SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 52



"Ya, sangat cantik," decak kagum Ahn Yoo. Tapi masalahnya, dia tidak sedang melihat bintang melainkan diriku. Aku tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan, intinya dia terlihat bodoh saat ini.


"Kamu sedang melihat apa?" tanyaku curiga dan menatapnya dengan mata sinis yang dingin.


"Apa-apan mata itu? Kau sedang menirukan gayaku," balas Ahn Yoo menuduh dan rasa sedikit tidak senang.


"Tidak, aku hanya merasa ada yang janggal dari tatapan itu." Aku mengatakan hal yang mungkin dapat membuat Ahn Yoo merasa tidak senang. Tapi tanpa pikir panjang aku mengatakan apa yang ada di dalam kepalaku ini langsung padanya.


"Katakan sekali lagi," suruh Ahn Yoo dengan tampang mengamuknya. Dadanya yang bidang itu sangat dekat dengan kepalaku, hingga kepalaku harus mendongak saat melihatnya. Dia terlalu dekat denganku, hingga wangi tubuhnya dapat kucium dengan leluasa.


"A-Aku tidak mengatakan apa pun. Ja-Jangan terlalu dipikirkan," kataku sambil melangkah mundur.


Lagi-lagi suasana menikam seperti ini. Haruskah aku yang selalu merasa disudutkan? Kenapa hanya dia yang bisa menjadi pemangsa dan aku hanya seekor hewan lemah yang tidak berdaya?


"Aku sudah sempat memikirkannya, aku rasa arti tatapanku itu tidak perlu kujelaskan lagi. Kau sudah paham tanpa harus diberitahukan," sambung Ahn Yoo nakal.


"Aku tidak mengerti," jawabku sambil menggelengkan kepalaku.


"Katakan sekali lagi," paksa Ahn Yoo sambil mencengkram daguku. Dia mendekatkan wajahnya ke depan bola mataku lalu dengan liar mengecup bibirku berulang kali. Dia melakukannya sampai aku tidak mengerti untuk apa ciuman gila yang baru saja itu. Dia memberi kecupan hangat itu lalu tersenyum nakal mentapku, lalu dia mencium kembali bibirku. Secara berturut-turut dia melakukan itu padaku. Setiap satu kali kecupan dia memberi jeda satu henbusan padaku.


"A-Apa yang ka ... kamu lakukan baru saja?" Sekujur tubuhku bergetar karena kecupan yang dilakukan Ahn Yoo. Aku yang baru saja mengenal dan baru saja tahu model kiss itu, terus membelalakkan mata dengan pikiran kosong. Jantungku tidak bisa berhenti berdegup saat membayangkannya.


"Itu ciuman yang paling manis," jawab Ahn Yoo dengan raut tidak bersalah sama sekali.


Aku hanya bisa tertegun dan menegakkan batin yang kian mulai runtuh karena ciuman paling manis ini. Dengan latar bintang malam yang indah, kami berdiri di balik tirai yang menari karena hembusan angin yang malu meniup. Kedua bola mata sinis nan dingin yang sedang memandangku ini, membutku senyum lebar di dalam hati.


"Se-Sebaiknya kamu pulang saja. Aku tidak menerima tamu jam malam seperti ini. Apalagi dia adalah seorang pria lajang," ucapku dengan niat untuk mengantisipasi kegiatan yang belum boleh kami lakukan. Apalagi dia adalah Ahn Yoo. Tidak sedikit pun dia akan menjagakan hasratnya itu agat tetap terpendam. Dengan sembrono pasti akan dilakukannya meski belum ada hubungan diantara kami.


"Seyakin itu kau menganggap aku lajang?" sambung Ahn Yoo.


"Kalau kamu tidak lajang sebaiknya jangan mendekatiku. Aku ini masih muda dan belum melakukan hal diluar batas kendali. Dan kamu kalau sudah pernah bermain dengan wanita sebelumnya, jangan menyentuhku," perintahku lalu menjaga jarak dari Ahn Yoo. Kalau memang benar dia bukan lagi seorang lajang dan artinya tidak perjaka, lebih baik dia tidak perlu mendekatiku.


"Ehm? Aku belum yakin kau ini masih belum pernah melakukan itu," jawab Ahn Yoo dan menatapku dengan pandangan yang menakutkan.


"Kalau tidak percaya, aku tidak masalah. Intinya kamu lebih baik pulang saja. Aku sebagai wanita harus menjaga jarak antar pria," jawabku seolah sedang tenang dan tidak gentar karena tatapan mematikan Ahn Yoo.


"Aku ingin membuktikan langsung apa yang kau katakan itu," tambah Ahn Yoo dengan senyum sumringahnya. Dia menarik tanganku lalu mendorongku ke atas tempat tidur. Dengan buas menindih lalu mencium leherku. Aku hampir kehabisan akal menghadapi laki-laki yang sedang bernafsu liar ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk melerainya untuk tidak melakukan hal gila ini.


"Ahn Yoo! Apa yang kamu lakukan?! Aku dan kamu bukan sepasang kekasih atau apa pun itu. Jadi sebaiknya berhenti dan pergi dari badanku!" senggakku sambil mencoba meloloskan badan yang terkunci oleh tindihannya.


"Sepasang kekasih? Baiklah, sekarang kita adalah sepasang kekasih," bisik Ahn Yoo ke telingaku dengan suara pelan nan berat.


Dia benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu, kalau terus berlanjut maka aku yang pasti akan merugi. Ahn Yoo tidak akan cacat kalau sudah melakukan hal gila ini, sedangkan aku tidak akan sempurna lagi.


"Aku tidak mau jadi kekasihmu! Menjauh dariku!" teriakku dengan keras lalu mendorongnya menjauh dariku.


Akhirnya Ahn Yoo tersadar lalu duduk di sampingku sambil membetulkan kancing bajunya yang terbuka. Dia menatapku dengan serius lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. Untuk kali pertamanya, aku melihat dia tertawa segila ini. Sepanjang kami bersama, tawa ini yang paling puas ia keluarkan. Sampai air matanya nampak keluar karena terlalu kuat tertawa.


"Ke-Kenapa kamu malah tertawa jahat seperti itu?" tanyaku ragu lalu menutupi dadaku dengan kedua tangan.


"Apa kau mengira aku akan menyetubuhimu, ha?" tanya Ahn Yoo dengan tawa yang belum lepas dari bibirnya.


"Ha? Ehm, aku kira kamu akan melakukannya," anggukku sambil menunduk.


Pletak!


Jetikan itu kembali mendarat di kepalaku lagi-lagi tangannya yang gatal itu menjetik dan menyakiti kepalaku.


"Kau sangat bodoh. Aku tidak akan melakukan itu padamu," jawabnya dengan tatapan dewasa


"Ka-Karena kamu tiba-tiba mendorongku lalu menimpaku. Tentu saja aku ketakutan," sahutku sambil mengerutkan dagu.


Ahn Yoo mengecup bibirku lagi lalu tersenyum lebar melihatku. Dia memberantakkan rambutku dengan tangannya. Dia memperlakukanku layaknya serorang anak kecil yang tengah meminta permen.


"Aku hanya sedang usil. Tapi ini pertama kalinya ada wanita menolak untuk kutiduri. Biasanya mereka yang memintaku," ujar Ahn Yoo dengan lagak sombong memamerkan ketenarannya. Tapi dia salah sangka, bukannya merasa tersaingi, aku malah merasa kalau dia sudah pernah tidur dengan wanita lain. Dia mengatakan kalau wanita yang memintanya untuk ditiduri, lalu dia mau atau menolak tidak dijelaskan secara detail. Tapi aku beranggapan kalau dia mau dan secara sukarela melayani wanita itu. Karena pada dasarnya laki-laki memang seperti itu. Tidak dipancing saja mereka melakukannya, apalagi kalau mereka ditawarkan?


"Aku tidak peduli. Intinya lebih baik kamu pulang saja. Aku harus waspada dan tidak boleh lengah denganmu," timpalku menjauhinya.


"Tidak akan," jawab Ahn Yoo tegas menolak.


"Aku masih ketakutan denganmu. Lebih baik menjauh dan kita tidak boleh bersama saat malam hari," tukasku memerintah.


"Apa menurutmu aku selera dengan tubuhmu yang kurus itu? Dadamu saja datar tidak berisi," hujat Ahn Yoo sambil melihat arah dadaku yang memang datar seperti dada anak SMA kelas dua pada umumnya.


"Kemana matamu?! Walaupun begitu aku tetap harus waspada. Lagi pula kalau tidak suka denganku, kamu boleh cari wanita seksi di luaran sana yang bisa kamu pandangi setiap saat. Dan kamu tidak perlu mem-bully ku," senggakku dengan cerewet.


"Berisik. Katakan padaku apa kau serius menolak ku tadi?" tanya Ahn Yoo yang kembali menjadi dirinya yang dingin dan kasar.


"Eh? Apa maksudmu?" tanyaku lagi berpura-pura tidak tahu. Padahal aku sudah keringat dingin saat dia mennyakan hal itu padaku. Aku kira saat dia sedang mengatakan kalau sekarang kami adalah sepasang kekasih, itu hanya omong kosong yang diucapkannya saat sedang tidak bisa mengendalikan nafsu.


"Katakan!" perintah Ahn Yoo sedikit menyenggak.


"A-Aku ti-tidak paham yang kamu ... katakan," jawabku gugup ketakutan.


"Lihat tanganku ini? Masih bergetar ketakutan karena ulahmu. Lebih baik makan di rumahmu saja," jawabku santai dengan maksud mengusirnya dari sini. Aku sudah tidak tahan lagi ingin memukulnya karena tidak jadi mengungkapkan perasaan padaku.


"Ini juga rumahku," timpal Ahn Yoo singkat.


"Iya, aku tahu kalau sekarang aku hanya menumpang di rumahmu. Tapi tidak perlu menyindir seperti itu," sambungku merasa disudutkan.


"Baguslah kau sadar. Jadi pergi masakkan aku makanan," suruhnya lagi memerintahku.


"Kamu ... kamu, ah sudahlah. Kukatakan pun kamu tidak akan mengerti," kataku murung lalu beranjak diri dari tempat tidur ini. Dengan tangan yang bergetar dan lemah, aku membuka kulkas ini dan mencari sesuatu yang bisa kumasak dengan mudah.


Saat membawa bahan itu keluar dari kulkas, tanganku tiba-tiba terasa tidak berdaya. Semua yang ku pegang terjatuh dari tanganku ke lantai.


Langsung ku ambil dan ku bereskan semua yang berserakan di sana. Aku menyikapi semua dengan tenang barulah tubuhku agak sedikit kembali normal.


"Hmm? Kau tidak perlu memasak lagi. Kita pesan makanan melalui online saja. Rasanya lebih terjamin dan enak dari pada yang kau masak," ucap Ahn Yoo tanpa memikirkan perasaanku sama sekali.


Saat ini aku sedang memegang pisau di tanganku. Hampir saja benda tajam ini terlempar ke arahnya. Untung saja aku ini penyabar, kalau tidak sudah ku robek mulutnya yang pedas itu.


"Oh iya. Lebih baik pesan online saja," sambungku berpura-pura manis dan tidak terjadi apa-apa di dalam hatiku. Padahal faktanya, tanganku sudah terkepal untuk bersiap-siap memukulnya. Bukannya dia terlalu senang mempermainkan ku dan mengusili ku. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam untuk menahan emosi terhadap laki-laki kurang kerjaan ini.


***


Beberapa jam kemudian, sudah lama aku menunggu pesanan makanan itu datang, tapi suara ketukan pintu tidak terdengar sama sekali. Aku hampir membusuk menunggu seseorang mengantarkan makanan kemari. Aku juga merasa lapar karena terlalu emosi. Posisi duduk ku saja tampak menyedihkan. Aku menaikkan kakiku dan menekuknya di atas kursi, lalu kupeluk. Sangat miris dan memprihatinkan.


"Apa makanannya masih lama?" tanyaku pada Ahn Yoo yang tengah sibuk dengan ponselnya dan dengan santainya berbaring di atas ranjangku.


"Hmmm," angguknya tak menoleh ke arahku dan tetap fokus dengan ponselnya.


"Aku sudah tidak tahan lagi! Aku akan masak, dan tidak perlu menunggu pesanan yang lama seperti siput," amuk ku lalu berdiri dan memotong semua bahan untuk dimasak. Aku menumis sayuran itu dengan geram dan gigi yang saling terkatup mengumpati Ahn Yoo. Dengan cepat aku menyelesaikan masakan itu.


Plakkk!


Suara mangkok masakan ku yang sengaja diletakkan dengan keras di atas meja. Aku sengaja melakukannya agar Ahn Yoo sialan itu mendengar dan berhenti memainkan ponselnya.


"Woy! Kamu menunggu pesanan itu? Kalau iya, aku makan lebih dulu. Aku sudah lapar dan hampir membusuk menunggu pesanan itu," ujarku.


Belum sampai sesuap makan tersulang ke mulutku, Ahn Yoo sudah mengancam dan menggangguku. Dia berdiri di belakangku lalu membungkukkan badannya. Kedua tangannya diletakkan di atas meja lalu mengunci tubuhku yang tengah menyulang ke mulut. Aku seperti tawanan yang berbuat kesalahan besar padanya.


"Apa mulutmu tidak bisa menawarkan makanan itu padaku?" bisik Ahn Yoo ke telingaku dengan suara tidak senang.


"A-Aku ti-tidak tahu kalau kamu juga mau ... makan ini. Aku kira kamu tetap menunggu pesanan itu," jawabku gemetar ketakutan.


Bam!


"Ck, apa kau sedang memancing emosiku," senggak Ahn Yoo sambil memukul meja itu untuk menggertak ku. Aku sampai ketakutan setengah mati karena kelakuannya ini. Dan secara spontan menawarkan makanan itu padanya dengan cepat dan mata tertutup karena takut.


"Apa kamu juga mau ikut makan denganku, Ahn Yoo?!"


"Sudah terlambat, aku tidak selera," jawabnya ketus.


"Ba-Baiklah, aku ... aku akan makan sendiri," sambungku gugup.


Dia duduk di kursi satunya lagi, lalu menatap sinis diriku yang tengah bergetar ketakutan.


"Ke-Kenapa kamu menatapku begitu?" tanyaku perlahan.


"Apa kau ini memang sangat bodoh, ha?"


"Huh ... kenapa kamu katakan seperti itu? Aku ... maksudku, apa kamu mau makan juga?" tanyaku terbata-bata.


Dia diam tidak merespon sama sekali, dia tetap menatapku dengan matanya yang tajam dan sinis.


Dengan berani aku menyendokkan masakan ini lalu berniat menyulang Ahn Yoo.


"Hmm? Tidak mau?" tanyaku sambil menaikkan alis sebelah.


"Tidak," jawabnya ketus tanpa perasaan.


"Aku tidak akan menurunkan tanganku sampai kamu mau memakannya," kataku bersikeras.


Aku harus bersabar membujuk pria manja ini, kalau tidak kami akan terus bertengkar dan tak akan pernah berdamai.


"Aaah! Tanganku sudah pegel, tidak bisa memakan yang sesendok ini?" Aku mulai memainkan sandiwara sok berlagak polos di depannya.


"Aku tidak peduli," jawabnya lagi bersikap apatis.


"Aku tetap akan seperti ini," balasku bersikeras.


Beberapa menit kemudian pun dia tetap tidak mau memakan yang ku pegang itu. Padahal tanganku sudah kesemutan menunggu Ahn Yoo memakannya. Tidak kuasa lagi, aku berdiri lalu menginjak kakinya kuat sampai mulutnya terbuka lebar. Setelah mulutnya terbuka, langsung kumasukkan makanan yang kumasak itu ke dalam mulutnya.


"Sudah beres," ujarku bangga lalu tersenyum bahagia setelah berhasil menyulangkan makanan itu di mulutnya. Aku seolah tidak melakukan kesalahan dan terus menantang mata Ahn Yoo sehingga dia tidak bisa protes.