SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 12



Ahn Yoo kasar sekali, dia tidak mau melepaskanku. Ditambah dengan kata-kata pedas dari mulutnya, membuatku semakin terpukul.


"Sekarang aku baru tahu kalau kau sama saja dengan wanita di luar sana. Pantas saja pamanmu menjualmu, karena kau lihai menggoda laki-laki!" teriaknya padaku.


"Apa katamu?" Aku terkejut mendengar kata-katanya. Aku tidak pernah membayangkan kalau ada orang yang bicara sekasar ini pada wanita.


"Aku tahu, kalau kamu orang yang sempurna tidak sepertiku, wanita rendahan yang bisa diancam setiap saat. Jadi, maaf kalau aku sudah menyinggungmu," ucapku yang sudah sangat tersinggung dengan ucapannya. Air mataku mengalir padahal aku sudah menahan untuk tidak menangis. Aku terus memberontak dan mencoba keluar dari cekamannya. Aku tidak mau dia melihatku menangis, tapi dia tidak melepaskan ku.


"Menjauh dariku! Jangan pernah mendekatiku! Dasar Gunung es," perintahku dengan wajah yang dibasahi air mata.


Aku menginjak kakinya dan berlari ke dalam kamar mandi. Dengan cepat aku mengunci pintu dan menunggunya pergi dari kamarku.


Setelah beberapa jam kemudian, aku keluar dari kamar mandi.


"Aku yakin brengsek itu sudah pergi," Kataku sambil menghapus air mata yang tidak mau berhenti mengalir.


Benar saja, dia sudah pergi.


Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku nanti. Aku hanya berharap dia membenciku dan mengusirku dari sini.


Dengan begitu aku tidak perlu menangis dan makan hati karena brengsek Gunung es itu.


Aku membaringkan badanku di atas ranjang dan mencoba melupakan kejadian tadi. Ditambah dengan mulut pedas dan lidah tajam Ahn Yoo membuat malam ini sangat melelahkan. Bahkan aku sangat tertekan.


Keesokan paginya


Aku mandi dan memakai seragam kerjaku.


Awalnya aku ingin mengambil waktu sepuluh jam kerja. Suapaya aku bisa menghasilkan uang yang banyak.


Mengingat perdebatan tadi malam dengan Ahn Yoo, aku masih canggung untuk bertemu dengannya. Jadi, aku menunggunya pergi bekerja dulu lalu berangkat kemudian.


"Yeehh! Dia sudah pergi." Aku melihat mobil yang biasa digunakan Ahn Yoo saat bekerja keluar dari gerbang.


Dengan cepat aku berlari turun ke bawah dan berpamitan kepada Bu San.


"Bu San, aku bekerja dulu,' yah." Aku berlari sambil melambaikan tangan ku.


"Jane! Tunggu, hari ini suasana hati Tuan Ji sangat buruk. Sebaikanya kamu cepat pulang. Saya khawatir Tuan Ji marah lagi," kata Bu San menatapku cemas.


"Ahmmm, nanti aku pertimbangkan lagi Bu San." Aku tidak menghiraukan perkataan Bu San dan pergi begitu saja.


Aku tiba jam 07.15 am di resto. Setelah itu, aku langsung mengambil bagian dan mulai bekerja.


****


Waktu tidak terasa ternyata sekarang jarum jam menunjukkan pukul 19.00 pm.


"Ternyata bekerja seperti ini melelahkan juga. Namun demi melunaskan hutangku aku harus tetap semangat." Aku mengepal tanganku dan memberi semangat untuk diriku sendiri.


Ketika sedang bergumam sendiri di ruang karyawan, aku mendengar keributan dari meja pelanggan.


"Aku suka sekali dengan tuan muda TIG," sahut salah seorang pelanggan.


"Wahhh, ada laki-laki tampan yang baru saja datang, hahahaha," decakku lalu berlari keluar ruangan ini mengintip laki-laki itu.


Aku tidak melihat apa-apa di sini, hanya pelanggan yang bergosip saja.


"Katanya dia belum mempunyai pacar," Kata wanita yang ada di depanku pada temannya.


"Iya, kabarnya memang begitu. Jadi berharap bisa menjadi istri direktur," sambung wanita lainnya.


"Jane Soo! Waktunya mengantar pesanan pelangan." Terdengar suara kepala pelayan.


"Iya ... aku segera ke sana," sahutku.


"Ini kamu antarkan ke meja VIP dan hati-hati, perhatikan langkahmu. Kamu tidak perlu memasukkan Lada dan bawang goreng ke dalam sup ini," perintah kepala pelayan padaku.


"Apa? Kalau kamu tidak keberatan." Aku berterima kasih padanya dan memberi makanan yang ada di tanganku tanpa banyak tanya.


Shin Tea dengan semangatnya mengambil pesanan tadi dan pergi mengantarkannya.


"Terima kasih Shin Tea, kamu tahu sekali aku sudah lelah mengantarkan pesanan dari tadi," kataku dan tersenyum padanya.


Setelah beberapa menit, Shin Tea datang menemuiku.


"Jane Soo, Kamu dipanggil kepala pelayan," kata Shin Tea sambil menunjuk kepala pelayan.


Tampaknya kepala pelayan sedang berbicara serius dengan pelanggan ruang VIP. Saat aku ingin menghampiri mereka, kepala pelayan lebih dulu mendekatiku.


"Ada apa Bu?" tanyaku ramah.


"Apa? Kenapa kamu tidak mendengar yang kukatakan, aku menyuruhmu untuk tidak memasukkan lada di sup ini. Kenapa kamu masih menaruhnya?" Suara kepela pelayan terdengar keras. Untungnya saja, ruang VIP ini tidak terlalu ramai. Jadi aku tidak terlalu malu.


"Tapi ... tapi aku tidak menaruhnya." Aku mencoba membela diri.


"Jadi menurutmu Tuan Ji yang memasukkan lada ke dalam makanan itu?" sambungnya dengan raut wajah marah.


"Apa? Tuan Ji? Maksudnya Ahn Yoo?" tanyaku kaget setelah mendengar namanya disebut.


"Apa yang kamu katakan! Bersopanlah ketika berbicara, apa kamu tahu mulutmu terlalu rendah untuk memanggil nama depan Tuan Ji!" bentak kepala pelayan yang semakin mengeraskan suara.


Aku sekarang sadar kalau aku memang tidak tahu malu. Selama ini aku selalu memanggil Ahn Yoo dengan nama depan saja. Bahkan aku berani membentaknya tadi malam.


"Jadi pergi dan minta maaf kepada Tuan Ji karena sudah memasukkan lada ke dalam makanannya." Dia menarik tanganku dengan keras ke hadapan Ahn yoo.


"Aku tidak akan meminta maaf, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali. Shin Tea yang mengantar pesanannya bukan aku. Kenapa jadi aku yang memohon-mohon ke sana?" Aku melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Berani sekali kamu membantahku."


Dengan amarah, tangan kepala pelayan itu mencoba menamparku. Aku pasrah dan menutup mataku karena takut. Ketika aku membuka mataku Ahn Yoo memegang tangan wanita itu, dia melindungiku.


"Ahn Yoo?" Aku heran melihatnya.


"Kim Jane Soo, jaga sopan santunmu. Bertuturlah yang baik, apa kamu tidak pernah diajar?!" bentak kepala pelayan.


"Maaf Tuan Ji, dia hanya karyawan baru di sini." Kepala pelayan sangat ramah dan manis ketika bicara dengannya.


"Apa kau kepala pelayannya?" tanya Ahn yoo datar.


"Iya tuan, saya kepala pelayan di sini," sahutnya santun.


"Kau tidak cocok." Ahn Yoo melirik kepala Pelayan dengan mata sinisnya.


Kemudian wanita itu berlutut di hadapan Ahn Yoo, meminta maaf dan memohon-mohon.


"Saya mohon maafkan saya tuan, saya terbawa emosi dan tidak mengkontrol diri."


"Baiklah, tapi aku masih tidak bisa memaafkan soal lada itu," lanjut Ahn Yoo.


Kepala Pelayan mengancamku dengan tidak memberi gajiku. Terpaksa aku meminta maaf kepada Ahn Yoo.


Dengan suara gemetar aku meminta maaf. Mulutku terasa kaku dan susah bergerak.


"Maaf, maafkan saya tuan karena tidak hati-hati tadi. Dan terima kasih karena sudah membelaku."


***Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**