru Paman akan antarkan kamu, ok?" jelas Ibu Hendry.


Artinya kemungkinan aku dan Ahn Yoo bisa bertemu sangat kecil. Kalau Hendry tidak ada, maka bisa jadi Ahn Yoo tak akan menginjakkan kakinya ke tempat ini. Lagi pula, kalau tidak ada Hendry, aku harus dengan siapa mengobrol dan menghabiskan hari? Apa aku harus tidur dari pulang bekerja sampai pagi tiba?


"Dia tidak akan ku antar ke sini," gerutu Ahn Yoo.


Kesimpulannya, Ahn Yoo tidak akan datang lagi ke sini? Apa dia tidak akan menemuiku lagi setelah ini? Aku belum bisa mengerti apa yang membuat orang ini semarah itu padaku. Saat kutanyakan padanya dia tidak menjawab sama sekali. Dia malah mengelak dariku.


"Kami pamit, Jane Soo. Semoga tidur malam ini nyenyak. Dan jangan lupa dengan yang kukatakan tadi saat memasak," ucap Ibu Hendry padaku dan berpamintan kemudian.


Mereka ku antarkan sampai depan pintu saja. Tidak mungkin sudah selarut ini aku masih mengantarkan mereka sampai depan parkiran.


Setelah mereka tidak terlihat lagi, aku masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Lalu membaringkan tubuh yang tidak ada gairah karena tahu Ahn Yoo tidak akan pernah lagi datang ke apartemen ku.


***


Pagi hari sekali aku sudah bangun dan langsung berangkat bekerja agar tidak terlambat lagi. Yang ada kalau aku lama, lift akan full dan aku terpaksa harus menaiki tangga darurat lagi. Itu tidak aka terjadi untuk yang ke-dua kalinya.


Tepat sekali, hari ini aku datang lebih awal. Semua masih sepi, hanya beberapa karyawan saja yang sudah datang ke perusahaan ini.


Aku langsung memasuki ruangan Ji Seon dan menunggunya di sana. Semalan dia sudah memberikan aku kunci agar bisa membuka pintu ini kalau dia datang lama ke kantor.


Aku sedikit membersihkan ruangan ini dan mengatur tempat ini agat terlihat rapi dan enak dipandang mata. Semua berkas yang berantakan, ku rapikan lalu ku susun ke tempat semula dan seharusnya.


Lima belas menit berlalu, Ji Seon belum juga datang. Mungkin saja dia datang terlambat hari ini. Untuk mengisi waktu kosongku ini lebih baik menelpon Ahn Yoo dan menanyakan apa dia masih marah padaku.


Aku mengirim pesan padanya tanpa memanggilnya terlebih dahulu. Agar terlihat lebih serius. Di pesan itu ku tuliskan kalau aku ingin bertemu dengannya di cafe D'cof yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan Ji Seon. Dan aku memilih jam 2 agar dia selesai bekerja dulu baru datang ke cafe itu.


Meskipun dia tidak membalas pesan yang ku kirim itu, aku berharap dia setuju walau hanya dengan dibaca saja.


"Jane Soo, kenapa wajahmu terlihat tidak bersemangat?" Ji Seon datang tiba-tiba dan langsung mengagetkanku dengan kemunculannya itu. Bahkan ponsel yang ku pegang sampai terjatuh karena kaget. Untung saja jatuhnya tidak ke lantai, alu aku minta ganti rugi padanya.


"Tidak ... tidak ada. Aku hanya lelah karena menunggumu," jawabku mencari-cari alasan.


"Maafkan aku karena datang lambat dan lupa memberi tahukan padamu. Lain kali aku pasti akan mengabarimu kalau aku datang terlambat," timpal Ji Seon.


"Maksudku bukan begitu. Aku tadi lelah membersihkan ruangan ini, hahahah. Bukan karena kamu," tukasku.


"Iya, aku mengerti. Tapi lain kali kamu tidak usah membereskan tempat ini. Ada OB yang membersihkan ruangan ini," sambung Ji Seon.


"Iya. Lalu tugasku hari ini apa?" tanyaku.


"Kamu hanya perlu melatih tanganmu untuk memainkan game yang baru saja kita luncurkan. Karena aku yakin kamu sangat ahli dalam bidang itu," perintan Ji Seon dengan halus.


"Baiklah. Aku akan mengusahakan agar bisa secepat mungkin bisa mahir," anggukku menerima tugasnya


Ngomong-ngomong tugasku semudah dan sesantai itu, kah? Hanya perlu duduk diam di ruang yang nyaman ini sambil bermain game. Padahal kalau dikira-kira gajiku sangat besar hingga yang kulakukan tidak sesuai dengan bayaran yang setinggi itu. Tapi aku tidak perlu terlalu memikirkannya. Intinya aku bisa bekerja dan memiliki uang sendiri. Tidak perlu meminta-minta pada Ahn Yoo seperti dulu. Apa pun yang ku inginkan harus minta dengan dia. Sekarang karena sudah punya pekerjaan sendiri. Aku jadi sedikit merasa mandiri dan tidak perlu bantuan banyak dari Ahn Yoo lagi.


Sepanjang pagi hingga siang, yang kulakukan hanyalah bermain game dan tidak melakukan hal lain. Ji Seon jug tidak menyuruh ku untuk berbuat sesuatu. Dia sibuk dengan tugasnya dan tidak terlalu memperdulikan aku yang tengah asyik bermain perang-perangan dalam game ini.


"Hahaha ... terlalu e-a-s-y." Aku meremehkan lawan mainku, hingga mengeluarkan suara bising. Aku terlalu terbawa dalam suasana seru dalam game. Sehingga lupa kalau tempatku sekarang adalah di kantor bersama dengan direktur pemilik game itu sendiri.


Aku melirik Ji Seon sedikit dan melihat apakah dia merasa terganggu dengan kebisingan yang ku buat. Namun, dia malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya ketika melihatku.


"Ma-Maaf aku terlalu terbawa jadi ... jadi tidak sadar kalau kamu ada di sana." Aku meminta maaf berkali-kali pada Ji Seon.


"Apa lawanmu tidak ada yang kuat?" tanya Ji Seon.


"Ha? Oh ... iya," jawabku.


"Kalau begitu kita saja yang duel," tantang Ji Seon mengajakku bermain game.


"Ha? Kamu? Maksudmu kita bermain game?" tanyaku lagi untuk memperjelas.


"Iya," angguknya mengiyakan.


Dia mau bermain game? Apa ada direktur yang selalai ini? Tapi anggap saja kalau dia juga ingin merasakan bagaimana masuk dalam arena perang dalam game. Apalagi game ini adalah miliknya. Aku hanya bisa diam dan tidak mengomentari Ji Seon.


"Baiklah, besok kita perang," sambung Ji Seon.


"Hahahaha," responku tertawa terbahak-bahak.


"Ada apa denganmu?" tanya Ji Seon keheranan.


"Kamu bilang kita akan perang. Tentu saja aku tertawa. Bayangkan bagaimana kalau kita perang? hahahaha." Aku tertawa sereceh itu padahal tidak ada yang lucu. Salahkan saja kenapa kepalaku ini terlalu cepat berimajinasi, hingga semua yang dikatakan orang lain akan langsung kubayangkan.


"Apa ada yang lucu?" tanya Ji Seon yang masih bingung.


"Hmmm? Tidak ada, hahahah." Aku belum bisa berhenti tertawa karena hal sepele yang diucapkan Ji Seon baru saja.


"Kamu lucu sekali," ucap Ji Seon.


"Ha? Eh? Ekhem," dehemku lalu berhenti tertawa.


Dia tersenyum kecil melihat tingkahku. Namun dengan dia seperti itu aku jadi gugup saat ini. Seharusnya dia tidak perlu seperti itu agar suasana tidak terlalu canggung bagiku. Aku tutup mulut dan tidak melakukan apa pun sampai Ji Seon memulai pembicaraan.


"Kita pulang," kata Ji Seon sambil melihat jam yang dipakainya lalu berdiri dari kursinya.


"Secepat ini? Bukannya sepuluh menit lagi baru pulang?" tanyaku keheranan.


"Kamu terlihat sedang ingin cepat pulang dari sini," jawab Ji Seon.


"Oh? Ma-Maaf," sahutku sambil menunduk.


"Kamu kuantar pulang?" tanya Ji Seon sekalian mengajak aku untuk pulang bersama.


"Aku ada urusan sebentar dengan temanku di sana. Jadi tidak perlu antarkan," jawabku menolak ajakannya. Aku sudah membayangkan bagaimana reaksi Ahn Yoo kalau dia melihatku


"Owh ... baiklah, aku maklum. Karena kamu memang sibuk setiap hari. Selalu saja ada urusan," tambah Ji Seon.


"Maksudnya?"


"Bukannya semalam kamu juga ada urusan sebentar menjemput anak dari tante saudara bibimu perempuan?"


"Ha? Oooh iya. Memang benar semalam aku menjemputnya," jawabku gugup.


"Ok, kalau begitu kamu bisa jalan pulang lebih dulu," suruh Ji Seon memperbolehkanku pulag lebih dulu.


Aku mengangguk lalu keluar dari kantornya dan berjalan langsung ke cafe yang ku janjikan dengan Ahn.


Namun saat perjalanan ke sana, aku melihat ada seorang wanita yang sedang membawa belanjaan yang banyak sekali. Kemudian tas belanjaan yang dijinjingnya itu pun rusak hingga semua buah yang ada di sana berteteran di jalan yang memang agak sepi. Aku langsung berlari lalu menbantunya mengutip semua buah itu.


"Biar ku bantu bawakan sebagian belanjaan ini," ucapku lalu mengambil sebagian tas yang sedang dijinjingnya.


"Ah? Terima kasih. Aku jadi merepotkanmu," sahut wanita itu merasa segan.


"Tidak masalah, kamu terlihat sangat kesusahan karena barang bawaan sebanyak ini," lanjutku.


"Iya, aku sangat sibuk mengurusi pekerjaan rumah. Suamiku agak banyak permintaannya jadi aku harus menyiapkan semua. kalau tidak dia akan mengamuk dan menyuruhku untuk menebus kesalahan itu," jelas wanita ini. Wajahnya terlihat masih muda, tapi dia sudah menikah. Apa dia menikah dengan usia semuda itu? Usia kami terlihat sama.


"Kamu kalau salah dengan suami aka kena hukuman?" tanyaku yang seperti sedang belajar pada orang yang berpengalamn.


"Iya, dia akan menghajarku habis-habisan," jawabnya sambil tertawa lucu.


Bodohnya aku mengira dia dihajar dengan cara diperlakukan dengan kasar oleh suaminya. Aku bahkan sempat merasa iba melihatnya. Tapi maksud wanita ini dengan kata 'menghajar habis-habisan' adalah ...


"Apa suamimu sangat kasar? Kenapa tidak ceraikan saja?" tanyaku dengan rasa iba yang berlebih melihatnya.


"Hahahah ... maksudku bukan dihajar karena dipukuli. Tapi hajar dengan ciuman kasar dan liar, lalu dia akan menghukumku dengan permainan malam yang mengerikan," tukas wanita ini padaku. Sedangkan aku hanya mengangguk meski tak mengerti apa maksud semua yang dikatakannya. Aku masih polos dan tidak tahu kegiatan malam yang dia katakan. Aku tidak pernah mendengarnya sama sekali.


"Oh iya, apa kamu sudah punya anak?" tanyaku padanya.


"Belum, kami baru saja menikah. Mungkin kalau sudah punya anak nanti, aku tidak akan sempat berdandan seperti ini lagi. Dan orang lain akan langsung tahu kalau aku sudah menikah," jawabnya sambil tertawa.


Selama diperjalanan bersamanya kami tertawa terbahak-bahak dan mengira dunia hanya milik kami hingga tak terasa sudah sampai di depan rumahnya.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku. Kita masuk ke dalam dulu, minum di sini sebentar sebelum pulang," ujar wanita itu mengajakku untuk minum di rumahnya.


"Tidak perlu, aku ada janji dengan seseorang. Lain kali aku akan datang bertamu," jawaku menolak. Lalu berpamitan padanya. Aku sudah terlambat untuk pergi ke cafe. Kalau seandainya Ahn Yoo menyetujui akan datang ke undanganku itu, mungkin dia sudah berada di sana.


Sudah terlambat setengah jam. Karena terlalu banyak cakap dengan wanita yang baru saja kukenali itu. Akhirnya aku tidak sadar dan lupa dengan janjiku yang kubuat sendiri.


Saat sudah tiba di cafe D'cof, aku masih belum melihat Ahn Yoo berada di sini. Mungkin dia tidak akan datang. Aku menunggunya sampai jam 5 pm. Tapi dia belum juga datang. Aku menghabiskan waktu sebanyak itu sendiri sambil memesan minuman sebanyak tujuh kali untuk hanya menunggu Ahn Yoo datang. Aku yang terlalu bodoh mengira dia akan datang ke sini. Aku terlalu berharap dia masih mau menemuiku. Aku akan menunggunya setengah jam lagi, kalau dia tidak datang, aku akan pulang dan tidak akan berharap padanya.


Setengah jam terbuang sia-sia. Ahn Yoo tidak datang dan tidak akan pernah datang. Aku memutuskan untuk pulang dan mengubur keinginan untuk bertemu dengan laki-laki yang tidak bisa menghargai orang lain.


Saat beranjak pergi dari tempat dudukku, ada saja orang yang senang menggosipi ku diam-diam. Namun bodohnya, dia agak bersuara keras hingga telingaku ini merasa bising dengannya. Kalau dia berkusip saat menggosipi ku aku akan diam dan pura-pura tidak mendengarnya.


"Iya, sepertinya dia sedang patah hati atau dia membuat janji dengan seseorang lalu orang itu tidak datang." Terdengar suara wanita yang senang bergosip.


"Hahahah ... dia saja yang terlalu berharap, dan akhirnya sampai jam segini dia tidak ditemui. Bukankah dia terlalu gampangan berharap pada orang lain," sambung wanita yang bergosip.


Aku menghampiri mereka dengan wajah senyum paksa.


"Kalian terlalu berisik! Aku memang patah hati, jadi jangan memancing amarahku. Atau kalian berdua ingin ku gantung di tengah jalan sana, ha?!" Aku mengamuk dengan garang di cafe ini. Kala itu aku ingin melampiaskan kekesalanku pada mereka.


"Ma-Ma-Maafkan kami, kami hanya bercanda mengatakannya," tunduk wanita yang menggosipi ku sambil menjetik temannya.


"Jangan sampai aku melihat wajah menjijikkan kalian. Kalau tidak!! Aku tidak akan segan-segan mencakar kalian dan membuat kalian pulang sambil menangis," ancamku menakut-nakuti mereka.