
"Apa sudah puas saling menyindirnya? Kita akan kelamaan pulang kalau kalian tetap seperti itu," ujarku yang sudah mulai bosan melihat tingkah mereka.
"Belum!" Serentak mereka menjawabnya dengan kompak. Bahkan nada dan ekspresi wajah mereka sama saat menyahutku.
"Kenapa tidak dari tadi kalian kompaknya? Aku tidak perlu repot-repot merelai kalian," decakku datar.
"Kita pulang," ucap Ahn Yoo mengajakku lalu menarik tanganku. Namun bodohnya, Ji Seon menahanku dan menarik tanganku dari genggaman Ahn Yoo.
"Kamu pergi denganku jadi pulang harus denganku," kata Ji Seon menahanku. Ahn Yoo yang keras kepala dan tidak mau kalah ini menarik tanganku lagi. Mereka saling merebut sampai kepalaku seperti terguncang.
"Sudah kukatan kau akan kujemput," ucap Ahn Yoo lagi lalu menarik tanganku.
"Aku akan naik bus saja!!! Kalian berisik sekali sampai aku pusing. Jangan ada yang memegang tanganku, dan jangan ada yang mengusikku. Kalian pulang sana!" Aku mengamuki mereka dengan suara yang kuat dan bentakan. Kalau tidak begitu mereka akan ribut sampai tanganku ini patah. Tidak mungkin aku memikih diantara mereka. Ahn Yoo dan Ji Seon adalah orang yang penting bagiku. Kalau harus disuruh memilih aku tidak akan bisa, karena mereka terlalu berharga bagiku.
Aku berjalan meninggalkan mereka menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari sini. Aku menyuruh mereka untuk tidak mengikuti kemana aku pergi dan melarang mereka mendekat denganku.
~Halte bus~
Aku duduk menunggu trip bus yang akan datang sebentar lagi. Sambil menunggu, aku menatap kendaraan yang berlalu lalang, tapi karena tempat ini lumayan sepi tidak ada yang bisa ku pandangi. Namun mataku ini masih melihat mereka berdua berdiri di sana. Entah itu sedang berdebat atau apa pun, aku tidak peduli. Aku sudah muak melihat mereka yang banyak oceh dan tidak ada yang bisa diam.
Tiiiit!
Bus itu akhirnya datang. Langsung ku naik ke dalam bus itu dan mengambil kursi yang dekat dengan jendela agar bisa menikmati angin yang berhembus.
Saat sedang menatap ke luar jendela, aku melihat mobil Ahn Yoo dan Ji Seon berada di sisi kiri bus ini. Mereka mengikuti bus ini melaju, baik kecepatan ataupun arah bus. Mereka seperti penguntit saja. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menghembuskan nafas panjang menghadapi tingkah mereka.
***
Sampai ke apartemen ku pun mereka tetap mengikutiku. Mereka berjalan satu langkah di belakang. Mereka seperti bodyguard saja, kemanapun aku pergi selalu diawasi.
Setelah aku membuka pintu apartemen ini, mereka berniat untuk masuk juga ke dalam. Aku berbalik dan menatap sinis merka berdua sambil mendecakkan bibirku lalu memukul keras pintu.
Brakkk!
"Menjauh dariku, jangan paksa aku berteriak di sini dan mengatakan kalau kalian ini penjahat yang ingin menjualku," ancamku menakut-nakuti mereka.
"Ini apartemen milikku," ucap Ahn Yoo
"Apa kamu sedang ingin mengusir ku dari sini?" tanyaku dengan mata ingin menerkam.
"Tidak," jawab Ahn Yoo cepat.
"Kalau begitu pergi dari sini. Aku sedang tidak menerima tamu apalagi laki-laki," ucapku.
"Kijen, ada urusan pekerjaan yang belum ku sampaikan padamu," timpal Ji Seon menahanku.
"Heh! Jangan panggil dia dengan sebutan busuk itu!" umpat Ahn Yoo pada Ji Seon.
"Ck, sepertinya Tuan Ji merasa terganggu, tapi itu adalah sebutanku padanya sejak dulu," jawab Ji Seon.
"Aku tidak peduli," balas Ahn Yoo Apatis.
"Aku lelah, kalian bisa lanjutkan perdebatan tanpa pembahasan ini, aku masuk dulu." Aku masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintu rapat-rapat. Aku meninggalkan mereka berdua di depan dan tidak membiarkan merka masuk. Dari pada harus menonton mereka bertengkar, lebih baik aku mengusir mereka saja.
Namun tetap saja mereka mengganggu ketenangan ini. Salah satu diantara mereka mengetuk pintu terus menerus, aku sudah tebak itu bukan Ahn Yoo. Karena dia akan langsung masuk kalau memang ingin.
Aku membuka pintu dan melihat mereka dengan tatapan pasrah.
"Siapa yang mengetuk tadi?" tanyaku pada mereka.
"Bukan aku," jawab Ahn Yoo ketus.
"Jane Soo, maafkan aku karena menggangu ketenanganmu," ujar Ji Seon meminta maaf dengan tulus.
"Kalau begitu pergi kalau sudah tahu salah," jawabku berpura-pura tidak acuh.
"Kamu memaafkanku, kan?" tanya Ji Seon lagi.
"Pergi sebelum panci di sana terbang ke sini," ancamku.
Kemudian Ahn Yoo melangkah ke depan hendak masuk ke dalam apartemen ini dengan lagak sombong. Langsung ku cegat dan ku tolak badannya menjauh dari sini.
"Kamu juga pulang. Tadi kamu menyenggakku dengan keras. Sampai aku tersentak ketakutan. Jadi pergi dari sini, aku ingin menenangkan diri," suruhku pada Ahn Yoo.
Aku langsung masuk dan tidak mengacuhkan mereka di luar. Kalau mereka saling pukul di sana, aku tidak akan peduli. Aku serahkan saja pada pihak keamanan yang berbeda di tumpukan apartemen ini.
***
Aku mandi dan menyegarkan pikiran yang suntuk karena seharian mendengar kedua bocah itu berdebat.
Sekarang sudah pukul 08.12 pm, biasanya Ahn Yoo akan datang menggangguku. Mungkin karena dia tersinggung dengan yang kukatakan tadi. Akhirnya dia tidak ingin berbicara denganku. Padahal kami baru saja berbaikan semalam, dan sekarang sudah bertengkar lagi. Tapi biarkan saja, aku bisa istirahat dari gangguannya. Dan memang inilah yang terbaik saat ini. Aku ingin tidak perlu merasa tertindas kalau tidak bertemu dengan Ahn Yoo.
"Lalalala ... lalalala." Aku bersenandung sambil mengeringkan rambutku yang basah karena baru saja keramas tadi.
Saat tengah asyik bernyanyi, tidak sengaja mataku melihat notifikasi panggilan dari Ahn Yoo. Dia menelponku berulang kali. Tapi karena tadi aku sedang mandi jadi tidak mendengar apa pun. Mungkin dia akan mengira kalau aku sedang merajuk, walaupun memang faktanya begitu.
Tidak berapa lama kemudian dia mengirim pesan singkat yang berisi kalau Hendry ingin bertemu denganku.
"Hahahah, Ahn Yoo bodoh. Dia kira aku ini pikun tidak ingat kalau Hendry dan ibunya pergi ke luar negeri." Aku tertawa geli saat membaca pesan dari Ahn Yoo. Apa CEO yang terkenal di kota ini tidak bisa mencari alasan yang lebih baik lagi? Bahkan anak SD pun tahu kalau dia sedang berbohong.
Aku tidak membalas pesannya itu dan membiarkan dia mengira kalau aku sangat marah padanya sampai tidak ingin bertemu lagi.
Selang waktu berapa menit, Ji Seon juga menelponku. Namun aku tidak mengangkat panggilan darinya. Berbeda dengan Ahn Yoo yang menelponku secara berulang, Ji Seon malah menelponku dua kali saja. Dia memang sangat pengertian dan memberikan aku waktu untuk mengenakan diri. Sahabat memang lebih mengerti kita dibanding dengan orang yang baru saja kita temui.
Aku membentangkan badanku dan memejamkan mataku sambil membayangkannya mereka berdua saat sedang bertengkar tadi. Tak sadar aku malah tertawa sendiri saat membayangkan hal itu. Dan tak sadar aku malah tertidur karena bayang mereka sudah membuatku mengantuk.
***
Saat membuka mataku untuk pertama kalinya di pagi hari yang cerah ini, aku melihat Ahn Yoo berdiri dengan tangan yang dilipat di atas dada sambil menatapku dengan matanya yang sinis.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanyaku dengan mata melotot karena kaget.
"Wanita jorok," decak Ahn Yoo mentapku jijik karena bangun kesiangan setiap pagi.
"Kapan kamu berdiri di sana?" tanyaku sekali lagi. Aku khawatir dia melihat gaya tidurku yang tidak beraturan sama sekali.
"Siapkan aku sarapan," perintah Ahn Yoo.
Jadi pagi-pagi seperti ini dia datang ke sini hanya untuk dimasakkan sarapan? Padahal Bu San ada di sana. Bahkan masakannya lebih enak dari pada aku. Tapi Ahn Yoo yang ingin membunuhku secara perlahan ini malah datang kemari dengan alasan ingin dimasakkan sarapan. Aku hanya bisa mendecak dalam hati dan mengatakan, "Laki-laki konyol."
Aku belum membasuh muka dia sudah menyuruhku masak, bahkan kakiku belum menyentuh lantai, dia malah menyuruhku masak. Ingin sekali meninjunya agar bisa cepat mengerti kalau aku ini masih belum sadar dari mimpiku tadi malam.
"Aku cuci muka dulu," ucapku sambil mengusap dan meregangkan badanku.
"Kenapa tidak angkat telpon ku?" tanya Ahn Yoo saat kakiku sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"A-Aku semalam tertidur jadi tidak mendengarnya," jawabku membual.
"Kau membaca pesanku," sambungnya.
"Ha? So-Soal itu mungkin karena tanganku tidak sengaja menyentuh ponsel jadi terbuka," jawabku dengan alasan bodoh. Aku tahu dia tidak akan percaya atas apa yang baru saja kukatan padanya. Tapi biar saja, yang penting dia tahu kalau aku malas berbicara dengannya.
"Maafkan aku," ucap Ahn Yoo tiba-tiba. Tanpa ada angin tak ada hujan, pagi buta begini dia meminta maaf padaku. Aku ini sedang bermimpi atau hanya berhalusinasi? Seorang Ahn Yoo bisa meminta maaf?
"Ha? Hmm," anggukku memaafkannya.
"Aku terlalu kasar padamu," sambungnya lagi dengan wajah merasa bersalah.
"Ekhem, baguslah kalau kamu sadar," dehemku lalu bersikap dingin padanya. Dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka.
***
Aku berjalan ke dapur dan melihatnya duduk di sana dengan piring di depannya. Piring itu berisi sandwich persis seperti yang sering kumasak untuknya waktu dulu.
"Kamu yang masak?" tanyaku dengan tampang task percaya.
"Hmmm," angguknya.
"Aku ini sedang bermimpi atau hanya halusinasi?" tanyaku sambil menggigit kuku karena belum yakin kalau orang yang ada di depanku ini adalah CEO dingin yang manja dan sukanya hanya bisa mengatur.
"Jangan banyak tanya, makan itu atau buang," ucap Ahn Yoo ketus.
Setelah mendengarnya mengatakan kalimat menyakitkan itu, aku baru sadar kalau yang ada di depanku ini adalah Ahn Yoo Si psikopat gila.
Aku mengunyah perlahan sandwich yang dimasaknya ini dan dengan mata yang tidak lepas menatap Ahn Yoo karena masih bingung dengan perubahan sikap yang dia tunjukkan padaku.
"Apa kamu yang masak?" tanyaku padanya.
"Hmmm," jawabnya dingin.
Rasanya kenapa bisa selezat ini? Bahkan lebih enak dari buatan ku.
"Cepat habiskan, aku ada rapat hari ini," suruhnya dengan ketus. Padahal aku baru saja merasa dia sudah berubah menjadi orang yang manis, tapi ternyata itu hanya sebentar saja untuk membujukku agar tidak merajuk lagi. Dia kembali lagi jadi orang dingin.
"Huh, aku tahu kalau CEO terkenal sepertimu sangat sibuk. Yang menungguku itu kamu bukan aku yang suruh, jadi jangan mengoceh padaku," umpatku dalam hati.
Aku menghabiskan sandwich ini dengan cepat lalu berkemas untuk pergi dengan gunung es ini.
***
"Kenapa kau lambat sekali?" tanya Ahn Yoo menggusari ku. Padahal aku sudah terbilang sangat cepat selesai berkemas. Tapi dia masih kurang bersyukur aku bisa secepat ini. Apa perlu aku pakai turbo agar bisa bergerak secepat kilat?
~Dalam mobil~
"Kenapa kamu mengantarkanku?" tanyaku.
"Nanti benalu itu mendekatimu," jawab Ahn Yoo penuh cemburu.
"Ji Seon? Kenapa kamu kejam sekali mengatakannya benalu? Bagaimanapun dia itu sahabatku," kataku.
"Apa aku terlihat perduli?" balas Ahn Yoo yang sudah berubah menjadi orang yang acuh lagi.
Aku diam dan tidak menyahuti omongannya yang menyebalkan. Aku tidak berbicara selama di perjalanan. Dan begitu juga dengan Ahn Yoo, dia tidak memulai pembahasan. Akhirnya suasana hening ini mengantarkan aku bekerja.
"Aku bekerja dulu," ucapku berpamitan dengan Ahn Yoo.
Dia diam dan tak menoleh ke arahku sama sekali. Dia tetap lurus menatap ke depan tanpa menghiraukanku. Aku heran dimana letak kesalahanku? Setiap hari harus bertengkar dengannya. Setiap hari harus diamuki olehnya. Untung saja aku menyukai laki-laki sialan ini, kalau tidak sudah ku tinggalkan dari dulu.
"Hey! Aku pergi! Wah ... aku diagungkan tapi didiamkan" ucapku sekali lagi. Namun masih tidak ada sahutan darinya, dia tetap mengacuhkanku dan bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.
Aku yakin dia sedang marah padaku karena tadi aku membela Ji Seon dan memarahinya karena sudah menyebut Ji Seon benalu. Aku megang wajahnya dengan kedua tanganku dan membuatnya menatapku.
"Aku pergi bekerja, Psikopat dingin!" kataku dengan suara keras sampai dia mentapku dengan mata mematikannya. Aku tidak takut sama sekali dengan matanya itu, aku menghembus matanya lalu memberi senyum manis padanya.
"Kyaa! Jawab aku ... kenapa kamu ini jahat sekali padaku?" rengekku bersikap manja di hadapannya. Aku bertingkah seperti anak kecil agar dia bisa luluh. Dan semoga bisa luluh.
"Apa kau bersikap seperti ini dengan Si brengsek itu?" tanya Ahn Yoo dengan posisi tanganku memegang wajahnya sehingga mata kami sangat dekat sampai hembusan nafasnya terdengar ke telingaku.
"Oh? Ti-Tidak," jawabku berbohong. Padahal dalam benak aku berkata lain. Aku lebih manja di depan Ji Seon dari pada di depan Ahn Yoo. Tapi aku lebih dekat denganmu dari pada Ji Seon.
"Ok, karena kamu sudah jawab aku, sekarang aku bekerja dulu," pamit ku pada Ahn Yoo untuk kesekian kalinya.
"Untuk apa kau memegang wajahku begini?" tanya Ahn Yoo sambil menyudutkan matanya menunjuk tanganku yang masih menempel di wajahnya.
"Eh? I-Itu, karena kamu tidak mau mentapku tadi," jawabku dan langsung menjauhkan tangan ini dari wajahnya. Namun Ahn Yoo malah memang tanganku dan menyuruhku untuk tetap seperti ini. Dia bilang, mata kami harus saling beradu seperti ini.