SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 33



Belum tentu setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki satu pemikiran yang sama.


"Aku harus membawamu ke dukun untuk membersihkan tanganmu," ujar Ahn Yoo kepada ku.


"Pffft, dukun? Apa tanganku semengerikan itu? Jangan bercanda, aku masih kesal melihatmu."


"Makanya jangan dekat-dekat dengan pria lain, aku tidak suka," tukas Ahn Yoo dengan mulut mengerucut.


Ahn Yoo ternyata bisa berubah menjadi anak kucing yang menggemaskan. Aku baru tahu kalau dia memiliki sisi manis seperti ini. Aku sangat kesal melihatnya, tapi kalau dia bertingkah manja, aku tidak bisa jamin akan terus kesal kepadanya.


"Wahh ... jangan ber-ekspresi sok manis, aku tidak sanggup melihatnya. Aku semakin ingin mencubit pipimu sampai merah kalau terus begitu," gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil saat menatapnya.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung masuk dan mencari Bu San terlebih dahulu.


"Bu San!!" teriakku keras mencari Bu San.


"Jane?" Bu San lari dengan terheran-heran melihatku.


"Bu San, aku rindu dengan masakanmu. Aku mau makan," lirihku merengek.


"Apa hanya makan isi di kepalamu? Dasar udang!" umpat Ahn Yoo mengataiku.


Aku tidak menghiraukannya sama sekali, dan tidak menoleh ke arahnya. Biarkan saja dia mendapat hukuman dariku. Aku tidak akan membicarai Ahn Yoo beberapa hari. Supaya dia tahu dimana letak kesalahannya dan memperbaiki sikapnya yang suka semena-mena.


"Oh ya Bu San, malam ini masak apa?" tanyaku kepada busan.


Mata Bu San sedikit melirik ke arah Ahn Yoo yang masih berdiri tidak jauh dariku. Dia terus memperhatikanku yang sedari tadi tidak ku anggap ada di sini.


"Malam ini saya tidak masak," sahut Bu San dengan mata yang tetap melirik Ahn Yoo. Kalau dilihat-lihat, Bu San tidak masak karena Ahn Yoo yang memintanya. Mungkin dia sedang membalasku dengan tidak membolehkanku makan malam hari ini.


"Owh ya sudah, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu, mau mandi. Gerah di sini," ucapku yang sedang menyindir Ahn Yoo.


Aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Dengan badan yang sudah cukup letih seharian tidak pernah beristirahat aku menghempaskannya di atas ranjang empuk ini. Semulai dari pagi sampai siang sepertinya ada saja kejadian yang tidak diinginkan. Hyun In yang bertingkah gila di rumah sakit, Ahn Yoo yang memukuli Kang Joon tanpa sebab. Membuatku lelah dan terpengaruh nyamannya ranjang ini. Seperti sedang mengelus kepalaku dan memelukku dengan hangat. Mataku mulai terlelap dan dengan badan yang sudah letih tertidur di hari yang akan mulai gelap.


***


Tidak terasa sama sekali, ternyata hari sudah berganti menjadi esok. Aku yang masih terbuai dalam tidur yang nyenyak, tidak terbangun meski ayam sudah mulai berkutik bersahut-sahutan.


Yang membangunkanku adalah kebingungan karena Ahn Yoo tidak mengetuk pintu saat pagi seperti biasanya. Mungkin kali ini dia memang sedang mengajakku perang dingin.


Aku turun ke bawah dan menuju dapur untuk menyapa Bu San.


"Bu San masak apa?" sapaku kemudian menarik kursi untuk makan.


Aku sudah melihat Ahn Yoo sedang duduk di kursi dan makan lebih dulu. Dia tidak menungguku, dan kali ini Ahn Yoo tidak melihatku sama sekali. Sepertinya memang dia sedang mengajak perang dingin denganku dan mogok bicara.


Sesaat aku duduk, Ahn Yoo berhenti makan dan pergi dari sini. Aku sangat kebingungan, hingga aku bertanya kepada Bu San.


"Bu, Ahn Yoo kenapa? Sepertinya dia sedang merajuk," tanyaku keheranan dan raut bingung.


"Sepertinya Jane, mungkin Tn.Ji marah kepadamu," balas Bu San dengan suara berbisik.


"Kenapa lagi? Aku tidak melakukan apa-apa," aku semakin bingung saja. Padahal semalaman aku tidak bertemu dengannya. Lalu kenapa sekarang dia malah merajuk denganku.


"Waktu makan malam, kamu tidak turun. Padahal Tn.Ji sudah menunggumu," jelas Bu San.


"Karena hal itu? Lagi pula kenapa aku tidak dibangunkan?"


"Saya sudah mengetuk pintumu, tapi tidak ada sahutan dari dalam," tukas Bu San.


Aku mengambil nasi di piring dan memakannya dengan seribu opini di kepala. Aku rasa Ahn Yoo mengira kalau aku lah yang ingin mogok bicara dengannya. Jadi hari ini dia sedang membalasku, dan tidak akan berbicara denganku.


"Itu saja sudah marah, dia 'kan bisa makan sendiri. Kenapa si gunung es itu sensitif sekali," gerutuku dengan nasi penuh di mulut.


"Tn.Ji tidak makan lagi malam itu, dan menyuruh saya mengantar makan malam untukmu," ucap Bu San yang tampak sedang membela Ahn Yoo.


Aku pikir Ahn Yoo tidak punya perasaan membiarkanku tidak makan malam, tapi ternyata dia menyuruh Bu San mengantarkan makanan untukku.


Hatiku jadi mulai meleleh dengan sikap Ahn Yoo yang perhatian, tidak seperti dulu yang dingin kepadaku. Bertindak semena-mena dan selalu mengancamku.


Benar kata orang, kita mencintai seseorang tanpa tahu kapan tumbuhnya. Mungin aku juga tanpa sadar sudah mencintainya tanpa mengetahui kapan mulanya.


Aku tidak tahu, selama ini dia selalu begitu. Kadang bersikap baik dan kadang sudah berubah. Memikirkannya saja kepalaku sudah pusing lebih baik dipikirkan lain kali saja.


"Jane! Jane!" teriak Bu San menyadarkanku dari lamunanku.


"Ha? Ehh ya!" Aku tersentak dari lamunanku.


"Apa yang kamu pikirkan, Jane? Apa kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu hanya memainkan nasi di piringmu," ujar Bu San menyadarkanku.


"Ohhh ... aku sudah kenyang jadi tidak selera lagi," jawabku mengelak.


"Bukannya Jane baru makan tiga sulang?"


"Uhm ... aku tidak bernapsu Bu San," ujarku sambil menampakkan wajah kelelahan.


"Ya sudah, jangan diteruskan." Bu San mengambil piring yang ada di depanku.


Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselku dan berniat menghubungi Ahn Yoo. Aku ingin mengirimkan pesan untuknya karena sudah berbaik hati mengantarkan aku makan malam, meski pun melalui Bu San.


Aku:


 


Jiyu


 


Aku mengirimkan pesan dengan isi seperti itu karena ingin meledek Ahn Yoo. Dia tidak suka dipanggil Jiyu karena memang hanya Hyun In yang menyebutnya seperti itu.


Kelamnya, Ahn Yoo tidak membalas pesanku, padahal dia sudah membacanya. Aku mengirimnya sekali lagi sebuah pesan.


Aku:


 


Apa kamu sedang marah Jiyu?


Kenapa tidak balas?


 


Aku memang sangat usil, masih pagi sudah membuat Ahn Yoo marah.


Kali ini Ahn Yoo membalas pesanku.


Gunung es:


 


😒


 


Isi pesannya hanya sebuah emotikon yang ekspresinya sama dengan Ahn Yoo kalau sedang kesal. Aku merasa tergelitik melihat balasan pesanku.


Aku:


 


Aku ingin ke rumah sakit


menjenguk Hyun In


 


Aku membualinya akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Hyun In, nyatanya aku hanya ingin melihat reksi dari Ahn Yoo. Ternyata dia tidak tahan dan langsung menelponku.


"Jangan pernah keluar dari rumah," perintah Ahn Yoo dari telepon dan kemudian menutup panggilannya langsung.


"Hahahahaha ... mau mogok bicara denganku saja tidak bisa, baru saja dipancing seperti itu," gumamku terkikik sendiri.