SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 44



Ahn Yoo baru mau mengalah ketika mendapat senggakan dariku. Kalau tidak seperti itu, mereka akan terus ribut sampai di apartemenku.


"Kakak, apa kau sudah mempunyai pacar?" tanya Hendry padaku.


"Hmmm? Belum," jawabku sambil menggelengkan kepala.


"Horeee! Artinya aku bisa menjadi pacarmu," terika Hendry riang.


"Hehehehe ... terserah kamu saja," decakku membiarkan Hendry.


Namun Ahn Yoo yang tukang cemburu ini malah menganggap serius perkataan Hendry. Dia mengamuk lagi dan menelpon Ibu Hendry agar segera menjemputnya.


"Kakak ... Paman menggangguku," rengek Hendry mengadu dan merangkul leherku.


"Kau! Sekali lagi menyentuhnya ... turun dari sini," perintah Ahn Yoo dengan serius.


Mendengar kalimat ini, Hendry langsung terdiam dan tidak recok lagi. Dia menjadi tenang sampai kami tiba di apartemenku.


Jika dipikir-pikir Hendry hanya anak kecil yang masih lugu. Tapi Ahn Yoo malah menggap dia sebagai saingan dan terlalu cemburu pada Hendry. Ditambah lagi, Hendry adalah anak dari saudara kandungnya. Untuk apa dia cemburu?


~Apartemen~


"Kakak ... aku tidur di sini, 'kan?" tanya Hendry riang saat masuk ke dalam apartemen yang simple ini.


"Iya, kamu tidur di sini. Tapi kalau Pamanmu membolehkannya," kataku sambil mencubit pipinya.


"Nanti kau malah mengganggu kami saat berduaan. Tidak boleh!" jawab Ahn Yoo kemudian menjauhkan Hendry dari hadapanku. Dia mengangkat Hendry duduk di atas sofa. Ahn Yoo menyuruhnya untuk tetap diam di tempat dan tidak boleh dekat-dekat denganku.


"Siapa yang mau berduaan?" tanyaku dengan wajah ambigu karena merasa risih.


"Diamlah! Anak ini akan menangis kalau tidak tidur bersamamu. Dan aku tidak mebiarkannya tidur bersamamu sendiri tanpa aku," kata Ahn Yoo tegas.


Ini hanya alasannya saja agar bisa tidur malam ini di apartemen ini. Dia berpura-pura perduli kepada Hendry, tapi sebenarnya dia memiliki niat terselubung pada hatinya.


"Iya, aku akan menangis kalau tidak tidur bersama kakak," rengek Hendry menampakkan wajah manis dan bibir mengerut.


Aku yang lemah melihat anak lucu seperti Hendry, tentu saja luluh dan akhirnya mengikuti permintaannya untuk tidur malam ini di sini. Tidak mungkin aku melarang Hendry untuk tidak boleh tidur di sini. Kalau itu ku lakukan, yang ada dia akan kabur seperti tadi pagi saat bersama Ahn Yoo. Dia berlari sambil berurai air mata kerena Ahn Yoo tidak membelikan Hendry makanan yang diinginkannya.


"Hmmm ... ok, malam ini kamu boleh tidur bersama kakak, tapi Pamanmu ini harus diusir," timpalku setelah berpikir panjang dan waktu yang lama.


"Kalau aku pergi, Hendry juga ikut. Dia tidak boleh berpisah dariku," sambung Ahn Yoo dengan niat buruk di hatinya.


Aku mengakui kecerdikan otak Ahn Yoo dalam menjebak orang lain. Dia menjadikan Hendry alasan agar tetap kubiarkan tidur di sini malam ini. Padahal aku sudah ingin menendangnya jauh-jauh.


"Kakak, aku mau di sini bersamamu. Tidak mau pergi ... biarkan Paman tidur di sini juga yah?" bujuk Hendry memelas.


Dengan berat hati aku harus menyetujui keputusan yang membawaku sendiri ke lubang buaya yang mengerikan. Bagaimana mungkin aku bisa tenang dan kendur pengawasaan setelah Ahn Yoo tidur di sini malam ini.


"Iya, tapi kalian tidak boleh bertengkar lagi," sambungku dengan tegas.


Mereka berdua mengangguk seperti murid yang patuh saat aku mengatakan kalau mereka tidak boleh berkelahi, apalagi mereka itu adalah paman dan keponakan. Seharusnya mereka saling mengalah dan tidak bersikap layaknya laki-laki yang sedang duel merebutkan seorang wanita.


"Anak kecil tidur di sofa!" perintah Ahn Yoo pada Hendry yang kala itu sedang duduk di atas sofa menghadap Ahn Yoo. Kemudian Hendry dengan mata sayu nan lugu menatapku dengan memelas. Dia seperti sedang mengadu padaku kalau Ahn Yoo bersikap nakal padanya.


"Hey! Kamu yang harusnya tidur di sofa. Dasar Paman tidak berbakti," decakku kesal melihat Ahn Yoo.


Ahn Yoo mungkin merasa tidak senang karena diperlakukan tidak adil. Aku selalu membela Hendry dan tidak pernah memihak padanya.


"Besok kau kupulangkan saja pada Ibumu. Kau ingin merebut calon Bibimu sendiri dariku," timpal Ahn Yoo menjegilkan mata ke Hendry.


"Paman, aku minta maaf. Tapi Kakak menyukaiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Hendry dengan wajah kaku menyerupai Ahn Yoo.


"Aku tidak tahan lagi! Kita pulang sekarang," kata Ahn Yoo lalu menggendong Hendry keluar dari apartemenku.


Hendry yang tampak tidak berniat pulang dan tetap ingin bersamaku menjerit meronta-ronta saat digendong Ahn Yoo. Hendry meminta bantuanku agar Ahn Yoo tidak membawanya pergi jauh dariku.


"Kakak! Aku tidak ingin pulang! Aku mau Kakak! Turunkan aku!" teriak Hendry.


Aku menyuruh Ahn Yoo untuk menurunkannya dan jangan mengganggunya lagi.


"Ahn Yoo, turunkan Hendry. Kamu suka sekali mengganggu anak kecil," suruhku sambil menarik Hendry dari dekapan Ahn Yoo.


Ahn Yoo menatapku dengan mata penuh arti yang tidak kuketahui maksudnya. Dia menghadap ke arahku dan semakin dekat melangkah ke hadapanku. Dia semakin dalam menatap mataku sampai aku terkaku seketika.


Aku baru mengerti ketika jantungku berdegup ketika ditatap Ahn Yoo. Aku tahu kalau sudah seperti ini, dia pasti akan bertindak gila seperti biasanya.


"Ada Hendry di sini," kataku memperingati Ahn Yoo.


"Apa maksudmu kalau anak ini tidak ada, kita bisa bermesraan?"


"Ceker ayam ini terlalu banyak bicara," gumamku sambil menggelengkan kepala.


Ahn Yoo tidak memperdulikan perkataanku dan berjalan ke arahku, tapi setiap dia melangkah ke depan, aku pun mundur menjauhinya sampai aku tersudut di dinding dekat pintu berada.


"Ahn Yoo ... jangan bercanda sekarang, Hendry ... dia ... dia ... ada di sini," lanjutku dengan mulut kaku dan tak bisa berbicara dengan benar.


Dia bertindak seolah aku ini adalah istri yang akan ditinggal bekerja. Dia seperti sedang berpamintan denganku. Sangat manis, sampai aku tidak bisa melupakan momen saat ini.


Namun sesaat saja setelah mereka keluar dari sini, Hendry kemudian berlari menggedor pintuku dengan keras dan kemudian meneriaki namaku untuk mengadu.


"Kakak ... buka pintunya. Pamanku ingin memulangkanku pada Ibuku! Aku tidak mau."


Mendengar jeritan Hendry, aku langsung membuka pintu dan menghapus air matanya kemudian. Aku tidak melihat Ahn Yoo berada di sini. Apa dia meninggalkan Hendry? Atau Hendry yang kabur dari Ahn Yoo?


"Dimana Pamanmu?" tanyaku mencemaskannya.


"Tadi saat di depan pintu lift, Paman tidak sengaja bertemu dengan wanita cantik. Mereka sedang membahas film yang akan di luncurkan Paman," jawab Hendry dengan lagak lugu.


Wanita? Siapa wanita itu? Jarang sekali Ahn Yoo bisa berbicara dengan orang lain di tempat seperti ini. Biasanya dia bersikap dingin kesetiap orang yang dijumpainya, baik disengaja maupun tidak disengaja.


Karena penasaran, aku dan Hendry pergi mengintip Ahn Yoo yang tengah asyik membahas dengan wanita itu. Mereka sangat serius berbicara sampai tidak sadar kalau pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya tapi mereka belum masuk juga.


Aku semakin memperjelas siapakah wanita itu dengan mendekati mereka. Pantas saja Ahn Yoo semangat sekali saat berbicara dan membahas. Ternyata lawan bicaranya adalah artis Xia Len dari Cina yang waktu itu berdansa dengan Ahn Yoo ketika ada acara penyambutan kembalinya anak seorang pengusaha besar.


Aku mengajak Hendry sekongkol untuk membuat Ahn Yoo murka dan sadar kalau kami sedang mengamuk dengan dia. Baik itu Hendry ataupun aku.


Kami berdua berjalan menuju pintu lift yang tidak jauh dari mereka, dimana mereka sedang berbincang-bincang. Saat dilihat Ahn Yoo dari kejauhan, aku dan Hendry pura-pura tidak mengenalinya dan tetap terus berjalan layaknya orang lain di mata Ahn Yoo. Mungkin dia sudah merasa kalau aku sudah marah melihatnya dengan Xia Len berduaan di sini.


"Jane Soo, kau mau kemana?" tanya Ahn Yoo.


Aku terus berjalan tanpa menghiraukan Ahn Yoo meskipun dia sudah menyapa dan menanyakan aku hendak kemana.


"Siapa wanita itu?" tanya Xia Len pada Ahn Yoo.


"Besok kita bahas masalah yang tadi, aku ada urusan yang lebih penting," jawab Ahn Yoo kemudian berjalan menghampiri kami.


Aku tidak memperdulikan Ahn Yoo dan tetap terus berjalan. Namun karena pintu lift ini belum terbuka, terpaksa ada jeda untuk masuk ke dalam.


"Jangan memancingku," kata Ahn Yoo dengan nada dinginnya.


Aku berhenti seketika dan memegang tangan Hendry dengan kuat. Aku tidak bisa bedakan dia sedang marah atau hanya sedang bercanda saja denganku.


Untung saja pintu lift terbuka, aku dan Hendry bisa menghindari Ahn Yoo dan melanjutkan rencana kami untuk tidak membicarai Ahn Yoo beberapa saat.


"Kakak ... Paman mungkin marah," tukas Hendry ketika kami sudah masuk ke dalam lift.


Sebenarnya saat itu Ahn Yoo hendak masuk juga ke dalam lift ini, tapi dengan kilat aku memisat tombol dan pintunya kemudian tertutup sebelum Ahn Yoo bisa masuk ke sini.


Saat itu, matanya kembali tajam dan mengisaratkan kalau dia akan menghabisi kami berdua saat bertemu nanti.


"Kakak ... kita berhenti saja mempermainkan Paman. Nanti dia tidak mau lagi membawaku ke sini," bujuk Hendry padaku.


"Iya ... kakak juga merasa kalau Pamanmu itu sangat sensitif. Tapi itu salah dia sendiri kenapa mengganggumu tadi," jawabku dengan wajah ditekuk.


Sebenarnya aku tidak terlalu marah melihat Ahn Yoo menjahili Hendry, tapi aku lebih benci lagi melihatnya berduaan dengan Xia Len. Aku kira Ahn Yoo adalah pria antisosial yang tidak mau bercakap banyak dengan orang lain. Tidak disangka, dia malah berduaan di depan umum dan berbincang-bincang di sana.


***


Saat pintu lift ini terbuka dan membawa aku dan Hendry ke lantai dasar, kami sudah disambut oleh kehadiran Ahn Yoo. Dia berdiri tepat di depan pintu dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku dan mata yang melirik dengan tajam.


Hendry yang ketakutan kemudian memegang tanganki dengan erat dan menyembunyikan setengah bagian tubuhnya di balik kakiku.


Dengan cepat, aku memisat tombol lift untuk naik ke atas agar tidak bertemu dengan Ahn Yoo. Namun sialnya, Ahn Yoo berhasil masuk sesaat pintu sudah tertutup hampir semuanya.


"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Ahn Yoo dengan nada sedikit mengamuk.


"Bukan urusanmu," jawabku judes.


"Jangan paksa aku membuatmu mengatakan yang sebenarnya," ancam Ahn Yoo.


"A-Apa yang bisa kamu lakukan. Ka-Kamu lebih baik tidak perlu datang kemari beberapa saat," sambungku gagap karena takut dengan ancaman Ahn Yoo. Aku takut dia akan bertindak gegabah terhadapku dan memberika aku hukuman.


"Katakan, apa yang kalian rencanakan?" tanya Ahn Yoo lagi padaku dengan sedikit memaksa.


"Tanyakan saja pada wanitamu itu. Jangan aku. Aku sedang malas meladenimu," jawabku dengan menyindir dan agak menyenggak.


Ting!


Pintu lift terbuka dan segera kami keluar dari sini. Aku tidak tahan kalau harus dekat dengan Ahn Yoo secara aku masih marah kepadanya.


"Aku lapar, masakkan makanan yang enak untukku," perintah Ahn Yoo padaku saat sedang berjalan menjauhinya. Lalu dia meninggalkan kami dan lebih dulu berjalan ke apartemenku.


"Dasar pria sialan! Awas saja nanti," gerutuku saat Ahn Yoo sudah jauh dari pandangan.


"Kakak ... aku ingin makan yang pedas-pedas, masakkan aku itu," kata Hendry meminta padaku.


Padahal baru saja dia ketakutan melihat Ahn Yoo dan sekarang dia bisa tersenyum dengan leluasa tanpa merasa ada beban di pundaknya. Dia malah mengajukan agar aku memasakkan mereka makanan. Aku kira awalnya Hendry akan menyuruhku untuk pergi dan jangan dekat lagi dengan Ahn Yoo. Tapi apa? Dia malah mendukung Ahn Yoo dan menyuruhku masak untuk mereka. Memang anak kecil susah untuk dimengerti kemauannya.