
Mereka yang menggosipi ku itu menunduk dan meminta maaf berulang kali. Mungkin mereka juga ketakutan karena melihat wajahku yang sekarang sangatlah terlihat mengerikan. Salah mereka karena memancing emosi orang yang sedang patah hati. Akhirnya mereka jadi tempat pelampiasannya.
Aku berjalan keluar dari cafe ini menuju halte bus yang ada di sekitar sini. Setelah sampai di pemberhentian bus kawasan apartemen, aku duduk di sana selama beberapa menit untuk merenung. Tidak bisa disangkal, entah mengapa rasanya sangat nyaman kalau menyendiri di halte sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang.
Drettt-Drett!
Ponselku bergetar tiba-tiba. Langsung ku periksa dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata pesan dari SIM Card yang kupakai. Aku kira Ahn Yoo yang mengirimkan pesan itu.
Aku pulang dengan membungkuk dan muka kusut tidak bisa tersenyum lagi. Bahuku yang turun karena membungkuk membuat orang yang melihatku merasa simpati. Agak sedikit malu, tapi sangat nyaman saat seperti ini.
Aku terus menekuk dan membungkuk sampai tiba di depan apartemen ku. Aku membuka pintu ini dengan tangan yang rasanya sangat enggan dan berat. Kemudian aku masuk dan langsung melemparkan tasku ke atas sofa dan menghempaskan badanku kemudian.
"Kenapa kau lama sekali?" Terdengar gerutu seseorang dari arah ranjangku. Seperti suara Ahn Yoo, tapi mungkin itu hanya bayanganku saja. Aku melihat asal suara itu dengan badan sigap karena terkontak setelah mendengar suara Ahn Yoo.
"Aaaaaahhh!!!" teriakku keras saat melihat Ahn Yoo benar-benar ada di sana. Dia tengah berbaring di ranjangku sambil memainkan ponselnya. Dia seperti baru pulang bekerja. Terlihat dari baju yang dipakainya.
"Kenapa kau berteriak? Berisik," decak Ahn Yoo sambil menutup telinganya.
"Kamu! Dari mana kamu masuk? Aku sudah mengganti kode PIN pintu itu. Lalu ... lalu bagiamana kamu bisa masuk?" tanyaku berulang dengan mata terbelalak karena masih tidak menyangka Ahn Yoo ada di sini.
"Apa kau ini bodoh, ha? Apartemen ini milikku, jadi aku bisa masuk kapan pun tanpa harus minta izin dari wanita bodoh sepertimu," caci Ahn Yoo.
"I-Iya, tapi ... tapi bukannya kamu sedang marah?"
"Hmmm," angguknya mengiyakan.
"Apa kamu tidak menerima pesan dariku? Tadi aku mengajakmu bertemu tapi kamu tidak datang. Aku kira kamu sangat membenciku," tanyaku dengan mata sedih.
"Aku menerimanya. Tapi aku tidak sudi makan di tempat seperti itu. Seharusnya mengajakku ke restauran yang berbintang. Pasti aku akan datang," jawab Ahn Yoo sombong dan dengan kaki yang masih menyilang terbaring di atas ranjang.
"Aku menunggumu sangat lama tadi," sambungku dengan lirih.
"Aku tahu kau juga sempat bertengkar," timpal Ahn Yoo dengan nada tidak acuh.
"Ke-Kenapa kamu bisa tahu??" tanyaku kebingungan.
"Aku punya rekamannya," jawabnya sambil menunjukkan vidio yang ada di ponselnya.
Dia benar-benar merekamnya. Katanya dia tidak datang, lalu dari mana vidio itu didapatkan nya. Atau aku sudah diviralkan oleh orang yang juga berada di cafe itu tadi.
"Dari mana kamu dapat vidio itu?" tanyaku dengan mata terbelalak kaget.
"Aku menyuruh orang lain mengikuti dan langsung report padaku," jawabnya santai.
Dari siang hingga malam begini aku menghabiskan waktu dengan menunggunya. Tapi dia malah dengan santainya mengatakan kalau dia menyuruh orang lain untuk merekam semua yang kulakukan. Apa menurutnya menunggu seseorang seperti candaan? Rasanya ingin mencekik lehernya sampai dia tidak bisa bernafas lagi. Tapi karena baru saja baikan dengannya, terpaksa melakukannya lain kali saja.
"Terserah, aku sudah lelah menghadapimu. Lakukan semua semaumu, aku tidak akan melarangnya. Takut kamu marah lagi dan tidak membicarakan ku," ucapku dengan sedikit menyindir.
"Apa kau ini sedang mengumpati ku?" tanya Ahn Yoo yang sudah merasa tersindir.
"Iya."
"Aku pulang," tambah Ahn Yoo sambil beranjak dari ranjang dan hendak berjalan keluar dari sini. Dia mengambil jas yang di letakkannya di sofa, tepatnya di sampingku. Lalu pergi begitu saja.
Aku memegang tangannya dan tidak membiarkan Ahn Yoo pergi meninggalkan apartemen ini.
"Aku minta maaf," ucapku dengan lirih dan mata memelas dengan tangan yang masih menahannya.
Dia berpura-pura tidak mengacuhkanku, padahal jelas tampak bibirnya tersenyum kecil. Dia bersikap jual mahal agar aku memohon-mohon padanya. Rencana yang licik.
"Apa kamu tidak akan maafkan aku? Apa aku harus angkat kaki dari sini dan tidak akan muncul dihadapan mu lagi? Apa aku harus menghilang dari pandangan mu?" Aku merayu Ahn Yoo yang dingin ini dengan wajah polos bersedih.
"Pergi saja kalau mau pergi," jawabnya dengan arogan.
Aku melepaskan genggamanku lalu memeluknya dari belakang. Tidak tahu mengapa aku bisa melakukan hal yang seberani ini padanya. Rasanya seluruh tubuhku akan ku serahkan kepada Ahn Yoo. Meskipun aku sudah memaksa untuk tidak perlu berharap padanya lagi. Tapi entah mengapa hati kecilku selalu berbisik untuk bersandar padanya.
"Harus dengan kata apa aku agar bisa membuatmu memaafkan aku?" kataku lirih sambil memeluknya dari belakang.
"Apa kau ini belum pernah berpelukan dengan laki-laki sebelumnya? Kau memelukku terlalu keras," timpal Ahn Yoo. Dia ini sedang bercanda atau apa aku tidak tahu. Langsung ku lepaskan dekapan itu lalu menutup wajah karena malu.
"A-Aku baru pertama kali memeluk laki-laki," jawabku dengan pipi merona.
"Kau amatiran sekali. Apa perlu ku ajarkan bagaimana cara memeluk yang benar?" sambung Ahn Yoo.
"Ehhh? A-Aku tidak perlu mempelajarinya," jawabku gugup canggung.
"Kau perlu mempelajarinya. Aku tidak ingin mati tercekik saat kau peluk nanti," timpal Ahn Yoo lalu memeluk tubuhku dengan lembut. Dia mendekap erat tubuhku lalu menatap mataku dengan tatapan hangat sambil mengatakan ,"Maafkan aku karena membuatmu lama menunggu. Aku hanya ingin menghukummu saja karena berdua-duaan berdua dengan Si brengsek yang sok keren itu."
"Aku tidak berdua-duaan dengannya. Ji Seon direktur yang baik, dia tidak brengsek sama sekali," jawabku dengan jujur.
"Apa kau sedang membela Si brengsek itu?" Ahn Yoo mulai cemburu lagi. Aku lupa kalau dia sangat sensitif kalau aku sedang memuji orang lain di depannya. Kesimpulannya, setiap saat aku harus memujanya dan tidak boleh menceritakan orang lain, terutama laki-laki.
"Tidak, aku tidak berani." Aku menggelengkan kepalaku.
Dia sangat lama memelukku dan tidak melepaskannya sejenak pun. Aku ingin sekali membalas pelukannya ini, tapi takut dia mengataiku amatiran. Perasaan tadi aku memeluknya dengan pelan. Apa ini hanya alasan agar dia bisa memelukku lagi?
"Ahn Yoo, sudah sepuluh menit kita berdiri. Apa kamu tidak merasa lelah?" tanyaku dengan lancang.
Dia melepaskan dekapannya lalu duduk di sofa yang berada d tepat di belakangku. Lalu menarik tanganku dan memeluk pinggangku yang kecil kemudian. Aku dan dia tepat berhadapan mata. Aku yang masih setengah berdiri ini tidak bisa mengedipkan mata. Sangat gugup, hingga aku hanya bisa menelan ludah. Aku dan dia terlalu dekat, apalagi dengan posisi ini. Aku seperti wanita yang sedang menggoda seorang laki-laki.
"Apa kau ini memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" Ahn Yoo membalik kalimatnya sehingga aku semakin bingung. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dia katakan. Aku benar-benar tidak tahu.
"Bi-Bisa lep ... lepaskan tanganmu. Ki-Kita terlalu dekat," kataku terbata-bata.
"Aku rasa ini masih terlalu jauh," sambung Ahn Yoo dengan mata yang penuh dengan nafsu.
Kami hanya berdua di sini. Kalau dia melakukan hal yang sewajarnya tidak boleh dilakukan, maka orang lain juga tidak akan perduli. Karena di sekitar sini juga banyak orang kaya yang membawa wanita yang berbeda tiap malam. Tapi apakah Ahn Yoo akan melakukan itu padaku? Bukankah dia terlalu merendahkan aku kalau sempat melakukan hal yang tidak sepantasnya padaku?
"A-Ahn Yoo, kamu terlalu dekat. A-Aku takut ...." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Ahn Yoo langsung menjetik kepalaku dengan keras lalu menyuruhku duduk di sampingnya.
"Aah! Sakit! Apa tidak bisa pelan?" senggakku sambil mengusap kepalaku yang baru saja di jetiknya dengan keras.
"Kau ingin katakan apa tadi? Apa kau kira aku ingin melakukan adegan buas di sini?" tanya Ahn Yoo menuduhku berpikiran kotor.
"Ti-Tidak, aku tidak berpikir hal semacam itu," jawabku mengelak. Padahal memang benar tadi aku mengira dia akan menghabisiku malam ini. Sampai kaki dan tanganku menjadi dingin karena khawatir hal itu akan terjadi. Tapi untunglah Ahn Yoo tidak berbuat hal sebejat itu.
"Aku masih belum puas menonton kau sedang bertengkar tadi," timpal Ahn Yoo lalu mengambil ponsel yang ada di saku celana yang dikenakannya.
Dia memutar ulang rekaman video yang isinya adalah aku tengah mengancam dua penggosip yang tadi. Dia tertawa saat melihatku di sana. Dia juga menunjukkan dan mengajakku menonton bersama. Padahal aku sudah hampir setengah mati karena malu. Tapi dia dengan entengnya menampakan vidio menjijikkan itu padaku
"Kyaaa! Berikan ponsel itu padaku. Aku akan menghapus rekaman itu! Kemari!!!" Aku menarik tangannya lalu menggapai ponsel yang sedang dipegangnya. Dia menaikkan tangannya hingga aku tidak bisa merebut ponsel yang dipegangnya. Dia malah mempermainkan aku dan membuatku lelah merebut ponsel yang ada di tangannya. Dia malah tertsenyum lebar ketika melihatku terlihat bodoh.
"Berikan padaku!" ujarku dengan tegas.
Kemudian, Ahn Yoo memberikan ponsel itu padaku lalu mengecup keningku.
"Apa kau ini sangat patah hati sampai dua wanita itu jadi pelampiasan?" tanya Ahn Yoo.
"Aku tidak sakit hati sama sekali," jawabku sambil mencari vidio rekaman itu dengan fokus.
"Bagus kalau begitu," sambung Ahn Yoo.
Namun sama sekali vidio itu tidak terlihat. Aku sudah susah payah mencari di galeri dan kumpulan vidionya. Tapi sama sekali aku tidak melihat rekaman itu.
"Dimana vidionya?!" tanyaku dengan nada yang tinggi.
"Aku sudah menyalinnya dan kemudian mengapusnya dari ponsel ini," jawab Ahn Yoo yang seperti sedang meledekku.
"Apa kamu ini sangat senang menggangguku, ha? Aku tidak suka!" tambahku mengungkapkan kekesalan ini.
"Aku tidak peduli," jawabnya tidak acuh.
Aku berdiri dan berjalan pergi meninggalkannya. Sekalian aku menginjak kakinya dengan hentakan yang keras. Hingga dia menjerit kesakitan.
"Rasakan itu," ejekku setelah jauh dari Ahn Yoo.
Ahn Yoo menarik bajuku seperti se-ekor kucing lalu mencengkram daguku dengan pelan. Dia menjetik lagi dahiku, meskipun kali ini dia melakukannya dengan pelan, tapi aku sangat kesal melihatnya. Sukanya hanya bisa menjetik, menjetik, dan menjetik kepalaku.
"Aaaah! Sudah! Aku minta ampun. Lain kali tidak akan menginjak kakimu lagi," ujarku sambil menarik tangannya dari daguku.
"Minta ampun dengan benar!" perintah Ahn Yoo dengan tegas.
"Apa kamu benar-benar marah atau hanya pura-pura?" tanyaku berniat untuk bercanda.
"Aku selalu serius," tambahnya dengan nada datar.
"Baiklah. Aku berjanji tidak akan menginjak kaki Si gunung es ini. Tapi hanya untuk beberapa saat," ucapku sambil mengacungkan jari peace padanya.
"Apa kau sudah bosan hidup hingga berani mengusik ku?" Ahn Yoo tiba-tiba berubah menjadi kaku dan kembali menjadi orang yang dingin. Dia sampai membuatku takut dengan tatapan sinis seolah ingin membunuhku. Perlahan aku mundur dan menjauh dari Ahn Yoo. Namun dia terus melangkah satu lebih dekat ke arahku. Hingga aku tersudut dan terpojok di dinding. Rasanya ingin bersembunyi dan tidak perlu melihat Ahn Yoo yang mengerikan ini.
Aku berlari dari sebelah kanan, dengan cepat tangan Ahn Yoo menghadang dan menutup jalanku. Lalu aku berlari ke sebelah kiri dia juga menutup dan menghadang jalanku. Akhirnya aku terkunci dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku ... hanya bercanda. Ka-kamu jangan terlalu serius," ucapku ketakutan.
"Apa menurutmu aku pernah suka bercanda?" Ahn Yoo menghentakkan tangannya hingga aku terkejut. Aku merasa terancam seperti kelinci yang akan dijadikan bahan percobaan, dan dia adalah profesor yang akan melakukannya padaku.
Dreeet-Dreeet!
Ponselku berbunyi. Aku memiliki kesempatan untuk lari dari cekaman mengerikan ini. Aku akan menjadikan Ji Seon sebagai kambing hitam agar bisa lolos dari harimau yang sedang menerkam ini.
"Po-Ponselku berdering," jawabku sambil menunjuk tas yang kuletakkan di atas sofa.
"Apa aku terlihat peduli?" sambung Ahn Yoo apatis.
"Itu Ji Seon yang menelpon, mungkin ada yang ingin dia katakan," sambungku menjelaskan dengan niat membuatnya marah.
"Kau! Kau sengaja mengatakan itu, kan?" senggak Ahn Yoo.
Diluar dugaan, ternyata Ahn Yoo tidak bisa ditipu dengan kalimat seperti itu. Dia tahu kalau aku sedang berbohong. Aku putus asa untuk memikirkan bagaimana cara lepas dari cekaman ini.
"Saat malam, bintang di sana sangat indah ditatap. Apa kamu tidak ingin melihatnya?" tanyaku mengalihkan topik.
"Bintang itu ada di sini," balas Ahn Yoo sambil menatapku dengan tatapan tulus dan penuh kelembutan.
"Apa di sini ada bintang? Maksudku di luar sana, bukan di sini." Kali ini aku melakukan kesalahan yang cukup memalukan. Aku terlalu takut sampai otakku tidak bisa berjalan dengan normal. Aku malah mengira Ahn Yoo sedang bercanda. Ternyata dia sedang mengungkapkan hal romantis yang tidak ku sadari sama sekali. Dan lancangnya, aku memberanikan diri untuk membawanya ke depan jendela kaca yang besar di ruangan ini. Aku membuka tirai itu dan menunjukkan bintang yang berkilauan padanya.
"Cantik, kan?" tanyaku dengan senyum lebar saat menunjukkan bintang yang bertebaran di langit pada Ahn Yoo.