SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 46



Sesampainya di kantor tempat ku sekarang bekerja, dengan terburu-buru aku berniat menaiki lift agar bisa sampai dengan cepat. Tapi apa daya? Lift yang hendak ku gunakan malah full manusia yang juga bekerja di sini.


Kalau hanya mengandalkan dan tetap menunggu trip berikutnya, aku bisa menghabiskan waktu sekitar 7 menit. Tapi kalau aku memilih menggunakan tangga darurat hanya menghabiskan waktu kurang lebih 5 menit saja. Ditambah kalau aku berlari, kira-kira bisa menyingkat waktu.


"Baiklah, sudah kuputaskan untuk naik ke atas menggunakan tangga," tekadku sambil menyiapkan diri akan berkeringat pagi ini. Hitung-hitung ini olah raga kecil untuk membuang kalori dalam tubuh.


Aku mulai melangkahkan kaki dan berjalan menuju lantai tempat ruangan Ji Seon berada. Baru dua lantai yang baru aku lalui nafasku sudah terengah-engah karena lelah. Kakiku juga sudah mulai loyo, ditambah dengan heels yang kukunekan membuat diriku semakin sulit untuk menjaga keseimbangan, dan mengakibatkan kepalaku harus mencemaskan beberapa hal sekaligus.


Satu lantai lagi sudah aku lalui, dan disitulah baru kusadari ternyata ruangan direktur ada di lantai 10. Bagaimana aku bisa berjalan menaiki tangga ini sampai ke sana dan dengan waktu 5 menit. Jangankan 7 menit, 15 menit bisa menaiki tangga ini adalah sebuah keajaiban. Aku membutuhkan waktu satu jam agar bisa sampai ke sana.


Akhirnya kesialan menyertaiku. Baru saja pagi, aku sudah ditimpa nasib buruk. Kalau menaiki tangga sampai lantai sepuluh, mungkin saat tiba aku akan langsung pingsan tidak sadarkan diri. Dan akhirnya, akan dipecat di hari pertama aku bekerja. Sungguh ending yang sudah terbaca.


"Huhuhu ... aku baru saja mendapat keberuntungan sekali ini, dan sekarang harus tertimpa kesialan lagi," decakku menerima takdir ini dengan berat hati.


Meskipun begitu aku harus menjalaninya dan menghadapi akhir yang sudah tertebak.


***


"Huh ... akhirnya! Aku bisa ... bisa sampai ke ruangan sialan ini," ucapku terengah-engah dengan tangan memegang pinggangku yang sudah hampir patah.


Aku berjalan dengan kaki oleng ke kanan dan ke kiri. Dengan nafas yang berhembus panjang dan sesekali, aku akhirnya bisa membuka pintu ruangan direktur.


"Selamat ... huh, selamat ... pagi," sapa ku kepada Ji Seon yang duduk di kursinya sambil mengetik keyboard komputer di hadapannya.


"Kamu tampaknya kurang enak badan, Jane Soo."


"Huhft ... aku tadi naik tangga darurat. Dan ... dan lupa kalau ternyata ruanganmu ada di lantai sepuluh," kataku menjelaskan cerita bodoh ku kepada Ji Seon.


"Benar kamu naik tangga?!" tanya Ji Seon bermaksud untuk memperjelas pernyataan ku.


"Iyah ... tapi sebelum itu, apa aku boleh minum dulu baru kamu tanyakan apa pun yang ingin kamu tanyakan padaku," kataku sambil menunjuk botol minum yang tersedia di atas mejanya.


"Oh ini untukmu," jawab Ji Seon dan memberiku botol minuman itu.


Langsung ku teguk minuman itu dan menghabiskannya sampai tertinggal hanya setengah bagian lagi.


"Agh! Aku baru bisa bernafas dengan paru-paru lagi. Terima kasih," decakku kemudian berterima kasih pada Ji Seon.


"Duduk dulu. Tidak boleh minum berdiri apalagi seorang wanita," jelas Ji Seon mengingatkanku.


Saat mendengar dia mengatakan hal itu, aku teringat dengan teman ku saat SMA dulu. Dia selalu memarahi saat aku minum berdiri dan menyuruhku untuk duduk saat sedang makan dan minum.


"Park ...." Tiba-tiba saja aku mengucapkan nama teman ku saat SMA dulu. Namun dengan cepat aku berhenti mengatakannya dan mencoba untuk tersadar dari lamunan ku.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ji Seon yang tampaknya sangat antusias ingin tahu.


"Hah? Oh, aku hanya teringat saja. Kamu tidak perlu memikirkannya, hahahah."


Ji Seon mengangguk mengisyaratkan kalau dia paham. Selain itu memang benar, Ji Seon memang sangat mirip dengan karakter sahabatku waktu dulu. Baik itu perhatiannya, pola pikirnya, dan cara bicara nya. Hanya saja sahabatku lebih gemuk sedikit, dan wajah Ji Seon lebih tampan dibandingkan dengan sahabatku. Sejenak aku berpikiran kalau mereka adalah orang yang sama.


Aku bingung melihat Ji Seon. Dia sama sekali tidak memperintah ku ataupun menyuruhku melakukan sesuatu. Dia ini sedang membiarkanku beristirahat sebentar atau sedang mendiamkan ku karena terlambat datang dan lancang meminta minum tadi.


"Ji Seon ... apa aku tidak punya tugas?" tanyaku dengan sedikit ragu.


"Hmm? Apa kakimu sudah tidak sakit lagi?"


"Hah? Oh? Hanya sedikit lecet karena heels yang kupakai. Tapi ini tidak masalah," jawabku berpura-pura kuat. Padahal sebenarnya kakiku masih sangat sakit sampai berdiri saja tidak bisa.


"Kamu bisa duduk di situ sampai rasa sakitnya betul-betul hilang," jawab Ji Seon sambil menatapku yang tengah berdiam diri.


"Oh? Tapi kalau ada perlu, kamu tidak usah segan denganku," sambungku membuatnya untuk tidak ragu menyuruhku.


Dia berdiri dari kursinya dan mendekat ke arahku. Kemudian, dia Jongkok dan memegang pergelangan kakiku. Dia melepas heels yang kupakai dan meluruskan kakiku di atas meja. Dia berniat meminimalisir rasa sakit pada kakiku.


"Jangan ditekuk, nanti varises," ucapnya lalu kembali duduk ke kursinya.


Aku hanya bisa terdiam kaku karena bingung dengan perhatian Ji Seon yang membuat orang lain salah sangka. Seolah dia memperlakukan seperti orang dekat saja. Padahal kami baru bertemu beberapa waktu yang lalu tanpa ada unsur kesengajaan.


Sudah hampir dua jam berlalu tapi Ji Seon sama sekali tidak menyuruhku untuk melakukan apa pun. Dia hanya sibuk mengetik dan bertelepon dengan pebisnis lainnya.


Aku sampai mengantuk menunggunya menyuruhku. Sekarang mataku sudah berat dan susah untuk berbuka lagi. Semakin berusaha aku agar tetap terjaga, malah mata ini semakin berat dan sulit untuk dibuka kembali.


***


Aku tertidur dan baru bisa terbangun saat sudah menunjuk angka sebelas. Membayangkannya saja aku sudah ingin menggali lubang untuk bersembunyi.


Jangan salahkan aku kalau kebablasan tertidur sampai jam segitu. Itu karena Ji Seon yang memperbolehkanku untuk bersantai-santai seperti ini.


"Kamu sudah bangun?" tanya Ji Seon.


"Hah? Maafkan aku karena tertidur, aku kelelahan. Semoga kamu memakluminya, tapi aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucapku sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan sehingga membentuk huruf 'V'.


"Jangan suka berjanji kalau akan diingkari," ujarnya kepadaku.


Kalimat ini juga sering dikatakan sahabatku dulu padaku. Dia selalu mengingatkanku untuk tidak bersumpah kalau akan diingkari.


Aku yakin sekali kalau dia dan sahabatku adalah orang yang sama. Aku harus menanyakan hal ini, kalau tidak sampai kapan pun pertanyaan ini akan selalu muncul di kepalaku.


"Apa kau mengenalku?" tanyaku pada Ji Seon.


"Hmmm? Kamu Jane Soo."


"Maksudku sebelum ini. Apa kau dan aku pernah satu sekolah?" tanyaku padanya lagi dan menghujaninya beberapa pertanyaan yang mungkin aneh baginya kalau memang benar dia bukan orang itu.


"Aku rasa ... aku tidak yakin akan hal itu. Tapi karena wajahmu agak pasaran aku kadang mengira kalau kita satu sekolah," jawab Ji Seon seperti meledekku.


"Oh begitu."


"Kenapa?" tanta Ji Seon dengan penasaran.


"Sahabat wanita?"


"Bukan, dia laki-laki." Aku mengatakannya sambil menggelengkan kepala.


"Apa dia pacarmu?" tanya Ji Seon lagi.


"Tidak, tapi kami lebih dari seorang kekasih. Dulu kami tidak bisa dipisahkan. Kalau ada masalah aku pasti akan menceritakan padanya. Tapi mungkin dia tidak menaggapku begitu," jelasku pada Ji Seon menceritakan kisah kedekatan dengan sahabatku yang dulu.


"Kenapa kamu berpikir begitu?"


"Dia tidak menceritakan kalau dia akan meninggalkanku. Dia pergi tanpa berpamitan denganku. Padahal dia selalu bilang kalau dia akan menjagaku kemanapun aku pergi. Tapi dia malah menunggalkanku tanpa kabar sedikit pun. Dan parahnya, dia sampai sekarang tidak mengingatku sama sekali. Aku tidak tahu dimana sekarang dia berada. Tapi aku harap dia akan tersiksa karena merindukanku. Dan setelah dia akan tersiksa sama seperti yang aku rasakan waktu itu."


Aku berbicara panjang lebar tentang masa laluku dengan sahabatku waktu dulu. Aku sampai lupa kalau temanku berbincang adalah direktur ku sendiri.


Namun lucunya, Ji Seon malah memancing diriku untuk lebih banyak menceritakan kisah kedekatan ku dengan sahabatku. Tentu saja aku mau. Selain kekesalanku selama ini padanya tercurahkan, aku juga bisa menghilangkan sedikit rasa kakiku.


"Apa kamu sangat membencinya?" tanya Ji Seon dengan semangat menyimak cerita ku.


"Mau bagaimana lagi. Dia meninggalkanku, siapa yang tidak akan marah? Apa kamu tahu kalau selama sebulan penuh aku terus mendatangi tempat kami sering duduk. Tapi dia tidak muncul. Siang malam aku selalu memikirkannya, tapi dia belum tentu merindukanku. Intinya aku mendo'akan dia agar tidak bisa makan karena merindukanku," ucapku dengan emosi yang sudah terkeluarkan.


"Aku rasa permohonanmu itu diterima dan didengar tuhan," sambung Ji Seon dengan senyum bahagia di bibirnya. Dia tersenyum geli menanggapi do'a ku yang kejam.


"Hahahah ... jujur aku terkadang merindukannya. Tapi dia sepertinya tidak. Lagi pula itu sudah kisah lama. Bagaimana pun aku harus menutupnya dan membuka lembar baru."


"Tapi tidak ada salahnya kalau sesekali membaca lembaran yang terdahulu sebelum membuka lembaran baru," tukas Ji Seon padaku. Aku rasa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Sama-sama memiliki kenangan indah yang sulit untuk dihapus dari ingatan.


"Oh? Iya juga. Tapi mungkin cerita kita berbeda. Apa kamu mau menceritakannya padaku?" tanyaku padanya dan meminta Ji Seon menceritakan kisahnya waktu dulu.


"Aku berpisah dengan seseorang ...." Belum sempat Ji Seon meneruskan ceritanya. Aku memotong dan menanyakan padanya apa yang diceritakan oleh-nya adalah seorang wanita atau pria. Dan dia mengatakan kalau yang sedang diceritakan oleh-nya adalah seorang wanita. Setelah itu, barulah Ji Seon melanjutkan ceritanya yang sebelum itu ku potong.


"Aku berpisah karena ayahku meminta diriku bersekolah di luar negeri dengan alasan agar bisa meneruskan kedudukannya. Awalnya aku tidak mau karena takut akan melepaskan wanita itu. Tapi saat itu, aku masih anak sekolah yang tidak bisa membantah perintah. Dengan berat hati aku menuruti kemauan ayahku dan meninggalkan wanita itu."


"Apa kalian berpacara?" tanyaku dengan mata yang terharu mendengar ceritanya.


"Tidak, tapi aku ingin mengungkapkan perasaanku," jawab Ji Seon seolah menganggap bahwa aku adalah wanita yang sedang dia bicarakan.


"Kisah yang menyedihkan. Cerita kalian cocok dijadikan sebagai novel," ucapku yang memang terbawa perasaan saat mendengarkan cerita Ji Seon.


"Hmmm? Apa kalau temanmu itu mengungkapkan perasaan padamu, kau akan menerimanya?"


"Sesuai kapan dia mengungkapkan perasaannya padaku. Kalau dia mengungkapkannya sekarang aku akan menolak, tapi kalau dia menembak ku waktu dulu. Pasti akan ku terima," jawabku dengan rinci.


"Kenapa kamu menolaknya?"


"Aku juga tidak tahu," lanjutku sambil menggelengkan kepala.


"Apa karena kamu membencinya?" tanya Ji Seon lagi.


"Aku tidak mengerti. Tapi aku tidak yakin dengan perasaanku saat ini," tukasku padanya.


Sejenak suasana menjadi hening. Dia tidak menjawab atau merespon kalimatku. Namun beberapa menit kemudian barulah dia mencari topik dan berbicara lagi.


"Jam dua belas akan ada acara pengembangan game perusahaan ini. Dan aku akan menghadirinya dengan membawa beberapa karyawan yang paten. Termasuk kamu juga."


"Kenapa? Kenapa aku bisa ikut? Aku ini hanya karyawan baru," jawabku terkejut dan berniat untuk tiduk ikut menghadirinya.


"Kamu asisten ku, tentu saja harus."


Aku lupa akan hal itu, kalau aku adalah asisten Ji Seon sekarang. Ternyata pekerjaan ini sangat berat dan tidak cocok untukku yang belum berpengalaman sedikit pun.


"Ma-Masalahnya ... aku belum berpengalaman bekerja sebagai asisten. Aku harap kamu bisa mengajarkan beberapa yang tidak kumengerti," jawabku alasan mengapa aku sedikit ragu untuk ikut menghadiri acara sebesar itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, acara ini hanya mengundang perusahan besar dan menarik perhatian agar memberikan investasi. Kamu hanya perlu duduk diam di samping ku."


"Emmm, baik."


***


~Acara peluncuran~


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya aku harus mengikuti mereka menghadiri acara yang menurutku sangat menegangkan. Bagaimana tidak, semua karyawan yang ikut bergantian mempromosikan peluncuran game ini ketingkat yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.


Mereka yang berdiri di depan menjelaskan keunggulan dari game yang akan segera diluncurkan ini dengan sangat hati-hati dan menurutku lihai dalam memutar kalimat agar menarik perhatian dari para investor lainnya. Semua tepuk tangan yang menggema di ruangan ini berganti seiring dengan siapa yang menjelaskan game itu.


Sampai acara sudah selesai, aku baru bisa tenang dan kembali bernafas dengan normal lagi. Selama acara berlangsung, aku kira akan ada bagian dimana aku juga akan ikut menjelaskan keunggulan dari game yang segera diluncurkan PT. Nexcon.


"Huft ... hampir saja," decakku sambil menghela nafas panjang.


"Ada apa?" tanya Ji Seon keheranan melihatku.


"Aku takut kalau tadi namaku terpanggil untuk naik ke atas sana," jawabku sambil tersenyum kecil.


Ji Seon tertawa pelan karena mendengar alasan bodoh yang kukatakan, "kamu tenang saja. Aku mengerti kalau kamu belum berpengalaman."


Sungguh sangat pengertian. Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa tidak mencintai laki-laki seperti dia. Untung saja Ahn Yoo sudah mendapat tempat di hatiku. Kalau tidak aku pasti akan menyukai Ji Seon.


Baru saja aku terpikirkan nama Ahn Yoo. Aku melihatnya juga berada di sini, ikut mengisi acara ini. Dan dia duduk dengan jarak lima kursi dari ku dan Ji Seon. Hal yang paling membuatku terkejut adalah, dia sudah memperhatikanku sedari tadi dan sekarang tampaknya dia sekarang akan membunuhku. Tampak dari matanya saat menatapku.


"Aku akan mati," decakku dengan mata ke arah Ahn Yoo.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Ji Seon keheranan.


"Ha? Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, hahahah."


Apa yang akan terjadi selanjutnya padaku? Untung saja tempat ini ramai dengan para pebisnis dari perusahaan terkenal, sehingga Ahn Yoo harus menjaga sikapnya di sini. Aku sedikit merasa aman walau hanya sebentar.


Aku menutupi wajahku dengan tanganku dan kemudian menegakkan badanku agar Ahn Yoo tidak bisa melihatku lagi. Meski sudah terlambat, setidaknya aku tidak merasa diancam oleh laki-laki yang akan membekukan ku dengan tatapannya.