
Jantungku masih belum berhenti berdetak dengan cepat. Wajahku sampai memerah karena darahku mengalir ke atas dengan deras.
"Pacar?" Tanya Hyun In yang tampak kaget.
"Bukan, Ahn Yoo ....," Ahn Yoo memotong dan langsung menimpal kalimatku.
"Aku dan dia akan segera tunangan, haya tinggal tunggu waktu yang tepat saja."
Wahhhh, aku akan mati berdiri mendengar ini. Bisakah dia jangan mengatakan hal menggilakan seperti itu.
"Tunangan? Kenapa Jiyu tidak cerita kalau akan bertungan?" Kata Hyun In yang tampak kecewa.
"Aku berniat mengirim undangan kepadamu saat sudah ada penggelaran acara," sambung Ahn Yoo cepat.
"Benarkah? Tapi kalian belum resmi menikah, kenapa sudah satu rumah?" Tanya Hyun In berniat menyindirku.
"Uhmm, aku tidak tinggal di sini. Aku akan kembali kerumahku nanti, aku hanya bermalam beberapa hari di sini," jawabku berbohong.
"Kalau begitu aku kan tinggal di sini juga. Boleh 'kan, Jiyu? Bagaimana mungkin kamu tega menolaknya, kamu 'kan sayang padaku," Hyun In merengek dan memeluk tangan Ahn Yoo.
"Lepaskan aku, kau tidak boleh tinggal di sini. Pergilah ke hotel atau pulanglah ke Sanghai." Wajah Ahn Yoo tampak tidak senang dengan Hyun In yang menempel dengannya.
"Ahhhh ... Jiyu jahat, aku akan mengadu pada Ibu kalau Jiyu sekarang tidak mau lagi berteman denganku," Hyun In mulai merajuk dan bersikap manja.
Aku semakin kasihan melihat wanita ini, kenapa dia tidak mencari laki-laki lain saja. Jelas-jelas Ahn Yoo tidak menyukainya, tapi dia masih bersikeras mendekati Ahn Yoo. Wanita yang sungguh malang, aku bisa merasakan kesedihannya.
"Ahn Yoo, sebaiknya biarkan Hyun In tinggal di sini. Aku tahu dia pasti takut untuk tinggal di kota ini sendiri. Dia tidak tahu jalan di daerah ini, lagi pula kalau dia tinggal di rumah ini, Hyun In akan lebih mudah kamu pantau," timpalku mencoba membela Hyun In.
"Tidak, aku tidak mau melihat dia tinggal di sini. Kau boleh berada di sini, tapi tidak untuk bermalam."
Ahn Yoo masuk ke dalam mobil dan pergi dengan wajah kusut. Sedangkan kami, masuk ke dalam rumah kembali.
"Jane Soo, dimana kamu mengenal Ahn Yoo pertama kali?" Tanya Hyun In kepadaku saat berjalan masuk ke dalam rumah.
"Uhm, aku tidak yakin dimana kami bertemu untuk pertama kali," jawabku yang tidak nyaman dengan pertanyaannya.
"Kamu suka bercanda, tidak mungkin kamu tidak tahu dimana kalian pertama berjumpa. Contohnya kalian bertemu di cafe, atau di bar" sambung Hyun In seperti ingin menjatuhkanku.
"Aku sudah tidak ingat lagi," sambungku dengan nada pura-pura ragu.
"Jiyu tidak mungkin yang lebih dulu mendekatimu, 'kan?"
Aku sudah yakin sejak awal, kalau dia ini tidak menyukaiku. Dari awal dia hanya berpura-pura manis saja kepadaku saat di hadapan Ahn Yoo. Tapi tenang saja, aku ini sudah sering melihat wanita seperti Hyun In ini di drama-drama Korea. Awalnya bersikap manis, tapi sebenarnya dibalik itu berhati busuk.
"Sebenarnya kami bertemu di hotel, dan dia membawaku saat aku tidak sadarkan diri," jawabku dengan muka tebal.
"Hotel? Dan kenapa kau tidak sadarkan diri?" Tanya Hyun In yang tampak kaget.
"Ehm, waktu itu ada masalah yang tidak bisa ku ceritakan kepadamu," sambungku dengan senyum di bibir. Aku terus berjalan cepat agar bisa menjauh dari Hyun In, Karena aku tahu kalau dia itu sedang mencari kelemahanku.
Aku masuk ke dapur untuk membuat es dengan Bu San. Namun, Hyun In yang menyebalkan ini selalu menempel denganku, dan yang paling membuatku kesal adalah, dia masih berpura-pura baik dan manis di hadapanku.
"Hyun In? Apa kamu juga mau membuat es?" Tanyaku ramah mencoba untuk berbaur.
"Es? Es apa?" Tanya Hyun In.
"Ya membuat es krim, kalau kamu mau, kamu bisa ikut membuatnya."
"Ya sudah, aku akan ikut. Sekalian aku akan buatkan untuk Jiyu. Aku yakin Jiyu pasti sangat suka dengan es krim buatanku," kata Hyun In dengan girang.
"Baiklah, kamu bisa bantu mengaduk yang itu," sambungku sambil menunjuk tepung es krim di atas meja.
Bu San hanya terdiam melihat kami yang sedang membuat es. Dan dia kemudian meninggalkan kami berdua di dapur. Tidak seperti yang dijanjikan Bu San, katanya dia akan membantuku. Apanya yang membantu, Bu San malah pergi meninggalkan aku dan Hyun In di sini.
Setelah selesai membuat es krim dan mendinginkannya di kulkas, aku dan Hyun In duduk di taman halaman belakang rumah Ahn Yoo.
"Apa kamu tahu kalau Jiyu mempunyai pacar waktu dulu, waktu masih SMA. Dia sangat mencintai wanita itu," kata Hyun In menceritakan kisah cinta Ahn Yoo.
"Aku tidak tahu," jawabku singkat.
"Dia gadis yang cantik, pintar, dan terkenal di sekolah saat itu. Semua orang sangat iri melihat dia, ditambah dia berpacaran dengan Jiyu. Membuat semua orang semakin iri saja," sambung Hyun In.
"Owh ... aku yakin selera Ahn Yoo seperti itu. Standard kelas atas," timpalku tidak mau tahu.
"Ternyata kamu juga menyadarinya, aku pikir hanya aku saja yang sadar kalau Jiyu menyukai tipe wanita seperti itu," lanjut Hyun In sambil menatapku.
"Hahahahah ... tentu saja aku sadar, mana mungkin seorang CEO memiliki selera yang rendahan. Dia juga harus menjaga reputasinya sebagai CEO," timpalku sambil tertawa.
"Tapi aku rasa seleranya sudah berubah. Kamu tahu, dulu aku orangnya sangat bodoh," kata Hyun In menceritakan masa lalunya.
"Benarkah?"
"Iya, tapi karena aku tahu Jiyu tidak akan suka gadis bodoh, aku jadi rajin belajar siang dan malam. Aku juga mencoba agar menjadi wanita yang populer di sekolah, agar Jiyu menyukaiku. Aku meniru semua yang dimiliki pacar Jiyu, tapi sampai sekarang Jiyu tidak suka padaku," Hyun In terlihat sangat sedih saat menceritakan kisahnya.
"Aku tahu perasaanmu, tapi ada beberapa hal yang harus kamu tahu, kalau tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki," sambungku untuk memeberi semangat untuknya.
"Sudahlah, kalau bicara tentang itu aku semakin ingin mendapatkan Jiyu. Ngomong-ngomong, aku rasa kamu bukan tipe Jiyu, kenapa dia bisa menyukaimu?" Tanya Hyun In dengan wajah bingung.
Sekarang aku semakin bingung dengannya, Hyun In memang orang yang polos atau sedang berpura-pura polos. Aku semakin merasa bersalah kalau terus membohonginya kalau aku dan Ahn Yoo tidak memiliki hubungan apapun.
"Dia tidak menyukaiku, dan kami tidak berpacaran," kataku jujur karena kasihan melihat Hyun In.
"Apa? Tapi kenapa Jiyu mengatakan kalau kalian akan bertunangan?" Tanya Hyun In yang tampak bingung.
"Tidak tahu, Ahn Yoo memang seperti itu. Kita tidak bisa membaca pikirannya, mau tidak mau kita harus mengikuti alur saja."
"Tidak, kamu salah. Aku sangat kenal Jiyu. Dia tidak akan pernah mengatakan hal yang tidak disukainya. Kalau dia bilang iya, itu artinya iya. Kalau dia bilang tidak, itu artinya tidak."
"Aku tidak mengerti maksudmu," sambungku yang tidak mengerti apa yang dikatakannya tadi.
"Apa? Apa kamu ini le**sbian?" Aku menjauh darinya dan mengernyitkan dahi.
Dia hanya tertawa terbahak-bahak dan menatapku.
Dia dan Ahn Yoo sama saja, sama-sama membingungkan. Mereka memang pantas menjadi teman masa kecil, ada beberapa karakter mereka yang mirip.
Dia berdiri dan mengajakku keluar dari rumah Ahn Yoo untuk bermain-main. Namun aku menolaknya karena takut Ahn Yoo marah padaku. Akhirnya dia pergi sendiri dan pulang ke hotelnya. Hyun In berpamitan dengan Bu San, dan kemudian pergi menggunakan taksi.
***
Malam hari.
Aku berdiri di depan jendela kamar dan menatap bulan dan bintang yang ada di gelapnya malam.
"Jane! Kamu sudah tidur?" Teriak Bu San dari luar kamarku.
"Belum, ini masih jam 08.30 pm. Bagaimana aku bisa tidur?" Sahutku dari dalam.
Kemudian Bu San masuk ke dalam kamar dan cepat-cepat menghampiriku.
"Jane, apa kamu tahu kenapa Tn.Ji terlihat murung hari ini?"
"Tidak, mana mungkin aku tahu Bu San. Lagi pula Ahn Yoo mungkin sedang sedih karena nonanya akan pergi," jawabku yang tampak sedang tidak mau tahu.
Bu San tertawa kecil melihatku, "Kamu terlihat sedang cemburu."
"Ha? Cemburu? Bu San jangan mengarang, aku hanya kesal saja melihatnya, dia tidak mengizinkanku membeli ponsel. Padahal uang untuk membeli ponsel itu adalah uangku," kataku kepadaku Bu San yang sedang mengumpat Ahn Yoo.
"Sudahlah, pergilah tanyakan kenapa Tn.Ji murung seharian ini," perintah Bu San dengan senyum lembut.
"Tunggu dulu Bu San, kalau aku yang pergi menanyakannya, suasana hatinya akan semakin buruk. Bu San juga tahu bagaimana mulutku tidak bisa dikontrol. Aku takut salah bicara nantinya, jadi Bu San saja yang pergi," aku menolak suruhan Bu San.
Bu San tidak mendengarkan penjelasanku dan menarikku ke kamar Ahn Yoo. Padahal aku sudah memberontak beberapa kali, tapi Bu San tetap memaksaku.
Saat berada di depan pintu kamar Ahn Yoo, Bu San menyuruhku untuk mengetuk pintu. Namun aku menolaknya dan tidak mau melakukannya. Akhirnya, Bu San mengetuk pintu Ahn Yoo dan berjalan dengan cepat turun ke bawah.
"Bu San!!" Teriakku memanggil Bu San yang dengan usil mengetuk pintu Ahn Yoo dan pergi meninggalkanku. Seolah aku yang sudah mengetuk pintu ini. Tapi karena sudah terlanjur, biar sajalah aku yang menanyakan Ahn Yoo.
"Ahn Yoo! Apa aku boleh masuk?" Tanyaku sambil mengetuk pintunya lagi. Namun tidak ada sahutan dari dirinya, saat pintunya ku buka. Ahn Yoo tidak ada di dalam. Aku sudah memanggil-manggil namanya, tapi dia tidak ada. Kalau pun dia sedang di kamar mandi, pasti dia akan menyahut.
"Ahn Yoo!" Teriakku memanggilnya lagi.
Kemudian tiba-tiba dia keluar dari lemari pakaiannya yang besar itu.
"Kenapa kau berisik sekali, aku sedang tidak di suasana baik hari ini," gusar Ahn Yoo padaku.
"Ha? Kalau begitu aku ... aku pergi saja," jawabku gugup dengan senyum dan berbalik untuk keluar dari kamarnya.
"Sudah terlambat, kau sudah terlanjur masuk. Jadi katakan ada urusan apa kau mencariku," kata Ahn Yoo dengan wajah dingin.
"Sebenarnya aku tidak mencarimu karena ada urusan," sambungku kemudian menggigit bibirku.
"Jadi?"
"Aku hanya ... hanya tidak punya kerjaan lain, jadi biar tidak bosan aku mencari teman untuk berbicara. Ya, hahahah," jawabku dengan tawa canggung.
"Pergilah, aku tidak bisa meladenimu berbicara," dia berbalik dan berjalan ke arah ruang rahasia miliknya.
Aku rasa memang benar yang dikatakan Bu San, dia sedang ada masalah. Dia tampak murung dari tadi, mungkin dia sedang menghadapi masalah berat.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku menghentikan langkahnya.
Dia tetap berjalan dan masuk ke dalam ruang rahasia miliknya, tapi dengan cepat aku menarik tangannya dan menghentikan langkahnya.
"Emmm, mungkin aku tidak bisa menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi. Tapi setidaknya berceritalah kepadaku, mungkin dengan begitu kamu akan merasa baikan," kataku dengan serius kemudian melepaskan tanganku darinya.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi bijak begini," Ahn Yoo tersenyum dan menjetik kepalaku.
"Auuu ... kenapa kamu menjetikku?" Teriakku sambil mengelus kepalaku.
"Karena kau tampak bodoh, aku jadi ingin menyiksamu."
"Apa? Wah ... aku harus tetap tenang, jangan terpancing, jangan terpancing, huffft." Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan sambil mengelus-elus dadaku.
"Apa yang kau katakan?" Wajah Ahn Yoo tampak tidak senang.
"Ha? Aku sedang membaca mantra agar tetap dingin kepala," jawabku dengan sigap.
"Mantra? Adakah caranya?" Tanya Ahn Yoo yang tampak heran.
"Ada, kamu mau ku ajarkan?" Ajakku dengan tersenyum.
Namun wajahnya malah semakin ditekuk karena ajakan ku itu dan kemudian melipat tangannya di depan dada.
"Tidak," jawabnya singkat dengan wajah kaku.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN.
LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**