SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 39



♡~Cinta adalah sebuah bukti bentuk tak nyata tapi bermakna. Meski tidak membekas luka, tapi mengukir duka~♡


Fajar menyingsing ke permukaan dunia yang sebelum kelabu menjadi biru. Di balik tirai putih membayang terlihat sinar yang bersitutu membangunkanku.


Tok-Tok-Tok!


"Sabar, aku masih sempoyongan," sahutku dari dalam menyahut ketukan yang mengganggu waktuku menikmati hangatnya warna langit yang menembus kaca bening dilapis tirai putih.


Ketika ku buka pintu ini, tidak ada siapa pun yang berada di sini. Hanya sebuah paket kiriman yang ditujukan untukku.


Aku memgira pengirim paket ini adalah orang yang membenciku karena Ahn Yoo. Dan dia mengisi paket ini dengan bom waktu agar aku bisa mati berdiri di sini.


Pelan-pelan ku perhatikan setiap sisi kotak yang ukurannya kira-kira hanya 30 sentimeter panjang lebar.


Aku menggoyang-goyangkan kubus ini dan mencoba menebak isi benda yang ada di dalamnya.


"Tidak ada yang mencurigakan sejauh ini," gumamku dengan raut ambigu.


Aku membuka kotak paket ini dengan cepat dan menemukan sebuah gantungan kunci yang sangat manis. Ini hero ku dalam dunia game yang ku mainkan.


"Wah ... astaga, ini bukannya hero ku, kenapa bisa ada yang mengirim?" ucapku yang senang tidak karuan setelah melihat gantungan kunci dari paket.


Tidak ada nama pengirimnya dan tidak tahu kenapa dia mengirimnya. Ahn Yoo tidak mungkin, dia tidak tahu kalau aku bermain game. Dan tidak mungkin pula dia semanis ini membelikan aku gantungan kunci.


Hanya secarik kertas yang berisikan tulisan yang mengatakan kalau dia berterima kasih sudah mau menjadi partner bermain game.


"Norak, ini saja pakai tanda terima kasih segala," gumamku mengejek orang yang mengirim paket tanpa diketahui siapa.


Aku baru teringat akan Zyen, hanya dia yang tahu kalau aku suka game dan hanya dia partnerku dalam game. Tapi anehnya kenapa dia tahu alamatku, padahal aku baru saja mengenalnya.


"Apa dia seorang stalker?"


Tidak usah dipikirkan lagi, bisa-bisa seharian aku akan teringat tentang Zyen seorang stalker.


Aku mengganti pakaian dan lari pagi di sekitar apartemenku. Jalan yang ditumbuhi pohon-pohon rindang hijau menghanyutkan pikiran yang sedang penuh resah.


"Ini baru namanya kebebasan," dasisku leluasa bergumam sambil berlari kecil menikmati hijaunya daun.


Saat tengah sibuk mengamati semua pohon besar yang mengelilingi susunan apartemen ini, aku melihat aktor favoritku berlari juga di jalan yang sama denganku.


Dengan histeris aku mendekat dan teriak-teriak tanpa suara mengarahnya. Aku sangat senang dan tidak mengira akan bertemu dengan dia, Nam Hye Souk.


"Ya Tuhan ... ini Hye Souk asli? Kenapa aku bisa seberuntung ini? Ahahahhah ... sudah lama aku mengagumimu," decakku sambil sembunyi-sembunyi meliriknya.


Nam Hye Souk adalah aktor yang kusukai sejak SMA, dia sangat lihai dalam dunia peran. Dia sangat tampan dan bertubuh bagus, tidak jauh beda dengan Ahn Yoo. Meski Ahn Yoo memang lebih tampan dari Nam Hye Souk, tapi dia lebih dulu mengisi hatiku.


Mungkin Nam Hye Souk sadar aku mengikuyinya dari tadi. Dia melirikku dan berbalik ke belakang menoleh.


"Whoaaa! Dia sangat tampan mengenakan baju itu. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya sangat sempurna, aku akan mati kalau melihatnya terus menerus. Tenang Jane Soo, tenang," gumamku dalam hati dengan perasaan yang berkecamuk senang dan panik.


"Apa kau sedang mengikutiku?" tanya Nam Hye Seok dengan senyum ramah.


"Ha? Tidak, aku hanya ingin ... memberitahumu kalau ... ehhh ... bajumu terbalik," elakku dengan bualan yang konyol.


Ini namanya mempermalukan diri sendiri di depan laku-laki idaman dari dulu. Aku tidak mau dia tahu kalau aku sedang mengikutinya berjalan. Bisa-bisa harga diriku turun seratus delapan puluh derajat.


"Benarkah?" tanya Nam Hye Souk sambil melihat baju yang dikenakannya.


Saat dia sedang fokus memperhatikan bajunya, aku berlari meninggalkannya dengan cepat. Aku tidak bisa mengontrol diri kalau sudah di dekat pria tampan, aku suka salah tingkah. Lebih baik aku menjauh saja dari pada dikatakan sedang mencari perhatian.


"Hey!! Bajuku tidak terbalik!!" teriak Nam Hye Souk.


Aku berlari terbirit-birit meninggalkan Nam Hye Souk dengan wajah yang merah malu. Aku kembali ke apartemen dan merendam diriku di dengan air hangat.


"Aku sangat jelek tadi saat berhadapan dengan Nam Hye Souk. Kalau aku tahu dia tinggal di sini, sehari saja aku tidak akan berani keluar dengan tampang gembel," celotehku sambil menyabuni badanku dengan soup cair yang tersedia di dalam kamar mandi ini.


***


Sudah sore tapi Ahn Yoo belum juga datang menemuiku, katanya dia akan datang singgah ke tempatku.


Sangat membosankan sendiri di sini, berbeda ketika masih tinggal di rumah Ahn Yoo. Ada Bu San yang bisa menemaniku saat sedang tidak punya kerjaan. Menatap langit sudah terlalu sering, keluar mencari angin kulakukan berulang kali. Tidak ada yang bisa membuatku merasa terhibur.


Bermain game aku masih terpikir-pikir dengan Zyen yang mencurigakan, dia mengetahui semua tentangku. Kalau hanya nama atau nomor telepon itu aku bisa memakluminya, tapi dia mengetahui alamatku juga. Tentu saja aku jadi berpikiran aneh tentangnya.


Sampai malam begini Ahn Yoo tidak datang, itu artinya dia tidak akan singgah ke sini. Padahal aku sudah bosan sendiri dari tadi tidak punya lawan bicara. Ditambah perutku yang kelaparan karena belum makan dari tadi.


Aku memutuskan untuk memasak mie instan, makanan kesukaanku. Malam yang dingin karena awan yang basah, menambah nuansa yang tepat untuk menyeruput mie panas-panas.


Aku membeli mie di mini market dekat apartemen dan kemudian memasaknya.


"Wahhh ... ini sangat harrrrum," kataku sambil mengendus mie yang sudah jadi dan siap disantap.


Ketika aku mencoba untuk menyulangkan mie ke dalam mulutku, suara pintuku berbunyi. Pintuku terbuka dengan sendirinya, padahal sudah kukunci.


"Apa yang kau makan?"


Ahn Yoo mengamuk memarahiku karena melihatku makan mie instan. Dia mengambil mangkuk yang kupegang dan meletakkannya di atas meja.


"Hey hey hey ... itu mie ku," jelasku sambil menunjuk mie yang diletakkan Ahn Yoo.


"Kalau makan seperti ini lagi, kau pulang saja ke rumahku," ancam Ahn Yoo mengekangku.


Tentu saja aku harus mengalah padanya, kalau membantah dia akan melakukan semua yang disukainya padaku.


"Aku belum memakannya, sayang kalau dibuang," sangkalku merengek.


"Sudah ku katakan tidak bisa," tolak Ahn Yoo memaksa.


Aku tetap mengambil mie yang tergeletak lalu terus menyeruputnya sekali. Ahn Yoo langsung mengambil mangkuk itu lagi dan membuangnya ke tong sampah.


"Mie kuuu," lirihku sedih.


"Dasar kekanankan, ikuti saja yang kukatakan. Ini demi kebaikanmu juga," ujar Ahn Yoo sambil berdiri di depanku.


"Aku akan mencekikmu, dasar sialan!" umpatku pelan sambil mengatup gigi.


Ahn Yoo mengambil ponselku dan memeriksanya. Untung saja aku sudah menghapus pesanku dengan Zyen dan menyembunyikan aplikasi gameku.


"Ini privasiku!" kataku sambil menarik ponselku dari tangannya dengan paksa.


Apa dia menganggapku serendah itu sampai aku dengan sengaja mendekati laki-laki? Bahkan dia yang merupakan manusia hampir sempurna saja aku masih waswas untuk mendekatinya.


"Apa kamu pikir aku ini wanita yang tidak punya harga diri?" tanyaku dengan nada tidak suka.


Ahn Yoo malah menjetik kepalaku dengan kuat dan mencubit hidungku sampai memerah.


"Ahhh ... sakit," desisku kesakitan.


"Kau tidak sama dengan mereka," kata Ahn Yoo sambil duduk di sampingku.


Suasana seketika hening, aku takut dia melakukan hal gila di sini denganku. Namun berbeda dengan yang kubayangkan, dia malah menyandarkan kepalanya di pundakku. Sepertinya dia sedang sedih, aku tahu dari matanya yang seakan berbicara denganku.


"Ka-Kamu ada masalah?" tanyaku yang sangat peduli dengan masalah yang menimpa Ahn Yoo.


"Biarkan aku bersandar sebentar, mungkin saja aku bisa tenang sebentar," perintah Ahn Yoo sambil menutup matanya dan menghirup udara dengan berat.


Aku terdiam dan tidak bergerak sama sekali karena gugup di dekat Ahn Yoo. Aku memperhatikan Ahn Yoo yang sedang tidur pulas dengan mata yang membolak-balik tanpa menggerakkan badan sama sekali.


Aku melihat bekas luka segar yang tampaknya baru saja di tangan Ahn Yoo. Ini terlihat seperti bekas habis berkelahi atau dia meninju tangannya ke benda keras.


"Ahn Yoo tanganmu!" terikku sambil memegang tanganya.


Dia merapatkanku dengan pelukannya hingga aku kembali tersandar di sofa yang kududuki. Matanya kembali tertutup dan bersender di bahuku.


"Ini karena kau," ucap Ahn Yoo dengan suara seperti orang yang mengantuk setengah sadar.


Jam sudah menunjuk angka 09.00 pm, aku takut dia terlelap di sini hingga pagi dan tidur bersamaku semalaman dengan posisi mencekam ini.


Ahn Yoo sudah terlelap dengan mimpi yang menghiasi tidurnya. Aku tidak tega membangunkannya dan menyuruhnya pulang dengan kondisi seperti ini.


Aku melentangkan badannya lurus di atas sofa dan memberi bantal di bawah kepalanya. Kemudian kututupi seluruh badannya dengan selimut agar hangat. Sedangkan dengan lukanya, aku membersihkannya dan menutup bekasnya dengan plaster.


"Kehidupanmu terlihat berat, tapi kalau dipikul bersama akan menjadi ringan," nasehatku kepada Ahn Yoo sambil menatap wajahnya dengan dalam.


***


Pagi hari, aku sudah mendapati diriku di atas ranjang. Padahal seingatku aku sedang menatap-natap Ahn Yoo yang sedang tertidur. Duduk sambil memegang kotak P3K di lantai bersender dengan sofa.


"Ahn Yoo?" kataku yang baru saja terperanjat dari tidurku. Aku tidak melihat Ahn Yoo sama sekali di sini. Jelas nyata kalau malam iyu bukan mimpiku, itu memang benar-benar terjadi.


Aku memperjelas dan melihat keluar apa Ahn Yoo masih berada di depan atau sudah turun ke bawah.


"Kau! Wanita yang mengatakan bajuku terbalik," tunjuk Nam Hye Souk sesaat setelah aku membuka pintu. Dia tinggal tidak jauh dari apartemenku, kira-kira beda empat apartemen.


"Ehhh! Nam Hye Souk? Apa kamu benar tinggal di sini?" tanyaku mencoba mengelak.


"Iya. Aku tinggal empat baris dari sini," ujar Hye Souk.


Dia tidak takut mengatakan kalau apartemennya berada di sana. Bukannya banyak sekali orang ingin mendekatinya dan mencari tahu tentang dia.


"Apa kamu tidak takut aku ini seorang stalker?" tanyaku pada Hye Souk.


"Aku? Kapan aku beranggapan seperti itu? Kita ini tetangga, kenapa aku harus mencurigaimu?" balas Hye Souk yang sama sekali tidak terganggu.


"Oh, kalau begitu aku masuk dulu," kataku sambil melangkah meninggalkannya.


"Kau tidak meminta apa pun dariku?" tanya Hye Souk lagi. Dia tampak seperti anak kecil bodoh yang sedang berharap lebih dari kata sekedar.


Aku juga tidak ingin berhenti menatap Hye Souk Sang idolaku dari dulu.


"Tidak, kamu tunggu di sini. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," perintahku.


Aku memgambil kaos oblong putih polos dan sebuah spidol untuk kuberikan pada Hye Souk.


"Tanda tangan di sini," kataku sambil menyerahkan kaos spidol di tanganku.


"Hmmm," angguk Hye Souk memgerti.


Dia menanda tangani bajuku, aku sudah lama mengaguminya dan tidak menyangka akan bisa bertemu. Bahkan aku bisa meminta tanda tangan yang dengan mudah bisa kulakukan.


"Terima kasih," ucapku dengan senyum girang.


"Apa kau penggemarku?" tanya Hye Souk.


Kalau kukatakan aku adalah penggemarnya, dia akan menjauhiku dan tidak akan menghiraukanku lagi. Aku harus bersandiwara untuk menghindari masalah nanti.


"Tidak, tapi adik sepupuku yang sedang sakit sangat mengagumimu. Mungkin kalau tahu aku mendapatkan tanda tangan, dia bisa sembuh," lirihku berlagak sedih.


"Semoga dia cepat sembuh," sambung Hye Souk. Dia kemudian mengambil ponselnya dan mengajakku berfoto untuk ditunjukkan kepada sepupu yang sakit.


Aku tertawa menggelitik dalam hati ketika Hye Souk mempercayai aku mempunyai adik sepupu yang sedang sakit. Padahal itu cuma bualanku saja agar dia tidak menjauhiku.


"Terima kasih. Pantas saja sepupuku menyukaimu, ternyata kamu orang yang peduli," kataku memujinya.


Bahkan kata pujian tidak bisa di untai untuk Nam Hye Souk. Dia sangat bercahaya sampai mata keliru memandangnya.


"Tidak masalah. Katakan pada sepupumu kalau aku mencintainya," ujar Hye Souk.


Rasanya ingin mati berdiri seperti ini, aku menganggap Hye Souk mengatakannya untukku. Bahkan suaranya saat mengatakan kalau dia mencintai sepupuku yang tidak nyata itu sangat menawan. Ingin kupeluk erat-erat tubuh Hye Souk. Untung saja aku tidak terlalu selera lagi dengannya seperti dulu. Badan Ahn Yoo lebih bagus dari Hye Souk.


Aku sudah memeluk Ahn Yoo dan sekarang tidak selera lagi dengan tubuh orang lain. Apalagi Ahn Yoo tinggi sekali, aku tertutupi kalau sedang berdiri di depannya.


"Mungkin dia akan senang sekali," sambungku berterima kasih.


"Baiklah, aku pergi dulu."


Hye Souk berpamitan denganku lalu berjalan menuju apartemen miliknya.


"Nanti aku akan mengantarkan makanan yang kumasak untukmu!" teriakku dari kejauhan.


"Terima kasih!" sahutnya keras membalas kata-kataku.


Aku beruntung sekali setahun ini. Selalu ada pria tampan yang menemaniku. Aku selalu bertemu pria tampan yang baik. Padahal aku tidak terlalu cantik untuk bisa membuat hati mereka jatuh cinta padaku.


Aku masuk ke dalam dan meratapi kaos yang di atasnya bertuliskan tanda tangan dan nama Hye Souk. Aku tidak bisa berhenti melihat dan membayangkan wajah Hye Souk sekaligus.


Kalau disuruh memilih antara Ahn Yoo atau Hye Soek, aku akan memilih keduanya menjadi pasanganku. Meski terlihat rakus, tapi aku tidak bisa melupakan Hye Souk dan tidak bisa meninggalkan Ahn Yoo.