SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 45



Pertama kali membuka pintu apartemen ini, aku dan Hendry sudah melihat Ahn Yoo sudah duduk di kursi makan. Dia seperti sedang mendesak ku untuk masak dan segera menghidangkannya dengan cepat.


Aku malas meladeni laki-laki playboy seperti dia. Baru saja berdua dengan wanita itu, dan sekarang dengan mudahnya dia memintaku memasakkan makanan untuknya.


"Hendry, kakak masakkan spaghetti untukmu, bagaimana?" tanyaku.


"Hmmm, ok kakak! Aku mau spaghetti!!" teriak Hendry girang.


"Aku tidak mau makan itu," timpal Ahn Yoo menyangkal.


Aku pura-pura tidak mendengar Ahn Yoo dan tetap berfokus pada Hendry.


"Duduk di kursi sana, ok. Biar kakak bisa masakkan spaghetti yang enak," ujarku pada Hendry dan menyuruhnya duduk di sebelah kursi Ahn Yoo.


Saat aku sedang sibuk memasak spaghetti, terdengar gerutu Ahn Yoo pada Hendry.


"Jangan dekat denganku. Kau ingin merebut bibimu sendiri dariku," gerutu Ahn Yoo.


"Paman kenapa merasa tersaingi denganku? Padahal kau lebih kaya dariku, lebih tampan dariku. Hanya saja aku lebih lucu darimu," jawab Hendry dengan bijak.


Aku sampai tertawa geli mendengar perdebatan mereka. Yang satu tidak mau mengalah dan satu lagi tukang cemburu. Bagaimana kondisi rumah mereka kalau sedang disatukan? Aku yakin pasti suasanayakan ramai kalau mereka berdekatan.


***


Setelah spaghetti yang kumasak sudah siap, langsung kuberikan kepada Hendry. Aku sengaja tidak memasak spaghetti itu padanya sampai Ahn Yoo mengetahui letak kesalahannya dimana.


"Apa kau sedang menyuruhku untuk masak sendiri?" tanya Ahn Yoo heran melihatku.


"Apa rasanya enak, Hendry?" kataku menanyai Hendry untuk menghindari Ahn Yoo. Aku harus mendiami Ahn Yoo sampai dia sadar.


Dreeet!


Suara gesekan kursi tempat duduk Ahn Yoo. Dia berdiri dengan muka masam ditekuk dan dengan lagak wibawa, dia beranjak meninggalkan kami.


"Paman!" teriak Hendry sambil menarik tangan bajunya. Namun aku mengerti sifat Ahn Yoo. Kalau sudah sempat dia berubah menjadi dingin seperti itu, artinya dia tidak akan mendengarkan orang lain. Dia akan berubah menjadi sombong dan angkuh.


Dia menepihkan tangan Hendry lalu memperbaiki tangan bajunya yang kusut karena tarikan Hendry.


"Paman," kata Hendry dengan lirih.


Kasihan juga Hendry kalau ditinggal Ahn Yoo sendiri di sini. Apa sebaiknya aku membujuknya lagi untuk tetap di sini saja? Atau membiarkannya pergi dan menunggu ibu Hendry menjemputnya di sini?


"Heeuuduuh ... kasihannya Hendry harus ditinggal ayah, dan sekarang harus ditinggal paman. Tidak apa-apa, kakak ada di sini, ok? " ucapku menenangkan Hendry dan menyindir Ahn Yoo yang tidak mau memperdulikan Hendry.


"Ok, tapi janji denganku kalau kakak akan menidurkan ku sambil mengelus rambutku," minta Hendry dengan manja.


"Hanya itu?"


"Iya, kakak. Atau kakak mau memelukku sampai pagi?" tanya Hendry menggoda.


Anak kecil seperti dia sudah terlihat ada benih tukang selingkuh. Harus kubunuh selagi masih bibit, kalau sudah dewasa nanti takutnya tidal bisa diajar dengan suara.


"Tidak masalah."


Bam!


Ahn Yoo membanting pintu saat keluar dari sini. Dia sangat mengamuk sampai menghempaskan pintu. Untung saja jantungku kuat, kalau tidak sudah pecah karena suara bantingan pintu.


"Apa paman baik-baik saja?" tanya Hendry dengan wajah polosnya.


"Hmmm? Pamanmu sedang marah. Biarkan saja sampai suasana hatinya membaik," tukasku pada Hendry.


"Oh," angguk Hendry mengerti.


Aku mengambil sendok dan mengisinya dengan spaghetti yang kumasak tadi. Kemudian mengulang Hendry.


"Aaaa ... buka mulutnya," perintahku sambil mengangakkan mulut.


Setelah spaghetti itu habis dilahap Hendry, dia memintaku untuk mengajarinya cara menjadi laki-laki yang bisa menjaga wanita dengan baik. Katanya dia tidak mau seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab dan tega meninggalkan dia dan ibunya.


"Caranya adalah dengan menghargainya," jawabku dengan telunjuk yang menyentuh hidungnya.


"Segampang itu? Berarti ayahku buka seorang yang bisa menghargai, yah?"


"Hmmm, sepertinya memang begitu."


Sampai malam pun Hendry tetap tahan berbincang-bincang denganku tanpa ada jeda sebentar. Aku harus berpura-pura ke kamar mandi agar bisa menghindari kebosanan saat berbicara dengannya. Memang seru kalau bisa berbicara dengan anak-anak seperti Hendry, tapi kalau sampai jam 8 dia tidak bisa diam dan berhenti bertanya, siapapun juga akan bosan.


"Kita tidur saja, sudah malam," kataku pada Hendry dan memang benar kala itu mataku sudah sangat berat dan sudah sangat sulit berbuka kembali.


"Aku belum mengantuk," jawab Hendry sambil menggelengkan kepalanya.


Aku sudah tidak bisa lagi memaksa mata ini tetap cemerlang lagi. Aku harus memaksa mata anak ini lelah dan tidur.


"Kakak sudah mengantuk," rengekku padanya.


"Kakak tidur saja, biar aku yang menjagamu," kata Hendry bersikap sok kuat.


"Heheh ... heheh, anak kecil ini bikin gemas saja. Sini tidur saja, kakak sudah mengantuk," ujarku pada Hendry lalu menggendongnya naik ke atas ranjangku.


Sampai di atas ranjang pun Hendry tetap saja tidak berhenti bertanya padaku dan tidak henti-hentinya mengatakan kalau dia akan menjagaku. Padahal jelas-jelas badannya lebih kecil dariku. Tapi dia tetap bersikukuh untuk menjagaku.


Saat rambutnya mulai ku pegang dan mengelusnya, barulah matanya mulai redup dan terlelap. Ternyata hanya dengan cara ini dia baru bisa diam.


Bersamaan dengan terpejamnya mata Hendry, aku pun juga ikut tertidur. Namun aku hanya bisa tidur sebentar saja dikarenakan suara ketukan pintu yang membangunkanku.


Tok-Tok-Tok!


Ketukan itu berulang kali terdengar, membuatku harus membuka pintu. Padahal aku sudah tertidur sejenak, tapi malah diganggu manusia laknat yang mengetuk pintu di malam hari.


"Siapa orang yang ingin dibunuh ini," gerutuku dengan gigi yang saling mengatup.


Deg-Deg!


Jantungku hampir pecah karena mendapati Ahn Yoo yang semula dari tadi mengetuk pintuku secara berulang.


"Ka-Kamu? Ada apa?" tanyaku dengan terbata-bata.


"Dia sudah tidur?" tanya Ahn Yoo balik padaku.


"Ha? Oh ... Hendry maksudnya? Dia ... dia sudah tidur," jawabku gugup.


"Kita harus membahas masalah siang itu," kata Ahn Yoo dengan tegas.


"Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan. Ooh! Aku ingat, kamu mau membahas masalah aktris itu," kataku menyindir Ahn Yoo.


"Dia hanya karyawan bagiku," jawab Ahn Yoo dingin.


"Aku tidak perlu tahu dan tidak harus mengetahuinya. Tidak perlu dijelaskan, aku sudah paham kalau dia itu sangat spesial untukmu. Dan kamu berencana datang kemari untuk bertemu dengannya, kan?" tuduh ku sesuai dugaan ku.


"Apa menurutmu begitu?" tanya Ahn Yoo tampak tidak senang.


"Iya. Kalau tidak seperti itu apa lagi?"


"Untuk ini," kata Ahn Yoo kemudian menggigit bibir bawahku.


"Dasar hidung belang! Tidak ada akhlak, tidak bisa lihat situasi, tidak bisa menahan diri, dan tidak bisa ... intinya kamu kurang ajar!" senggakku mengamuki kelancangan Ahn Yoo yang tiba-tiba menggigit bibir bawahku dengan keras.


"Kau sudah membuatku marah tadi sore. Apa menurutmu aku akan tinggal diam saja?" kata Ahn Yoo seperti sedang ingin mengikatku dalam satu masalah yang tidak bisa dimaafkan.


"Jangan mengada-ada, aku ... aku akan bersabar untuk menghadapi suasana hati yang tidak terlalu bagus untukmu. Tapi bukan berarti kamu bisa langsung melakukan hal di luar batas wajar!" ujarku memperingatinya sambil mengepalkan tangan karena geram melihat Ahn Yoo yang tadi tiba-tiba menggigit ku.


"Besok kau pindah lagi ke rumahku. Saat berpisah dariku kau jadi lebih lancang. Aku curiga kau berselingkuh dariku," tuduh Ahn Yoo padaku.


"Jangan menuduhku yang bukan-bukan. Kamu yang kedapatan bersama aktris itu sedang haha-hihi tadi," jawabku menyangkal dan menudingnya balik.


"Seolah kau sedang cemburu," tebak Ahn Yoo.


"Aku tidak punya hak untuk itu. Lagian aku terlalu bodoh untuk menanggapi kalian. Aku tidak mau berdebat lagi dengamu," jawabku mengehentikan pembahasan yang tak berujung ini.


"Aku tidak ingin kau lebih perhatian kepada Hendry dibanding aku," timpal Ahn Yoo tidak jelas kenapa.


"Apa kamu ini sakit? Anak kecil saja dicemburui. Aneh!" Ledekku dengan raut tidak percaya dengan sikap Ahn Yoo yang posesif.


"Hmmm," angguk Ahn Yoo sambil melipat tangannya di depan dada.


Pasrah saja dengan makhluk yang satu ini. Setiap yang dikatakannya harus terjadi dan dilakukan. Kalau tidak, gunung merapi bisa meletus karena amukannya.


"Sudah malam, aku mau tidur," kataku sambil menunjuk jam dinding yang ada di ruangan apartemen ku.


"Besok aku akan jemput Hendry," ujarnya kepadaku.


Suasana Ahn Yoo tidak bisa diprediksi. Tadi dia cemburu, sekarang dia penurut. Aku semakin bingung.


Aku menutup pintu dan masuk ke dalam apartemenku sambil menatap Ahn Yoo yang berdiri di luar melirikku juga.


"Kenapa dengannya kali ini? Huft, aku hampir setengah mati menghadapinya," ucapku sambil mengelus dada yang hampir meledak.


Aku jadi susah tidur karena kunjungan Ahn Yoo yang tidak jelas apa tujuannya menghampiriku. Dan memang benar bahwa salah satu alasan lainnya adalah karena ciuman gila itu. Tidak mungkin kedatangannya hanya untuk itu.


Aku memejamkan mataku dan kembali tidur di ats ranjang yang Hendry pun berada di situ.


***


"Aku kesiangan!" teriakku saat melihat matahari yang sudah melintas.


"Kakak, kenapa kau berteriak keras sekali," tanggap Hendry sambil menutup telinganya. Dia sudah duduk di sofa dengan cemilan yang tersedia di kulkas mini yang ada di ruangan apartemen ku.


"Hendry? Kamu sudah bangun?"


"Hmmm," angguknya yang terus mengemil makanan ringan yang ada di tangannya.


Bukannya salah kalau pagi-pagi sudah makan cemilan. Harusnya sarapan lebih dulu. Aku berlari mendekati Hendry kemudian menarik makanan yang ada di tangannya.


"Tidak boleh makan yang ini," kataku mengingatkan.


"Kakak, aku juga tahu soal itu. Tapi kau belum bangun dan memasakkan sarapan pagi untuk ku," jawab Hendry dengan muka datar.


Iya juga sebenarnya. Agak memalukan kalau dia lebih dulu terbangun dari pada aku. Padahal biasanyakan anak kecil bangun sangat lama. Kenapa dia bisa secepat itu?


"Oh? Kakak buatkan roti saja, bagaimana?"


"Tidak, aku mau makan roti. Sudah bosan makan itu saja tiap harinya," tukas Hendry menolak.


"Jadi harus masak apa?"


"Aku ingin bubur kacang hijau," minta Hendry.


Kacang hijau tidaknada di dalam kulkas. Aku tidak pernah berniat untuk memasak itu. Dan sekarang Hendry malah meminta yang bahannya tidak ada di sini.


"Apa Hendry tidak mau yang lain?" tanyaku dengan maksud agar dia tidak meminta dimasakkan kacang hijau.


"Aku mau kacang hijau. Dan hanya kacang hijau yang akan kumakan," tukas Hendry tegas menolak.


"Kakak pergi ke bawah beli kacang hijaunya. Kamu ikut apa tunggu di sini?"


"Aku ikut. Nanti kakak malah digoda laki-laki lain. Aku harus jawab apa dengan paman nanti," balas Hendry.


"Hahahah ... kita pergi," kataku sambil memegang tangannya.


Saat berjalan keluar dari ruangan apartemen ku, aktris yang kemarin berbincang dengan Ahn Yoo lewat dari jalan yang sama dengan kami. Hanya saja aku dan Hendry berjalan tepat di belakangnya.


"Kau kenal dia?" tanyaku pada Hendry.


"Tidak. Tapi semalam kita melihatnya merayu paman."


"Iya," anggukku mengiyakan.


Aku melihatnya berjalan keluar dari sini. Dan dari kejauhan dia sepertinya dijemput oleh seorang pria yang merupakan aktor juga.


"Perempuan yang licik ini. Sudah punya pacar tetap mendekati Ahn Yoo," gumamku kesal dalam hati.


"Kakak, ini bagaimana? Apa kita tidal tidak jadi beli?" tanya Hendry menyadarkanku dari gumamku.


"Oh, iya."


Aku membayar belanjaanlu dan Hendry lalu kembali ke apartemen untuk memasak.


~Apartemen~


"Kak, ini sangat lezat," puji Hendry sambil menyantap bubur kacang hijau yang dia minta.


"Hmmm? Enak, yah?" tanyaku lagi sambil tersenyum menatapnya saat sedang mengunyah.


"Iya. Aku sudah lama ingin makan ini tapi tidak ada yang mau memberikannya."


"Kenapa? Bukannya kalian punya banyak pembantu?" tanyaku keheranan.


"Iya, tapi aku mau ibuku yang memasak. Tapi dia tidak pernah sempat," tukas Hendry.


"Oh, begitu. Tapi sekarang Hendry sudah makan buburnya," sambungku.


Saat tengah asik berbincang dengan Hendry, aku mendapat panggilan dari Ji Seon. Aku baru ingat kalau sekarang aku bukan pengangguran yang senang lagi. Tapi aku sudah menjadi seorang asisten dari direktur. Dengan cepat langsung ku terima panggilan itu.


"Halo, maaf aku akan bersiap datang ke kantor," jawabku dengan tangan yang gemetar memegang ponsel.


"Kamu tidak perlu terburu-buru datang ke kantor, aku agak terlambat hari ini," kata Ji Seon.


"Baiklah, aku datang agak terlambat juga. Sampai jumpa," kataku lalu mematikan panggilannya.


Kalau aku bekerja bagaimana dengan Hendry. Tidak mungkin dia ku tinggalkan sendiri di sini. Apa sebaiknya aku meminta Ahn Yoo menjemputnya?


Untung saja Hendry adalah anak yang tanggap. Dia memintaku untuk menghantarnya pulang ke rumah kakeknya, yaitu ayah Ahn Yoo.


"Kamu mau pulang?" tanyaku.


"Nanti kalau kakak sudah pulang bekerja, aku akan minta paman menghantarkan aku lagi ke sini," tukas Hendry


"Hmmm? Baiklah."


Kemudian aku membereskan pekerjaan rumah yang ada di sini, lalu berkemas untuk pergi bekerja dan mengantarkan Hendry pulang ke rumah kakeknya.


Kami menaiki taksi yang lalu lalang dari depan komplek apartemen.


"Kakak, kau jangan pergi bersama laki-laki teman kantormu. Aku tidak mau pamanku mengamuk lagi," ujar Hendry saat di dalam taksi.


"Hmmm? Kakak tidak akan begitu. Kamu ... kamu tenang saja, hahaha," kataku dengan canggung melihat supir taksi yang sedari tadi memperhatikan Hendry yang banyak omong ini.


"Kak, itu rumah kakek. Aku turun di depan gerbang saja. Takut kakak terlambat bekerja," ucap Hendry sambil menunjuk pagar mewah yang menutupi rumah ayah Ahn Yoo.


Supir itu kemudian memeinggirkan mobilnya tepat di depan pagar. Kemudian aku menghantar Hendry sampai depan saja. Dan meminta penjaga rumah yang berada di sini untuk menghantar Hendry sampai ke dalam.


"Dah, kakak!" lambai Hendry kepadaku.


"Dah," lambaiku lagi padanya.