SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 11



Ketika sedang asyik berbincang-bincang, salah seorang pelayan memanggilku.


"Jane Soo! Tolong antar ini ke meja sudut sana."


"Ah iya ... aku segera ke sana," sahut ku.


"Kang Joon, aku mau mengantarkan pesanan pelanggan. Jadi, aku permisi yah dan soal yang tadi aku minta maaf," lanjutku menghadap Kang Joon.


"Tunggu Jane!!" Kang Joon memanggilku.


karena aku dan Kang Joon jaraknya sudah jauh, aku hanya melambaikan tangan saja ke arahnya dan terus berlari.


***


Setelah selesai bekerja, akhirnya aku bergegas pulang. Memang restoran tempat aku bekerja merupakan resto bintang tiga.


Jadi gaji pelayannya lumayan, tapi aku rasa kalau hanya mengandalkan pekerjaan ini saja. Aku tidak akan bisa menghasilkan banyak uang.


"Wah ... sudah jam 07.30 pm, aku takut Ahn Yoo sampai lebih dulu ke rumah," ujarku sambil berjalan cepat keluar resto.


Saat di luar aku melihat kerumunan wanita, dan Kang Joon berada diantara mereka.


"Ternyata susah juga menjadi orang tampan," gumamku sambil menggeleng-geleng kepala melihat mereka.


Aku tidak menghiraukan kerumunan wanita itu dan terus berjalan ke halte bus yang tidak jauh dari resto.


Ketika sedang fokus melihat bus lewat, aku mendengar suara klakson mobil.


Tit- Tit- Tit!


Ternyata itu Kang Joon, dia turun dari mobilnya.


"Kang Joon? Bukannya kamu tadi masih direbuti wanita-wanita cantik?" tanyaku dengan tampang bingung.


"Emhhh, iya. Tapi aku melihatmu berjalan ke sini, jadi aku menghampirimu," balasnya.


"Hahahhaha ... mulutmu sangat manis."


"Aku anggap itu pujian. Kamu mau pulang?"


"Iyaaa ... aku sedang menunggu bus," jawabku.


"Kamu pulang ke arah sana, kan?" Tunjuknya ke arah jalan.


"Iya," jawabku singkat.


"Kebetulan, aku juga ada urusan di sana. Bagaimana kalau kamu ikut denganku?" Dia mengajakku.


"Ahmmm, tidak perlu repot-repot. Aku naik bus saja," balasku sambil mengayun-ayunkan tanganku.


"Aku tidak keberatan, lagi pula kita searah. Anggap saja ini hadiah pertemanan kita."


Dia tetap bersikeras mengajakku, meskipun aku sudah menolak beberapa kali.


Akhirnya aku menurut saja, hitung-hitung mengirit waktu. Aku juga khawatir terlambat kalau harus menunggu bus datang, takutnya Ahn Yoo sudah sampai di rumah.


~Dalam mobil~


Suasana dalam mobil begitu canggung, aku masih belum akrab dengan Kang Joon.


Aku ingin memecahkan keheningan kami, tapi takutnya Kang Joon tidak suka diganggu saat menyetir.


Mataku dan matanya terkadang saling bertemu dari spion glass.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanyanya sambil tersenyum.


"Ah? Uhmmm, aku hanya merasa canggung saja," sahutku.


"Kenapa kamu sangat jujur sekali?"


"Benarkah? Lagi pula untuk apa aku harus berbohong," jawabku.


"Aku pikir kamu menatapku karena terpanah," katanya bercanda.


"Terpanah apa? Maksudmu aku terpesona denganmu?"


"Tentu saja," sahutnya sombong.


"Aku rasa kamu orang yang sombong." Aku mencoba mempermainkannya.


"Apa? Aku tidak sombong sama sekali. Aku orang yang sangat ramah kepada semua orang," sambungnya ceria.


"kamu memuji diri sendiri lagi," balasku datar.


"Tapi aku penasaran sekali, benar kamu tidak terpesona denganku?" tanya Kang Joon serius.


"Aku sedikit kecewa," sambungnya dengan wajah lesu.


"Maaf aku hanya bercanda," balasku meminta maaf kepadanya.


"Hahahhaahah, kamu suka sekali meminta maaf." Dia tertawa dengan riang.


Suasana hening itu semakin lama semakin terpecahkan. Aku dan Kang Joon sekarang semakin akrab saja. Ternyata berteman dengannya tidak sekaku yang kubayangkan.


"Kang Joon, aku turun di sini saja." Aku menunjuk sebuah simpang.


"Di sini?" Dia meminggirkan mobilnya.


"Iya, terima kasih sudah repot mengantarku," kataku sambil turun dari mobil.


"Kamu hati-hati yah di jalan Kang Joon," sambungku sambil melambaikan tanganku.


Aku berjalan dengan langkah cepat ke rumah Ahn Yoo. Aku takut kalau dia sudah sampai di sana.


****


Sesampainya di rumah, aku tidak melihatnya.


"Untung aja dia belum pulang," gumamku saat berjalan naik tangga.


"Apa kau tidak tahu jalan pulang?" Suara Ahn Yoo terdengar dari bawah. Aku langsung berbalik dan melihat Si gunung es sudah berdiri di sana.


"Ahn Yoo? Kamu baru pulang?" tanyaku berniat mengalihkan perhatian.


Sepertinya suasana hatinya sedang buruk, aku harus pandai memilih kata saat berbicara dengan Ahn Yoo.


"Kamu sudah makan tidak?" tanyaku lagi


Tidak ada jawaban darinya, dia hanya diam menatapku dengan tajam


"Dasar Gunung es, apa kamu tidak bisa bicara? kamu itu bisu? Sampai tidak bisa menjawabku?" kataku dalam hati.


Aku sudah bosan membujuknya agar mau bicara, tapi dia tetap tidak mau bicara.


Aku memutuskan untuk masuk ke kamar dan bergegas untuk mandi.


"Kenapa lagi dengan Ahn Yoo, sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus," kataku sambil berkaca.


Tiba-tiba Ahn Yoo masuk ke dalam kamarku. Untuk apa dia datangi kamar seorang wanita? Meskipun ini adalah rumahnya, tapi bukan berarti dia bisa masuk seenak jidatnya.


"Siapa yang mengantarmu pulang?" tanya Ahn Yoo dengan wajah datarnya.


"Emmm, aku tadi naik bus," jawabku membohonginya.


Saat mendengar jawabanku itu, wajahnya yang kaku itu berubah menjadi amarah. Dengan tatapan mata yang tajam, dia seperti sedang memintaku untuk berbicara.


"Apa? Kenapa kamu menatapku begitu? Ahn Yoo, kamu jangan menatapku seperti itu. Aku jadi takut."


"Aku paling benci dibohongi," Kata Ahn Yoo sambil mendekat ke arahku.


"Apa maksudmu?" balasku bertanya.


"Aku rasa kau semakin berani denganku. Apa kau senang mempermainkanku?" Dia mendekat.


"Maaf, aku hanya takut kamu marah. Jadi aku membohongimu," jawabku merendah.


Dia menarikku dan mendorongku ke dinding. Aku sampai tersudut karena dia, aku tidak bisa bergerak sama sekali karena tangannya mencengkramku.


"Apa yang kamu lakukan, dasar gunung es!" bentakku dan mencoba melepaskan tanganku.


"Gu-nung-es? Kau itu hanya alat yang kupungut untuk balas dendam. Apa kau mengerti?" pungkasnya penuh amarah.


Namun meski aku membohonginya, dia tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan. Dia terlalu memandang rendahku.


"Apa kamu bilang? Aku ini alat?" tanyaku lagi memperjelas pernyataannya tadi.


Kenapa dia mengatakan hal menyakitkan seperti ini. Ternyata selama ini dia hanya menganggapku alat saja.


"Pergi! Pergi sana! Jangan menyentuhku!" Aku meronta dan meneriakinya dengan keras. Namun dia tidak mau melepaskanku, bahkan dia semakin kuat memegangku.


**Bersambung ...


UNTUK READERS TERHORMAT,


AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻


Terimakasih🍃😉**