
Akhirnya mode zona aman mati, acara ini sudah ditutup. Semua yang ada di sini akan dibubarkan. Dan itu artinya, Ahn Yoo bisa mengancam keselamatanku. Dia akan mengamuk padaku kalau sempat melihat keberadaanku di sini. Tapi tidak mungkin juga aku pergi lebih dulu meninggalkan Ji Seon sendiri di sini. Yang ada nanti dia akan memecatku karena di hari pertama bekerja sudah berlaku tidak sopan. Lalu bagaiamana kalau Ahn Yoo melihatku? Pasti masalahnya akan lebih rumit lagi.
Aku membayangkan kalau seandainya aku pergi lebih dulu maka masalahnya Ji Seon akan memecatku atau paling tidak menasehati ku. Dan jika aku tetap di sini, Ahn Yoo tiba-tiba menghampiri kemudian mengamuki diriku, masalah yang akan timbul sangat berat. Ji Seon pasti akan membelaku saat Ahn Yoo memarahi diriku. Kemudian mereka berdua akan bertengkar hebat hingga seluruh umat tahu kalau mereka adalah pebisnis yang mementingkan urusan pribadi dibandingkan dengan urusan pekerjaan. Akibatnya perusahaan Ji Seon tidak akan mendapatkan investasi dari para pebisisnis lainnya.
Kalau begitu, lebih baik aku memilih untuk pergi lebih dulu atau bersembunyi di toilet agar Ahn Yoo tidak melihatku lagi.
"Ji Seon ... ingin ke toilet sebentar. Apa bisa tunggu sebentar baru kita pulang? Atau kamu bisa pulang lebih dulu dan tidak perlu menungguku," ucapku basa-basi agar tidak terlihat niat lain di dalamnya.
"Pergilah, aku akan menunggumu di sini, tenang saja," jawab Ji Seon.
Diluar dugaan, ternyata Ji Seon menungguku. Itu artinya peluang untuk bebas dari Ahn Yoo semakin kecil. Aku tahu Ahn Yoo sialan itu sangat cerdik, dia akan membuat alasan agar bisa berlama-lama di sini sampai menemukan ku.
"Kamu bisa pergi lebih dulu, tidak perlu hiraukan aku. Nanti aku bisa naik taksi," sambungku menyuruhnya untuk pergi lebih dulu.
"Kakimu baru saja membaik, kalau ada apa-apa aku bisa menolong ...." Aku memotong Kalimatnya langsung.
"Kakiku sudah tidak sakit lagi, kamu tenang saja," tukasku meyakinkan Ji Seon.
"Pergilah ke toilet, aku akan tunggu," ulang Ji Seon yang tetap bersikeras untuk tidak pergi dan tetap menungguku.
Bukannya dia terlalu baik untuk rela menunggu asisten nya? Biasanya direktur akan lebih sombong dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadi asisten. Tapi kenapa dia sangat perhatian?
"Ok, kalau begitu aku pergi dulu."
Aku berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan dimana Ahn Yoo sedang memperhatikan setiap gerak-gerik ku.
~Toilet~
Aku membasuk tanganku lalu berkaca sejenak untuk memastikan apakah Ahn Yoo akan menhenali wajahku ini.
"Hmm, sepertinya dia tidak mengenaliku," ucapku sambil memperjelas dan memperdekat wajahku ke depan kaca yang terpampang besar ini.
Aku kemudian keluar dan berjalan dengan lambat untuk mengulur waktu agar Ahn Yoo tidak ada lagi di sana.
***
Aku bersembunyi di balik dinding yang menutupi badanku dari pandangan orang-orang yang berada di ruang rapat. Terlihat kalau beberapa orang sudah pergi meninggalkan acara ini. Meski sebagian dari mereka masih sibuk berbincang-bincang dengan Ji Seon dan pebisnis lainnya.
Aku mencari keberadaan Ahn Yoo apakah dia masih ada di sana atau sudah pergi? Dengan teliti mataku melihat sekeliling ruangan itu apa benar dia ada. Tapi sama sekali aku tidak melihat keberadaannya di sana. Itu artinya, Ahn Yoo sudah pergi meninggalkan acara. Dan tandanya aku bisa bebas dari amukan singa yang galak itu.
Aku menghela nafas panjang dan mengelus dadaku kemudian. Aku merasa sangat lega karena mengetahui Ahn Yoo tidak ada di sana. Sesekali aku melihat ruangan itu untuk memastika kalau dia sudah pergi. Dan benar saja, aku tidak melihat keberadaannya.
Aku berjalan menuju ruangan itu dan menghampiri Ji Seon yang sedang berbincang-bincang dengan pebisnis. Aku berdiri beberapa jarak dari kumpulan mereka dan menunggu Ji Seon siap membahas dengan mereka.
Aku memang tepat memilih untuk bersembunyi di toilet dan menunggu keadaan menjadi aman. Sekarang ancaman dari singa garang itu tidak ada. Tinggal memikirkan cara mengelak saja nanti saat dia datang ke apartemen ku.
"Jane Soo, kamu sudah kembali?" Kemudian Ji Seon mengajakku untuk kembali ke perusahaannya setelah selesai berbincang-bincang dengan pebisnis itu. Kami berjalan menuju tempat Ji Seon memarkirkan mobilnya.
Saat di tempat parkir aku melihat mobil Ahn Yoo masih berada di sana. Artinya dia juga masih di sini, hanya saja aku tidak melihat dia ada dimana. Aku jadi panik lagi karena mengetahui Ahn Yoo masih belum pergi.
Deg!
Ahn Yoo ternyata sedang bersandar di samping pintu mobilnya. Dia seperti sedang menunggu seseorang, tapi siapa? Saat aku dan matanya saling menatap satu sama lain, dia membuang pandangannya dariku lalu masuk ke dalam mobilnya.
Ada apa dengannya? Aku kira dia akan menghampiri ku kemudian menarikku agar pulang bersamanya, sama seperti apa yang biasa dia lakukan. Tapi kenapa dia tidak melakukan itu sekarang? Atau dia sangat marah hingga tidak mau bicara padaku? Atau dia tidak peduli denganku lagi? Kalau tidak begitu, artinya dia mengerti tentang pekerjaanku dan memperbolehkanku bekerja dengan Ji Seon.
Meskipun begitu, aku jadi ingin memanggil dan menanyakan pada Ahn Yoo langsung. Tapi dia langsung pergi dengan cepat tanpa menganggapku ada di sini. Dia sengaja menungguku dan pergi setelah melihatku mendekat agar aku tahu kalau dia sedang marah padaku. Kenapa kami selalu bertengkar setiap hari. Bahkan semalam juga kami bertengkar karena wanita yang tinggal di tempat yang sama denganku. Dan sekarang dia marah lagi padaku.
"Jane Soo, kenapa belum masuk?" tanya Ji Seon dari dalam mobil melalui jendela mobil yang terbuka.
"Oh? Iya aku masuk sekarang," jawabku kemudian naik ke dalam mobil.
~Di dalam mobil~
"Apa kamu dan Ahn Yoo memiliki hubungan?" tanya Ji Seon padaku.
"Hmmm? Iya," anggukku.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Ahn Yoo. Aku tidak pernah tahu kalau dia memiliki adik atau saudara perempuan bernama Jane Soo?"
"Itu ... waktu aku sakit dia membayarkan biayaku selama di sana lalu memberikanku tinggal di apartemennya," jawabku dengan jujur.
"Sakit? Apa kamu dan dia memiliki hubungan sebelum itu?" tanya Ji Seon lagi.
"Tidak, aku tidak pernah mengenal Ahn Yoo sebelumnya. Dia kebetulan lewat saat aku pingsan di tengah jalan. Lalu dia membawaku ke rumah sakit," tukasku menceritakan kisah awal bagaimana aku da Ahn Yoo bisa bertemu.
"Begitukah? Padahal aku pernah mendengar rumor kalau dia sangat dingin kepada wanita. Ternyata itu hanya sebuah kebohongan," lanjut Ji Seon.
"Dia memang tidak bisa dimemgerti," decakku kemudian.
Beberapa menit kemudian Ji Seon bertanya lagi padaku. Mungkin dia sedang menghilangkan kesunyian di dalam mobil ini. Hanya saja aku saat ini sedang tidak berselera berbicara dengan siapapun karena masih kepikiran tentang Ahn Yoo.
"Bukannya kamu dulunya tinggal dengan bibimu?" tanya Ji Seon tiba-tiba. Padahal sama sekali aku tidak pernah mengungkit masalah biniku padanya.
"Aku membaca identitasmu saat menjadi asisten. Bukannya aku juga perlu mengenal CV setiap orang yang bekerja denganku," tukas Ji Seon menjelaskan.
"Oh begitu yah. Memang benar aku tinggal dengan bibiku, tapi pamanku ingin menjual ku kala itu. Aku kemudian kabur saat dia sudah mendapatkan orang yang akan membeliku," kataku.
Brugh!
Ji Seon menginjak rem mobilnya tiba-tiba hingga badanku terhempas ke depan. Untuk saja tadi aku menggunakan sabuk pengaman, kalau tidak kepalaku bisa terbentur.
Wajah Ji Seon tampak kaget saat kukatakan kalau aku hendak di jual pamanku.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" Ji Seon tampak shock dan mulai serius bertanya padaku.
Aku bingung dengannya kenapa bertanya seperti itu. Bagaimana aku bisa menceritakan padanya sementara aku dan dia belum pernah bertemu sebelumnya? Dan kalau dia tidak bertanya untuk apa aku harus mengatakannya pada Ji Seon? Aku rasa kami belum sedekat itu untuk saling bertukar informasi pribadi.
"Tapi kamu baru bertanya sekarang," jawabku sambil menatapnya dengan bingung.
"Oh, hahahah. Iya juga, aku baru bertanya sekarang," lanjut Ji Seon dengan senyum paksa yang tampak di wajahnya.
Aku merasa Ji Seon sangat mencurigakan. Dia bertingkah aneh setiap saat. Dia memperlakukanku dengan sangat lembut. Dan setiap kali matanya menatpku, dia seolah mengisyaratkan kalau dia sangat merasa bersalah.
Memang itu hanya anggapanku saja, belum tentu juga tebakanku benar. Atau mungkin saja dia memang perhatian dengan semua karyawan yang bekerja di perusahaannya.
Aku tidak memperpanjang pembahasanku lagi dengan Ji Seon. Aku takut kalau nanti salah bicara sampai dia tersinggung karena merasa diriku telah mencurigainya. Dan tampaknya, dia juga tidak bertanya lagi. Sampai akhirnya suasana hening mengisi mobil ini hingga tidak terasa kalau kami sudah tiba di perusahaan Ji Seon.
"Aku rasa tidak ada lagi urusan di sini. Sebaiknya kita pulang saja," kata Ji Seon.
"Hmm? Apa tidak sebaiknya untuk singgah dan mengucapkan terima kasih kepada karyawan karena sudah berusaha menampilkan yang terbaik saat mempromosikan game yang akan kita luncurkan?" ucapku pada Ji Seon.
"Baiklah, tapi kalau kamu masih sakit kalau berjalan lebih baik tunggu saja di sini biar aku saja yang memeriksa keadaan di sana," jawab Ji Seon seperti sedang mengkhawatirkan keadaan ku.
"Kakiku tida apa-apa dari tadi, jangan dibahas lagi. Aku merasa tidak enak kalau kamu terus mencemaskan kakiku," timpalku dengan tegas.
"Maafkan aku, kalau begitu kamu boleh ikut atau menunggu di dalam mobil ini saja," sambung Ji Seon.
Aku memilih untuk mengikutinya masuk ke dalam perusahaan. Bagaimana mungkin ada asisten yang membiarkan dirinya menerima pelayanan VIP dari atasannya. Apalagi di hari pertama bekerja. Bagus kalau dia bersikap baik karena memang perhatian, bagaimana kalau dia bersikap baik karena ingin menguji keteguhan hati asisten yang tidak berpengalaman ini.
~Perusahaan Nexcon~
"Sudah kukatakan semua sudah beres. Kita bisa pulang lebih cepat hari ini, biarkan manager ku saja yang urus sisanya," ajak Ji Seon ketika baru saja masuk ke dalam kantornya dan menanyakan beberapa hal pada karyawan yang ada.
"Oh bagus kalau begitu. Aku sudah bisa pergi sekarang?" tanyaku pada Ji Seon.
"Biar aku antarkan kamu pulang," ajak Ji Seon dengan ramah.
"Ha? Tidak usah ... aku naik taksi saja," jawabku menolak.
"Aku tidak merasa keberatan. Kamu jangan terlalu sungkan, aku melakukannya karena kamu asisten pribadiku," jawab Ji Seon.
"Bukan karena itu, aku hanya memiliki urusan sebentar di tempat lain. Aku harus menjemput ... menjemput keponakanku yang kutitip di rumah teman lamaku, hahahah." Aku membual lagi pada Ji Seon, kalau tidak begitu maka dia akan tetap memaksa ingin mengantarkan aku pulang. Bukan karena apa, tapi aku takut Ahn Yoo melihat kami berdua dan mengira kalau terjadi sesuatu pada kami. Dan akhirnya dia tambah marah dan tidak membicarakan aku sampai tua.
Aku harus pandai mengambil hati Ahn Yoo dan harus menguras tenaga untuk membujuknya agar tidak mengamuk lagi padaku. Dan sekaligus membuatnya membiarkan aku bekerja dengan Ji Seon.
"Keponakan? Bukannya kamu tinggal sebatang kara di sini?" Ji Seon tampak tidak bisa dibohongi.
"Dia ... dia anak dari tante saudara bibiku perempuan dari suami sepupu ayah neneknya kakak ipar saudara anaknya tanteku." Aku mengarang silsilah keluarga yang bahkan tidak kumengerti sama sekali. Aku hanya asal bicara pada Ji Seon. Dan sengaja mengatakan hal serumit itu agar dia tidak banyak tanya lagi. Aku tidak mau berbohong lagi padanya. Ji Seon terlalu baik hingga aku tidak bisa berbohong lagi padanya.
Aku berjalan meninggalkan perusahaan ini dengan langkah yang panjang dan terburu-buru. Aku harus memastikan apa Ahn Yoo memang benar marah padaku. Dengan taksi yang lewat dari sini, aku meminta supir mengantarkan ku pulang ke apartemen ku.
***
~Apartemen~
Langsung ku ambil ponsel ku lalu menelepon Ahn Yoo dengan mengatas namakan Hendry. Aku akan bilang kalau Hendry meminta kalau sudah selesai bekerja langsung menjemputnya ke rumah ayah Ahn Yoo.
Aku meneleponnya.
Tut ... Tut ... Tut!
Panggilanku langsung di reject Ahn Yoo. Dia tidak mengangkat dan mematikan panggilanku. Tidak putus asa, aku mencoba sekali lagi. Tapi tetap saja terus ditolak berepa kali pun aku memanggilnya.
Kali ini benar-benar memancing emosiku, dia hanya membaca pesan singkat itu tanpa membalasnya. Aku semakin geram karena dia tidak menghiraukan ku dan menolak berulang kali panggilan dariku.
"Kyaaa! Kamu minta dibunuh, ha?! Aku aka menghajarmu kalau muncul di hadapanku. Awas saja kamu Ahn Yoo yang dingin, tukang cemburu, tidak punya hati!" Aku menjerit seperti orang gila. Tapi dengan begitu, rasa kesal ini bisa tercurahkan walau hanya sebagian. Aku merasa lebih lega karena sudah mengumpat Ahn Yoo.
Aku membaringkan badan sejenak sambil memikirkan cara agar Ahn Yoo dan aku bisa bertemu. Agar aku bisa memastikan apa dia marah hanya untuk sementara atau dia akan memarahiku selamanya.
"Kenapa dia selalu membuatku bingung dan tidak paham dengannya?" decakku sambil menghela nafas berat.
Tidak sadar ternyata aku malah tertidur dengan pakaian kerja yang belum ku tukar sama sekali.