SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 26



Hyun In memegang tanganku dan menanyakan siapa orang yang menelepon ku tadi.


"Apa itu Jiyu, Jane Soo?"


"Ha? Iya, dia menyuruhku untuk tetap di sini," sahutku sambil menutup panggilan Ahn Yoo.


"Jadi kita tidak akan makan ke restaurant?" Tanya Hyun In kecewa.


Aku tidak tahan melihat orang yang memelas di depanku. Imanku terlalu goyah saat melihat Hyun In merasa kecewa karena tidak bisa makan bersama.


"Tenang, kita akan makan. Jadi kamu jangan sedih begitu," jawabku menenangkan Hyun In.


"Aku menyayangimu, Jane Soo." Hyun In memegang tanganku dan langsung menarikku untuk berjalan menuju restaurant yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan ini.


"Hyun In! Aku bisa jalan sendiri, tidak usah ditarik-tarik!" Teriakku kepada Hyun In sambil mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.


Namun dia sama sekali tidak mendengarkanku dan tetap menarik tanganku sampai ke restaurant. Memang wanita yang keras kepala, untung saja dia manis, kalau tidak aku akan memukul tangannya yang menari-narik tanganku ini.


"Jane Soo, kita duduk di sana." Tangan Hyun In menunjuk meja di tengah restaurant.


"Kita di pinggir saja, aku tidak nyaman di sana."


"Ya sudah, kita di meja pinggir ini saja."


Aku dan Hyun In duduk di kursi dan langsung memesan makanan.


"Kamu makan apa, Jane Soo?" Tanya Hyun In sambil memegang menu makanan.


"Aku makan seperti yang kamu pesan saja," jawabku sambil tersenyum.


Belum sempat hidangan kami sampai di meja, Ahn Yoo datang menghampiri kami dengan wajah kaku.


"Jiyu??" Wajah Hyun In sangat bahagia ketika melihat Ahn Yoo.


"Ahn Yoo? Dari mana kamu tahu kami di sini?" Tanyaku lagi.


"Apa kau sudah puas membuatku mencarimu kemana-mana?" Sambung Ahn Yoo kepadaku tanpa menghiraukan Hyun In.


"Aku ... aku tidak tahu kalau kamu benar-benar akan datang menjemputku," kataku dengan lirih.


"Aku rasa kau sedang menguji ku, Kim Jane Soo," sindirnya kepadaku.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," sambungku yang benar-benar tidak tahu apa maksudnya.


"Sudah, karena Jiyu sudah di sini. Lebih baik kita bertiga makan, biar aku pesankan makanan kesukaan Jiyu," timpal Hyun In dengan senyum manis di wajahnya.


"Aku tahu ini rencanamu, Hyun In," lanjut Ahn Yoo menatap Hyun In dengan mata sinisnya.


"A- A- Apa maksudmu ini rencanaku? Aku tidak mengerti maksudmu, Jiyu," sambung Hyun In dengan terbata-bata.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang. Kenapa kau masih tetap di sini?" Kata Ahn Yoo yang tampak sedang marah kepada Hyun In.


"Aku ... aku masih ingin tetap di sini bersamamu, Jiyu," lirih Hyun In.


Sungguh wanita yang malang, sudah tahu Ahn Yoo tidak menyukainya tapi dia tetap mati-matian mengejarnya. Kalau aku jadi Hyun In, pasti aku tidak akan sudi mengejar laki-laki yang sudah dari awal tidak menyukaiku.


"Aku tidak suka kau ada di sini, aku merasa risih kau ada di sini. Jadi pulanglah," kata Ahn Yoo menanggapi Hyun In.


Ahn Yoo langsung menarikku keluar dari restaurant ini menuju mobilnya. Aku hanya bisa diam melihat kelakuannya yang sudah keterlaluan terhadap Hyun In. Sebenarnya aku sangat kasihan melihat Hyun In karena ditinggal sendiri dalam restaurant.


Saat sudah sampai di depan mobil, Ahn Yoo langsung masuk ke dalam tanpa menyuruhku terlebih dahulu untuk menaiki mobilnya.


Aku tetap berdiri di depan mobilnya, menunggu Ahn Yoo menyuruhku masuk.


Tidak lama kemudian, Ahn Yoo membuka kaca mobilnya dan menatapku tanpa berbicara sedikit pun.


Aku berpura-pura tidak melihatnya dan tetap berdiri menunggunya menyuruhku.


Ahn Yoo turun dari dalam mobil dan mendekat ke arahku. Aku pikir dia akan melakukan apa, ternyata dia membukakan pintu mobilnya untukku. Aku sampai terheran-heran melihat sikapnya hari ini.


"Masuklah," perintahnya dengan suara lembut.


"Ha? Iya, iya," jawabku yang masih tertegun.


"Ahn Yoo!" Panggilku dengan suara ragu.


"Hmmm," sahutnya singkat.


"Apa tidak salah kita meninggalkan Hyun In sendiri di sana?" Tanyaku.


"Jangan mencemaskannya, dia itu tidak seperti yang kau kira."


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti."


"Apa kau tidak cemburu melihat Hyun In dekat-dekat denganku?" Tanya Ahn Yoo tiba-tiba.


"Ke- Kenapa aku harus cemburu, kamu aneh sekali," jawabku gugup.


"Apa kau tidak cemburu sama sekali?" Ahn Yoo tiba-tiba terlihat seperti anak kecil yang sedang bertanya kepada Ibunya.


"Kenapa bertanya tentang itu. Pertanyaannya sudah melenceng dari pembahasan kita," sambungku mengalihkan topik.


"Kau terlihat sedang menutupi sesuatu," tegun Ahn Yoo curiga.


"Hahahahah, itu perasaanmu saja. Oh iya, aku heran kenapa kamu bisa tahu kalau aku ada di restaurant itu tadi, padahal aku tidak memberi tahumu," tanyaku penasaran.


"Aku ini sangat cerdik, kalau hanya melacak keledai bodoh sepertimu adalah masalah yang gampang," sambung Ahn Yoo memgejekku.


"Sabar Jane, sabar. Dia adalah pengusahasa terbesar di kota ini, jadi jangan membentaknya, jangan." Aku mengelus dadaku berulang kali sambil mencoba untuk tidak mengamuki Ahn Yoo yang mengejekku sebagai keledai bodoh.


Ahn Yoo tersenyum saat melihatku sedang mencoba meredakan emosiku.


"Kenapa kau melihatku begitu sambil tersenyum? Kamu terlihat seperti remaja yang baru puber saja," ejekku kembali.


"Apa yang baru saja kamu bilang?"


"Hahahha, tidak ada. Aku hanya bilang kamu sangat cerdik karena bisa melacakku dengan mudah," jawabku membual dan kemudian menjulurkan lidah setelah itu.


Dia tidak mengoceh lagi dan kembali fokus melihat jalan untuk menyetir.


Aku tidak tahu kemana Ahn Yoo akan membawaku, padahal sudah lumayan lama kami berada di perjalanan. Hari sudah mulai gelap, tapi dia tetap membawaku entah kemana. Setidaknya Ahn Yoo memberitahukanku kemana akan pergi, supaya aku tidak penasaran seperti ini.


"Kemana kita akan pergi, Ahn Yoo. Dari tadi belum sampai-sampai juga," decakku kepadanya.


"Ku beritahu pun kamu tidak akan tahu, jadi diam saja," jawabnya ketus.


Aku sama sekali tidak menghiraukannya, dan memandangi sisi jalan sambil menggerutui Ahn Yoo.


Tak berapa lama mataku terpanah dengan jalan yang disuguhi danau di sisinya. Selama mataku memandanginya, sedetik pun tidak berkedip karena takjub. Sangat indah, warnanya biru terang. Di sini masih sangat asri, hanya sedikit saja orang yang berlalu lalang. Apa Ahn Yoo sedang menepati janjinya waktu itu kepadaku kalau dia akan membawaku ke danau.


"Wahhh .... Ahn Yoo, di sini sangat indah," kataku dengan mata yang tidak berhenti meratapi danau.


"Apa kau mau tinggal di sini?"


"Aku sangat ingin!!" Jawabku cepat.


"Tidak bisa, kau harus tinggal di rumahku."


Aku berhenti menatap danau dan langsung menghadapkan kepalaku ke arahnya.


"Apa yang kamu bilang? Suatu saat aku akan meminggalkanmu, jadi jangan katakan seperti itu."


"Jangan ajak aku berdebat, jadi diam saja."


Siapa yang akan tahan kalau teman bicaranya abnormal seperti Ahn Yoo. Tidak diberi kesempatan untuk bicara sama sekali, ditambah gaya bicaranya yang bikin darah tinggi. Namun aku harus tetap sabar, karena dia sudah menyelamatkanku. Kalau bukan karena hal itu, aku akan mencakar wajahnya.


**Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN.


LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**