SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 29



Keesokan harinya, pada saat matahari masih enggan menampakkan siniarnya. Ahn Yoo sudah mengetuk pintu kamar hotelku, padahal mataku masih larut dalam tidur yang lelap.


Tok-Tok-Tok!


Tok-Tok-Tok!


Ketukan itu tidak kunjung berhenti, padahal sudah ku diamkan dan pintunya tidak ku buka sama sekali.


"Jane!" teriak Ahn Yoo memanggilku.


Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan kembali tidur.


Tok-Tok-Tok!


"Sialan! Aku masih mengantuk, dasar gunung es yang tidak punya perasaan." Aku mengutuk Ahn Yoo dan bangkit dari ranjangku.


Karena sudah belajar dari kesalahan malam itu, aku melihat dulu siapa yang mengetuk pintuku dari lubang kecil ini.


Ternyata memang Ahn Yoo, untuk apa dia mengetuk pintuku? Apa dia tidak merasa canggung karena kejadian tadi malam? Muka Ahn Yoo tebal sekali seperti tembok saja.


"Apa?" tanyaku yang hanya membuka sedikit pintu ini, sehingga hanya kepalaku yang bisa dilihat Ahn Yoo.


"Aku akan rapat nanti, jadi kita harus pulang."


"Oh," jawabku datar kemudian menutup pintu rapat-rapat.


"Ya tuhan, aku hampir mati menghadapinya. Kenapa dia bisa santai sekali saat bicara dan matanya tidak segan menatapku. Wah ... apa dia sudah gila?" kataku sambil memegang jantungku yang berdetak kecang saat melihat Ahn Yoo berdiri di depan pintu.


"Cepatlah berkemas!" Timpal Ahn Yoo dari luar kepadaku.


Aku mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, aku mendapatkan pesan dari Ahn Yoo.


Gunung Es:


 


Aku menunggumu di parkiran.


 


Aku langsung berjalan ke parkiran untuk menghampirinya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ahn Yoo ketika aku sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tersesat saat mencari parkiran," jawabku konyol.


"Kau memang bodoh, buta arah. Mengingat jalan saja tidak bisa," kata Ahn Yoo mengejekku.


Aku hanya diam mendengar ejekan Ahn Yoo dan gidak mempedulikan apa yang dia katakan.


Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba Ahn Yoo memberhentikan mobilnya di sebuah restaurant di pinggiran kota.


"Apa kau lapar?" tanya Ahn Yoo.


Aku mengangguk dengan wajah memelas.


"Kau lihat itu tutup, jadi tahan laparmu sampai di rumah," tukas Ahn Yoo.


Perjalanan pulang ke rumahnya itu sangat lama, mungkin kami akan sampai ketika matahari sudah terbit.


"Aku sangat lapar, tadi malam aku tidak makan. Kalau pagi ini aku juga tidak makan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi," jawabku dengan lagak menyedihkan.


"Sudahlah, lagi pula tidak ada restaurant yang buka jam segini," tukas Ahn Yoo.


Aku ingat kalau masih ada kedai makan, secara mereka buka 24 jam setiap hari.


"Aha! Aku ingat ada restaurant dekat sini," kataku membual.


"Dari mana kau tahu? Kau baru sekali ini datang kemari," decak Ahn Yoo tidak percaya.


Memang aku tidak tahu, tapi aku melihat kedai makan yang berbuka di dekat sini saat perjalanan semalam, memang aku sangatlah cerdik. Kalau aku beritahu Ahn Yoo untuk makan di kedai, dia tidak akan mau. Lebih baik membual saja dari pada tidak makan sama sekali.


"Aku melihatnya waktu perjalanan ke sini, kalau tidak salah ingat tempatnya di sekitar sini."


Ahn Yoo mendengarkan kata-kataku dan mengikuti instruksi dariku.


"Itu di sana," tunjukku ke kedai yang berbuka.


Ahn Yoo meminggirkan dan memarkirkan mobilnya di depan kedai itu. Saat aku membuka pintu mobil, Ahn Yoo menatapku dengan pandangan tidak yakin.


"Apa? Turunlah, aku sudah lapar."


"Apa kau menyuruhku makan di sana?"


"Kalau tidak mau, biar aku saja yang makan. Kau tunggu aku di sini," jawabku tidak acuh padanya.


Dengan berat hati, Ahn Yoo turun dari mobilnya dan masuk ke kedai sederhana ini.


"Wah ... aku sudah rindu makan di tempat seperti ini," decakku sambil menghirup aroma odeng uhmook yang menyelimuti kedai ini.


Odeng uhmook\= jajanan makanan khas dari Korea, terbuat dari tepung dan ikan.


"Uhmooknya sepuluh tusuk dua porsi!" Teriakku keras dan mengangkat tanganku.


"Apa yang kau lakukan?" Senggak Ahn Yoo melihatku.


"Aku sedang memesan," jawabku singkat.


Wajahnya menunjukkan ekspresi ambigu karena tidak biasa dengan kedai pinggiran seperti ini.


Tidak lama kemudian, paman pemilik kedai menghidangi kami dua mangkuk uhmook.


"Terima kasih paman," kataku tersenyum melihat pemilik kedai.


Aku menyantap uhmook yang ada di depanku dengan terburu-buru.


"Bisakah kau makan pelan, tunggu dingin dulu baru makan," timpal Ahn Yoo mengingatkan.


"Uhuk, uhuk, ini akan enak kalau dimakan pas masih panas. Kalau sudah dingin tidak enak lagi," sambungku sambil melahap tusu uhmook di tanganku.


Ahn Yoo hanya masih menatap uhmook di hadapannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Aku mengambil uhmook miliknya kemudian memberikan untuknya.


"Cobalah, rasanya enak."


Ahn Yoo meniup uhmook di tanganku, dan menggigitnya sedikit.


"Rasanya tidak enak," kata Ahn Yoo.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku kebingungan.


"Aku sedang memakan makanan yang kau suapi untukku," jawabmy tidak tahu malu.


"Kapan? Kapan aku menyuapimu?"


"Jangan banyak tanya," kata Ahn Yoo sambil memakan uhmook dengan lahap.


Kata Ahn Yoo rasanya tidak enak, tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah umhook itu. Penipu berdarah dingin memang seperti itu, susah sekali memuji.


Tiba-tiba Ahn Yoo mendapatkan panggilan dari seseorang, setelah dia mengangkat panggilan itu, seketika wajahnya berubah menjadi kaku seperti sedang panik.


"Kita pulang sekarang," kata Ahn Yoo dengan nada panik dan langsung beranjak dari kursinya.


Apa masalah yang membuat suasana hati Ahn Yoo berubah? Saat di perjalanan pulang, sepatah kata pun tidak ada yang terlontar dari Ahn Yoo.


Ahn Yoo mengambil ponselnya dan melepon sekretaris perusahaannya untuk membatalkan rapat hari ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ahn Yoo, kamu terlihat sangat panik?" tanyaku kebingungan.


"Aku tidak sedang panik, aku hanya merasa geram."


"Kenapa?"


"Hyun In masuk rumah sakit," jawabnya kaku.


"Rumah sakit? Kenapa bisa? Bukannya dia baik-baik saja waktu itu?"


Ahn Yoo tidak menjawab pertanyaanku dan terus menambah kecepatan mobilnya.


Setibanya di rumah sakit, Ahn Yoo langsung berjalan ke ruangan Hyun In. Saat kami mendekati ruangannya, terdengar suara kericuhan dari dalam.


"Jangan ada yang menyentuhku," teriak Hyun In histeris.


Aku melihat semua perawat sedang heboh menenangkan Hyun In yang tampak seperti orang gila.


Ketika Ahn Yoo dan aku masuk ke dalam ruangan Hyun In, barulah dia menjadi tenang dan berhenti berteriak.


"Jiyu?" Wajah Hyun In terlihat bahagia.


"Bisakah kau bertindak lebih dewasa," kata Ahn Yoo yang tampak tidak senang.


"Jiyu? Aku tahu kamu pasti akan datang membesukku, aku tahu kalau kamu masih perhatian denganku. Jangan pergi tinggalkan aku seperti terakhir kali, Jiyu," lirih Hyun In dengan air mata di pipinya.


"Terserah apa katamu, aku tidak akan peduli dengnmu," jawab Ahn Yoo ketus.


Mendengar Ahn Yoo mengatakan itu, Hyun In semakin menangis sejadi-jadinya, bahkan dia nekat akan menyayat lehernya dengan pisau buah yang berada di dekatnya. Semua orang panik karena tindakannya ini.


"Hyun In!" teriakku menghentikannya.


"Diam! Ini semua karena kamu Jane Soo, kamu merebut Jiyu dariku. Sekarang kamu sudah puaskan, lebih baik aku mati dari pada merelakan Jiyu dengan orang lain," kata Hyun In.


"Tidak, aku tidak merebut Ahn Yoo darimu. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Dan Ahn Yoo adalah milikmu, jadi tenanglah," kataku mencoba menenangkan Hyun In.


"Kamu berbohong, aku tidak percaya dengan omong kosong mu itu," senggak Hyun In.


Ahn Yoo tampak semakin kesal dengan Hyun In, dia mengatakan kaliamat yang menyakitkan dan tidak mengasihani Hyun In sedikit pun.


"Kalau ingin mati, cepatlah. Aku sudah muak melihat permainanmu selama ini. Aku tidak suka dengan tingkahmu yang seperti anak-anak," tukas Ahn Yoo.


"Ahn Yoo! Apa yang kamu katakan, Hyun In akan semakin nekat nanti," kataku kepada Ahn Yoo.


Berbeda dengan yang ku bayangkan, Hyun In malah menjatuhkan pisau yang di tangannya dan menangis tersedu-sedu. Dia tampak sedang patah hati, wajahnya yang pucat masih tidak bisa menduga Ahn Yoo mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.