SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 22



Sesampainya di rumah.


"Dari mana saja kau, pagi-pagi sudah keluyuran."


Ahn Yoo tampak tidak senang dengan ku karena keluar tanpa meminta izin atau permisi kepada dia.


"Ahn Yoo? Kamu sudah pulang?" Tanyaku yang masih heran dengan dia.


"Kenapa? Apa kau kecewa aku cepat pulang?"


"Tidak, aku senang kamu pulang," aku menyangkalnya dengan senyum paksa.


"Dari mana saja kau ini?"


"Aku ... habis lari pagi, karena merasa bosan di rumah seharian. Jadi aku pergi untuk merilekskan pikiranku, dan sekalian menurunkan berat badanku" tukasku padanya.


"Kenapa kau tidak meminta izin dulu? Dan sudah kukatakan untuk tidak menurunkan berat badanmu. Kau ini sudah tinggal tulang," gusar Ahn Yoo padaku.


"Aku juga takut untuk keluar tanpa izin dari rumah ini, tapi kamu tidak ada di sini. Saat kutanya kepada Bu San, kamu sedang sibuk dengan nonamu," kataku yang tampak sedang cemburu.


"Nona?"


"Iya, Nona Shin. Calon pacarmu itu," sambungku dengan wajah kesal.


"Kenapa kau terlihat sensitif sekali, kau seperti sedang menyenggakku."


"Hahahahah ... aku tidak menyenggakmu. Aku hanya sedang lelah karena berlari tadi, jadi napasku lebih cepat," timpalku yang tidak bisa mencari alasan lebih baik lagi.


Kemudian Ahn Yoo pergi dari hadapanku, dan langsung masuk ke kamarnya. Aku pikir dia akan memberi alasan kenapa dia tidak bisa mengajakku ke danau. Ternyata dia sudah lupa dengan hal itu, aku sedikit merasa kecewa.


Aku masuk ke kamarku dan selanjutnya membersihkan tubuhku dari keringat.


Setelah itu, aku berniat untuk membeli ponsel baru untukku. Karena ponselku hilang saat paman tiri sialan itu memukulku di dalam hutan.


Aku berjalan ke kamar Ahn Yoo untuk meminta izin darinya. Aku khawatir, kalau tidak meminta izin darinya, dia akan marah-marah lagi kepadaku.


Aku mengetuk pintunya dengan hati-hati.


"Ahn Yoo? Apa kamu ada di dalam?" Teriakku memanggilnya.


"Ada apa?" Terdengar suara sahutannya dari dalam.


Aku membuka pintunya dan masuk ke dalam kamarnya.


"Ahn Yoo, ada yang ingin ku katakan," kataku dengan ragu.


"Apa?" Sahutnya dengan singkat.


"Bolehkah aku keluar untuk membeli ponsel baru?"


"Tidak," jawabnya dingin dan singkat.


"Aku janji padamu kalau sudah siap membeli ponselnya, aku akan langsung pulang. Tidak keluyuran lagi, aku janji," aku mencoba merayunya dengan janji bodoh ini. Hidupku tampak menyedihkan, semua harus bergantung pada gunung es ini. Kalau dia bilang ini harus ini, kalau dia bilang itu harus itu.


"Tidak," sambungnya singkat dan mengambil ponsel genggam miliknya dari saku celananya.


"Aku mohon, nanti kalau kamu tidak di rumah dan aku ingin lari pagi lagi, aku bisa langsung menghubungimu," kataku merayunya sambil menampakkan wajah memelas.


"Tidak," jawabnya dingin.


Mungkin hatinya memang terbuat dari batu, sangat keras. Dia sama sekali tidak mengizinkanku untuk membeli ponsel, padahal uang untuk membelinya itu uangku. Aku tidak meminta dia untuk memberikan aku uang agar bisa membeli ponsel baru.


Aku berbalik pergi dari kamar Ahn Yoo, kemudian membanting pintu kamarnya keras-keras. Aku memang sangat nekat bertindak sesukaku kepadanya. Mungkin hanya aku yang berani membentaknya. Mungkin hanya aku yang sudah berani lancang terhadapnya.


"Dasar laki-laki sialan, sukanya hanya membuatku kesal saja," gerutuku dengan nada keras saat berjalan meninggalkan kamar Ahn Yoo.Kalau bukan karena hutangku padanya, aku tidak akan sudi untuk tinggal di rumahnya, meskipun rumah ini mewah.


Aku pergi menemui Bu San dan menyuruhnya membantuku membuat es yang segar.


"Es? Es apa?" Tanya Bu San yang tampak sedang sibuk dengan bahan makanan ditangannya.


"Iya Bu San, aku sedang disuasana buruk saat ini. Jadi aku mau yang segar-segar untuk meredakan susana burukku," tukasku kepada Bu San.


"Tapi ini masih pagi, nanti kamu terkena flu" nasehat Bu San dan menghentikanku untuk meminum es.


"Ya sudah kalau tidak mau, aku sendiri yang akan buat. Bu San jangan melarangku, 'yah."


"Kamu memang susah di ingatkan. Nanti saja buat es-nya. Tunggu saya selesai menghidangkan sarapan baru kita buat es untukmu," lanjut Bu San menyetujui akan membantuku membuat es.


Setelah Bu San siap menyajikan sarapan hari ini, dia kemudian memanggil Ahn Yoo untuk sarapan juga. Padahal aku berbarap dia tidak usah ikut sarapan pagi ini. Namun, karena semua yang ada di sini adalah miliknya, terpaksa aku harus melapangkan dadaku untuk makan bersama dengannya.


Tidak lama kemudian, Bu San turun ke bawah dengan Ahn Yoo yang berada di depannya beberapa langkah. Aura Ahn Yoo tampak menyeramkan, mungkin dia masih kesal karena bantingan pintu yang kulakukan tadi.


Kemudian Ahn Yoo duduk di kursi dan langsung mengisi piringnya dengan nasi goreng yang dimasak oleh Bu San tadi. Melihatnya duduk di hadapanku, membuatku semakin kesal saja. Aku tidak suka dengan ekspresi kaku dan merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Ekhem," aku membunyikan batuk-batuk kecil.


Tampaknya Ahn Yoo tidak terusik sama sekali.


Dia tetap melanjutkan makannya dengan tenang.


"Jane ... es-nya biar saya saja yang buat," kata Bu San tiba-tiba saja membisikkannya kepadaku.


"Jangan Bu San, aku ikut," teriakku dengan keras, sampai Ahn Yoo menoleh ke arah kami.


"Apa yang sedang kalian bahas?" Tanya Ahn Yoo.


"Tidak ada," jawabku singkat, dia hanya melirikku dengan sinis.


"Bu San, apa yang sedang kalian bahas?" Tanya Ahn Yoo lagi kepada Bu San.


"Maaf Tn. Ji, ini masalah wanita. Jadi saya tidak bisa beritahu tuan," simpul Bu San yang mencoba menyamatkanku.


Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Ahn Yoo tentang ku, dia hanya terdiam tanpa berkutik mendengar alasan Bu San tadi tentangku.


Setelah selesai sarapan, dia berjalan keluar hendak menaiki mobilnya. Tidak lama setelah Ahn Yoo pergi, terdengar teriakan suara wanita di depan halaman rumah. Sontak aku dan Bu San berlari untuk melihat situasi di luar.


"Jiyu ... aku tidak mau tinggal di hotel itu lagi. Aku mau tinggal di sini denganmu," terdengar suara wanita yang sedang merengek dengan Ahn Yoo.


"Berhentilah bersikap kenak-kanakan. Lagi pula aku tidak menyuruhmu untuk datang ke sini," balas Ahn Yoo kepada wanita yang sedang memegang tangannya itu.


Wanita itu sangat cantik dan anggun, kulitnya putih bersih seperti susu. Dengan rambut panjang terurai, membuat dirinya semakin terlihat elegan.


Apakah mereka sangat dekat?


Sampai wanita itu memanggil Ahn Yoo dengan sebutan Jiyu. Aku baru tahu setelah mencoba memeras kepalaku, aku yakin dia adalah Shin Hyun In.


Aku dan Bu san mendekati mereka.


Dengan ramah Bu San menyambut wanita ini.


"Nn. Shin, selamat datang. Sudah lama tidak bersua."


"Wah ... Bu San?? Aku sangat merindukanmu," wanita itu berlari dan memegang tangan Bu San.


Dari sini saja aku sudah tambah yakin, dia Shin Hyun In, teman Ahn Yoo sejak kecil.


"Tunggu dulu, dan wanita ini, siapa?" Dia menunjukku, kemudian menatap Bu San dan Ahn Yoo bergantian. Cepat-cepat aku menjawabnya dan memperkenalkan diriku.


"Aku Kim Jane Soo," kataku sambil tersenyum.


"Hai ... Jane Soo, aku Shin Hyun In. Panggil saja Hyun In " sapanya ramah dan riang.


"Ha-Hai," sahutku dengan gugup.


"Tapi kenapa kau ada di sini?" Tanya Hyun In.


"Uhm, aku ... pelayan di sini. Aku adalah anak sepupu dari Bu San. Karena di desa aku tidak punya pekerjaan. Jadi Bu San membawaku ke sini," kataku berbohong padanya.


"Kamu pelayan? Kenapa pelayan bisa secantik ini, lebih baik kamu tidak usah bekerja di sini. Harusnya kerja di perusahaan Jiyu saja," timpal wanita itu.


Bu San hanya mengangguk saat ditanyakan Hyun In tentang kebenarannya. Namun, aku terkejut karena Ahn Yoo malah menyangkal kebohonganku dan mengatakan kalau aku bukan pelayan.


"Dia bukan pelayan."


Hyun In menatap Ahn Yoo dengan wajah kebingungan.


"Lalu? Siapa dia," tunjuknya ke arahku dengan mata melihat Ahn Yoo.


"Dia pacarku," kata Ahn Yoo dengan mata menatapku.


Hyun In melihatku dan tercengang mendengar Ahn Yoo. Jangankan dia, aku juga hampir pingsan mendengarnya. Ahn Yoo memang sangat suka membuatku terkejut. Rasanya ingin sekali menggali lubang untuk bersembunyi karena terlalu malu mendengar yang dikatakan Ahn Yoo barusan.