SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episide 17



Aku mendengar suara langkah kakinya semakin dekat menuju ke arahku.


"Kyaaa ... bagaimana ini? kalau ketahuan, aku akan terkena masalah," kataku dalam benak.


Sekujur tubuhku bergetar karena takut. Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi rasa panik dan mengeluarkannya dengan luas, meskipun hanya ber-efek sementara saja.


Aku mendengar Ahn Yoo hendak membuka lemari ini dan karena panik membuat badanku tidak sengaja bergeser ke samping sampai tangan bajuku tersangkut di sebuah gagang pintu di dalam lemari. Aku sempat berpikir, kenapa ada lemari di dalam lemari? Tapi ini bukan saatnya memikirkan itu, aku harus melepaskan bajuku yang tersangkut terlebih dahulu.


"Astaga ini kenapa lagi? Dasar baju sialan," lirihku pelan.


Aku menarik bajuku yang tersangkut sampai robek.


Swek!!!


"Kyaaaa! Gawat, apa dia mendengarnya tadi?" tanyaku menenangkan pikiranku yang kacau.


Ahn Yoo membuka lemari pakaiannya dan menepihkan semua baju ke pinggir.


Aku tertangkap basah olehnya.


"Hai ... Ahn Yoo," sapaku lesu dengan senyum paksa dan wajah panik. Bayangkan saja bagaimana ekspresiku saat ini.


"Kau??" tanya Ahn Yoo sambil mengernyitkan dahi.


Aku memegang gagang lemari karena gugup ketakutan dan tiba-tiba saja lemari itu berputar membawaku keruangan lain. Ini seperti ruangan rahasia, terdapat rak buku yang panjang dan besar, sebuah ranjang lima kaki, dan sebuah meja baca yang sederhana.


Aku tertegun melihat semua ini, tampak aneh tapi nyata. Dengan batin yang masih shock aku memegang semua buku-buku yang tersusun rapi di rak masing-masing.


"Apa kau sudah puas memegangi semuanya?" tanya Ahn Yoo yang baru saja masuk ke dalam.


"Ini kenapa aku bisa di sini, dan ...." Dia memotong kalimatku.


"Kenapa kamu masuk ke dalam kamarku?".


"Aku tadi ... ehmmm ... tidak sengaja. Hanya tidak sengaja masuk saja," jawabku terbata-bata.


"Tidak sengaja? Jadi kalau aku melakukan ini apa itu juga tidak sengaja?"


Dia mendekat dan menarikku kepelukannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku mencoba memberontak.


Dia memegang lembut wajahku dan mencium bibirku. Ini ciuman pertamaku, tentu saja aku masih terkejut. Mataku samapai terbelalak karena kesulitan untuk bernafas.


Karena tidak tahan lagi aku mendorongnya dengan kuat dan menampar wajahnya.


Aku segera menjauh darinya beberapa jarak dan menatap sinis matanya.


"Ciuman pertamaku! kamu mengambilnya," bentakku kesal.


"Opss ... maaf, aku tidak sengaja," jawabnya datar.


"Tidak sengaja? Jelas-jelas kamu datang dan memelukku, dan kamu ... kamu," Aku tidak bisa menyambung kalimatku lagi.


"Nah, itu yang ingin kukatakan padamu. Bagaimana bisa kau masuk kekamarku tanpa sengaja," sambungnya datar.


"Itu permasalahan yang berbeda. Kamu tidak bisa seenaknya seperti ini. Lagi pula aku masuk ke kamarmu karena penasaran saja, tidak ada maksud lain," jelasku padanya.


"Ehmm ... tadi aku menciummu juga karena penasaran saja," sambungnya dengan datar.


"Kamu!!" Aku membentak Ahn Yoo.


Karena kehabisan kata-kata, terpaksa aku mengalah saja. Lagi pula aku tidak akan pernah menang adu mulut dengan Ahn Yoo yang bermulut tajam ini.


"Baiklah, anggap saja kita impas. Kamu tidak berhak memarahiku karena masuk diam-diam ke dalam kamarmu, begitu juga denganku. Aku tidak akan mempermasalahkan ini lagi, mengerti?".


"Emmm ... baiklah."


Dia menyetujuinya begitu saja, dan dia tidak marah kepadaku sama sekali. Padahal aku sudah masuk ke dalam kamarnya dan menampar wajahnya dengan keras. Sebegitu berharganyakah ciuman tadi? Sampai bisa menenangkan pikirannya.


Aku malu sendiri ketika memikirkan-nya, wajahku saja sampai memerah.


"Ekkhh ... ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu," sambungku dingin. Padahal aku sudah sangat canggung saat melihatnya, tapi aku berpura-pura tenang di hadapannya.


Huufffttt!


Suara hela napasku yang panjang.


"Untung aku selamat dari manusia harimau ini," kataku dengan suara pelan sambil berjalan mendekati pintu aneh ini.


Aku tidak mengerti bagaimana membuka pintu ini, dan aku tidak tahu cara keluar dari sini .Aku masih canggung kalau menanyakan langsung kepada Ahn Yoo.


Aku melirik Ahn Yoo yang sedang fokus memilih buku yang akan ia baca. Tidak mungkin aku berdiri seperti ini dan menunggunya keluar. Kemudian mengikutinya dari belakang. Sungguh memalukan menjadi orang yang kolot.


Tidak ada pilihan lain, aku harus menyakan cara membuka pintu ini langsung kepadanya. Meskipun harga diriku harus diinjak-injak olehnya nanti.


"Ehmmm ... Ahn Yoo!" teriakku pelan memanggilnya.


Dia hanya menoleh tanpa menjawab sapaanku tadi.


"Pintunya .... " Dia memotong kalimatku.


"Kenapa dengan pintunya?" tanya Ahn Yoo yang berpura-pura bodoh.


"Ahmm ... ini bagaimana keluar dari sini?" tanyaku tersenyum canggung.


"Aku malas memberitahumu," jawabnya datar.


"Ha? Tapi aku mau keluar, perutku sudah lapar. Jadi bisa .... " Aku belum siap menyelesaikan kalimatku, dia sudah menyambar terlebih dahulu.


"Lebih baik kamu tunggu aku keluar saja."


"Tapi ... tapi aku ingin keluar sekarang," tukasku mencoba membuatnya mengerti.


"Baiklah, kau keluar kalau bisa," sambungnya datar.


Untuk apa aku di sini? Tidak ada yang bisa kulakukan. Ditambah insiden yang tadi, membuatku semakin tidak ingin di sini, apalagi hanya berdua dengannya.


"Huuuuh ... baiklah, aku akan menunggumu sampai membatu sekali pun," lanjutku lesu.


Dia tidak meresponku sama sekali. Dia hanya terfokus pada buku yang sedang ia baca, tanpa memperdulikanku.


Aku tidak nyaman berdua dengannya, aku juga tidak tahu mau melakukan apa. Aku berdiri di depan pintu, tidak berpindah tempat sama sekali. Sampai kakiku kesemutan karena kurang bergerak dan lama berdiri.


Aku menggaruk kakiku secara bergantian, dan mendecakkan mulutku. Aku sengaja melakukannya agar dia merasa terganggu olehku.


"Bisakah kau tenang," perintahnya padaku.


Aku hanya diam tidak memperdulikan kata-katanya dan terus menggaruk kakiku.


"Kau! Apa kau ini bodoh sekali, sampai-sampai tidak tahu cara duduk," decaknya padaku.


"Ya aku memang bodoh, sampai membuka pintu saja aku tidak bisa," sambungku sinis.


"Terserahmu saja," lanjutnya datar.


Baiklah, aku akan tetap berdiri di sini sampai Ahn Yoo mau membuka pintu sialan ini. Jadi aku harus bersabar beberapa menit lagi.


"Mau berdiri berapa lama lagi kau di situ, kau tidak bisa duduk? Dasar wanita bodoh," ejeknya dengan kasar.


"Kamu yang bodoh. Semua keluargamu bodoh," gerutuku dalam hati.


Aku menghentakkan kakiku dengan kuat sampai ruangan ini bergema karena langkahku. Aku mendekatinya dan menatap wajahnya dengan sinis.


"Apa kamu tidak bisa lihat kalau di ruangan ini hanya ada satu kursi saja?" tanyaku dengan wajah menggertak.


Raut mukanya yang datar itu membuatku semakin kesal saja, dan lagi dia tidak menghiraukanku sama sekali.


"Apa kamu tidak dengar?! Aku lelah berdiri dan kamu santai-santai duduk di sini sambil membaca buku," sambungku dengan nada melengking.


"Aku tidak menyuruhmu berdiri di sana samapai kesemutan," jawabnya dingin tanpa terusik sama sekali dari keseriusan-nya yang sedang membaca buku.


"Kenapa kamu jahat sekali, suka melihatku menderita. Kamu mempermainkanku sejak tadi pagi. Sekarang aku tidak tahan lagi, jadi aku memperintahkanmu untuk membuka pintu itu supaya aku bisa keluar dari sini," perintahku dengan sedikit membentak Ahn Yoo.


Dia menutup buku yang dibacanya,dan menatapku dengan tajam.


"Aku tidak suka diperintah, apa kamu tahu itu?"


"Apa? Jadi menurutmu aku suka disiksa," bentakku.


Dia berdiri dari kursinya, sampai kami saling berhadapan.


"Apa menurutmu aku suka digoda olehmu?" Ahn Yoo melempar balik pertanyaanku.


"Aku ... aku tidak pernah menggodamu. Kapan ... kapan aku melakukan hal gila semacam itu?" tanyaku getir.


"Apa kau sudah luapa?"


"Lu ... lupa, lupa tentang apa?" tanyaku bingung.


"Aku tidak yakin untuk mengatakannya. Jadi kau pikirkan saja sendiri," sahutnya angkuh.


Kami saling bertatapan cukup lama, dan membuang muka setelah beberapa saat kemudian. Tidak ada yang mau berbicara lebih dulu diantara kami.


Sungguh membuat suasana disini semakin canggung. Aku tidak tahan jika seperti ini terus, aku tidak bisa nyaman di situasi awkward seperti ini.


"Ahn Yoo!" teriakku manja sambil merengek.


Dia menunjukkan raut bingung di wajahnya.


Tapi, meskipun begitu aku harus berlagak manja agar dia membuka pintu ini. Lagi pula aku tidak tahan lagi menahan lapar. Bayangkan saja, aku hanya memakan sandwich mulai dari pagi hingga saat ini. Kira-kira sekitar jam 06.00 am-13.00 pm.


"Aku ... aku lapar, tadi pagi hanya makan sandwich. Sampai sekarang belum ada yang masuk keperutku." Aku menunjukkan ekspresi muka yang paling manis di hadapannya.


Sayangnya, Ahn Yoo menganggapku sebagai tontonan. Dia tidak meresponku sama sekali. Tapi aku tetap harus berusaha untuk merayu gunung es ini. Aku harus merangkai kata agar bisa mencairkan balok yang dingin di hatinya.


"Ahn Yoo! Perutku sudah menggemuruh. Apa kamu tidak mendengarnya? Jadi bisakah buka pintu itu supaya aku bisa makan." Aku tampak bodoh saat berlagak manis di depannya.


"Aku belum lapar, tadi pagi sudah kenyang memakan sampah masakanmu. Jadi sekarang aku tidak bernafsu lagi," jawabnya datar.


"Aku lihat kamu menikmati masakan yang kubuat, jujur saja. Kamu pasti menyukainya kan?"


"Tidak, tapi aku menyukai pemasaknya," sambungnya ringan.


**Bersambung...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**