
Pagi yang cerah ini, Ji Seon meniup mataku agar terbangun dari tidur lelap yang panjang. Dia menatapku dengan lama lalu dengan usil menutup hidungku. Dia melakukan agar aku terbangun. Tapi jika dipikir kembali, dia ingin membunuh ku secara perlahan.
"Kamu mau aku cepat mati?!" senggakku sambil memukul tangan Ji Seon yang tega menutup hidungku.
"Hahaha ... kenapa kamu lama sekali bangun? Bahkan ayam kagum melihat pesonamu," ledek Ji Seon.
"Argh! Aku mencuci muka dulu, kamu menyebalkan," decak kesal ku lalu beranjak pergi dengan hentakan kaki yang kuat.
Beberapa saat setelah aku keluar dari kamar mandi, aku sudah disambut dengan makanan lezat di atas meja. Ji Seon yang sudah mandi lebih dulu itu, duduk di sana sambil menopang dagunya. Dia tampak sudah lama menungguku.
"Yahhh ... kamu, wah, ini ... aku merindukan makanan ini. Dulu kita sering makan berdua, bukan?" teriakku sambil berlari tidak sabaran untuk menyantap makanan itu.
"Iya, kali ini aku tidak akan mau berbagi denganmu. Makan bagianmu dan jangan meninta bagianku," umpat Ji Seon sambil mengambil makanan yangs sering kami makan dulu.
"Tenang saja, lagi pula aku jamin kamu tidak akan bisa menghabiskan semua sendiri," jawabku tebal muka.
"Rakus sekali kamu. Lihatlah badanmu gendut sekali," ejek Ji Seon.
"Hey, jangan mengumpati postur tubuh orang. Mentang-mentang badanmu proposional kamu menghinaku, enak saja," sela ku menasehati Ji Seon.
"Iya, iya. Banyak makan biar mukamu tambah bulat," ucap Ji Seon.
Pagi itu kami habiskan dengan perdebatan tak berujung dan tak bermula. Sampai akhirnya waktu untuk berangkat meeting tiba.
Jantungku seketika berdegup kencang karena gugup. Semua sangat tegang, bahkan wajah mereka kaku. Semua yang duduk di sini sepertinya sangat lihai memainkan lidah, aku harus berhati-hati dalam melangkah. Jika tidak, Ji Seon akan malu karena memilih asisten yang tidak becus.
"Baiklah, kesepakatan sudah dibuat. Senang bertemu dengan Anda, Tuan Park," tutur salah satu pebisnis yang setuju dengan kerja sama ini.
Untung saja semua berlalu dengan baik, aku tidak melakukan kesalahan apa pun, dan untungnya pemilik perusahaan yang ingin menjalin kerjasama dengan Ji Seon menyukai cara kerjaku. Bahkan dia meminta untuk menempatkan aku di perusahaannya. Namun aku tidak menolak, dan tidak menerimanya, aku mengatakan untuk menjawab keputusan sulit ini beberapa hari lagi.
"Terima kasih, Tuan Fei Dan. Kalau ada waktu lain kali, aku akan menerima ajakanmu untuk makan malam bersama," jawabku sambil menunduk.
Aku juga heran, secara khusus pemilik Fei Group memanggilku dan mengajak secara pribadi untuk makan malam bersama. Bukankah kami terlalu cepat akrab, padahal baru saja bertemu satu kali. Aku tidak mengenal dia dan tidak pernah bertemu dengannya sebelum itu. Tapi dia sudah sangat ramah padaku.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Senang bertemu dengan Anda, Tuan Fei Dan," tuturku lalu pergi dengan langkah teratur dan anggun. Demi nama baik Ji Seon, aku berusaha semaksimal mungkin menjaga tatakrama dan sikap. Walaupun sulit dan tidak terbiasa, aku harus melakukannya.
Aku langsung menemui Ji Seon dan mengatakan kalau semua berjalan lancar. Aku berdecak lega ketika tahu semuanya sudah selesai.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Lagi pula kan semua sudah beres," ajak ku sambil bertepuk tangan.
"Hmmm? Kamu tidak sesak pulang? Nanti Singa betina itu mengamuki aku," terang Ji Seon.
"Apa kamu tidak mau? Kalau begitu aku menerima ajakan Tuan Fei Dan saja," sambungku mengancam.
"Apa? Dia mengajak kamu makan?" reaski Ji Seon berlebihan.
"Iya, kenapa?" tanyaku balik.
"Tidak apa-apa, aku kira dia hanya meminta peralihan tugas saja," jawab Ji Seon. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi tidak tahu tentang apa.
"Hmmm, kalau begitu kita jalan-jalan kemana?" tanyaku.
"Makan," ajak Ji Seon.
Akhirnya kami malah makan dan tidak melakukan hal seru lainnya. Padahal aku sudah menanti untuk bermain sesuatu yang menantang, tapi Ji Seon seperti tidak ingin.
Dengan paksa, aku memintanya untuk mencari tempat yang sedikit lebih tenang. Sesuai dengan kepribadiannya yang sedikit tertutup, dia suka yang sepi. Untuk itu, aku mengajak dia ke tempat yang agak sejuk.
Untung saja hotel tempat kami menginap ada taman yang lumayan sepi. Hanya beberapa orang saja yang berada di sana. Dan yang menggangu adalah kenapa semua yang berada di sini hanya sepasang kekasih saja.
"Aku tidak yakin tempat ini cocok," bisikku ke telinga Ji Seon.
"Hmmm, kamu yang mengajak. Aku sudah menolak beberapa kali," jawab Ji Seon tidak menghiraukan orang. Dia juga menyalahkan aku.
"Yah jangan begitu. Kita sudah terlanjur kemari. Kita duduk di sana saja," tunjukki ke arah bangku yang kosong.
Kami pun duduk di sana. Dengan angin yang menghembus dedaunan kering itu, membuat hati menjadi kelu. Aku teringat dengan Ahn Yoo saat ini. Apakah dia juga memikirkan aku? Apakah dia mengingat aku? Semua pertanyaan itu sedang aku pertanyakan.
Semakin rasanya dekat dengan Ahn Yoo, hatiku semakin sakit saat menatapnya. Kepastian tak pernah terukir di matanya. Aku terkadang ingin menanyakan perihal itu, tapi kesadaran menghentikan langkahku.
Mengingat dia, aku langsung mengambil ponsel dan menayai keberadaannya sekarang. Dan jawabannya lagi-lagi di apartemen. Dia tidur di sana selama aku di Shanghai. Tidak tahu untuk apa dia tinggal di sana. Mungkin saja dia merindukan apartemen miliknya itu.
"Sudah sejauh apa hubunganmu dengan Ahn Yoo?" tanya Ji Seon.
"Ha? Oh, hmmm ... tidak sejauh yang kamu pikirkan. Tapi perasaan kami sangat jauh, lebih jauh dari yang kamu pikirkan," jawabku sambil menatap daun yang gugur.
"Jangan bersilat lidah denganku," terang Ji Seon.
"Ji Seon, terkadang aku ingin bebas tapi tidak bisa. Aku sudah terikat dan tidak tahu kapan akan lepas. Kalau suatu saat aku lepas, kemana aku harus kembali?" tanyaku.
"Terkadang masa lalu bisa dijadikan peralihan. Kamu bisa datang kemanapun yang kamu inginkan. Karena kamu adalah sahabatku, terpaksa aku harus menerima kedatangan mu," tukas Ji Seon.
"Terpaksa?! Wah ... hebat Ji Seon. Tapi apa kita ini hanya sahabat?" tanyaku memancing amarahnya. Aku tidak suka suasana serius seperti saat ini, apalagi dengan Ji Seon. Kami tidak boleh merasa canggung dan tidak sepantasnya merasakan itu.
"Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita," ucap Ji Seon.
Aku bingung sekaligus ingin tertawa dengan kalimatnya ini. Seperti gombalan maut dari pria brengsek, tapi dia malah membalik kalimat itu dengan adanya kata 'tidak'.
"Hey, jangan serius. Asal tahu saja, kamu adalah orang pertama yang membuatku berhenti makan dan sedih sepanjang malam," umpat ku.
Mengingat bagiamana responju saat tahu Ji Seon pindah sekolah, tentu saja bak orang yang sedang patah hati. Namun untung saja aku kuat dan bisa melalui semua itu. Sebenarnya aku takut kejadian. seperti itu terulang lagi, aku tidak ingin orang yang ku sayangi meninggalkan aku. Sudah cukup pamanku saja yang menghianati aku, tidak boleh terulang lagi.
"Kita kembali ke kamar, sudah malam," timpal Ji Seon lalu berdiri dari bangku ini. Padahal masih nyaman dan betah, dia malah mengajakku pergi masuk.
~Kamar hotel~
"Apa kamu tidak ingin berbicara denganku? Kenapa malah langsung tidur?" tanyaku.
"Tidurlah, besok kita akan pulang," jawabannya. Dia menutup matanya lalu menyuruh aku agar tidur dengan lekas.
Sebenarnya aku sedikit heran dengan tingkah Ji Seon yang terkadang seperti menjaga jarak denganku. Ataukah ini karena dia malas menghadapi ku yang cerewet ini, atau karena dia takut Ahn Yoo memarahi, aku tidak yakin. Tapi yang pasti dia sangat aneh akhir-akhir ini.
Tatapan matanya juga berbeda dari sebelum itu. Kini saat bersama denganku dia seperti mengelakkan sesuatu dariku.
Tidak mau banyak pikiran, aku pun menidurkan diri agar bisa bangun sebelum dia membangunkan aku seperti tadi pagi. Aku ingin juga mengusili Ji Seon dan membalas perbuatannya pagi itu. Yang paling utama adalah mencaci maki dirinya karena lebih lama bangun dari pada seekor ayam.
***
Bukannya bangun cepat, aku malah terlamabat bangun akibat terlalu antusias ingin membalaskan dendam pada Ji Seon hingga terpikir dan akhirnya lama tidur. Dia lagi-lagi mengganggu tidurku dan menggumpat setelah itu. Dia mencaciku dan menghina gara-gara tidak jauh beda dengan kerbau.
Aku tidak mendengarkan yang dikatakan olehnya dan lanjut membasuh muka. Setelah itu sarapan pagi seperti biasanya. Dua hari bersama denga Ji Seon seperti sudah beberapa minggu. Semua yang dia lakukan seperti rutinitas dan selalu kuingat. Meskipun kenangan kami tidak terlalu banyak, tapi sangat berarti bagiku.
Beberapa jam kemudian, kami harus meninggalkan Shanghai dan kembali ke tempat dimana aku dan Ji Seon harus kembali. Dengan membelikan beberapa souvenir untuk Ahn Yoo dan Xia Len, aku sudah merasa cukup untuk membeli oleh-oleh.
"Baiklah, baiklah. Tuan Fei Dan memintaku untuk kembali lagi ke Shanghai. Aku tidak tahu apa niatnya," timpal Ji Seon saat kami sudah berada di pesawat.
"Mungkin dia suka bekerja sama denganmu," jawbaku.
"Bukan, dia meminta agar kamu juga ikut," tukas Ji Seon.
Aku juga tidak tahu mengapa Tuan Fei Dan itu begitu tertarik denganku. Dia sangat menanti pertemuan berikutnya, tidak tahu untuk apa. Dia tampak tidak memiliki niat jahat apa pun, jadi aku tak bisa menyangkal.
"Apa kalian sudah pernah bertemu?" tanya Ji Seon padaku.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Lagi pula tidak mungkin dia menyukaiku. Selain dia sudah punya tunangan, dia juga terlalu tampan untukku," terangku merendah.
"Mungkin dia melihat sesuatu yang unik darimu," jawab Ji Seon.
"Hmmm, apa? Menurutmu apa yang unik dariku?" tanyaku penasaran.
"Tidak ada," jawabnya singkat.
Mungkin kalau Ahn Yoo yang kutanyai, dia akan jawab kalau sesuatu yang unik dariku adalah gara-gara 'kebodohanku'. Saat aku pulang nanti, aku akan tanyakan padanya bagimana menurutnya tentang aku.
~Bandara~
"Yeeeehoooi, kita sampai dengan selamat," teriak ku girang.
"Kelihatannya kamu sudah rindu dengan Singa betina itu," ledek Ji Seon.
"Kamu bilang apa? Aku senang karena kita selamat, bukan karena yang lain," jawabku sambil memukul bahunya.
"Kalau kamu masih lelah, bisa pulang langsung. Aku mau mengurus perusahaan," tukas Ji Seon.
"Ha?! Kamu mau kerja? Apa tidak capek sudah dua hari tanpa berhenti terbang ke sana kemari," balasku keheranan.
Mungkin ada urusan penting yang harus di handle Ji Seon. Sampai hari esok tidak bisa digunakannya untuk mengurus perusahaannya.
Sebenarnya aku ingin pulang karena memang sangat kecapean. Tapi tidak mungkin juga aku sebagai asisten tidak mengikuti Ji Seon. Akhirnya aku pun ikut pergi bersamanya.
"Kamu tidak perlu ikut, lagi pula aku hanya sebentar ke sana," jawab Ji Seon seperti menolak kedatangan ku.
"Aki ikut, apa tidak boleh?" tanyaku sambil menunjukkan wajah manis untuk menggodanya.
"Haish ... baiklah," balasnya menyetujui. Meskipun wajahnya agak sedikit tidak senang, yang penting aku bisa mengikutinya. Lagi pula aku penasaran dia ingin mengurus apa di sana.
"Kita tunggu supir menjemput kita, jadi duduk di sini dulu," kata Ji Seon.
"Siap, Tuan direktur!"
Tidak lama kemudian supir pribadi Ji Seon datang menjemput. Dia membawa koper milikku meski sudah kukatakan tidak perlu, tapi tetap saja dia membawakannya. Memang rasanya menjadi orang kaya sangat enak, sampai barang saja dibawakan.
Saat berada di dalam mobil, Ahn Yoo meneleponku. Mungkinkah dia tahu aku sudah kembali, jadi dia menyuruh agar aku segera kembali pulang. Namun aku tidak mengangkatnya. Aku tahu dia selalu mengetahui posisi dimana aku berada, jadi sebaiknya tidak perlu mengangkat teleponnya.
~ Nexcon Group~
Ternyata memang benar, Ji Seon hanya mengurus masalah kecil saja, dan aku tidak dibutuhkan di sini. Aku hanya duduk diam di ruangan ku. Sebenarnya agak menyesal karena sudah memilih untuk mengikutinya. Seandainya saja aku memilih untuk pulang, mungkin sekarang ini aku sudah bisa tidur sampai besok.
Merasa tidak ada yang bisa kulakukan, dan sedikit bosan. Aku berniat menelpon Ahn Yoo. Sekalian ingin menanyakan untuk apa dia menelponku tadi. Dan yang membingungkan aku adalah ketika dia hanya menelpon hanya satu kali saja. Biasanya kalau tidak diangkat, dia akan menelpon secara berulang. Namun ini sangat aneh, ataukah hanya salah pencet. Jadi aku memanggilnya melalui ponsel ini.
"Halo," sapaku dengan suara tenang setelah dia mengangkat panggilanku.
"Siapa ini?" Suara yang menyahut adalah wanita, dan yang membingungkan adalah dia tidak tahu siapa aku. Bukannya Ahn Yoo sudah menulis namaku di sana. Kenapa dia tidak tahu? Lalu kenapa bisa ponsel Ahn Yoo berada di tangannya? Bukannya dia tidak suka kalau barangnya disentuh oleh orang lain.
"Dimana Ahn Yoo?" tanyaku dengan mata memerah.
"Kami sedang di apartemen saat ini, ada apa? Hmmm, maksudnya perjalanan pulang ke apartemen," jawabnya dengan suara pelan.
Awalnya aku tidak percaya dengan yang dia katakan, tapi setelah dipastikan, suara wanita ini seperti Xia Len.
"Maaf mengganggu," ucapku lalu mematikan panggilannya. Aku merenung sejenak memikirkan kebenaran yang dikatakan Xia Len.
Kalau dia berbohong, tidak mungkin ponsel Ahn Yoo berada di tangannya. Lagi pula dia tidak akan seberani itu untuk mendekati Ahn Yoo kalau bukan dipersilahkan. Dilihat dari kebiasaannya, Ahn Yoo tidak terlalu suka didekati Xia Len. Tentu saja tidak ada kemungkinan mereka bisa bersama. Tapi kenapa Xia Len mengatakan kalau mereka sedang berada di perjalanan pulang.
Atau Ahn Yoo hanya berpura-pura menjauhi Xia Len di depanku. Tapi sebenarnya di balik itu, dia malah sering bersama dengan Xia Len.
Aku takut kalau memang benar mereka sedang dekat, aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau itu adalah fakta. Aku sudah terlanjur cinta padanya, kalau harus kecewa, lebih baik sekarang saja, daripada harus nanti setelah perasaan padanya semakin dalam.
Aku tahu Xia Len lebih pantas dengan Ahn Yoo dari pada aku. Tapi biarkan aku jadi egois sekali ini. Aku ingin memiliki, meski tak akan pernah mendapatkan. Aku harus memastikan perasaan Ahn Yoo padaku. Kalau memang benar dia hanya mempermainkan ku saja, aku lebih baik berhenti di sini. Aku tidak akan lanjut untuk bermain lebih jauh lagi. Aku memiliki hati, tentu saja bukan untuk dimainkan.
Lagi pula sudah cukup untuk membayar utang ku padanya. Selama tujuh bulan ini aku bersedia dijadikannya sebagai hiburan baginya. Aku terikat tanpa sebuah hubungan. Aku tenggelam dalam perasaan tanpa kepastian. Ingin memiliiki tapi takut menanyai. Karena perbedaan, aku gagal jatuh hati.