SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 61



Saat berdebat dengan Ahn Yoo, tiba-tiba seorang wanita dari ujung jalan mendekat ke arah mobil ini. Dia terlihat familiar. Dari tubuhnya yang mungil dan rambut terurai panjang. Aku mengenali orang yang bentuknya seperti dia, Xia Len.


"Tolong, bisa bantu aku tidak? Mobilku mogok di sana," ucapnya sambil mengetuk jendela mobil. Dia berpura-pura tidak tahu kalau ini kendaraannya Ahn Yoo. Aku tahu betul kalau ini hanya tipu muslihat wanita licik ini.


"Artis yang sok mandiri sudah berlaga di dunia nyata," cetusku menyindir dengan sura pelan.


Ahn Yoo kemudian turun dari mobil dan menyuruhku untuk tidak turun dari sini. Apa dia takut kalau aku akan menggangu mereka? Kalau pun tidak benar, aku akan tetap di sini dan tidak akan keluar. Aku masih takut karena tadi dia marah padaku. Kalau aku membantah, dia akan menghabisiku nanti.


"Eh? Tuan Ji? Aku tidak tahu kalau Anda yang punya mobil ini? Aku yakin Tuan Ji banyak urusan jadi aku minta orang lain saja," sela Xia Len. Dia bertingkah sok tidak tahu, padahal jelas-jelas dia sengaja melakukannya. Aku juga sudah yakin kalau dia akan melakukan sesuatu yang licik. Tapi aku ingin sekali menonton permainan wanita ini.


"Tidak perlu, aku akan urus," jawab Ahn Yoo.


Aku tidak suka Ahn Yoo bersedia membantu Xia Len. Tapi dia mengatakan kalau akan mengurus masalah mobil mogok wanita licik ini. Kalau Ahn Yoo membantu Xia Len, maka dia harus pergi ke ujung jalan. Mereka akan berdua-duaan, dan aku tetap di sini membatu menunggu? Pantas saja, Ahn Yoo menyuruku untuk tetap di dalam mobil, itu karena dia tidak ingin aku mengganggu dan hanya jadi nyamuk saat mereka bermesraan. Tidak bisa dibiarkan. Aku berniat untuk turun dari mobil ini dan mengikuti mereka. Tapi setelah dipikirkan berulang kali, aku tidak berhak untuk melarang mereka. Akhirnya, niat itu pun ku urungkan, dan hanya bisa melihat pergerakan mereka dari sini.


"Terima kasih, Tuan Ji," tutur Xia Len dan dengan senyum yang tak luput dari bibirnya. Matanya berbinar-binar saat tahu Ahn Yoo akan memperbaiki mobilnya.


"Aku sudah menyuruh engineer datang, jadi bisa tunggu di sini. Aku pergi," ucap Ahn Yoo. Lalau dia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Xia Len di luar sendiri. Aku hanya bisa ternganga lebar saat tahu kalau Ahn Yoo tidak akan pergi langsung memperbaiki mobil gadis licik itu, ternyata dia malah menyuruh orang lain.


~Dalam mobil~


"Ahn Yoo? Kamu ... meninggalkan Xia Len?"


"Apa kau mau aku pergi membantunya?"


"Tidak, aku hanya merasa kamu sangat kejam," ucapku yang masih belum bisa membayangkan bagaimana perasaan Xia Len saat ini. Padahal tadi aku melihat wajahnya sangat bersinar senang, tapi setelah itu berubah jadi cemberut begitu. Aku jadi ikut bersimpati sekaligus senang karena Ahn Yoo tidak jadi berduaan dengan Xia Len.


"Aku terlalu sibuk mengurusi dia," ketus Ahn Yoo.


Saat mendengar kalimat itu dari mulut Ahn Yoo, seketika hatiku bersorak gembira karena tahu dia tidak peduli dengan wanita licik itu. Aku menaikkan alis dan mulai tersenyum tipis menatap Ahn Yoo.


"Ok, aku paham kalau Tuan Ji kita ini sangat sibuk dengan dunianya. Tapi bisa percepat waktu untuk pulang, aku sudah sangat lapar," ungkapku sambil tersenyum dan mengedip-kedipkan mata secara cepat.


"Wanita tua itu ada di rumah, jadi kau jangan terlalu dekat dengannya," ucap Ahn Yoo.


"Wanita tua? Maksudnya Nyonya Gu?"


"Hmmm," angguknya.


Cucu kurang ajar, menyebut nenek saja dengan panggilan wanita tua. Tidak punya moral sekali. Ini akibat memanjakan anak saat masih kecil. Hasilnya setelah besar jadi kurang ajar seperti Ahn Yoo.


***


~Rumah Ahn Yoo~


Pertama kali tiba, seperti biasa, Bu San yang membuka pintu dan memberi salam kepada kami. Saat melihatku, Bu San tampak senang, tapi dia tetap bersikap biasa saja karena memang pada dasarnya Bu San memang begitu. Namun berbeda denganku, langsung kupeluk Bu San yang masih setengah sadar melihatku. Tak peduli, aku langsung mengungkapkan rasa rindu padanya.


"Aku sudah lama merindukanmu masakan Bu San," ucapku yang masih memeluknya.


"Apa hanya masakannya saja yang kamu rindukan?" Nenek Ahn Yoo tiba-tiba datang dan dengan senyum lebar di wajahnya.


"Eh? Nyonya Gu?"


Aku lupa kalau Nyonya Gu juga ada di sini. Padahal Ahn Yoo sudah mengingatkanku saat masih di perjalanan, tapi aku langsung melupakan apa yang dikatakannya. Kalau diingat lagi, dia bilang harus menjauh dari neneknya sendiri. Tidak tahu apa alasannya, tapi aku tidak akan mendengarkannya dan tetap mendekati Nenek Ahn Yoo. Karena dia terlihat seperti wanita yang baik.


"Kalian sudah makan? Kelihatannya Jane Soo lapar, bukan? Mari," ajak Nyonya Gu.


"Apa kau lebih peduli dengan dia dari pada cucumu sendiri," decak Ahn Yoo pada Neneknya. Padahal dia sendiri yang bersikap apatis terhadap Nyonya Gu, setelah diacuhkan barulah dia merengek minta diperhatikan.


"Bukannya Jiyu yang tidak ingin Neneknya ini datang ke rumahnya. Dia sudah lupa denganku, jadi aku cari cucu baru saja," ledek Nyonya Gu bercanda.


"Hahaha ... apa bisa begitu? Aku dari dulu ingin punya nenek. Kalau tahu bisa cari nenek, dari dulu kenapa tidak kulakukan?" gumamku yang dengan bodohnya percaya dengan omongan Nyonya Gu.


"Kalau begitu sekarang kamu jadi cucuku saja," sambung Nyonya Gu lalu merangkul tanganku berjalan ke dapur untuk makan bersama. Dia orang yang baik dan hangat, tidak seperti cucunya yang dingin dan kasar. Kenapa bisa terlahir pria jahat seperti dia, padahal dia berasal dari keturunan orang yang baik? Aku turut simpati.


"Nyonya Gu, apa ayah Ahn Yoo juga dingin sepertinya?" tanyaku saat sudah berada di meja makan.


"Hmmm? Tidak, hanya dia sendiri yang berbeda. Dia jahat mulai dari dulu, bisanya cuma berkelahi dan mengganggu orang lain," sindir Nyonya Gu pada Ahn Yoo.


"Jadi Ahn Yoo orangnya nakal? Aku kira dia baik waktu dulu," tambahku yang salah mengira.


"Nenek tua ini bisanya cuma mempermalukanku saja. Pulang ke rumah anakmu lalu ganggu dia saja," murka Ahn Yoo berucap kasar pada Neneknya sendiri. Aku hanya bisa menelan ludah mendengar kalimat Ahn Yoo. Sama sekali dia tidak menghormati neneknya.


"Anak kurang ajar ini sudah lupa dengan siapa dia mengadu saat dimarahi ibunya waktu dulu. Dengan air mata yang deras dia memelukku dan meminta agar ibunya disenggak," ungkap Nyonya Gu sambil tersenyum bahagia saat menceritakan masa lalu Ahn Yoo yang cengeng.


"Hahaha ... lalu apalagi Nyonya Gu. Aku ingin mendengar kisah cengeng CEO terkenal ini," ledekku yang juga ikut tertawa puas sampai perutku sakit.


***


Setelah selesai makan malam, Nyonya Gu mengajakku duduk di luar dengan angin yang berhembus lembut. Dia memegang tanganku sambil memandangi bintang dan bulan yang ada di langit yang gelap.


"Jiyu memang seperti itu, kasar dan dingin. Tapi dalam hatinya berkata lain. Dia orang yang baik," ucap Nyonya Gu.


"Sepertinya begitu," celetukku.


"Apa Jiyu sudah mengajakmu menikah?" tanya Nyonya Gu. Jantungku hampir berhenti saat dia menanyakan ini. Bagaimana aku harus menjawab Nyonya Gu? Aku dan Ahn Yoo tidak memiliki hubungan apa pun. Hanya saja dia selalu berbaik hati denganku. Dia sama sekali tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Jadi hubungan kami ini tidak tahu terikat karena apa dan terhubung untuk apa.


"Aku dan Ahn Yoo tidak memiliki hubungan apa pun," jawabku dengan nada bergetar lirih.


"Aku sudah dengar cerita tentangmu dari Bu San. Aku kenal Jiyu dari kecil. Kalau tidak suka dia tidak akan pernah menyentuhnya. Kalau ingin dia akan mempertahankannya. Meski harus merebut, dia akan berjuang. Dia terlihat egois dan ambisius, tapi sebenarnya itu karena dia orang yang optimis," terang Nyonya Gu. Seperti yang dikatakan Nyonya Gu, Ahn Yoo memang seperti itu. Tidak akan menyentuh sesuatu yang tidak dia inginkan. Lalu, apakah aku ini sesuatu yang dia inginkan juga?


"A-Aku tidak mengerti tentang Ahn Yoo. Dia menahanku tapi tidak tahu untuk apa?" tanyaku dengan murung.


"Tentu saja karena dia inginkan kamu. Ini gelang dariku. Kamu pakai, Kalau tidak suka bisa simpan," ujar Nyonya Gu lalu melingkarkan sebuah gelang giok ke tanganku. Aku tidak sempat menolak karena dia mendadak memasukkannya ke tanganku.


"Eh? Aku tidak bisa terima ini. Nyonya Gu, aku mohon jangan berikan ini padaku. Aku mohon, tarik kembali Nyonya Gu. Aku tidak pantas menerima barang seberharga ini," tolak ku mati-matian. Tapi Nyonya Gu tetap memberikan dan menahan tanganku agar tidak bisa melepaskan gelang ini. Aku hanya merasa tidak pantas menerima barang mahal dan berharga seperti ini. Aku bukan siapa-siapa, atas dasar apa dia memberinya padaku? Aku terlalu rendahan untuk menerima pemberiannya.


"Sangat cantik di tanganmu," pungkas Nyonya Gu. Dia memandang diriku terlalu berharga, sehingga dengan mudahnya dia memberikan gelang giok cantik ini.


"Tapi ...." Nyonya Gu menimpali kalimatku langsung dan tidak membiarkanku melanjutkannya.


"Jiyu dulu saat masih kecil meminta giok yang kupakai dan ingin memberinya pada ibunya. Lalu aku memberi padanya. Tidak lama kemudian dia meminta lagi gelang giok dan bilang akan menyimpannya untuk istrinya nanti," jelas Nyonya Gu. Tidak tahu apa maksudnya menceritakan hal ini padaku. Tapi aku sedikit tertarik dengan ceritanya.


"Lalu seperti apa lanjutannya?" tanyaku yang tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.


"Aku tidak kasih padanya dan bilang akan memberinya langsung pada istrinya. Dia awalnya tidak mau dan terus memaksaku memberi gelang padanya. Lalu aku mengatakan kalau ibunya pasti akan mencurinya, jadi aku sarankan untuk menyimpannya, barulah dia mau dengar. Dan sekarang aku harus memberinya pada orang itu," cetus Nyonya Gu. Tidak mengerti apa maksud yang dia katakan. Aku hanya mengangguk berpura-pura paham dan tersenyum bodoh agar terlihat memahami.


"Jadi seperti itu, kalau begitu ini gelangnya. Aku bukan orang itu," ujarku lalu mencoba melepaskan gelang giok dari tanganku. Tapi dia tetap menahannya dan bersikeras ingin memberinya padaku. Padahal sudah ku tolak berkali-kali. Sama sekali dia tidak dengar. Keras kepala tidak jauh beda dari cucunya yang juga susah diingatkan.


"Aku sudah kedinginan. Antarkan aku kembali ke kamar," pinta Nyonya Gu. Segera aku memapahnya ke kamarnya dan lupa dengan gelang yang melingkar di tanganku. Gelang itu tetap di tanganku tanpa ku sadari.


Setelah membantu membaringkan tubuh Nyonya Gu, aku kembali ke kamar tempat pertama yang ku tinggali. Rasanya sudah lama tidak datang kemari, walau sebenarnya baru beberapa bulan. Tapi terasa tahun sudah berlalu.


Saat membaringkan tubuh, kenangan menggelikan itu muncul di kepalaku seperti film sedang diputar. Aku mengingat bagaimana pertama kali masuk ke dalam kamar. Aku ingat pernah bersembunyi di kamar mandi karena takut bertemu Ahn Yoo. Sangat konyol dan memalukan ketika terkenang. Aku hanya bisa terkekeh mengingat semua itu kembali terputar dalam memoriku.


Dreeet-Dreeet!


Ponselku berbunyi. Panggilan dari Ahn Yoo. Untuk apa dia menelponku? Jam malam dia masih ingin menyiksaku. Akhirnya, panggilan itu berlalu tanpa diangkat.


Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Belum menyerah Psikopat dingin itu mengganggu dari telepon, sekarang dia sudah datang.


"Sebentar, aku baru selesai mandi," teriakku dari dalam. Aku terpaksa harus mengatakan kalau baru selesai mandi agar dia paham kalau saat menelpon tadi, aku tidak mendengar dering ponsel.


Lantas aku langsung mengambil handuk dan membalut rambutku agar terlihat seperti baru keramas. Dan Untung saja baju yang kupakai sebelumnya sudah ditukar segera.


"Ada apa?" tanyaku saat sudah membuka pintu.


"Kau baru mandi?"


"Ha? Iya, tidak lihat wajahku sudah segar seperti ini?" celetukku sambil menunjuk wajah yang tidak tampak segar sama sekali.


"Tetap kusut," decak Ahn Yoo dengan raut tidak setuju.


"Terserah. Tapi untuk apa Tuan Ji yang terhormat datang menghampiri aku?" tanyaku sambil meledek.


"Aku ingin kau menidurkan ku," pintanya. Seenak jidatnya dia menyuruhku menidurkannya? Atas dasar apa dia mempunyai keberanian mengatakan hal gila itu? Aku ini wanita bukan seorang ibu. Tidak mungkin aku menidurkannya. Kalau dia anak-anak dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi dia sudah berumur malah minta ditidurkan. Aku hanya bisa mengelus dada saat mendengarnya meminta hal konyol ini.


"Tuan Ji, bukannya menolak tapi Anda sudah terlalu tua untuk hal kekanak-kanakan seperti itu," ucapku sekaligus mengumpat.


"Aku lelah," katanya dengan nafas berat. Dia langsung meletakkan dagunya ke bahuku lalu memintaku untuk menidurkannya. Dia mengatakan berulang kali kalau sedang lelah. Tapi tiap hari dia memang begitu, selalu lelah karena memaksakan diri untuk bekerja.


"Ahn Yoo, kalau ada yang lihat bagaimana? Jangan begini, hey. Kamu tidak malu, kah? Ayo, menjauh dariku," pekik ku membisikkannya pelan. Aku ingin mendorongnya menjauh dariku, tapi tidak tega. Dia tampak memiliki beban yang dipikul sendiri dan tidak ingin membaginya dengan orang lain.


"Kalau begitu, masuk ke dalam. Jangan di luar," pungkasnya lalu mendorongku masuk ke dalam kamar. Dengan mudahnya dia mengucapkan kalimat itu, tanpa pikir panjang. Dia menyuruhku duduk di atas ranjang lalu kemudian mengelus kepalanya dengan lembut. Dia berbaring dan menyuruhku tetap membelai lembut rambutnya sampai dia tertidur.


"Kenapa kamu tidak bisa diajak kompromi?" decakku dan dengan tangan yang terus menerus mengelus kepalanya.


"Jangan ajak aku berdebat," pungkas Ahn Yoo dengan mata yang terpejam.


Tanpa sadar saat membelai rambut Ahn Yoo, aku tidak sengaja memerhatikan wajahnya yang terlihat sepi. Bibir yang sendu dan mata yang sayu, membuat jantungku berdetak saat menatapnya. Aku terbawa ingin tertidur juga. Meski sudah ku paksa untuk tetap terjaga, tapi mataku benar-benar tidak bisa lagi terus terbuka. Hingga malam ini, aku terpejam sambil memeluk tubuh Psikopat dingin tak berhati ini.