
Akhirnya wanita yang sok cantik ini datang mengganggu suasana yang sedang baik ini. Dia berpura-pura lugu di depan Ahn Yoo dan Nenek. Padahal sebenarnya di balik topengnya terdapat tipu muslihat.
"Nyonya Gu, apa kabar?" sapa Xia Len pada Nenek Ahn Yoo.
"Baik, bagaimana denganmu?" sahut Nyonya Gu sambil tersenyum. Nenek ini sangat ramah sampai kepada siapapun tersenyum ramah.
"Sangat baik, Nyonya Gu. Dan kamu bukannya yang tinggal di apartemen Tuan Ji," tunjuk Xia Len padaku. Aku tahu wajahnya yang gembira itu hanya kepalsuan agar orang menyukainya. Sandiwara murahan ini malah ditunjukkannya di depanku. Untung saja aku ini cerdas, sehingga tipuan itu tidak akan mempan.
"Oh iya, halo," jawabku kepada Xia Len berpura-pura manis.
"Halo, kelihatannya kamu dan Tuan Ji sangat dekat," ucap Xia Len.
"Ha? Ti-Tidak, aku rasa itu hanya anggapan sekilas saja," ujarku sambil tersenyum paksa. Aku ingin sekali menjawab 'iya' pada wanita ini, tapi karena ada orang lain, aku harus tetap sopan dan santun.
"Aku ingin menanyakan ini sejak lama, tapi karena sibuk jadi tidak sempat. Aku harap kita bisa akur," tutur Xia Len. Dia ingin akur denganku? Aku tidak sudi berteman dan berhubungan dengannya. Kalau bisa saat bertemu denganku dia tidak perlu menyapa dan kalau bisa berpura-pura tidak kenal satu sama lain.
"Hehehe ... iya," anggukku.
"Nenek tinggal dimana?" tanya Ahn Yoo pada Nyonya Gu.
"Aku tinggal dengan Jiyu saja," sahut Nyonya Gu.
"Aku sibuk, tinggal di rumah anakmu saja," tukas Ahn Yoo apatis. Padahal itu adalah neneknya sendiri, tapi dia bersikap sangat dingin. Dia tidak mengizinkan neneknya tinggal bersamanya, padahal neneknya sudah meminta. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, dia menyebut ayahnya dengan tidak sopan. Sebegitu bencinya Ahn Yoo pada ayahnya sendiri?
"Anak kurang ajar, kamu bicara tidak sopan di depan tunanganmu," amuk Nyonya Gu pada Ahn Yoo.
"Aku tidak peduli," sambung Ahn Yoo yang tidak acuh sama sekali.
Saat sedang berbincang-bincang, Xia Len kembali memulai sandiwaranya dan bersikap lemah tak berdaya. Membuat orang semakin jengkal saja. Wanita licik ini mengatakan kalau supir pribadinya tidak bisa menjemputnya. Padahal tidak ada urusannya bagi kami mau dia bisa dijemput atau tidak.
"Aku rasa supirku tidak bisa datang," sela Xia Len.
Saat mendengar dia mengatakan itu, aku langsung paham dan yakin kalau ini hanya tipu muslihat agar bisa dekat dengan Ahn Yoo. Kalau memang supirnya tidak bisa datang, masih ada taksi 24 jam lalu lalang mengharapkan penumpang. Tapi wanita licik ini malah memainkan trik murahan agar dekat dengan Ahn Yoo.
"Aku dan dia pergi, Nenek tunggu jemputan saja," timpal Ahn Yoo yang tidak peduli dengan Neneknya dan Xia Len. Aku jadi kasihan dengan Xia Len karena sikap Ahn Yoo yang tidak peduli. Aku tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.
"Eh Ahn Yoo, kita tunggu Nyonya Gu dijemput. Dan Xia Len sedang kesusahan, lebih baik kita panggilan taksi untuknya," jelasku padanya.
"Xia Len? Kau tidak perlu ikut campur urusannya. Dan Nyonya tua sana, jemputannya sudah datang," tukas Ahn Yoo satu per satu. Memang benar jemputan Nyonya Gu sudah datang, lalu bagaimana dengan Xia Len. Aku tidak tega melihatnya dia patah hati karena diacuhkan oleh orang yang dia suka.
"Xia Len bagaimana?" tanyaku lagi.
"Biar aktris ini denganku saja," ucap Nyonya Gu.
"Terima kasih, Nyonya Gu," tutur Xia Len.
Setelah mereka sudah aman, Ahn Yoo menyuruhku untuk segera meninggalkan mereka dan pergi dari bandara ini. Aku mengikutinya dari belakang sambil melambai pada Nyonya Gu dan Xia Len.
~Dalam mobil~
"Tadi Nyonya Gu mengatakan padaku ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu malah menyuruhku pergi dari situ," terangku padanya. Memang sebelum itu, Nyonya Gu bilang ingin berbincang-bincang denganku.
"Bukan urusanku," jawabnya.
"Kenapa kamu jadi dingin padaku? Apa aku buat salah, ha?" tanyaku penasaran. Tiba-tiba saja sikapnya berubah padaku. Padahal aku merasa tidak melakukan apa pun padanya. Aku menjaga sikap saat di sampingnya. Lalu kenapa dia acuh begitu? Atau karena tadi aku melepaskan tanganku, dia jadi tersinggung. Sepertinya tidak, karena tadi dia masih baik-baik saja.
"Kau jangan dekat-dekat," seru Ahn Yoo sambil mendorong wajahku menjauh. Karena penasaran dengan alasan kenapa dia marah padaku, tanpa sadar aku mendekatkan wajahku padanya.
"Katakan," ujarku memaksanya mengatakan alasan dia berubah jadi dingin padaku.
Setelah berjuang sekian lama, akhirnya Psikopat dingin ini mengatakan kenapa dia berubah sikap denganku. Alasannya karena aku perhatian pada Xia Len, padahal sudah tahu kalau dia ingin dekat segan ahn Yoo. Ahn Yoo kira aku tidak merasa keberatan kalau mereka dekat.
"Oh karena itu," anggukku paham.
"Apa kau tidak takut Xia Len merebutku?!" tanya Ahn Yoo sambil menyeggak. Dia seperti anak lugu saat menanyakannya padaku. Tentu saja aku takut, tapi apa boleh buat kalau dia sendiri yang pergi. Aku tidak punya hak melarang mereka dekat. Karena aku ini bukan siapa-siapa bagi Ahn Yoo.
"Kenapa harus takut?" tanyaku pura-pura kuat, meski dalam hatiku sudah sangat takut kalau Xia Len mengambil hati Ahn Yoo dariku.
"Wanita yang sadis," celetuk Ahn Yoo.
"Bukannya tidak takut, tapi aku ini tidak ada hak untuk melarang kalian," ucapku sambil menatap keluar jendela mobil. Aku tidak ingin melihat wajah Ahn Yoo satu kukatakan seperti itu.
"Wanita bodoh ini," ejeknya sambil menjetik kepalaku dengan kuat.
"Ahhh! Sakit, tidak tahu aku ini sedang apa?!" amukku memarahinya.
Aku terkadang berpikir kenapa Ahn Yoo mau membantuku padahal kami tidak memiliki hubungan apa pun? Kalau jawabannya adalah karena suka, sampai sekarang dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku? Kalau jawabannya karena iba, kenapa sekarang dia tidak membiarkanku pergi? Seharusnya dia tahu kalau aku sudah memiliki pekerjaan yang bisa menghidupi diriku sendiri. Bahan dekan hasil kerjaku bisa mengontrak rumah mewah sekali pun. Lalu untuk apa dia tetap mempertahankan aku kalau bukan karena keduanya?
Aku ingin menanyakan langsung padanya, tau aku yakin Ahn Yoo tidak akan menjawab dengan serius. Ditebak sendiri juga tidak akan menemukan jawabannya. Semua sen salah. Yang harus kulakukan hanya berdiam diri dan menanti angin menunjukkan arah padaku.
Ahn Yoo membawaku mengelilingi kota hingga senja tiba. Tidak jelas apa tujuannya, tapi dia tampak kurang kerjaan. Dari tadi hanya berputar-putar tanpa henti. Bokongku saja sudah panas karena terlalu lama duduk. Hampir gelap seperti ini dia belum memulangkan aku.
"Ahn Yoo, kita sebenarnya ingin kemana? Dari tadi hanya berkeliling," ujarku yang keheranan.
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat.
"Hari ini pulang ke rumahku," ucap Ahn Yoo.
"Hah?! Kenapa? Aku tidak mau. Lagi pula aku tidak bawa baju untuk menginap di rumahmu," sangkalku dan menolak untuk tinggal di rumahnya.
"Bajumu bertumpuk di rumahku," tukas Ahn Yoo agar aku tidak banyak alasan dan pasrah untuk ikut ke rumahnya.
"Aku lupa bawa sesuatu yang penting. Saat ini aku ... aku datang bulan jadi tidak bisa tinggal di rumah orang lain," pungkas ku mencari alasan yang lain. Aku benar-benar tidak ingin tinggal di rumah Ahn Yoo. Sangat repot karena sedang menstruasi.
"Kita beli nanti," jawab Ahn Yoo datar.
Aku tidak bisa cari akan lain lagi. Semua alasan yang kuberi pada Ahn Yoo tersangkalnya. Dengan berat hati aku harus menurut dan pasrah tinggal di rumahnya.
Tak berapa lama, Ahn Yoo meminggirkan mobilnya di depan mini market. Dia mengatakan kalau beli pembalut di sini saja.
"Kamu tidak perlu turun," seruku menyuruhnya tetap di dalam mobil dan tidak perlu ikut masuk ke dalam. Nanti orang akan menghujatkun dan mengatakan kalau aku dan dia tidak pantas bersamanya. Hatiku menangis saat mendengar mereka mengatakan itu. Jadi untuk mengantisipasi hal itu terjadi, lebih baik dia tetap di sini.
"Aku ingin masuk," balas Ahn Yoo bersikeras ikut ke dalam mini market ini. Bukannya dia yang akan merintih saat dengar orang yang menggosipi, tapi aku. Dia tidak akan sakit hati karena yang dihujat adalah aku.
"Tetap di sini. Kalau keluar aku tidak mau tinggal di rumahmu," pekik ku mengancamnya.
"Baru kali ini ada orang yang bisa mengancam ku," decak Ahn Yoo. Dia tidak ikut ke dalam mini market ini dan tetap di mobil. Untung saja Ahn Yoo menurut, kalau tidak telingaku bisa panas mendengar bisikan mulut tajam dari penggemarnya.
Saat membuka pintu mobil ini, aku melihat wanita licik, Xia Len berjalan kemari. Tidak tahu ini sengaja atau kebetulan, tapi aku yakin ini pertanda tidak baik. Bagaimana mungkin aktris cantik sepertinya sudi belanja di mini market, apalagi hanya seorang diri. Biasanya mereka menyuruh orang lain untuk membelanjakan barang. Kenapa dia bisa mandiri begitu?
"Jane Soo," sapa Xia Len saat melihatku sudah membuka pintu mini market ini. Untung saja dia menyadari keberadaanku setelah jauh dari Ahn Yoo. Kalau tidak dia akan menyusahkan saja.
"Xia Len? Tapi dari mana kamu tahu namaku?" tanyaku yang bingung dan heran dari mana dia mengetahui namaku. Padahal aku dan dia tidak pernah berbincang-bincang sebelumnya.
"Oh, waktu itu Tuan Ji mengatakannya padaku saat ada penyambutan kembalinya anak Tuan Park," ujar Xia Len. Memang benar waktu itu mereka sempat berbicara, sampai aku merasa cemburu dan mengira Ahn Yoo berpaling dariku.
"Begitu, hahaha. Oh iya, kamu mau membeli sesuatu di sini?" tanyaku basa-basi. Sebenarnya aku sangat maka meladeni wanita licik ini berbicara, tapi dia meneror kemanapun aku pergi.
"Iya, aku ingin makan mie instan," jawabnya sambil tersenyum. Wajahnya sangat cantik, apalagi saat senyum seperti tadi. Aku hampir jatuh cinta karena kecantikannya itu. Bagaimana laki-laki akan tahan dengan godaannya? Aku saja yang wanita sampai gugup saat menatapnya.
"Kamu suka makan mie instan? Bukannya artis harus jaga pola makan?" sindirku.
"Hahahah ... aku makan banyak pun tidak pernah gemuk," candanya sambil tertawa. Sedangkan dalam hatiku yang bergejolak ingin memakinya hanya bisa menjawab dengan senyum palsu. Padahal dalam hati aku mengatakan, " Pembohong besar, wanita licik, busuk, tidak tahu malu, sok polos, nenek sihir."
"Kalau begitu aku pergi, yah. Aku sudah selesai belanjanya," tutur ku berpamitan dengan Xia Len.
"Eh tunggu Jane Soo! Kita searah, kenapa tidak sama saja. Aku naik mobil," balas Xia Len. Dia memang baik atau berpura-pura baik? Dengan senang hati dia mengajakku untuk pulang bersama.
"Sebelumnya terima kasih. Tapi aku ingin pergi keluar sebentar, ada urusan mendadak," jawabku menolak dengan lembut.
"Kemana?" tanya Xia Len ramah.
"Ah? Itu aku ada urusan ke komplek sebelah, heheh," ungkapku menutupi tujuanku pergi. Aku yakin Xia Len berhati busuk ini ada rencana lain. Dia berpura-pura tidak tahu tujuanku dan kemudian mengikutiku dari belakang. Tapi aku ingin tahu apa rencananya setelah. Artis mahal sepertinya tidak mungkin mengecewakan aku, bukan?
"Kalau begitu aku pergi, bye," lambaiku lalu pergi dengan cepat.
~Dalam mobil~
"Kenapa lama?" tanya Ahn Yoo yang sudah membatu menungguku.
"Aku bertemu dengan pujaan hatimu di sana," jawabku menyindir.
"Bukan urusanku," cetus Ahn Yoo apatis.
"Aku bertemu Xia Len, artis kesayanganmu. Dia berbelanja di sini. Sungguh sangat sederhana, artis papan atas sepertinya beli di tempati seperti ini. Dan lucunya dia membeli mie instan. Padahal dia harus menjaga berat badannya. Kenapa malah beli itu?"
"Kenapa kau suka bergosip? Aku ini tidak sempat mengurusi cerita hidup orang lain. Jadi lebih baik diam," decak Ahn Yoo ketus. Dia memarahiku dan menyuruhku diam. Padahal aku hanya ingin suasana di sini tidak suram. Tapi dia malah menyuruhku diam dengan kata-kata menyakitkan. Rasanya aku ingin menagis tanpa mengeluarkan air mata.
"Aku hanya ingin kamu banyak bicara denganku, tapi tidak bisa. Kenapa kamu jahat sekali denganku? Kalau tidak ingin aku bicara denganmu, jangan mau dekat denganku," kataku dengan lirih dan bibir yang mengerucut karena cemberut.
"Jangan ajak aku berdebat," seru Ahn Yoo memperintah.
"Aku tidak akan diam," lanjutku lagi membuatnya merasa bising.
"Sudah kukatakan untuk diam," amuk Ahn Yoo.
"Aku tidak akan diam! Jangan paksa aku berteriak di sini!" jawabku dengan nada menekan.
Tiba-tiba, Ahn Yoo memberhentikan mobilnya Dan mentap mataku dengan sinis. Dia menonjolkan rahangnya pertanda sedang marah. Aku hampir ketakutan karena raut wajahnya itu. Sudah lama aku tidak melihat dia menunjukkan ekspresi menikam seperti ini. Terakhir kali saat aku baru dua hari tinggal di rumahnya. Saat aku dan dia belum saling mengerti saat sama lain.
"Jangan memicu terjadinya perdebatan," cetus Ahn Yoo dengan wajah dingin kaku miliknya.
"Aku tidak mengerti denganmu. Jadi bisa katakan kenapa kamu malah marah begitu?" ucapku yang sudah mulai merasakan kalau Ahn Yoo sedang tidak berada di suasana yang baik. Sebenarnya sikapnya berubah-ubah sejak pulang dari bandara itu. Tapi aku saja yang tidak menyadarinya.
Ahn Yoo bisa marah denganku karena mengira aku tidak cemburu kalau dia dekat dengan Xia Len. Dia kira aku senang jika melihat dia dan Xia Len bisa bersama. Dia ingin aku memintanya untuk menjauhi Xia Len dan memaksanya untuk tidak berhubungan dengannya. Padahal sudah kukatakan kalau aku tidak memiliki hak untuk melarang mereka, tapi Ahn Yoo malah bersikeras memaksaku.
"Aku kira sebaiknya kita pulang. Aku sudah lapar," ucapku mengelak dari suasana mencekam ini.
"Jangan alihkan topik," timpal Ahn Yoo ketus.