
"Aku sudah suruh orang lain yang kerjakan," pungkas Ji Seon dengan senyum tanpa dosa.
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu? Itu tugasku!! Kembalikan kopi itu padaku," murkaku dengan mengamuk tanpa ada angin tidak ada hujan. Aku yakin Ji Seon sialan ini mengurangi bebanku karena kasihan sudah kerja terlalu paksa. Tapi masalahnya aku merasa dianggap tidak bisa diandalkan kalau dia terus memanjakanku. Yang ada aku hanya bisa berpangku tangan pada mereka saja, dan tidak bisa mengandalkan diri sendiri.
Dengan beringas aku mengambil kopi yang kuseduh untuknya dan meminumnya sampai tidak ada sisa lagi untuk diminumnya. Untung saja kopinya itu tidak panas, aku jadi bisa meneguknya sekali semua. Kalau tidak, mulutku akan terbakar dan lidahku tidak tahu akan jadi apa.
"Kopi itu punyaku, kenapa diminum sampai habis?" Ji Seon menatapku dengan sedih saat sudah meminum kopi yang kubuat untuknya.
"Apa maksudmu memberi tugas itu pada orang lain, ha?" tanyaku padanya dengan wajah garang sambil memukul meja dengan kedua tangan.
"A-Aku hanya, maksudku surat itu sangat penting dan segera harus diantarkan. Jadi aku membagi semua kertas kepada karyawan yang telaten. Tapi bukan berarti kamu tidak telaten, cuma masih amatir saja," jawab Ji Seon ketakutan. Tangannya sampai ikut berbicara saat menjelaskan kepadaku kenapa dia memberi kertas itu kepada karyawan lainnya.
"Ehm? Tapi aku sudah habiskan kopinya, kamu terlambat menjelaskannya padaku," kataku berniat meledek Ji Seon.
"Padahal ini pertama kalinya kamu membuatkan aku kopi," celetuk Ji Seon dengan suara pelan.
"Yo Ji Seon, apa kamu dan Ahn Yoo memiliki hubungan bisnis yang baik?"
"Sepertinya tidak, ayahnya dan ayahku sudah jadi saingan dari dulu. Jadi aku dan dia juga terbawa-bawa karena mereka," tukas Ji Seon.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita denganku kalau kamu adalah orang kaya waktu dulu. Kalau tahu aku sudah memeras uangmu," ujarku mengumpat. Karena waktu dulu, Ji Seon adalah laki-laki yang suka menutup diri. Dia sama sekali tidak dekat dengan wanita, tapi bukan berarti hubungannya tidak baik. Karena waktu SMA aku wanita yang agak tomboy jadi suka mengusiknya. Sehingga dia bosan dan mengajakku berteman. Aku juga tidak menyangka kalau laki-laki seperti dia mau berteman denganku. Dan sejak saat itu pula kami sering bersama. Dia menasehati diriku untuk berubah menjadi wanita normal. Dan dia juga mencoba mengajariku menjadi orang pintar, tapi tidak bisa. Aku juga heran dengan kebodohanku sendiri.
"Aku tinggal di pinggir kota waktu itu karena nenekku yang meminta, tapi karena ibuku, terpaksa kami harus pindah ke kota," cerita Ji Seon menceritakan.
"Iya tapi kamu tidak pernah cerita kalau kamu ini orang kaya," umpatku kesal karena dia tidak menceritakan kehidupannya denganku, padahal kami sudah sangat dekat sampai dikira memiliki hubungan spesial.
"Aku pernah mengatakan padamu, kamu saja yang tidak percaya dan bilang aku ini sedang bergurau," jawab Ji Seon menyalahkanku.
"Hehehehe," kelakar ku tertawa sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali.
Memang Ji Seon pernah mengatakan kalau dia adalah anak seorang pengusaha terkenal di pusat kota. Hanya saja aku tidak pernah percaya meski dia sudah berulang kali mengatakannya. Aku saja yang bodoh menganggap semua yang dikatakannya adalah sebuah lelucon.
"Untuk apa kamu menanyakannya padaku?" tanya Ji Seon kemudian.
"Hmmm? Aku takut kalau kalian tidak bisa berdamai dan membuat kebisingan setiap saat," pungkas ku sambil menunjukkan tampang tidak nyaman.
"Sampai kapan kamu akan berada di sampingnya?" tanya Ji Seon serius.
"Ha? Soal itu aku tidak tahu. Tapi pastinya aku akan pergi saat dia memintanya. Sebelum dia memintaku pergi, aku tidak akan pergi," jawabku.
"Kenapa kamu terlihat seperti budak cinta? Menjengkelkan," decak Ji Seon kesal.
Kalau dilihat dari cara bicara Ji Seon, tampaknya dia tidak menyukaiku dan memiliki perasaan padaku. Dia hanya menganggapku seperti sahabat dan memperlakukanku seperti saudara. Aku sudah salah menduga kalau dia sudah jauh cinta padaku. Ternyata itu karena ketebalan muka dan sikap percaya diri yang berlebih-lebihan. Tapi kalau dia hanya berpura-pura tidak suka aku bagaiman? Aku pasti akan bingung harus pilih yang mana. Satu adalah orang yang berharga, dan satunya lagi orang yang bermakna.
"Ngomong-ngomong kamu sudah berpacaran belum? Tidak mungkin belum Pernah, kan?" tanyaku berniat menggodanya.
"Tentu saja sudah, apa menurutmu aku bodoh sepertimu? Tidak pernah berpacaran sama sekali. Aku tidak tahu itu karena tidak bisa move on dariku atau karena tidak ada yang mau," ledek Ji Seon mempermalukanku.
"Enak saja, aku tidak pacaran karena bibi tidak mengizinkan aku untuk berpacaran," jawabku membual. Padahal jelas bibiku sangat mendukung kalau aku berpacaran kala itu, apalagi kalau tahu pasangannya adalah Ji Seon. Dia seratus persen akan mendukung dan merestui kami. Tapi karena memang saat itu Ji Seon tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku, aku sudah anggap kalau dia tidak menyukaiku dan mengubur perasaan yang kupendam padanya.
Saat tahu dia sudah pindah dari sekolahku waktu dulu, aku benar-benar sangat patah hati dan tidak berselera untuk sekolah lagi. Aku sering bolos sekolah dan duduk di taman tempat kami sering bersama. Aku mengenang sendiri dan tidak pernah bercerita denganku orang lain. Aku jadi orang pemurung dan tidak ingin bertemu siapapun lagi. Dan setiap laki-laki yang mendekatiku akan kujauhi dan mencoba menghindarinya, karena aku takut terjebak dalam kenangan lagi. Akhir cerita, aku tidak pernah berpacaran sama sekali saat masa muda. Cerita yang kelam, tapi aku bangga kerja bisa tahan tidak berpacaran selama hidupku. Bahkan sampai sekarang, tidak pernah satu pun laki-laki yang kuterima saat mereka mengungkapkan perasaan padaku. Sangat kejam, tapi itu karena masa lalu yang mengajarkanku.
***
Waktunya pulang bekerja. Katanya Ahn Yoo akan menjemputku hari ini. Tapi dia belum meneleponku sama sekali. Kalau tidak dikasih tanda, aku mana tahu harus bersamanya atau harus naik transportasi umum. Kalau dia tidak bisa, aku akan pulang bersama Ji Seon. Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu bersama sahabat sialan ini kalau bukan sekarang?
Aku mencoba menghubungi Ahn Yoo, tapi dia malah tidak angkat panggilanku. Aku rasa dia sedang ada urusan mendadak untuk dikerjakan. Atau dia sedang ada rapat hari ini.
Kalau aku pergi tanpa bertanya dulu padanya, dia akan cemberut lagi padaku, dan akhirnya kami bertengkar seperti biasanya. Hubungan kami memang sangat suram, sampai dengan bentakan pun sudah terbiasa.
"Apa dia tidak menjemputmu?" tanya Ji Seon.
"Ha? Sepertinya begitu. Dia tidak meneleponku mungkin saja dia lana pulang kerja. Sebaiknya kamu antar aku pulang," perintahku dengan santai tanpa ada janggal padanya.
"Kamu tidak takut Si tukang cemburu itu marah?" tanya Ji Seon mengingatkanku.
"Kamu ini sahabatku, bagaimana dia cemburu?"
"Tadi saja dia sudah mengancam ku," gerutu Ji Seon pada Ahn Yoo.
"Itu sudah penyakitnya dari sejak lama, kalau tidak marah, ya mengancam," sambungku lagi yang ikut menggerutui Ahn Yoo.
Sedangkan Ahn Yoo yang sedang giat bekerja itu, tiba-tiba bersin tanpa ada angin yang berhembus, bahkan dia tidak pilek sama sekali. Dia merasa tidak enak badan saat aku dan Ji Seon sedang menggosipinya.
***
Akhirnya, aku diantarkan pulang oleh Ji Seon. Karena aku yakin Ahn Yoo sangat sibuk saat ini. Sampai tidak sempat mengangkat panggilanku. Dan nanti kalau dia mengamuki aku karena bersama Ji Seon, aku akan serang balik. Dengan mengatakan kalau yang salah adalah dia, karena tidak angkat teleponku. Sungguh rencana yang cerdik, Jane Soo.
"Aku pamit teman yang paling setia," lambaiku padanya.
"Teman apanya? Menyuruh singgah saja kamu tidak mau," umpat Ji Seon menyindir.
"Aku ini tinggal sendiri, bagaimana bisa leluasa menerima tamu lelaki? Apalagi kamu ini sedang single, dan aku juga single. Tentu saja di-la-rang," tukasku dan kemudian tertawa.
"Single? Bukannya Ahn Yoo ada?"
"Hussst! Aku dan dia tidak ada hubungan seperti itu, jangan sembarangan kalau bicara," gusarku mengamukinya.
"Lalu kenapa kamu sangat patuh padanya? Lebih-lebih seperti suami-istri," ledek Ji Seon mempermainkan ku.
"Pergi sana ... aku lempar pakai heels kalau belum juga pergi," ancamku sambil merengek.
"Pemarah, aku sumpahi kamu tidak dapat jodoh," canda Ji Seon lalu pergi dari hadapanku. Dia sengaja melakukannya itu agar aku dan dia bisa kembali seperti dulu lagi. Tidak secanggung sekarang.
Aku tersenyum sambil melambaikan tangan pada Ji Seon. Lalu pergi masuk ke dalam apartemen tempatku menumpang. Terkadang aku berpikir, akan sampai kapan aku akan tetap berteduh di sini? Dan hanya senyum palsuku yang bisa menjawab pertanyaan konyol itu. Tidak tahu kapan dunia akan merebut segalanya lagi dariku, yang penting aku tetep harus bisa beradaptasi dengan hal baru dan terus hidup meski hanya sendiri.
Sungguh prinsip hidup yang buruk, tapi keadaan yang mengajari dan memaksaku harus bisa seperti itu. Menyedihkan, tapi harus dilakukan. Memilukan tapi harus lalui.
~Apartemen ku~
Dering ponselku berbunyi, panggilan dari manusia yang paling rempong datang. Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan padaku, tapi aku harus mempersiapkan diri. Aku sudah tebak, dia akan mengamukiku karena pulang bersama dengan Ji Seon. Aku berani bertaruh akan tebakan itu.
"Halo, ada apa?" sapaku melalui telepon.
"Kenapa kau meneleponku?" tanya Ahn Yoo balik padaku. Padahal jelas-jelas aku yang pertama bertanya padanya.
"Panggilanku sudah basi, aku menelponmu tadi," jawabku datar.
"Kututup teleponnya," pamit Ahn Yoo dan langsung menutup panggilannya. Sangat dingin, tidak punya perasaan, tidak ada tatakrama, menyebalkan, tidak bisa basa-basi, membosankan, payah, semua yang menjengkelkan ada pada dirinya.
Aku memukul bantal yang ada di depanku sambil membayangkan dia adalah Ahn Yoo Si psikopat gila. Ingin rasanya mencekik lehernya sampai mati.
Aku kira dia akan bicara tentang apa, ternyata dia hanya menanyakan hal tidak berguna itu. Dan yang paling membuatku ingin membunuhnya adalah ketika dia langsung menutup panggilannya.
Dia tidak berniat untuk menjemputku? Atau setidaknya berbasa-basi tentang apa, dia tidak bisa? Pantas saja sampai sekarang dia masih belum dapat pacar dan tidak punya pasangan di usia yang sudah selayaknya untuk itu. Umurnya kira-kira sudah 27 tahun tapi belum juga punya pasangan. Untung saja wajahnya awet muda, kalau tidak bakal kena hujat karena masih lajang di usia setua itu.
Bicara tentang usia, dia beda jauh denganku. Umurku baru 22 tahun, sedangkan dia sudah 27 tahun. Bukankah jaraknya terlalu jauh? Kalau kami sampingan mungkin orang lain akan mengira kami Kakak-adik. Tidak, wajahnya menipu, terlihat saja masih 24, faktanya sudah usia lanjut.
Dreeet-Dreeet!
Sekali lagi ponselku berbunyi, dan yang memanggil adalah Ahn Yoo. Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya karena sudah yakin kalau dia hanya akan membuatku semakin kesal saja melihatnya. Tapi hati yang lemah ini tidak bisa membiarkan aku menolak panggilannya. Terpaksa aku harus mengangkatnya dengan tangan yang enggan.
"Ada apa lagi?" tanyaku dengan ketus dan aura marah menyelimuti kepalaku.
"Turun cepat, aku di bawah," perintah Ahn Yoo seenak jidatnya.
"Aku masih berbaring, rasanya sangat malas untuk berdiri," jawabku.
"Turun atau aku yang mengangkatmu dari sana," pungkas Ahn Yoo dengan tegas dan memaksa.
"Aku mengantuk, sudah. Aku tutup teleponnya, bye." Aku langsung mematikan panggilanku lalu mematikan ponselku. Aku ingin balas dendam padanya karena sudah mengacuhkanku. Padahal dia sendiri yang berjanji akan menjemput aku pulang bekerja, tapi malah dia yang ingkar. Enggak saja setelah ingkar malah semena-mena memerintahku. Lagi pula aku sangat lelah karena banyak kerja, ditambah tidak ada istirahat. Badanku pegal dan minta dipijat. Aku sudah minta Ji Seon yang pijatkan tapi dia tidak mau. Kalau mau suruh Ahn Yoo, yang ada dia akan melakukan hal-hal diluar nalar gadis polos sepertiku.
Beberapa saat kemudian, pintu apartemen ini terbuka. Padahal aku sudah memejamkan mata dan hendak tidur, tapi ada saja yang menggangu. Tidak lain, orang yang bisa masuk ke sini 24 jam hanya Tuan Ji yang terhormat itu. Kalau bukan dia siapa lagi?
Untungnya aku sudah mengunci pintu kamar agar dia tidak bisa keluar masuk tanpa sepengetahuanku.
Tok-Tok-Tok!
Ahn Yoo mengetuk pintu kamar ini. Aku pura-pura tidak dengar saja agar tidak perlu meladeni Psikopat dingin itu.
"Jane Soo," panggil Ahn Yoo dari luar kamar.
Mendengar suaranya aku spontan langsung menarik selimut dan membungkus tubuhku di dalamnya.
Kreeek!
Pintuku bisa dibobol Ahn Yoo, aku menguncinya, kenapa dia masih bisa masuk? Kamar ini tidak pakai sandi, jadi dia tidak mungkin bisa masuk selain dengan kunci.
Jantungku hampir pecah karena takut kena amukan psikopat ini. Aku harus tetap tenang dan memikirkan cara agar bisa bebas dari dia.
"Wanita bodoh ini kenapa lagi?" decak Ahn Yoo lalu berjalan mendekatiku. Dia membuka selimut yang menutup tubuh dan wajahku. Sampai aku yang sedang ketakutan setengah mati ini hanya bisa berharap sandiwara yang akan kumainkan berhasil menipunya.
"Ahn Yoo?" Aku merintih seperti sedang kesaktian agar mendapat simpatinya. Aku harus berpura-pura tidak enak badan agar tidak terkena semburan kata yang menyakitkan.