
Dunia memang benar-benar bercanda kali ini. Tidak direncanakan, aku bisa bertemu Ahn Yoo di sini. Atau ini merupakan kesengajaan saja.
"Tuan, aku mohon maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya," ujarku takut sambil membungkuk.
"Bagaimana, yah? Aku sudah terlanjur melaporkan kesalahanmu ini," katanya mempermainkan ku.
"Aku berharap Anda membatalkan gugatan itu," jawabku lirih.
"Baiklah aku membatalkan gugatannya."
Aku sangat senang mendengarnya, aku kira dia masih marah denganku. Aku beranggapan dia sudah melupkan kejadian tadi malam.
"Benarkah? Terima kasih tuan." Aku tersenyum menatap Ahn Yoo.
"Tapi aku minta kau dipecat," sambungnya dengan singkat.
Kepala pelayan langsung menyetujui persyaratan itu.
"Tuan Ji, kalau memang hanya itu jalan satu-satunya. Kami akan memecatnya dari sini. Terima kasih tuan karena sudah mempertimbangkannya." Kepala pelayan membungkuk dan berterima kasih berkali-kali.
Aku tidak mengerti kenapa Ahn Yoo sekejam ini padaku. Apakah dia belum puas habis-habisan memakiku tadi malam?
Dengan berat hati, aku angkat kaki dari sini.
Aku meminta gajiku dan berpamitan kepada semua pelayan. Memang yang kuat adalah penguasa. Sedangkan yang lemah adalah mangsa.
Karena belum rela, aku bertanya kepada Shin Tea.
"Shin Tea, aku tahu kamu yang menaruh lada di dalam sup itu. Tapi kenapa kamu melakukannya? Bukannya aku sudah memberitahu kamu sebelumnya?"
Dia terdiam, tidak bisa menjawabku.
"Kalau begitu aku pamit Shi Tea," sambungku.
"Jane, sebenarnya Tuan Ji yang menyuruhku," sahut Shin Tea.
"Benarkah?" Aku sudah yakin dari awal.
"Maaf Jane, aku harus melakukannya. Aku tidak bisa menolak permintaan Tuan Ji. Aku menyukainya," jelasnya padaku.
Aku tidak mengerti dengan Ahn Yoo, untuk apa dia melakukan ini? Aku tidak bisa menyalahkan Shin Tea, dia juga tidak mungkin mau kalau tidak karena Ahn Yoo yang menyuruhnya.
Aku berjalan keluar dan menuju bus halte.
Aku tidak ingin pulang, aku masih ingin menenangkan diri di sini. Setelah lama termenung, aku jadi semakin betah berlama-lama. Aku berniat untuk tidak pulang.
Tapi jika dipikirkan lagi, termenung di sini tidak ada gunanya. Lebih baik aku mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa mendapatkan lebih banyak uang lagi. Untungnya saja disekitar sini ada membuka lowongan. Aku langsung mengajukan diri untuk menjadi pelayan di sini.
Akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk bekerja di sebuah karaoke dekat halte bus.
Tugasnya hanya mengantarkan minuman kepada pelanggan. Gajinya juga lumayan, hanya bekerja samapai jam 12.00 am.
Aku dengan giat mengantarkan pesanan pelanggan. Meskipun susasana hatiku saat ini tidak baik. Aku harus tampak ceria, supaya kesalahan sebelumnya tidak terjadi lagi.
Saat sedang beristirahat, pemilik karaoke ini memanggilku.
"Jane, Kamu antarkan ini ke ruangan sana."
Dia menunjuk salah satu ruangan.
"Owh, iya bos."
Ketika aku membuka pintu ruangan ini.
Aku mencium aroma minuman keras sangat kuat. Ternyata di ruangan ini berisi satu laki-laki dan tiga perempuan cantik.
"Permisi, ini pesanannya."
"Terima kasih nona." Laki-laki itu memandangku dengan tatapan menjijikkan, matanya penuh dengan nafsu.
Aku tidak menghiraukannya dan langsungsung berjalan keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba dia menarik tanganku dan menghempaskanku ke bangku yang dia duduki sebelumnya.
"Apa yang kamu lakukan! Dasar buaya, menyingkir dari hadapanku!!"
Aku memaki-maki orang gila ini.
"Apa kamu belum cukup dengan tiga wanita ini? Buaya darat!!"
Dia mendekapku dan mengatakan hal yang menjijikkan.
"Belum, aku belum puas dengan mereka. Aku akan puas jika sudah mencicipi pelayan lugu seperti kamu."
"Apa? Hahahhhah ... Kamu tidak tahu aku siapa?"
Aku hanya diam melihat tingkah laki-laki bejat ini.
"Aku adalah direktur Perusahaan Yongdam"
Dengan lagak sombong laki-laki itu menceritakan seluk beluk kehidupannya.
"Yongdam? Aku tidak pernah mendengarnya." Aku mencari-cari celah agar bisa kabur.
"Pelayan kurang ajar! Sombong sekali kamu. Bahkan aku bisa membelimu dengan harga tinggi sekali pun."
Aku harus berpikir jernih agar bisa lepas dari laki-laki ini.
"Jika kamu berani menyentuhku, aku jamin kamu akan menyesal."
"Hahahhahah, aku takut. Aku semakin menyukai kepolosanmu".
Dia membelai wajahku.
"Laki-laki brengsek!! Aku akan mengadukanmu kepada Ahn Yoo! Kamu tidak akan dimaafkannya apabila berani menyentuhku!"
"Aku tidak akan takut. Beraninya kamu menyebut nama Tuan Ji, tidak tahu malu." Laki-laki brengsek ini memaksa untuk membuka bajuku, tapi aku tidak mebiarkannya
"Jangan menyentuh ku!!" teriakku keras.
"Berteriak sampai pita suaramu pecah pun tidak akan ada gunanya. Ruangan ini kedap suara."
"Ahhh! Lepaskan aku! Siapapun tolong aku!!Ahn Yoo." Aku berharap dia datang menyelamatkanku.
Aku berteriak dengan keras hingga tenggorokanku terasa kering. Namun tidak ada yang datang.
"Hahahha ... sudah kukatakan tidak ada yang akan mendengarnya."
Aku tahu laki-laki ini masih terpengaruh minuman keras, otaknya tidak bisa berfungsi normal. Jadi aku meminta wanita-wanita itu untuk menolongku. Tapi mereka tidak mendengarkanku. Bahkan, mereka menatap iri diriku dan menanggap aku ini orang yang merebut suami dari isttinya.
Dengan tenaga yang kuat aku mendorong laki-laki ini menjauh dari hadapanku.
Aku mencoba berlari namun gagal karena dengan cepat laki-laki mabuk ini menangkapku.
"Malam ini kamu adalah milikku." Laki-laki menjijikkan ini merobek bajuku dengan paksa.
"Ahn Yoo tolong aku!!" Aku berteriak dengan keras.
Dbuarrr!
Suara pintu ruangan itu terbuka, aku melihat Ahn Yoo.
"Ahn yoo??" Aku menatap dirinya dengan mata sayu.
Dengan gemetar laki-laki ini melepaskan tangannya dari tubuhku saat melihat Ahn Yoo datang.
"Tuan Ji? Apa yang membawamu datang kemari?" sapa pria brengsek ini berpura-pura baik.
Ahn yoo tidak memperdulikannya sama sekali. Dia menghampiriku dan memberi jas yang dikenakannya untuk menutupi badanku.
"Ahn ... Ahn Yoo." Aku menangis setelah melihatnya.
"Tenaglah ... sekarang kau sudah aman."
Dia memelukku dengan lembut.
Aku merasakan detak jantungnya, sangat hangat. Dengan adanya dia berada di sini, membuatku merasa aman.
"Ahn Yoo, kenapa kamu datang lambat sekali." Aku menangis dengan sedu. Seirama dengan tangisku, Ahn Yoo semakin erat memelukku.
"Apa kamu tahu? Aku hampir saja ...." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya.
"Hussst, jangan khawatir. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Dia mencoba menenangkan ku. Aku tidak sadar, kalau ternyata dia sudah sering menyelamatkanku. Bahkan setelah aku membantahnya semalam, dia tetap sudi membantuku.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**